Elena, ku mohon cepatlah sadar! Aku sangat merindukanmu!
Seorang Pria muda duduk di samping ranjang, menemani seorang wanita cantik yang baru saja kembali dari gerbang kematian.
Apa yang terjadi dengan wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Win, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16. Pesta part 2
Tuan Robert segera turun dari panggung, dia menyambut Ryuga dengan senyuman yang lebar. Nyonya Robert ikut bergabung, sedangkan Elena hanya terdiam menatap sekeliling ruangan yang terlihat sangat mewah di matanya.
"Pak Ryuga, senang melihat anda hadir di acara kami. Terima kasih sudah menerima undangan dari kami." ucap Tuan Robert.
Ryuga hanya mematung dengan wajah yang dingin, Elena menjadi serba salah karena dia tidak tau harus bagaimana bersikap di depan kedua orang itu.
Tuan dan Nyonya Robert masih tersenyum di hadapan Ryuga walaupun laki-laki itu mengabaikan mereka secara terang-terangan. Elena semakin canggung dan gugup melihat sikap dingin Ryuga yang belum pernah dilihatnya.
Ryuga melihat wajah Elena yang kebingungan, dia menggenggam tangan Elena lalu berbisik di telinganya. "Biasa aja, nggak perlu gugup gitu." Ryuga menjauhkan wajahnya, dia lalu tersenyum sambil menatap Elena.
Sementara itu, Safira mengawasi mereka dari kejauhan. Dia merasa terusik melihat Ryuga yang tersenyum di depan Elena. Ryuga terkenal sebagai dinding besi di perusahaan, dia tidak pernah bersikap ramah terhadap siapapun. Namun saat ini, laki-laki itu tengah mengenggam tangan seorang wanita dan tersenyum ramah di depan wanita itu.
Safira terbakar api cemburu, sudah lama dia menginginkan Ryuga untuk menjadi kekasihnya. Akan tetapi, jangankan menjadi kekasih, untuk berteman saja terlalu sulit karena Ryuga selalu mengabaikan Safira.
Safira memanggil seorang pelayan, dia meminta pelayan untuk memasukkan sesuatu ke dalam minuman Ryuga. Wanita itu lalu berjalan mendekati Ryuga dan Elena.
"Selamat malam Pak Ryuga, terima kasih sudah menghadiri acara hari ini." ucap Safira sambil tersenyum.
Elena menatap Safira, dia lalu tersenyum ketika wanita itu juga menatapnya. Melihat senyuman Elena, kebencian di hati Safira mulai membesar. Dia tidak menyangka jika wanita yang di bawa oleh Ryuga ternyata memiliki wajah yang begitu cantik dan menawan. Tubuhnya bahkan sangat sempurna di mata Safira.
"Maaf, kalau boleh tau, anda ini...!" Safira ingin bertanya hubungan mereka. Namun dengan cepat Elena menyahut sebelum Ryuga mengucapkan omong kosong.
"Saya teman Ryuga." Elena semakin melebarkan senyumannya.
Safira sedikit lega karena mereka hanya berteman, tapi itu sama sekali tidak mengurangi kebenciannya terhadap Elena. Safira memikirkan cara untuk memisahkan Elena dari Ryuga agar dia bisa melancarkan rencananya.
"Saya Safira, rekan kerja dari Pak Ryuga."
"Saya Elena. Senang berkenalan dengan anda." Elena menjulurkan tangannya, hendak berjabat tangan dengan Safira.
Dengan terpaksa Safira menerima uluran tangan itu meskipun dia sangat tidak sudi. Safira hanya menjaga sikapnya saja di depan Ryuga.
"Nona Elena sudah makan?" tanya Safira sambil memaksakan senyumannya.
"Belum, ini baru mau makan." jawab Elena.
"Bagaimana kalau kita makan bersama saja? Kebetulan saya juga sendirian." ajak Safira.
Ryuga masih diam, dia tidak mempedulikan Safira yang mencoba menarik perhatiannya dengan berbagai cara. Sampai akhirnya dia melihat Elena yang hendak menerima ajakan dari Safira.
Ryuga menahan tangan Elena, "Kamu makan sama aku aja." ucapnya dengan nada memaksa.
