" Katakan sekali lagi, apa yang kau ucapkan tadi?!" Dirga menatap dengan sorot mata menghunus ke arah wanita di hadapannya.
" A-aku ingin kita putus, a-aku merasa tertekan selama menjadi pacarmu, jadi aku mohon, aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini saja," suara Kirania terdengar lirih.
" Baik ... baiklah, jika itu yang kau mau, mulai saat ini kita putus, aku tidak akan mengganggu. Dan aku menganggap kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya!" tandas Dirga meninggalkan Kirania dengan langkah lebar.
Sejak saat itu Kirania memang tak pernah melihat sosok pria yang sudah membuatnya jatuh hati.
Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan dalam situasi yang rumit.
Akan kah cinta lama mereka bersemi atau mereka sama-sama mempertahankan gengsi mereka masing-masing demi menghindari rasa sakit hati.
ig : rez_zha29
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Pertama Tak Terlupakan
Kirania meruntuki dirinya sendiri, bisa-bisanya dia berpikiran jika Dirga akan berbuat macam-macam. Tapi jika ingat rumor pria itu seorang penakluk wanita, tak salah dia bersikap waspada seperti tadi, walaupun akhirnya dia harus merasakan malu kerena sudah berpikir su'udzon.
Dan kini sepanjang perjalanan yang entah dia tak tahu akan dibawa ke mana, Kirania hanya bisa tertunduk. Bagaimana mungkin dia hanya sanggup menunduk? Di dalam Mall yang rata-rata kebanyakan orang berpakaian rapih dan berhias sekeren mungkin, dirinya hanya mengenakan piyama dengan rambut diikat asal. Sudah pasti dia akan menjadi santapan mata orang yang kebanyakan akan mencibirnya, apalagi saat ini dia sedang pergi bersama pria tampan yang menarik perhatian wanita-wanita pengunjung Mall itu.
Kirania sengaja memperlambat jalannya agar tak beriringan dengan Dirga, tapi tiap kali dia tertinggal, Dirga langsung menunggu agar mereka kembali sejajar, hingga akhirnya mereka berhenti di tempat yang Kirania tahu untuk apa.
" Mau apa kita ke sini?" Pertanyaan yang sebenarnya Kirania sendiri tahu jawabannya, karena saat ini Dirga sedang berdiri di depan mesin pencetak tiket otomatis studio xxi.
" Mau nonton dong, memangnya mau apalagi kalau kita ke bioskop kalau nggak mau nonton?"
" Aku nggak mau, aku mau pulang saja."
" Tiketnya sudah dibeli, nih." Dirga menunjukkan tiket yang baru saja dicetaknya.
" Nanti aku ganti!" Jawaban Kirania seolah menantang. Kirania sadar jika kalimat yang diucapkannya sangatlah konyol. Berapa sih harga tiket bioskop? Untuk seorang Dirgantara, uang segitu tidaklah berarti apa-apa.
" Aku nggak terima ganti rugi, jadi kita tetap nonton," tegas Dirga. " Kamu mau pesan makanan apa? Popcorn mau?"
" Aku sudah kenyang."
" Aku belikan minuman saja, ya?"
" Nggak usah, aku mau pulang. Aku ngantuk."
" Nanti di dalam kamu bisa pinjam pundak aku kalau kamu ngantuk." Dirga menepuk pundaknya sendiri sambil tersenyum. " Ayo ..." Dirga langsung menarik tangan Kirania yang tidak sempat ditolak oleh gadis itu.
Kirania memberengut kesal mendudukkan tubuhnya agak kasar di kursi.
" Ngapain sih pakai ke sini? Aku tuh malu dilihatin banyak orang. Tadi juga yang menjaga tiket masuk pada cekikikkan, seolah aku ini tontonan yang lucu." Kirania bersungut-sungut
" Yang suruh pakai baju seperti itu, siapa? Tadi 'kan Pakde kamu suruh kamu ganti baju, tapi kamu nggak mau." Dirga menyahuti. " Lagipula dengan penampilan kamu seperti ini bikin kencan pertama ini tak terlupakan." Dirga menyeringai.
