NovelToon NovelToon
Lelakimu

Lelakimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Dikelilingi wanita cantik / Cinta beda status / Tamat
Popularitas:156.2k
Nilai: 5
Nama Author: syafridawati

Dylan pemuda berhati luhur, baik, polos juga tampan. Ia memiliki kepintaran yang luar biasa juga hobbi yang suka berganti-ganti mengikuti mood-nya. Dylan juga tidak pernah membanggakan diri sebagai putra konglomerat.

Karena suatu skandal ia di buang papanya ke daerah terisolir jauh dari kata modern sebagai hukuman, ia hanya boleh kembali bila ia sudah berhasil.

Di dusun ini Dylan bertemu gadis cantik yang bernama Lili seorang guru yang mengabdikan diri di pedalaman, Lili tunangan Defri Kakak sepupu Dylan yang sudah meninggal. Hingga karena suatu kesalahpahaman keduanya menikah, tanpa cinta.

Ayu seorang gadis cantik putri seorang pria terkaya di dusun sangat membenci Lili dan terobsesi dengan Dylan. Ayu dan komplotannya berusaha menghancurkan rumah tangga Dylan dan Lili.

Mampukah Dylan menjadi seorang lelaki yang penuh kasih dan tanggung jawab? Untuk Lili, papa dan penduduk dusun.
Mampukah Dylan meraih cinta, kehormatan dan kepercayaan....

Nb: Maaf jika banyak kesalahan, karena saya baru mencoba untuk menulis.
Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syafridawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang mendebarkan

Sebulan sudah, usia pernikahan Lili dan Dylan. Mereka menjalani rutinitas seperti biasanya. Mereka berusaha untuk saling menjaga menghormati satu sama lain, mereka hanya saling memandang dan menunduk bila bertatapan muka, Lili masih meletakkan bantal di antara mereka bila tidur. Walaupun, setiap pagi Lili selalu mendapati dirinya sudah berada di dalam pelukan Dylan. Ia mulai memiliki kebiasaan tidur bila bersentuhan dengan Dylan. Akan tetapi, hatinya masih saja selalu merasa bersalah kepada Defri.

Malam sudah semangkin larut, Dylan membawa secangkir jamu untuk Lili.

Ia melihat Lili kesulitan menyisir rambut panjangnya.

"Lili ... Minumlah dulu, obatmu!" Dylan memberikan secangkir jamu.

"Terima kasih, Cok." Lili meminum jamunya dan melanjutkan menyisir rambut panjangnya. Ia ingin memotong rambutnya tetapi, karena Dylan menyukainya ia tidak memotongnya.

"Sini .... " Dylan meminta sisir kepada Lili dan menyisir rambut indah istrinya.

"Rambutmu, wangi sekali dan cantik seperti Rapunzel!" ucap Dylan ia sangat menyukai kartun animasi itu.

"Kamu tahu Rapunzel?" Lili heran seorang cowok mengerti akan animasi tontonan anak cewek.

Dylan menganggukkan kepalanya.

"Ya tahulah Lili ... Akukan seorang gamer!" batin Dylan.

"Aku mengganti shamponya! Kamu suka, ya? Tapi di sini tidak ada jual, di kota adanya." ujar Lili sambil meminum jamunya sedikit demi sedikit..

"Akh, hatiku ini selalu saja berdebar .... " batin Dylan. Sesuatu di bawah sana mulai bangkit, ia berusah meredamnya.

"Apa nama shamponya?" tanya Dylan terus bermain-main dengan rambut Lili.

"M*kariz* shampo." Jawab Lili.

"Oooo .... " ucap Dylan. Namun, jauh di hatinya ia menyimpan nama merk shampo itu.

"Tidurlah ... Apakah masih sakit?" Tanya Dylan.

"Hanya sedikit." Jawab Lili sedikit manja tanpa disadarinya.

"Akh, Lili ... kenapa sih harus bersuara seperti itu? kamu ga tahu apa, gimana rasanya dedek kecilku?." Batin Dylan, pikirannya mulai ngeres.

"Memang ... setiap bulan seperti itu ya, yank?" Tanya Dylan yang masih terus menyisir rambut Lili. Terkadang Dylan menciumi rambut Lili atau sekedar memilin-milinnya di jemari tangannya, saat mereka berbicara hal pekerjaan ataupun murid sekolah. Lili sangat menyukai keintiman yang tercipta. Dylan mulai punya kebiasaan memanggil kata "Sayang" ataupun "Yank" biarpun Lili masih memanggilnya dengan sebutan "Cok".

Benar adanya cinta hadir karena terbiasa tanpa disadari si pemilik.

