Beverly seorang gadis terpelajar yang terpaksa harus menerima sebuah perjodohan yang di adakan oleh orang tua angkatnya .Tapi laki laki yang menikahinya itu malah mempersunting wanita lain setelah beberapa bulan pernikahanannya. Entah nasib apa yang dia alami saat itu?? Niat baiknya membalas budi kedua orang tuanya justru malah menghancurkan masa depannya sendiri.
Dia mengajukan kesepakatan bercerai saat satu tahun pernikahannya.
Bagaimana kelanjutan nasib Beverly selanjutnya???
Akankah dia menemukan seseorang yang bisa menerima status jandanya saat itu??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Warsiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mereka benar-benar menarikku untuk mati bersama!!
Sudah lima belas menit berlalu namun Beverly masih belum sampai di kantornya.
Sementara di kantor DR group kepala departemen Sbastian nampak marah kepada semua karyawan divisi itu.
"apa kalian sudah gila??? bagaiaman bisa kalian memberikan tanggung jawab sebesar ini padanya sendirian"bentak kepala departemen Sbastian.
Semua karyawan tertunduk panik dan takut saat ini.
"mm...itu...ituu..."kata morgan dengan terbata bata ingin memberikan penjelasan.
"itu apa??"bentak Sbastian lagi.
"itu..itu sebenarnya karena Manager Melinda yang memerintahkannya"kata morgan memberanikan diri.
"kenapa dia bisa ikut campur urusan divisi kita?"tanya Sbastian penuh selidik.
Mereka semua kembali menunjukkan raut wajah panik ,takut, dan gelisah.
"uhh.. itu"
"itu..."
"umm itu" mereka semua begitu ragu ragu untuk mengatakannya karena ada sesuatu yang mereka takutkan saat ini.
"bagaimana ceritanya??kenapa tidak ada yang mau menjelaskannya"bentak Sbastian yang terlalu marah melihat situasi yang nampak begitu kacau saat ini.
"jadi melinda memang suka bertindak sewenang-wenang kepada kami...yang lebih parah dia sering menindas Beverly dengan pekerjaan pekerjaan yang menurut saya bukan tanggung jawab Beverly. Entah ada masalah apa sebenarnya tapi dia terlihat tidak menyukai Beverly bahkan sering membuat Beverly terlihat begitu menderita karena ulahnya"kata Fatir berusaha menjelaskan semuanya.
"perempuan itu... Sudah ku duga akan melakukan semua ini...tapi tidak ku sangka dia akan berulah lebih dari yang ku duga"gumam kepala departemen Sbastian.
"kapan dia menyuruh Beverly mwngambil alih tugas itu?"tanua Sbastian.
"jadi setelah bapak menyuruh kami membuat proposal itu, tiba tiba dia datang dan menyuruh Beverly untuk mengerjakannya sendiri...dia bilang ingin menguji kemampuan Beverly... akhiirnya Beverly pun mengiyakan perintahnya"kata Fatir.
"meskipun Beverly mungkin bisa menyelesaikannya...tapi... bagaiaman bisa dia menyuruh Beverly mengerjakannya sendiri proposal yang begitu penting ini pak,saya selaaku teman satu divisi Beverly merasa kasian padanya,apalagi proposal ini nantinya akan di serahkan kepada direktur utama kita yang baru akan menjabat nantinya... bukannya dia bertujuan membuat Beverly kewalahan dan melakukan kesalahan. Saat Beverly melakukan kesalahan mungkin dia akan langsung di pecat oleh direktur kita nantinya"lanjut fatir lagi.
"perempuan itu berani beraninya main main di divisiku"gumam sbastian nampak memikirkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.
"kurasa dia memang berencana menyulitkan Beverly"sahut Dievan.
"untuk apa coba dia menyulitkan Beverly?"tanya Chelsea.
"tentu saja karena dia iri dengan Beverly yang begitu sempurna itu"Jawab Dievan.
"ahhh.. begitu ya"jawab Chelsea.
"kenapa masalah jadi serumit ini...ini benar benar menyulitkanku... mereka benar benar menarikku untuk mati bersama"gumam sbastian sambil memijat pelipisnya.
"apa Beverly masih tidak bisa di hubungi?"tanya Sbastian yang masih memijat pelipisnya itu.
