Namanya adalah Senja Putri Pratama. Seorang remaja perempuan yang menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya.
Ayahnya sudah meninggal kala ia dan adiknya masih kecil, dan ibunya juga sudah meninggal beberapa bulan silam.
Almarhum ibunya pernah mengatakan bahwa tuhan akan mengirimkan malaikat tak bersayap yang akan selalu menemani hari-hari sulit Senja.
Arjuna Alexsa, seorang laki-laki yang tidak lain kekasih Senja yang selalu hadir menemani setiap hari-hari sulit Senja.
Namun, apa jadinya ketika laki-laki yang di anggap Senja sebagai malaikat tak bersayap itu justru membuat suatu masalah?
Apa yang akan di lakukan oleh Senja terhadap kekasihnya bernama Arjun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurcahyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Area Pelataran Rumah Sakit.
Senja duduk di kursi rumah sakit. Melihat keadaan di sekitarnya yang sangat memilukan.
Rumah sakit memanglah tempat yang sama sekali tidak di inginkan oleh setiap orang.
Senja menatap langit yang tak kunjung juga berhenti mengguyurkan air hujan. Setiap orang yang ada di rumah sakit terlihat sedang bersedih.
Ya, itu sama halnya dengan Senja.
Ia mengingat kembali surat yang tadi ia baca. Betapa menghancurkan dirinya surat itu.
Ibu di diagnosa kanker stadium tiga. Itu artinya ukuran kanker lebih besar dan terkadang sudah menyebar ke jaringan sekitarnya.
Senja tahu tingkatan kanker harus di pahami, karna mempengaruhi beberapa hal, yaitu perawatan apa yang di perlukan oleh dokter untuk mengatasi sel kanker.
Serta kemungkinan resiko yang akan terjadi.
Itu berarti biaya juga akan memepengaruhi tentang perawatan apa yang harus di lakukan dokter.
Biaya rumah sakit memanglah tidak ada yang murah. Bagimana mungkin seorang Senja yang menganggap dirinya miskin mampu melunasi perawatan ibu.
Dan kemungkinan resiko yang akan di timbulkan.
Dari sepengetahuan Senja banyak sekali resiko yang di timbulkan oleh penyakit mematikan bernama Kanker.
Ia juga tahu bahwa banyak dari pengidapnya yang meninggal karna penyakit tersebut.
"Tidak!!"
Senja berteriak terhadap apa yang ada di pikirannya.
"Itu tidak mungkin terjadi, ibu pasti akan baik-baik saja. Ibu adalah orang yang tidak lemah, ia pasti akan sembuh."
Emosi Senja benar-benar tidak terkontrol oleh dirinya sendiri. Kali ini bukanlah Senja yang lucu, menggemaskan, ataupun tegas.
Ini adalah Senja dengan sikapnya yang akan berubah menjadi sedikit pendiam.
Ia adalah anak tertua dari ketiga bersaudara. Itu artinya nasib keluarganya kelak berada di tangan Senja.
Senja tertunduk, mengingat dulu waktu dirinya masih kecil, bayangan itu samar-samar menghantui kenangannya.
Saat itu Senja bermain di sebuah taman kecil di dekat rumahnya. Senja menggenggam sebuah balon berwarna hijau muda.
Senja mengambil label bertuliskan nama " Senja ". Kemudian menempelkannya di permukaan balon tersebut.
Karna siang itu angin bertiup kencang membuat balon Senja terangkat ke udara. Ia mengejar balon berwarna hijau tersebut dengan berlari sangat cepat. Sampai-sampai ia tidak memeperhatikan jalan di taman itu yang terdapat banyak batu.
Alhasil Senja terjatuh dan menangis kencang.
Kejadian itu meninggalkan bekas luka di kaki Senja. Balon berwarna hijau itu pergi mengudara di langit cerah siang itu.
Ibu dan ayah Senja menghampirinya. Kemudian ayah Senja mengusap kepala dan pipi putrinya yang basah.
"Jangan menangis lagi, besok ayah belikan lagi." Kata ayah Senja kala itu.
"Sudah ya Senja besok kata ayah mau di belikan lagi." Tambah ibu Marinah.
"Aku tidak mau bu. Aku mau yang itu, aku tidak mau yang lain. Di dalam balon itu ada kertas bertuliskan harapan Senja bu."
Senja kembali menangis dengan kencang. Ayah dan Ibunya kemudian saling bertatap-tatapan.
"Senja menuliskannya di sana. Senja mau balon yang itu bu, Senja tidak ingin balon baru." Kata Senja.
Ibu Marinah kemudian memeluk tubuh Senja dan mengecup lembut pipi putrinya. Ayah Senja duduk di samping Senja sambil mengelus-ngelus kakinya.
Ia kemudian pulang ke rumah mengambil perban dan kembali ke taman tersebut.
Ia membalut luka di bagian lutut anaknya.
Setelah itu ayah Senja bercerita tentang seorang wonder woman dalam kisah pewayangan.
Ya, "Srikandhi namanya."
Senja kemudian mendengarkan dengan seksama apa yang di ceritakan oleh ayahnya.
Kala itu Senja berhenti menangis dan setiap malam menjelang tidur Senja selalu meminta ayahnya untuk menceritakan kembali tentang kisah Srikandhi.
Samar-samar semua kenangan Senja mulai bersliweran di pikirannya.
Hatinya terasa sesak mengingat kebahagiaan yang dulu ia miliki berasama ayah dan ibunya.
Tidak ada orang tua lagi jika tuhan mengambil ibunya dalam waktu dekat. Baginya itu adalah mimpi buruk.
"Jangan ambil ibu Senja tuhan, bukankah kau sudah mengambil ayahku dari kami? kasihan adik-adikku kelak."
Mata Senja kembali mengeluarkan air mata. Semua orang tidak tahu apa yang kini tengah ia rasakan.
Semuanya bercampur aduk. Traumanya kembali menggebu-gebu ketika detik-detik ayahnya meninggalkan dunia untuk selamanya.
Kenangan itu terlintas jelas di dalam memori Senja.
Membuat Senja bergidik ngeri dengan bayangan-bayangan itu.
Matanya tak kunjung berhenti meneteskan air mata di area pelataran rumah sakit sore itu.
semngat ya kak
di tunggu feedback-nya
owh ya thor fav karya ak juga ya. Saling support... 😊