Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU TAK DIUNDANG
Lorong gelap membentang di hadapan mereka, udaranya dingin dan lembap, membawa sejarah kuno yang tersembunyi. Lucas menyalakan bola air kecil di telapak tangannya, cahayanya yang redup menerangi jalan, dan mereka berdua melangkah masuk dengan hati-hati, waspada terhadap setiap bayangan yang menari di dinding karena bahaya.
"Aku tidak tahu apa yang akan kita temukan di sini," bisik Diana, suaranya sedikit tegang, "Semoga bukan jebakan." Lucas mengangguk, matanya menelusuri setiap sudut lorong mencari tanda-tanda bahaya atau petunjuk tersembunyi yang mungkin ditinggalkan Master Loe karena sangat penting.
Lorong itu menurun tajam membawa mereka semakin dalam ke perut bumi, dinding-dindingnya diukir dengan simbol-simbol kuno yang tidak mereka pahami, namun memancarkan aura kekuatan samar. Diana sesekali menyentuh ukiran itu, merasakan dinginnya batu serta misteri yang terkandung di dalamnya.
Setelah berjalan cukup jauh, lorong itu berakhir di sebuah pintu batu besar, dihiasi ukiran naga air yang mengelilingi permata biru berkilauan. Permata itu memancarkan cahaya lembut, seolah bernapas dengan ritme yang sama dengan jantung mereka.
"Pintu ini sepertinya membutuhkan elemen air," kata Diana sambil menatap permata itu. "Mungkin itu kuncinya." Lucas mengangguk, ia melangkah maju, meletakkan telapak tangannya di atas permata.
Saat elemen airnya menyentuh permata, ukiran naga itu seolah hidup, matanya menyala biru, dan permata itu berputar perlahan, sehingga pintu batu yang berat itu bergeser ke samping dengan suara gemuruh, memperlihatkan ruangan besar yang gelap di baliknya.
Mereka melangkah masuk ke dalam ruangan. Saat Lucas mengarahkan bola airnya, mereka melihat ruang melingkar luas di tengahnya terdapat kolam air jernih yang memancarkan cahaya kebiruan. Di sekeliling kolam, rak-rak batu tersusun rapi, penuh gulungan perkamen dan buku-buku kuno terawat.
"Ini perpustakaan rahasia Master Loe," bisik Lucas, matanya membelalak kagum, "Semua pengetahuan yang ia kumpulkan ada di sini." Diana berjalan mendekati rak-rak, menyentuh gulungan-gulungan itu dengan takjub karena penemuan luar biasa.
"Lihat ini, Lucas!" seru Diana mengambil gulungan perkamen yang diikat pita sutra merah. "Ini tulisan tangan Master Loe. Judulnya 'Misteri Elemen Petir Gelap'."
Jantung Lucas berdebar kencang. "Petir Gelap?" gumamnya teringat perkataan Raven tentang kekuatan baru Master Brian, "Ini pasti yang kita cari." Mereka berdua duduk di samping kolam, Lucas dengan hati-hati membuka gulungan itu karena sangat penting.
Gulungan itu menjelaskan secara rinci Elemen Petir Gelap, sebuah fusi langka antara elemen kegelapan dan petir yang hanya bisa dicapai mereka yang memiliki kekuatan serta tekad luar biasa, tetapi juga membawa risiko besar. Kekuatan itu dapat menghancurkan, namun juga menghabiskan penggunanya jika tidak dikendalikan sempurna.
"Tertulis di sini bahwa Elemen Petir Gelap sangat tidak stabil jika penggunanya tidak memiliki jiwa seimbang," Lucas membaca pelan, "Master Brian pasti menggunakannya untuk tujuan jahat."
"Lalu, apa kelemahannya?" tanya Diana, matanya berbinar penuh harap, "Pasti ada cara untuk mengalahkannya."
Lucas terus membaca, mencari celah serta petunjuk yang bisa mereka gunakan. Gulungan itu menjelaskan ketidakseimbangan jiwa pengguna Petir Gelap akan menciptakan retakan dalam kekuatan mereka, terutama saat emosi negatif seperti keserakahan dan kemarahan memuncak.