"sa...saya akan mencobanya kembali"kata Morgan.
Morgan segera merogoh ponselnya dari saku celananya dan mencari kontak nama Beverly untuk segera dia hubungi.
Sementara di saat yang bersamaan Sbastian menerima telpon dari seseorang yang cukup dekat dengannya juga.
"haloo??ada apa?"jawab Sbastian kemudian pergi menyingkir.
"ketus amat sih lo"kata seseorang di sebrang telpon.
"gue sedang di buat gila oleh beberapa karyawan gue saat ini, mereka benar benar menarikku untuk mati bersama"kata Sbastian.
"tumben kamu bisa di bikin pusing sama orang lain, biasanya juga kamu yang bikin pusing orang lain"jawab laki laki itu di seberang telepon.
"sialan loe"umpat Sbastian.
"hahahaha"laki laki di sebrang telpon itu nampak menertawakan Sbastian.
"ohh iya, denger denger raja iblis itu mau balik,kapan dia akan datang"tanya seseorang di sebrang telpon.
"tuhh kan,loe juga tahu kalau dia itu raja iblis, tapi karyawannku malah melakukan kesalahan yang mungkin dapat menyebabkan raja iblis itu murka seketika"jawab Sbastian sesekali dia memijat pelipisnya karena pusing.
"memang ada masalah apa sampai kamu setakut itu?"tanya laki laki itu di seberang telepon.
"masalah kerjaan yang belum beres"jawab Sbastian.
"ya udah kelariin dulu,lagian dia juga belum datang kan?? ngapaiin sepanik itu"tanya laki laki itu.
"benar juga katamu, karena terlalu fokus dengan mereka sampai aku tidak memiliki ide untuk menyelesaikannya sendiri"kata Sbastian.
"cihh..."jawab laki laki itu nampak berdecak.
"jangan berdecak...atau ku bunuh kamu"kata Sbastian.
"hahahhaa... sekarang kamu sudah mirip dengan iblis itu"kata laki laki itu yang nampak menertawakan Sbastian.
"berhenti tertawa"kata Sbastian.
"ok...ok... kabari aku kalau iblis itu sudah sampai di kota ini"kata laki laki di sebrang telpon.
"hmmm...akan ku kabari nanti"kata Sbastian.
"ohh iya...ngomng ngmong bagaimana kabar kakak ipar??kamu belum pernah memperkenalkannya padaku?ajak dia kemari jika memang sempat"kata Sbastian.
Sementara seseorang di sebrang hanya diam dan malah melamun saat Sbastian memintanya untuk memperkenalkan kakak iparnya itu padanya.
"heii..... kenapa diam??"kata Sbastian.
"ahh.. tidak apa apa"jawab laki laki di sebrang telpon.
"kalian tidak ada masalah kan??jangan bilang kalian sudah bercerai sebelum memperkenalkannya padaku??ahhahaa"tanya Sbastian dengan gelak tawa meledeknya.
"tentu saja tidak, kami masih bersama sampai saat ini"kata laki laki di sebrang telpon.
"syukurlah kalau begitu...jangan sampai jadi fuckboy kayak iblis itu...hahaha...yang berganti ganti pasangan seperti orang berganti pakaian"kata Sbastian cengengesan.
"tentu saja tidak....jangan samakan aku dengan dia"kata laki laki itu.
"iya iya aku percaya... sudah terbukti dengan kesetiaanmu dengan kakak ipar itu"kata Sbastian.
"ya...kamu juga tahu itu"jawab laki laki itu.
"udah dulu, aku mau menyelesaiakn masalah ini dulu sebelum iblis itu datang besok"kata Sbastian sebelum mematikan panggilan telponnya.
Sementara seseorang di sebrang telpon nampak menyenderkan tubuhnya pada kursi kebangsaannya, sesekali dia memutar kursi itu malas. Entah apa yang ada di fikirannya saat ini, yang jelas dia terlihat banyak menyimpan beban dalam fikirannya. Sesekali dia memijat pelipisnya menggunakan tangannya, memejamkan matanya sejenak memikirkan beberapa hal yang saat ini memang sedang memenuhi isi kepalanya.
semangat
ku memilihmu karena adikku