"Iya ... memang begitu,Cok. Kamu menyisir rambutku atau menciumnya sih?" Lili memutar tubuhnya, menghadap Dylan.

"Memang ... ada larangan, seorang suami mencium rambut istrinya? kamu istriku ... dan aku berhak Lili sayang. Mau atau tidaknya dirimu!" Ucap Dylan.

"Seharusnya kita membuat perjanjian. Bahwa kamu tidak boleh menyentuhku. kecuali aku menyetujuinya. Hargailah itu, Cok." Ucap Lili sengit. Dylan hanya memandang Lili dan mengangkat kedua bahunya.

"Aku akan membuat dirimu jatuh cinta kepadaku, walaupun, kamu ga cinta kepadaku." Batin Dylan mengutip sepenggal lirik lagu.

"Tidurlah .... " Hanya itu yang terucap dari bibir Dylan.

Lili berbaring di sisi Dylan, dengan memejamkan matanya ia mendekap perutnya. Dylan memberanikan diri mengelus-elus perut Lili Karena, ia merasa kasihan. Karena tidak ada penolakan dari Lili ia terus mengelusnya, hingga ia sendiri tertidur menghadap Lili.

Karena elusan tangan Dylan terhenti Lili membuka matanya, ia merasakan kenyamanan dan kehangatan saat telapak tangan Dylan yang kasar membelai lembut perutnya dan ajaibnya rasa sakit itu hilang, akan tetapi saat tangan itu berhenti rasa sakit itu kembali muncul.

Lili memandang wajah Dylan wajahnya sangat lembut dan tampan, hidungnya sedikit mirip dengan Defri.

"Mengapa, Ucok bisa mengenal Defri? Aduh ... perut ini. Ga mungkinkan aku membangunkannya, hanya untuk mengelus perutku lagi?" batin Lili menggigit bibirnya.

Tangan Dylan tiba-tiba memeluknya, membuat jantung Lili semangkin tidak karuan tidak ada jarak di antara mereka, hanya selembar pakaian masing-masing. Lili menyurukkan kepalanya di bahu Dylan. Hembusan lembut nafas Dylan menyentuh wajahnya.

Deg deg deg

"Defri ... maafkan, aku! Bagaimanapun Dylan suamiku." Batin Lili merasa bersalah.

Dylan semangkin erat memeluk Lili seperti memeluk bantal, tubuh Lili yang mungil membuat Dylan dengan mudah merengkuhnya.

"Ap-apa ... yang harus aku lakukan?" Lili tidak bisa bergerak di dalam kungkungan tangan Dylan

Kepala Lili sudah berada di atas dada Dylan, Lili mampu mendengar detak jantungnya yang teratur. Dylan tertidur dengan nyenyaknya dan sakit di perutnya pun sudah lenyap entah ke mana?, akhirnya Lili pun tertidur dengan pulasnya di pelukan Dylan.

Deg ... deg ... deg ....

Dylan terbangun saat ia mendengar sesuatu, bagaikan detak jam beker yang bergema tepat di telinganya. Ia merasakan suatu kehangatan dan perasaan nyaman di jiwa dan raganya, berlahan ia membuka matanya dan terkejut mendapati dirinya sedang memeluk Lili dan kepalanya tepat berada di kedua belah d*da Lili.

"Mati aku! Bagaimana bila Lili bangun? Ia pasti marah denganku." Batin Dylan mengangkat sedikit kepalanya. Ia melihat Lili tertidur pulas, lehernya yang putih mulus juga bibirnya ....

"Ya, Allah ... Aku bisa gila jika terus begini .... " Dylan menyadari adik kecil kesayangannya mulai bangkit di bawah sana.

Dylan mencoba untuk bangkit akan tetapi, tangan Lili menariknya hingga Dylan kembali keposisi awal ia bangun tidur.

Dug dag dug dag

Jantungnya mulai tidak karuan, semua hal menyiksanya pagi ini.

"Waduh ... tolong ... dedek kecil jangan siksa aku? Aku sudah ga kuaatt??!Aduh ... Lili kenapa kamu juga ikutan menyiksaku?" batin Dylan kalang kabut tak menentu.

"Mama ... Bagaimana Ini? Ada hidangan yang bisa dimakan tapi tidak bisa dimakan! Ampun ... Dj!" omel batin Dylan.

Dylan memandangi wajah cantik Lili, sebagian rambut Lili sudah menyelimuti perut Dylan seperti selimut hitam. Adik kecilnya terus-terusan meronta-ronta ingin meloncat ke luar menyiksa jiwa raga Dylan.

"Kalau sekedar cup cup ajinomoto? Lili marah ga, ya?" tanya hati Dylan, akhirnya dengan memberanikan diri Dylan melakukannya. Cup ....

