Haiii semua.. Ini Novel karya pertamaku.. Mohon dukungannya ya, semoga kalian suka alur ceritanya. 🙏🙏
Ini menceritakan tentang romansa cinta anak sekolah. Kisah cinta yang penuh dengan berbagai perasaan.
Menceritakan seorang gadis remaja lugu dan apa adanya yang tiba-tiba menjalani kehidupan yang sangat rumit.
Febhia Putri Kusuma gadis remaja berusia 16 tahun ini tinggal bersama kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya. Febhia menjalani kehidupan gadis remaja pada umumnya, hingga suatu ketika dia mengalami sebuah situasi dimana kedua orang tuanya harus berpisah.
Dan disituasi yang bersaam Febhia harus mengalami penghianatan dari sahabatnya. Hidupnya makin rumit dan membuatnya putus asa. Cinta pertamanya berpaling darinya. Febhia merasa semua yang ia cintai mulai menghilang perlahan-lahan.
Mau tau kelanjutan ceritanya?? ayoo baca Novel pertamaku ini.. Mohon dukungannya ya.. ❤️❤️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Arida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Wrong Expression
***
Bhia yang menunggu di parkiran terus mengamati sekelilingnya, kedua matanya terus mencari keberadaan Gio. Sudah 10 menit ia menunggu, tapi Gio tidak muncul-muncul juga. Bhia malah melihat Fero yang sedang berjalan ke arahnya.
" Ayo Bhi bareng gue. "
" Gue lagi nunggu Gio Fer, lo duluan aja. " Bhia menolak ajakan Fero.
" Bareng gue aja, tadi Arkan nitipin lo sama gue."
Bhia berfikir sejenak, ia ragu apakah ia harus menerima tawaran Fero.
" Udah ayok "
Saat Bhia menuju mobil Fero tiba-tiba saja Gio muncul di depannya. Bhia yang terkejut dengan kedatangan Gio tersentak dan hampir saja terjatuh, namun dengan sigap Gio meraih lengan Bhia. Fero yang mendengar suara teriakan Bhia menoleh kearahnya dan melihat Gio dan Bhia yang sudah dalam posisi Bhia berada di pelukan Gio.
Bhia yang menyadari dirinya dalam pelukan Gio dengan segera melepaskan tangan Gio dari dirinya.
" Yo, lo apaan sih? Tiba-tiba nongol, bikin gue jantungan tau. Hampir aja gue jatoh. " Omel Bhia pada Gio .
" Sorry, mau balik bareng nggak? " Tanya Gio sambil melirik Fero.
Fero yang merasa Gio sengaja memprovokasinya dengan cepat meraih tangan Bhia.
" Ayo Bhi. "
Bhia merasa bingung dan canggung, karna ia tidak mengerti dengan situasi apa yang sedang di hadapinya. Bhia dengan pasrah membiarkan Fero menarik tangannya dan masuk kedalam mobil Fero.
" Lo lagi berantem sama Gio? " Tanya Bhia yang penasaran pada Fero.
" Enggak kok. "
" Oh, kirain.. Tapi Fer, tumben deh tu anak nawarin gue balik bareng. Biasanya gue yang minta tumpangan dia. Trus lo bilang tadi kak Arkan yang nyuruh gue bareng lo ? Berarti kak Arkan nggak nyuruh Gio kan?" Tanya Bhia beruntun.
Fero yang malas menjawab pertanyaan Bhia tidak merespon sama sekali. Ia masih fokus menyetir mobilnya tanpa memedulikan pertanyaan Bhia.
Bhia yang menyadarinya merasa kesal pada Fero, dan ia memutuskan untuk tetap diam selama perjalanan menuju tempat kostnya. Namun tiba-tiba saja Fero menepikan mobilnya di sebuah taman lalu ia turun dan membukakan pintu mobil untuk Bhia.
" Loh? Kok ke taman? " Tanya Bhia dengan wajah yang bingung sambil turun dari mobil Fero.
" Udah ikut gue. "
Bhia berjalan mengikuti Fero, dan ia berhenti di sebuah bangku di pinggir taman. Lalu merekapun duduk di bangku itu, Bhia masih dengan wajahnya yang tampak bingung sesekali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
" Bhi. " Ucap Fero tiba-tiba.
Bhia hanya menoleh ke arahnya dan menunggu kalimat apa yang selanjutnya akan keluar dari mulut Fero.
" Tadi gue udah ngobrol sama Alin. " Ucap Fero sambil menatap Bhia.
Bhia masih terdiam dan melihat ke arah Fero, ia masih menunggu kalimat apa lagi yang akan di katakan Fero.
" Terus gue udah pastiin perasaan gue ke Alin, dan ternyata emang sekarang kita udah nggak punya perasaan yang spesial satu sama lainnya. Alin udah nggak bisa nerima gue kayak dulu lagi. Dan seiring berjalannya waktu gue ngerasa capek memperjuangkan perasaan gue sendirian, sampe akhirnya perasaan gue ke Alin udah nggak kayak dulu lagi Bhi."
