happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon سسكي, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyelesaian masalah
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Ustaz Hafid saat dokter itu selesai memeriksa kondisi Cika. Dia memutuskan memangil dokter untuk datang ke pesantren.
Nyai Hana dan Kyai Abdullah ikut khawatir, keduanya menunggu jawaban dari dokter berjilbab itu.
"Kondisinya baik-baik saja. Pasien cukup kelelahan saja. Tidak perlu khawatir, Kyai, Bu Nyai," sahut dokter berjilbab itu tersenyum tipis sembari memasukkan alat-alat yang di bawa ke dalam tasnya kembali.
Mereka semua mengucapkan alhamdullah mendengar hal tersebut.
"Terus kenapa belum siuman, Dok?" Nyai Hana bertanya khawatir, wanita paruh baya ini benar -benar takut terjadi apa-apa dengan Cika.
"Sebentar lagi akan siuman, Bu. Saya sarankan jangan biarkan pasien kelelahan, karena daya tahan tubuhnya cukup lemah."
Nyai Hana mengaguk paham.
Setelah mengantarkan dokter itu ke depan, Ustaz Hafid kembali lagi ke dalam kamarnya.
Dia menyelimuti tubuh isterinya itu.
"Ummi pikir Cika hamil, Nak." Nyai Hana duduk di samping Ustaz Hafid.
Ustaz Hafid tersenyum tipis, seraya berkata, "Mana mungkin Cika bisa hamil Ummi–"
"Siapa tahu, pernikahan kalian juga sudah hampir satu bulan. Ummi dan abah juga nggak sabar gendong cucu, Fid." Nyai Hana memotong cepat pembicaraan putranya itu. Sangat tidak sabar baginya menggendong seorang cucu.
Ustaz Hafid tampak bingung. "Bilangin ke menantu Ummi dulu," sahutnya.
Nyai Hana tersenyum kecil.
"Ummi sekarang mengerti, kamu belum melakukan apa pun dengan Cika?" tanya Nyai Hana menggoda putranya itu.
Ustaz Hafid menjawab dengan anggukan kecil. Membuat Nyai Hana kian tertawa.
"Kenapa, Ummi. Ada yang lucu?"
"Tidak apa-apa, ummi mau bikin bubur buat Cika dulu." Nyai Hana beringsut bangkit. Senyum kecil terus terpancar di wajahnya.
Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang, menatap lekat wajah Cika yang masih tidak sadarkan diri itu.
Telunjuknya bermain di alis tebal milik Cika. Timbul rasa sesak dalam benaknya mengingat dirinya akan pergi ke Mesir. Ustaz Hafid tidak yakin apakah dirinya akan sanggup berpisah dengan isterinya itu untuk beberapa bulan.
•••
Ustazah Laili dan Ustaz Andre akhirnya menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di asrama putri tentang siapa dalang atas kehilangan uang salah satu santri tadi pagi.
Sudah terbukti jelas bahwa Cika tidak salah sama sekali. Dia hanya korban fitnah dari salah satu santri putri yang tidak menyukainya.
"Besok seluruh santri yang menghina dan menuduh Cika tadi pagi, akan minta maaf, Kak. Mereka semua merasa bersalah dan menyesal," tutur Ustazah Laili yang baru masuk dalam rumah itu. Dia mendudukkan tubuhnya di samping Ustaz Hafid.
Ustaz Hafid menoleh. "Syukurlah, kebenaran terungkap. Setidaknya kakak bisa tenang untuk pergi besok."
Ustazah Laili mengerutkan keningnya, melihat wajah sedih dari kakak lelakinya itu. "Kak Hafid, akan tetap pergi?"
"Nggih."
"Sudah bilang sama Cika?"
"Belum. Nanti setelah dia siuman akan kakak bicarakan."
"Semoga saja Cika bisa mengerti, ada kami di sini yang menjaganya. Kak Hafid tidak usah khawatir."
Ustaz Hafid menyungging senyum simpul, kemudian mengusap lembut kepala adik perempuannya itu yang dibaluti khirmar.
Setelah berbincang dengan Ustazah Laili, Ustaz Hafid berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Ia tersenyum tipis saat melihat isteri kecilnya itu sudah terbangun.
"Ustaz Hafid, aku lapar!" Cika merengek selayaknya anak kecil. Gadis ini memegang perutnya, cacing-cacing di dalam perutnya itu sudah berdemo karena kelaparan.
Ustaz Hafid duduk di bibir ranjang, pria ini mengambil semangkuk bubur buatan umminya yang ada di atas nakas.
"Ustaz suapin, mau?" tanyanya sembari menarik pipi Cika.
Cika menggembungkan kedua pipinya, membuat Ustaz Hafid kian gemas melihat tingkah isterinya itu.
"Bisa nggak jangan tarik pipi aku? Sakit tahu ...," ucapnya kesal, mengusap pipi kirinya yang di tarik Ustaz Hafid.
Ustaz Hafid cengir kuda menanggapinya.
"Sekarang makan ya, buka mulutmu," titah Ustaz Hafid.
Cika tidak mau menuruti perintah ustadz Hafid, gadis ini menutup rapat-rapat mulutnya.
"Kenapa? Tadi ... katanya lapar."
Cika mengambil mangkuk itu dari tangan Ustaz Hafid. "Aku bisa makan sendiri, nggak perlu disuapin, Ustaz."
"Hem, baiklah." Ustaz Hafid hanya bisa memerhatikan Cika yang makan dengan lahap di hadapannya.
"Ustaz, pelaku pencuri uang Kak Ayuni sudah ketemu nggak? Aku takut balik ke asrama lagi. Pasti teman-teman masih membenciku," tutur Cika di sela-sela makannya.
Masih ada raut kesedihan di wajahnya, meskipun ia berusaha menyembunyikan dengan senyuman.
"Selesaikan makan dulu, baru ngomong." Ustaz Hafid memperingati.
Cika menganguk paham.
Setelah selesai dengan aktivitas makanannya. Cika beringsut bangkit, membawa mangkuk ke dapur.
"Eh ...."
Cika kaget saat ia kembali lagi ke kamar, Ustaz Hafid langsung memeluk tubuhnya.