Sekilas Dylan mengecup lembut bibi* Lili, akan tetapi Lili meraih tengkuk Dylan mereka terus berci*man hingga ....

"Def .... " sebuah nama meluncur dari bibir Lili, menghujam tepat ke jantungnya.

"Sakiiiitt ... Maaak!! " jerit hatinya.

Dylan menghentikan perbuatannya, melihat ke arah Lili, tanpa rasa berdosa ataupun bersalah Lili kembali terlelap dan tersenyum.

Ingin rasanya Dylan mencabik-cabik bantal menjadi kepingan-kepingan debu, " Apakah aku cemburu? Kalau benar ini yang dinamakan perasaan cemburu. Cemburu benar-benar menguras lautan ... aduh!" Umpatnya.

Dylan termenung, "Ya Allah, sakitnya ... Di dalam tidur pun Lili masih menyebut Kak Defri. Bersalahkah aku? Ya Allah, semua ini adalah takdir yang Engkau Berikan kepadaku. Berilah kemudahan untukku, mendapatkan cinta dari istriku sendiri. Ya Allah, buatlah ... Istriku, mencintaiku." Do'a kecil Dylan mengharap suatu keajaiban.

Berlahan Dylan bergerak, mengangkat pelan tangan Lili agar ia tidak terbangun, merapikan rambut Lili yang menempel di tubuhnya.

Dylan menunaikan sholat Subuh bersama Mak upik

"Lili belum bangun, Cok?" tanya Mak Upik

"Belum Mak, perutnya tadi malam sakit. Lagian hari ini, hari Minggu ... biarlah Lili tidur sebentar lagi Mak. Lagian ia lagi cuti sholat." ucap Dylan mulai memasak sarapan.

"Cok ...." Ucap Mak Upik mengupas ubi jalar, "Iya, Mak" Dylan menoleh sekejap.

"Sabarlah ... menghadapi Lili. emak rasa, ia pernah mengalami trauma. Berusahalah agar cinta tumbuh di antara kalian, jangan lupa berdo'a karena segala sesuatu terjadi karena Kehendak-Nya." Ucap Mak Upik.

"Iya, Mak. Ucok akan berusaha, Mak." Jawab Dylan. Ia terus mengaduk nasi goreng di penggorengan.

"Aku sendiri tidak tahu, apakah aku mampu menggantikan Kak Defri di hatinya?" Batin Dylan

Sarapan telah dihidangkan di atas tikar. Lili masih dengan nyenyaknya tidur. Mak Upik dan Dylan menyantap sarapan. Setelah itu, Dylan mengantarkan Mak Upik ke rumah Kepala Dusun.

"Assalamualaikum." Mak Upik memberikan salam.

"Waalaikumsalam, Mak." Sapa istri Kadus.

"Cok, pulanglah! Nanti ... biar anak ibu yang mengantar Mak Upik." Ucap Bu Kadus.

Mak Upik menganggukkan kepala.

"Baik, Bu! Mak ... Ucok pulang dulu." Ucap Dylan.

Sesampainya di rumah Dylan menuju kamar.

Kriiiet

"Aw ... " jerit Lili sedang memakai baju, ia baru selesai mandi. Lili kebingungan harus menutup bagian mana dulu di tubuhnya.

"Kamu kebiasaan, Cok. Tidak pernah mengetuk pintu." Omel Lili, mencari handuk.

"Apa yang kamu, lakukan Cok?" tanya Lili sedikit ketakutan. Dylan mengambil selimut dan menutup tubuh Lili.

"Lili, aku suamimu. Walaupun, aku tahu ... di hatimu ada seseorang tapi sampai kapan? Aku berhak akan tubuh ini." Ucap Dylan membelai wajah, leher dan saat tangan Dylan ingin menyentuh bagian d*danya.

"Tolong, Cok. Aku belum siap." Ucap Lili Dylan menghentikan aksinya melihat kedua retina Lili berkaca-kaca.

"Sarapanlah ... aku ingin mengajakmu ke pantai." Ucap Dylan.

"Um, Cok. Kita ... sebaiknya ke ladang, aku ingin menanam sayuran kamu maukan?" pinta Lili.

"Baiklah, bersiaplah!" Ucap Dylan.

Sesampai di ladang Dylan bingung harus bagaimana?

"Lili ... bagaimana cara menanamnya?" Ucap Dylan.

"Akh, sepertinya ... Ucok benar-benar tidak pernah bekerja. Siapakah sebenarnya dia?" batin Lili.

"Seperti ini .... " Lili menggali lubang kecil, menaruh bibit jagung dan menutupnya. Lili menggali lubang kecil, memberi jarak di antaranya, membuat barisan lubang kecil yang memanjang.