" Tapi itu 'kan karena aku nggak mau pergi keluar, kamu yang paksa. Bilangnya cuma temanin makan, nggak bilang mau nonton segala." Kirania terus menggerutu.
" Kalau aku bilang mau nonton kamu pasti nolak."
" Terus kita pulang jam berapa?"
" Sebelas -- dua belas mungkin."
" Astaghfirullahal adzim." Kirania memekik. " Kita pulang saja, deh. Bude sama pakde pasti cemas aku pulang selarut itu. Aku nggak enak kalau pulang malam, apa kata tetangga nanti? Anak gadis keluyuran tengah malam. Kak Dirga kita pulang saja." Kirania panik, dia sampai mengguncang lengan Dirga.
" Slow, Baby ... aku sudah bilang ke pakde kamu kalau mau menonton, aku sudah janji ke pakde kamu nggak akan berbuat macam-macam."
" Tapi aku nggak enak sama tetangga sekitar, aku malu kalau sampai mereka tahu aku pulang tengah malam begini."
" Ini malam minggu, Yank. Suatu hal yang wajar pulang malam, namanya juga orang pacaran. Sudah biasa itu, mereka juga akan paham, kok."
" Tapi aku nggak terbiasa melakukan hal itu. Sesuatu hal yang tidak baik, jangan selalu dibiasakan!" ketus Kirania dengan wajah ditekuk.
" Ya sudah, nikmati saja dulu filmnya. Jangan ditekut terus wajah kamu, jangan bikin aku khilaf karena lihat bibir kamu begitu." Dirga terkekeh membuat Kirania mendelik.
Selama film berlangsung, Kirania sama sekali tidak menikmati tontonan itu. Dia justru terlihat gusar, dia lebih banyak menundukkan kepala kadang meremas jemarinya, terkadang memeluk tubuhnya sendiri karena sweater yang dia pakai tidak maksimal melindungi tubuhnya dari pendingin ruangan. Dan ketika pandangannya mengedar ke layar lebar, saat itu sedang menayangkan adegan ciuman dan adegan romantis pasangan yang sedang berpacaran, jelas saja hal itu membuatnya langsung memalingkan wajahnya.
Dirga bukannya tidak tahu kegelisahan yang dirasakan Kirania, dia sendiri sebenarnya tidak berniat fokus menonton film, dia sebenarnya mengamati gerak-gerik Kirania. Dia bahkan harus menahan tawa saat Kirania membuang muka saat adegan berciuman. Dirga memang ingin tahu sekuat apa Kirania akan menghindarinya.
Dirga melepas jaketnya yang telah dia pakai kembali setelah mengerjai Kirania di mobil tadi.
" Pakailah, sweater kamu nggak mempan buat nahan dinginnya, kan?" Dirga menyampirkan jaketnya ke pundak Kirania, tapi dengan cepat gadis itu menolak.
" Nggak usah bandel, deh. Nanti kalau sakit, aku nggak mau disalahin, pakai saja." Perintah Dirga terkesan tak ingin dibantah.
Dengan berat hati Kirania memakai jaket yang diberikan Dirga.
" Terasa hangat 'kan sekarang? Berasa sedang aku peluk." Dirga tersenyum lebar.
" Aku mau pulang, bisa 'kan kita keluar sekarang?"
" Kamu nggak nyaman ya pergi sama aku?"
" Aku ... aku takut pulang malam-malam."
" Kan ada aku yang temani."
" Aku tetap nggak nyaman."
" Ya sudah kita pulang sekarang."
Akhirnya mereka berdua keluar dari bioskop walaupun film baru diputar setengah main.
" Nanti kamu nggak usah antar sampai depan rumah," ujar Kirania saat mereka berjalan menuju arah parkiran mobil.
" Memangnya kenapa?" Dirga mengeryitkan keningnya.
" Aku nggak mau dilihat tetangga."
" Aku minta ijin bawa kamu pergi secara baik-baik ke pakde kamu, jadi aku mesti balikin kamu secara baik-baik juga, Aku nggak mau pakde kamu punya pikiran yang jelek tentang aku, dengan melepas kamu pulang sendirian saja." Dirga menolak keinginan Kirania.
