"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintai ku, dan jika pun cinta segitiga ini tetap harus berlanjut maka aku akan pastikan bahwa aku akan menjadi pemenang nya. apapun yang terjadi nantinya." ucap Daisy yang sudah putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari cinta yang terus membelenggu nya.
Dengan luka dan tetes air mata gadis cantik itu melanjutkan langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Setelah perdebatan kecil itu Daisy kembali terdiam saat dokter datang untuk kembali memeriksa keadaannya, saat ini ruangan berukuran empat kali empat meter itu terlihat hening, Daisy pun menatap kearah lain saat dokter menyuntikkan vitamin di lengan kirinya.
"Dok apa dia sudah benar-benar sembuh?"tanya Aksa yang kini memecah keheningan.
"Hanya butuh pemulihan tuan, seharusnya nona muda dirawat dalam waktu yang lama tapi mengingat dia masih harus kuliah, saya hanya bisa menyarankan untuk berobat jalan dan juga menjaga pola makan terutama jangan terlalu banyak pikiran."jawab sang dokter yang kini hanya diangguki oleh Daisy.
Aksa pun melirik Daisy yang kini kembali fokus pada tangan nya yang sedang ditangani oleh dokter untuk melepaskan jarum infus yang masih menancap itu.
Tepat setelah jarum infus tersebut lepas dari tangan Daisy, gadis itu langsung menutup mata saat melihat darah yang kini ada di tangan nya.
Daisy pun akhirnya membuka mata saat dokter selesai menempel plester kecil di tangannya."Sudah selesai nona, semoga anda akan terus baik-baik saja setelah ini dan seterusnya."ucap sang dokter.
"Terimakasih dokter, anda sebutkan saja berapa biaya nya saya akan transfer sekarang juga."ucap Daisy.
"Seluruh biaya sudah dibayarkan oleh tuan Kris nona."ucap sang dokter yang kini membuat Daisy menghela nafas.
"Kamu hanya harus sembuh dan jangan pikirkan masalah biaya."ucap Aksa.
Daisy pun hanya memalingkan wajahnya kearah lain sambil menghela nafas berat, dia tidak tau sebenarnya dia sedang berurusan dengan pria seperti apa saat ini, bahkan Daisy merasa sedang diuji dengan ujian besar yang entah kapan akan berakhir.
"Apa tuan Dimitri tau tentang keberadaan anda disini tuan?"ujar Daisy.
"Kamu pasti tau tanpa harus menanyakan nya, Jeny akan kembali kuliah di kampus kalian, aku harap kamu tidak bicara tentang kita padanya karena terlalu beresiko jika dia berbicara dengan kedua orang tuanya."ucap Aksa.
"Anda pikir saya sebodoh itu, dan akan lebih baik lagi jika anda menjauh dari saya. "ucap Daisy.
"Itu tidak akan pernah aku lakukan sekalipun kau yang pergi menjauh aku akan tetap mengejar mu hingga ke ujung dunia."ucap Aksa.
"Apa yang sebenarnya anda inginkan, saya tidak punya apa-apa saat ini bahkan tidak ada yang istimewa dari saya."ucap Daisy mencoba untuk berbicara pelan-pelan pada pria yang tidak bisa ditolak itu.
"Apa kamu tidak bisa mengerti juga Daisy Wijaya, saya mencintai kamu tidak peduli tentang yang lainnya yang jelas saya ingin kamu menjadi milikku untuk selamanya."ucap Aksa yang kini menghampiri Daisy dan menatap lekat wajah cantik alami itu.
"Tapi anda sudah memiliki calon istri dan saya tidak ingin menjadi orang ketiga diantara kalian berdua."ucap Daisy.
"Dengarkan aku Daisy, aku sedang berusaha untuk mengakhiri pertunangan ini, aku sedang berusaha mencari kesalahan Tiana, aku pun tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Dan aku hanya ingin hidup bersama mu Daisy aku mohon jangan lagi menolak ku!jika perlu aku yang akan bersujud dan meminta maaf pada almarhum Mama mu agar dia bisa mengijinkan mu menikah dengan ku."ujar Aksa yang kini menggenggam tangan Daisy.