"Lili, berikanlah cangkulmu kepadaku, kalau soal lubang melubangi aku jagonya! dan kamu yang menanam benihnya." Ujar Dylan

Lili tersenyum memberikan cangkul.

"Apakah semua sayuran ini, engkau yang menanamnya sayang?" Tanya Dylan

"Sayang ... sayang, entar kepala peyang bin melayang-layang!" Ucap Lili sambil tersenyum.

"Iya, kalau kamu menciumku seperti tadi pagi ... aku pastinya melayang-layang." ucap Dylan keceplosan.

"Apaa?" Lili menghentikan menanam benih

"Bukankah ... tadi pagi, aku hanya bermimpi! Apakah itu nyata? dan yang menciumku tadi pagi Ucok Bukan Defri?" batin Lili mengingat setiap detail mimpinya.

Dylan melihat wajah Lili berubah-ubah dari berwarna merah menjadi merah padam.

"Kamu pasti mengambil kesempatan." Ujar Lili sengit.

"Sayangnya, tidak ada ponsel ... kalau ada, aku sudah membuat vidionya. Kamu ... begitu bersemangatnya menarik tengkukku dan mencium bibirku. Kamu telah mencuri ciuman pertamaku, Lili sa ... yang." Goda Dylan sambil memonyongkan bibirnya.

"Ucokkk ... gerrr" Lili melempar Dylan dengan gumpalan tanah kecil.

"Hahaha ... Apakah kamu ingin mengulanginya Lili?" Dylan menghindari lemparan demi lemparan yang dilontarkan Lili. Akhirnya keduanya saling mengejar.

Dylan menangkap pinggang Lili dan mengangkatnya tinggi, Lili memegang kedua belah pundak Dylan. Mereka saling tertawa bahagia. "Aku senang melihatmu tertawa " batin Dylan.

"Cok ... aku ... aku tidak tahu, aku harus bagaimana denganmu?" batin Lili.

Berlahan Dylan menurunkan tubuh Lili.

"Ayo kita lanjutkan lagi .... " Ajak Dylan

"Apanya?" tanya Lili bingung.

"Menanam bibitnya! memang ... Kamu sedang mikirin apa? Hayoo ... Kamu ingin berci*man denganku?" Goda Dylan.

"Ucok ... " Lili memukul dada Dylan dengan manja.

Cup ....

Dylan mendaratkan ciuman singkat di bibir Lili, sebelum berlari. Lili hanya mengepalkan kedua tangannya. Mereka melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, berbicara, bercanda berbagi air minum dari botol yang sama.

Terkadang dengan sengaja dylan memukul pantat Lili ataupun, menarik rambutnya, Lili lupa sejenak akan Defri dan orang tuanya.

Bersambung...

Terima kasih buat pembaca yang sudah sudi, meluangkan waktunya. Author sangat membutuhkan komentar, like dan vote. Untuk penyemangat dan membuat karya lebih baik lagi author.

1
Suyatno Galih
ceritanya kampung terisolir jadi heboh dg dtgnya toke sawit yg mau mbangun kampung, semangat
Vita Anggraini
ditunggu thor..... kelanjutannya okeeee
syafridawati: insya Allah kak
total 1 replies
Vita Anggraini
gank Kabir kreennn aku udah baca samai tamat happy ending.... pulau kematian
syafridawati: makasih kak
total 1 replies
Vita Anggraini
hahaha aku yg baca aja ketawa....
syafridawati: hahaha
total 1 replies
Vita Anggraini
papa Andrian kreeennn
syafridawati: ya aku juga suka kisah ini sebenarnya
total 1 replies
Vita Anggraini
kreennnn jln cetitanya
syafridawati: terima kasih kak, tapi itu pun nggak selesai season keduanya belum buat juga
total 1 replies
Vita Anggraini
edan Rawin
Tyara Lantobelo Simal
Lanjut Thor
menarik
syafridawati: mungkin suatu saat nanti aku buat sekuelnya. sekarang lagi sibuk
total 1 replies
Auditor
hm gk bisa brkata kata ih 😊
Hiatus
semangat kak
PanggilsajaKanjengRatu
Hy kak, yuk mampir di novel baruku "Lihat Aku, Dan buka Hatimu"
Nm@
"My Brother" hadir, Kak!
Juefioritah Fun Min Wah
semangat sis..saya like..
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
4 like+rate 5 dan komen sudah mendarat kaka😘😘
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
like
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
😍😘
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
Hai kaka, aleena mampir nih😍
Hiatus
aku mampir kak
Nona Kos Anjani
like😍
ᴍ֟፝ᴀʜ ᴇ •
Tante kesayangan tuan muda mampir, semangat up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!