" Kan aku nggak pulang sendirian, aku diantar kamu sampai depan gang."
" Nah, ini ... ini yang bikin kepercayaan yang pakde kamu kasih ke aku cacat. Nggak sopan banget hanya mengantar sampai depan gang, bukannya mengembalikan sampai depan rumah dengan selamat. Setidaknya ada ucapan terima kasih pada pakde kamu karena sudah kasih ijin bawa kamu."
" Nanti aku bilang ke pakde kalau kamu ada keperluan mendesak, jadi nggak bisa mampir ke rumah."
Dirga berhenti melangkah, hingga otomatis membuat Kirania pun menghentikan langkahnya.
" Ada apa?" tanya Kirania heran.
" Kamu pilih salah satu, ikut pulang denganku, dan aku akan mengembalikan kamu ke pakde kamu sampai ruang tamu, atau kamu mau aku tinggal sendiri di sini dan pulang sendiri ke rumah Pakde kamu?!" Dirga dengan bahasa yang tegas mengancam Kirania.
Kirania menggeleng kencang. " Aku nggak mau pulang sendirian, aku takut."
" Kalau begitu kamu mesti nurut sama aku, aku antar kamu sampai ketemu pakde atau bude kamu," ucap Dirga kemudian kembali melangkah yang diikuti langkah Kirania yang wajahnya sudah masam karena ancaman Dirga tadi.
***
" Terima kasih ya, kamu sudah mau temani aku malam ini," ucap Dirga saat mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah Pakde Danang.
" Semoga minggu depan kita bisa jalan ke tempat lain. Tapi kamu jangan pake baju tidur lagi, biar kamu nggak jadi malu kaya tadi." Dirga terkikik melihat tadi Kirania hanya bisa tertunduk tak berani menatap orang-orang sekitar.
" Tapi aku bersyukur untuk itu, karena nggak ada cowok yang berani melirik ke kamu," seloroh Dirga lagi.
Hening, tak ada jawaban atau reaksi dari Kirania hingga membuat Dirga menoleh ke arah gadis itu. Satu sudut bibir Dirga tertarik ke atas diikuti gelengan kepala saat mendapati ternyata Kirania terpejam,
Dirga kemudian menepikan mobilnya. Dia kemudian menunggu sejenak sambil memperhatikan wajah Kirania dengan bibir sedikit terbuka. Sepetinya Kirania memang benar-benar lelap karena tak menyadari jika mobil sudah berhenti selama sepuluh menit lamanya.
Dirga mencondongkan tubuhnya ke dekat Kirania, sedangkan jarinya perlahan mengelus lembut wajah cantik wanita itu. Bahkan saat ini jarinya sampai berada di bibir ranum Kirania yang sedikit terbuka. Untuk pria seperti Dirga, ini adalah suatu godaan. Hasratnya tiba-tiba muncul, gairahnya seakan minta dilepaskan. Akhirnya dengan gerakan pelan seolah tak ingin mengganggu Kirania yang terlelap, Dirga mendekatkan bibirnya ke wajah Kirania.
Dirga mengecup lembut pipi Kirania, tak ada reaksi. Melihat Kirania bergeming, Dirga memberanikan diri mengecup bibir yang beberapa hari ini menggoda untuk dilahapnya.
Dirga merasakan lembutnya bibir Kirania, saat bibirnya baru menyentuh permukaan bibir Kirania, dia hendak melu mat bibir wanita itu ketika tiba-tiba.
Braakkk braakk braaakkk...
" Keluar, woi ... keluar ....!!"
" Apa yang kalian lakukan di dalam?"
" Kalian mau berbuat mesum, ya?!"
Suara pukulan tangan di mobilnya diikuti teriakan suara-suara yang terdengar membuatnya tersentak dan spontan menjauhkan dirinya dari wajah Kirania.
Kirania pun yang awalnya tertidur langsung terperanjat saat terdengar olehnya suara orang berteriak sambil menggebrak mobil Dirga. Kirania bingung apa yang terjadi, seketika hatinya mendadak gusar.
*
*
*
Bersambung...
Happy Reading😘
.