"Apa jaminan untuk saya, jika suatu saat nanti tuan Dimitri mengetahui tentang hubungan kita nantinya?"ujar Daisy yang kini berusaha untuk terus berbicara baik-baik.
"Saya akan berusaha untuk meyakinkan daddy bahwa kamu adalah yang terbaik untuk saya honey."ucap Aksa.
"Baiklah jika anda memaksa tapi ingat untuk merahasiakan semua tentang kita."ucap Daisy.
Aksa pun langsung mengangguk, pria tampan itu tersenyum manis sekali hingga membuat Daisy harus mengalihkan pandangan karena tidak ingin terlalu terjerumus dalam perangkap cinta pria yang kini resmi menjadi kekasih gelapnya itu.
Aksa pun memberikan pelukan hangat pada Daisy yang kini tidak bisa menolaknya lagi, Daisy pun akhirnya hanya bisa berdoa semoga Aksa tidak memberi dia masalah di kemudian hari.
Sampai saat Aksa melepaskan pelukannya itu, dia pun kembali berkata."Setelah kamu membaik besok aku akan kembali ke Belanda, ku harap kamu bisa menjaga diri baik-baik jaga kesehatan dan jangan mengabaikan jam makan. Bi Cece akan kembali bekerja untuk mengurus semuanya fokus belajar dan juga pada kesehatan mu, handphone mu ganti dengan yang baru besok akan dikirim oleh Kris."ucap pria yang kini sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sementara Daisy hanya bisa mengangguk pasrah, dia tidak bisa membantah lagi meski itu terlalu beresiko untuk dirinya.
Akhirnya Aksa pun bisa bekerja dengan tenang setelah memastikan Daisy tidak akan lagi menjauhi nya.
Saat Aksa sedang sibuk dengan laptopnya tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar yang kini ditempati oleh Daisy dan Aksa yang tengah duduk di sofa dengan memangku laptop, dan kini keduanya menatap kearah pintu kamar yang terbuka yang menampakkan Tiana sahabat Daisy.
"Kenapa kamu pulang tidak memberitahu ku Dy, aku minta maaf jika aku telah pergi begitu saja malam itu mommy ku pulang dari luar."ucap Tiana.
"Tidak apa-apa Tia sayang, aku hanya tidak nyaman dengan suasana disana disaat semua pasien ditemani oleh keluarganya aku bahkan tidak memiliki siapa-siapa dan aku harus melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan siapapun, aku juga harus mendapatkan tatapan iba dari orang-orang yang mengasihani ku Tia, aku benar-benar seperti sebatang kara! Dan aku tidak ingin itu jadi lebih baik aku dirumah saja aku hanya bisa pasrah jika tuhan menjemput ku lebih cepat saat ini."ucap Daisy yang kini membuat Tiana menggeleng pelan.
Sementara Aksa langsung menatap tajam kearah Daisy yang kini kembali menitikkan air mata saat teringat dua hari yang lalu.
Tiana pun langsung memeluk Daisy, sementara Aksa langsung bangkit dari sofa dan menghampiri keduanya.
"Tiana,"ucap Aksa yang kini membuat keduanya melirik kearah Aksa.
"Ya kak."balas Tiana.
"Pergi dengan Kris kerumah pribadi ku ambil semua kado yang ada di dalam kamar ku sekarang juga."ucap Aksa.
"Tapi kak,"ujar Tiana yang sebenarnya tidak mau berurusan dengan Kris yang menurutnya pria itu sungguh sangat menyebalkan.
"Baiklah uang kesepakatan itu tidak jadi kuberikan."ancam Aksa yang kini membuat Daisy melirik kearah keduanya.
"Ya baiklah-baik aku pergi sekarang juga."ucap Tiana yang kini meminta Daisy untuk menunggu dia kembali.