" Terus apa hubungannya sama gue Fer? Itu kan perasaan kalian berdua, lo nggak perlu cerita sama gue. "
" Ya ada Bhi, ini semua berkat kata-kata lo kemarin. Berkat lo, gue berani buat mastiin perasaan gue."
Bhia hanya mengangguk, ia tidak tau harus memberikan respon seperti apa.
" Bhi.. " Ucap Fero yang tiba-tiba meraih jemari Bhia dan menggenggamnya.
Bhia yang terkejut karna tangannya yang tiba-tiba digenggam oleh Fero dengan mata yang terbelalak menatap ke arah Fero. Jantungnya terus berdetak tidak beraturan, keringat dingin mulai keluar membasahi pelipisnya.
" Bhi, gue bakal coba buka hati gue buat lo. " Ucap Fero membuat Bhia makin terkejut.
Bhia terdiam, ia melepaskan genggamannya dari tangan Fero. Entah apa ini benar atau tidak, namun Bhia tidak bisa menerima kata-kata yang keluar dari mulut pria yang dicintainya itu. Bhia merasa Fero memberikan kesempatan untuknya, bukan memberikan hatinya untuk Bhia. Bukan cinta seperti itu yang Bhia inginkan.
" Bhi, kenapa? Kok lo diem aja? "
" Maaf Fer, tapi perasaan gue ini bukan buat percobaan Fer. Gue emang suka sama lo, bahkan cinta. Tapi gue nggak bisa nerima cinta yang kayak gini. Makasih karna lo mau buka hati lo buat gue, tapi lebih baik gue nunggu lo sepenuhnya bisa ngasih hati lo ke gue. Bukan dengan cara kayak gini Fer. "
Fero yang mendengar penjelasan Bhia terdiam, ia melihat wajah gadis di sampingnya itu dan merasa bahwa sosok Bhia bisa lebih berfikir dewasa dibandingkan dengannya. Fero sangat malu, ia menyesali perkataannya, kenapa dia harus terburu-buru memberitahukan perasaannya pada Bhia tanpa berfikir panjang dulu .
" Maaf Bhi, seharusnya gue bisa lebih berfikir dewasa, dan seharusnya bukan kalimat itu yang keluar dari mulut gue. "
" Nggak apa-apa Fer, intinya lo tata dulu hati lo. Lo yakinin perasaan lo sendiri dulu. Baru lo bisa ungkapin perasaan lo itu."
Fero mengiyakan perkataan Bhia dan merekapun kembali ke mobil.
*** Kost-kostan ***
Sesampainya di kost-an, Bhia langsung turun dari mobil Fero, namun matanya terfokus pada seorang pria yang sedang menatapnya tajam. Ternyata Gio yang sedang berada di teras rumahnya ,ia memperhatikan mereka berdua yang turun dari mobilnya Fero. Gio menatap sinis ke arah Bhia dan Fero. Bhia yang menyadari tatapan sinis Gio dengan cepat memalingkan wajahnya dari pandangan matanya pada Gio.
" Yaudah , gue balik ya Bhi. " Ucap Fero berpamitan pada Bhia.
" Iya, makasih ya Fer. "
Bhia yang tidak mau berurusan dengan Gio, ia pun bergegas masuk ke dalam kost-kostan dan masuk ke dalam kamarnya.
" Si Gio kenapa sih? Aneh banget ." Gumam Bhia pada dirinya sendiri.
Bhia yang merasa lelah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ia menghela nafas panjang dan lama-lama ia menutup matanya dan mulai tertidur.
Sudah hampir 3 jam Bhia tertidur, bahkan telfon dari Arkan pun tidak ia hiraukan.
Pukul 17.00 akhirnya Bhia terbangun dan ia segera beranjak ke kamar mandi. Selesainya mandi ia mendengar ponselnya yang terus berdering. Ia meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelfon nya, dan ternyata Arkan. Bhia pun mengangkat telfon dari kakaknya itu.
Arkan yang khawatir karna Bhia tidak menjawab panggilan telfonnya dari tadi pun memarahi Bhia. Bhia hanya bisa meminta maaf dan menjelaskan bahwa dirinya tertidur karna kelelahan.
Bhia pun keluar kamar dan menuju teras kost-an nya, ia berniat menunggu Arkan yang tadi mengajaknya makan diluar. Namun saat ia sedang menunggu, bukan Arkan yang menghampirinya melainkan Gio.
MAKASIH YANG MASIH SETIA BUAT BACA NOVEL KARYA PERTAMAKU INI..
TERUS SUPPORT YAH..
TINGGALIN JEJAK.
LIKE, COMMENT AND VOTE JANGAN LUPA KLIK FAVORIT ❤️❤️
mampir juga yuk dinovelku