"Kelemahannya ada pada penggunanya sendiri," Lucas menyimpulkan, "Semakin Master Brian dikuasai ambisi dan kemarahan, semakin tidak stabil kekuatan Petir Gelapnya."
"Itu berarti, kita harus membuatnya marah," Diana berkata, "Memancing emosinya hingga ia kehilangan kendali." Lucas mengangguk, sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya, sebuah rencana yang akan sangat berisiko.
Namun, gulungan itu juga memperingatkan bahwa untuk menghadapi Petir Gelap, dibutuhkan elemen yang mampu menetralkan atau menahan energi sangat besar. Elemen air dan es mereka bisa membantu, tetapi mereka membutuhkan sesuatu yang lebih kuat.
"Master Loe juga menulis tentang 'Kristal Harmoni'," Lucas membaca lagi, "Artefak kuno yang mampu menyerap dan menyeimbangkan energi elemen tidak stabil."
"Kristal Harmoni?" Diana mengulang, belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. "Di mana kita bisa menemukannya?"
Gulungan itu tidak memberikan lokasi spesifik, hanya petunjuk samar: "Di tempat air bertemu cahaya pertama, di jantung pegunungan menjulang tinggi, tersembunyi dari mata manusia."
"Ini akan sulit," Lucas menghela napas, "Namun kita tidak punya pilihan. Kita butuh Kristal Harmoni jika ingin menghadapi Master Brian karena sangat penting."
Mereka menghabiskan sisa malam di perpustakaan rahasia itu, Lucas membaca gulungan-gulungan lain mencari informasi tambahan tentang Kristal Harmoni atau teknik lain yang bisa membantu mereka. Sementara itu Diana melatih elemen esnya, mencoba memahami cara menahan dan menetralkan energi Petir Gelap.
Saat fajar mulai menyingsing, mereka memutuskan meninggalkan perpustakaan rahasia. Mereka telah menemukan informasi penting, dan kini saatnya bertindak. Misi mereka tidak hanya mengalahkan Master Brian, tetapi juga menemukan Kristal Harmoni.
"Kita akan pergi ke pegunungan," kata Lucas sambil menatap Diana dengan serius. "Mencari tempat air bertemu cahaya pertama."
Diana mengangguk, tekadnya semakin kuat, "Aku akan bersamamu, Lucas, sampai Master Brian jatuh."
Mereka meninggalkan reruntuhan Akademi Bayangan Utara, membawa serta gulungan Master Loe dan harapan baru. Perjalanan mereka akan sulit, penuh bahaya, dan tidak ada jaminan keberhasilan, namun dengan pengetahuan baru yang mereka dapatkan dan tekad membara, mereka siap menghadapi apa pun.
Perjalanan menuju pegunungan terasa panjang, hari demi hari mereka berjalan melewati hutan lebat serta sungai berarus deras, Lucas selalu memimpin jalan, mengandalkan insting pembunuh bayarannya untuk mendeteksi setiap tanda bahaya, sementara Diana tetap waspada di belakangnya. Mereka jarang berbicara, hanya tatapan mata yang penuh pengertian karena saling percaya.
Suatu sore, saat mereka beristirahat di bawah pohon rindang, Diana melihat ke arah peta kuno yang Lucas bawa, peta itu sudah usang, namun masih menunjukkan detail rute. "Pegunungan ini sangat luas, Lucas," katanya pelan, "Bagaimana kita tahu di mana 'air bertemu cahaya pertama'?"
Lucas menunjuk sebuah titik di peta, sebuah danau besar yang terletak di ketinggian, dekat dengan puncak tertinggi. "Ini adalah satu-satunya tempat yang paling mendekati deskripsi itu," jelasnya, "Danau di sana dikenal memiliki air yang sangat jernih, memantulkan cahaya matahari dengan sempurna."
"Jadi, kita harus mendaki gunung ini?" tanya Diana, tatapannya menyapu puncak gunung yang menjulang tinggi, diselimuti kabut tipis. Lucas mengangguk, ia tahu pendakian itu akan menguras tenaga, tetapi tidak ada pilihan lain karena Kristal Harmoni sangat penting.