"Kenapa anda meminta Tiana kembali."ucap Daisy.
"Anda?"ujar Aksa yang kini membuat Daisy kebingungan.
"Panggil aku sayang honey."ucap Aksa.
Daisy hanya menggeleng pelan, tapi Aksa langsung menyambar bibir seksi milik Daisy, sementara Daisy hanya memejamkan matanya dan tidak membalas ciuman tersebut karena jujur Daisy tidak punya pengalaman untuk apapun.
...*****...
Sementara itu di rumah Aksa saat ini Tiana dan Kris tengah terjebak di dalam kamar utama milik Aksa, semua itu sudah pasti karena Aksa tidak ingin terganggu kebersamaan nya dengan Daisy hingga dia mengunci pintu kamar itu secara otomatis dari handphone nya.
Sementara kado ulang tahun untuk Daisy sebenarnya ada didalam koper milik Aksa yang dia bawa ke rumah Daisy.
Dan saat ini Aksa memberikan empat kado tersebut pada Daisy, satu set perhiasan bertahtakan berlian, sebuah jam tangan dan black card dan juga sebuah topi.
"Happy birthday my love, jika selama ini dihari istimewa mu hanya ada kesedihan maka mulai saat ini hanya akan ada kebahagiaan, aku berjanji tidak akan pernah menyakiti mu seperti papah mu yang telah mengkhianati cinta kalian berdua."ucap Aksa berusaha berbicara dengan lembut.
Daisy hanya bisa menangis sesenggukan sambil memeluk erat Aksa dan membenamkan wajahnya karena hari itu tetap mengingatkan tentang rasa sakit nya dan sang Mama yang hingga akhir hayat nya masih merasakan rasa sakit yang tidak pernah bisa sembuh itu.
"Hiks... Aku takut menghadapi dunia ini, tapi aku juga tidak mungkin mengakhiri hidup ku meskipun aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, aku tidak mungkin membuat mama kecewa karena telah menggagalkan perjuangan nya untuk membesarkan ku dan membuat ku menjadi orang yang sukses dalam hidup, Mama sudah berjuang keras disaat jiwa raganya sudah tidak mampu lagi untuk bertahan tapi dia terus berjuang keras untuk bertahan hidup demi aku hingga akhirnya ia pun sudah benar-benar tiada punya kekuatan lagi untuk itu."ucap Daisy yang kini masih menangis sesenggukan sambil memeluk erat Aksa yang kini juga tengah membalas pelukannya itu.
"Honey sekarang ada aku, aku harap kamu bisa tetap berpegang teguh pada cinta kita apapun yang terjadi nantinya, aku akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa membuat mu bahagia, dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merampas kebahagiaan mu."ucap Aksa yang kini mendaratkan kecupan di kening Daisy.
Sampai Daisy bisa tenang dan kini Aksa memeluk Daisy diposisi keduanya yang tengah berbaring di atas ranjang, Aksa tidak ingin berbuat macam-macam dia hanya ingin Daisy bisa beristirahat dengan tenang agar bisa cepat sembuh, karena besok pagi dia akan kembali meninggalkan gadis cantik itu sampai beberapa bulan kedepan sebelum pernikahan nya dengan Tiana digelar nantinya.
Tepat setelah Daisy terlelap dalam tidur siang nya, Aksa pun menghubungi Kris dan memberitahu tentang password pintu kamar tersebut agar mereka bisa keluar dan pulang.
Sementara Aksa sendiri kini masih di rumah Daisy, dia sedang memasak makan siang untuk dirinya dengan Daisy yang masih harus makan bubur meskipun bubur komplit dan bukan bubur biasa.
Sampai saat Daisy bangun tidur siang, saat itu makan siang sudah terhidang tapi di dalam dapur masih ada kesibukan dimana Tiana sedang memasak makan siang untuk nya dan Kris atas permintaan Aksa yang tidak pernah bisa ditolak.