Elena tidak punya pilihan lain, karena dia datang sebagai partner Ryuga, dia ingin menghormati Ryuga di depan rekan kerjanya.
"Iya, saya makan bareng Ryuga aja. Terima kasih atas tawarannya." sahut Elena.
Safira semakin kesal, rencananya untuk memisahkan mereka menjadi gagal total. Seorang pelayan datang memberikan minuman, Elena yang memang penasaran dengan rasa wine mewah segera mengambil minuman yang sebenarnya di tujukan untuk Ryuga.
Elena menghabiskan semua wine di dalam gelas dalam satu tegukan, melihat rencananya lagi-lagi gagal, Safira memanggil pelayan lain untuk membantu memisahkan kedua pasangan itu.
Elena merasa sedikit pusing, perutnya juga mual karena ini pertama kalinya dia mencoba minuman beralkohol.
"Ga, aku ke toilet bentar ya." ucap Elena dengan wajah yang mulai pucat.
Ryuga merasa khawatir, dia mengikuti Elena hingga ke depan pintu toilet wanita.
Di dalam toilet, seorang pelayan suruhan Safira menculik Elena. Dia memasukkan Elena ke sebuah tong besar yang biasanya berisi handuk untuk tamu hotel. Pelayan mendorong tong itu keluar dari toilet, Ryuga masih menunggu di depan namun dia tidak mencurigai pelayan tersebut.
Setelah menunggu beberapa menit, Ryuga mulai khawatir. Dia masuk ke dalam toilet untuk mencari Elena setelah memanggil beberapa kali tapi tidak mendapat jawaban.
Wajah Ryuga berubah panik ketika tidak menemukan siapapun di dalam sana. Dia berusaha mengingat siapa saja yang keluar dari toilet, namun satu-satunya yang mencurigakan adalah pelayan yang keluar dengan mendorong sebuah tong besar.
Ryuga berlari mencari keberadaan pelayan tersebut. Ryuga masuk ke dalam lift, dia mengingat nomor 8 adalah angka terakhir lift berhenti. Ryuga naik ke lantai 8. Saat akan keluar dari lift, seorang pelayan laki-laki berdiri di depan pintu. Ryuga mengira pelayan tersebut hanya srdang menunggu lift, tapi ternyata Ryuga di serang oleh laki-laki itu. Dia menyuntik Ryuga dengan obat bius yang sudah berada di tangannya sejak awal.
Kedua pelayan yang di tugaskan langsung membawa Ryuga dan Elena ke kamar yang terpisah. Safira masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan oleh ayahnya, dia melepas semua pakaiannya lalu naik ke atas ranjang.
Sementara Elena saat ini juga berada di atas ranjang bersama seorang laki-laki. Safira menawarkan keperawanan Elena kepada seorang pengusaha kaya yang menjadi rekan kerjanya. Safira melakukan itu untuk melampiaskan dendam terhadap Elena yang mendapat banyak perhatian dari Ryuga.
Hari menjelang pagi, Elena mengerjap membuka mata. Dia merasakan rasa perih di bagian bawah tubuhnya, tulang pinggangnya juga serasa mau copot saking sakitnya. Elena melihat langit-langit kamar yang terlihat asing baginya, dia bangun perlahan dari tempat tidur.
Elena membelalakkan mata ketika menyadari jika tubuhnya dalam keadaan telanjang, dia menatap tanda merah keunguan di beberapa kulitnya yang mengartikan jika dirinya telah di sentuh oleh laki-laki yang entah siapa pelakunya.
Elena tidak menemukan siapapun di dalam kamar selain dirinya sendiri, dia berdiri lalu menatap ke atas ranjang. bercak darah telah menodai kain sprei putih yang polos tanpa gambar. Hati Elena begitu hancur mengetahui jika kehormatannya sebagai seorang wanita sudah di renggut darinya.
Elena melihat pakaiannya di lantai, dia memakai kembali pakaiannya lalu segera berlari keluar dari kamar.
"Ga, kamu di mana?" tanyanya dalam hati.
^^^BERSAMBUNG...^^^
nyatain ajj cwe suka kok sama cwo baik🤗