Mereka melanjutkan perjalanan mendaki, melewati medan terjal dan berbatu. Angin semakin kencang berembus, membuat jubah mereka berkibar, dan udara semakin dingin menusuk tulang. Lucas sesekali menggunakan elemen airnya untuk membantu mereka menanjak, menciptakan pijakan atau meredam benturan.
Diana, dengan elemen esnya, juga berperan penting. Ia membuat jalur aman di atas es tipis atau membekukan bebatuan agar lebih mudah dipanjat, mereka bekerja sama dengan sinkron, menunjukkan kerja sama tim yang telah lama mereka bangun sejak di akademi.
"Hati-hati, Diana," Lucas memperingatkan saat Diana nyaris tergelincir di jalur sempit. "Medan ini licin." Diana mengangguk, ia lebih berhati-hati, menajamkan fokus pada setiap langkahnya.
Mereka mencapai puncaknya menjelang malam. Danau yang luas terhampar di hadapan mereka, airnya biru gelap, memantulkan bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit. Di tengah danau itu, sebuah pulau kecil menjorok, diselimuti kabut tipis yang membuatnya terlihat misterius dan memukau.
"Itu pasti pulau itu," bisik Diana, "Tempat air bertemu cahaya pertama." Lucas mengangguk, ia bisa merasakan energi aneh memancar dari pulau itu, energi yang berbeda dari elemen biasa, lebih murni dan menenangkan.
Mereka menemukan sebuah perahu kecil yang terbuat dari kayu di tepi danau, seolah memang ada yang menunggunya di sana. Lucas dan Diana naik ke dalamnya, dan Lucas menggunakan elemen airnya untuk mendorong perahu, membuatnya meluncur perlahan menuju pulau.
Saat mereka mendekati pulau, kabut tipis itu menipis, memperlihatkan sebuah altar batu kuno di tengah pulau, dikelilingi bunga-bunga langka yang bersinar redup dalam kegelapan. Di atas altar itu, sebuah kristal biru bening tergeletak, memancarkan cahaya lembut yang menghangatkan.
"Kristal Harmoni," Lucas berbisik, matanya terpaku pada kristal itu. Ini adalah artefak yang mereka cari, yang bisa menjadi kunci untuk mengalahkan Master Brian. Diana memegang erat tangan Lucas, merasakan getaran energi yang kuat dari kristal itu.
Mereka turun dari perahu, melangkah ke pulau kecil itu dengan langkah hati-hati. Udara di sana terasa damai dan murni, seolah seluruh kekuatan alam berkumpul di satu titik. Kristal itu memancarkan aura ketenangan, berlawanan dengan kegelapan Petir Gelap Master Brian.
Lucas mendekati altar, mengulurkan tangannya ke arah kristal. Saat jarinya menyentuh permukaan kristal, gelombang energi hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ini luar biasa," kata Lucas, "Energinya sangat murni." Diana juga menyentuh kristal itu, matanya terpejam, merasakan kedamaian yang sama.
Namun, kedamaian itu hanya sesaat. Tiba-tiba, langit di atas danau bergemuruh, dan kilatan petir ungu kehitaman menyambar, membelah kegelapan malam.
"Master Brian," Lucas berkata, rahangnya mengeras, "Dia merasakan keberadaan Kristal ini." Diana langsung mencabut pedang kembarnya, elemen esnya bergolak marah.
Suara tawa sinis bergema dari kejauhan, dan siluet Master Brian muncul di tepi danau, dikelilingi oleh aura Petir Gelap yang menakutkan. Di sampingnya, Raven berdiri tegak, cakar bayangannya sudah siap menyerang.
"Aku tahu kalian akan datang ke sini," suara Master Brian menggelegar, "Kalian tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku. Kristal itu akan menjadi milikku!"
"Tidak akan," Lucas membalas, ia berdiri di depan Kristal Harmoni, melindungi artefak itu. "Kami tidak akan membiarkanmu mengambilnya, Master Brian."
Pertarungan tidak terhindarkan. Lucas dan Diana tahu ini akan menjadi pertarungan terberat mereka, pertarungan yang akan menentukan nasib dunia. Dengan Kristal Harmoni di tangan, mereka siap menghadapi Master Brian dan kekuatan Petir Gelapnya.