Daisy yang sudah mandi dan berpakaian santai namun cukup tertutup itu pun sudah terlihat jauh lebih fresh dan kini dia turun dengan kompres mata.
"Honey kemarilah."ujar Aksa.
"Hmm... ada yang masak, baunya sampai ke cium ke atas, sepertinya penyedot asap itu sudah tidak berfungsi."ucap Daisy yang kini menghampiri meja makan.
"Bukan penyedot asap yang tidak berfungsi honey, mungkin aroma masakan nya saja yang buruk."ucap Aksa yang kini membantu Daisy untuk duduk dan menikmati makan siang nya itu.
"Boleh tukar?"ujar Daisy yang merasa bosan dengan bubur.
"Kenapa honey, apa kamu tidak yakin dengan bubur buatan ku ini?"tanya balik Aksa.
"Tidak yank, aku hanya bosan makan bubur terus."lirih nya yang seakan tidak ingin orang lain mendengar sebutan sayang untuk Aksa.
"Hm... thanks honey, tapi kamu harus makan itu demi kesehatan lambung mu, kamu ingat apa yang dokter katakan bahwa kamu seharusnya dirawat lebih lama di rumah sakit karena keadaan mu belum sepenuhnya membaik honey jadi sampai kamu benar-benar sembuh hanya jenis makanan itu yang akan kamu makan honey."ujar Aksa yang kini memberikan pengertian.
Daisy pun akhirnya meraih sendok sup untuk bisa makan bubur tersebut, untuk sesaat Daisy pun menghentikan pergerakannya karena merasakan sensasi bubur campur yang kini terasa begitu lezat, hingga Aksa mengecup pipi Daisy yang akhirnya membuka mata.
"Bagaimana mana honey apa ada yang salah?"tanya Aksa.
"Ini sama persis dengan bubur buatan mommy yank, terimakasih."ucap Daisy yang kini kembali berlinang air mata.
"Syukurlah honey jika itu sama karena aku nyoba-nyoba resep dari buku resep yang ada di sana."ucap Aksa jujur.
"Benarkah?"ujar Daisy yang kini melirik kearah Kris yang datang dengan nampan berisi makan siangnya dengan Tiana.
"Hmm....so sweet, pantas saja bau makanan itu tercium sampai keatas."ujar Daisy dengan sengaja bercanda pada Tiana.
"Semua karena kak Aksa pelit yang dia masak hanya untuk cinta nya saja."ucap Tiana yang kini memasang wajah cemberutnya.
"Kalau kau mau minta sama kekasih mu itu."ucap Aksa.
"Kekasih apanya pria seperti dia mana suka sama gadis cantik seperti ku."ucap Tiana yang kini meraih piring berisi steak yang dibuat oleh Kris.
"Kau lupa nona, itu steak buatan ku."ucap Kris yang tidak mau mengalah.
"Kalian menghabiskan stok makanan du rumah ini, aku bahkan tidak mungkin berbelanja untuk beberapa hari kedepan karena ada banyak kegiatan di kampus."ucap Daisy meskipun hanya bercanda.
"Minta big bos mengisinya lagi."ucap Tiana yang kini melirik pada Aksa.
"Tidak."ujar Daisy tegas.
"Honey besok bi Cece akan kembali bekerja jadi serahkan semuanya padanya, ingat jaga pola makan mu honey aku tidak ingin mendengar mu sakit lagi karena aku tidak akan bisa kembali sesuka hati."ucap Aksa.
"Hmm..."lirih Daisy.
"Lanjutkan makan nya dan habiskan setelah ini kamu minum obat honey."ujar Aksa lagi.
Mereka pun lanjut makan bersama setelah itu mereka pun menghabiskan waktu untuk nonton bersama hingga akhirnya Kris pulang sambil mengantar Tiana pulang.
Sementara Aksa yang baru mandi dan berpakaian rapi kini mengajak Daisy untuk pergi bersama nya.
Daisy jelas menolak, tapi Aksa tidak bisa menunda waktu. Aksa saat ini pergi sendiri untuk membeli sesuatu.