Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Jerat Sang Ratu
Suara pintu ruang makan yang tertutup rapat memutus seluruh gangguan dari luar. Di dalam ruangan megah itu, yang tersisa hanyalah deru napas mereka yang saling beradu dan ketegangan yang kian membakar udara.
Jemari Dominic menangkup rahang Clarissa dengan cengkeraman erat. Matanya yang memerah menatap tajam ke dalam manik mata istrinya, menuntut jawaban atas siksaan manis yang ia rasakan sepanjang malam.
"Kaupikir kau bisa memainkan permainan panas ini lalu lari begitu saja setelah membuatku gila semalaman?" bisik Dominic dengan suara serak, berat, dan berbahaya.
Clarissa tidak menunjukkan sedikit pun gestur panik. Sebaliknya, ia menikmati kilat kegelisahan dan rasa dahaga yang meluap di mata pria tegap itu. Victoria tahu betul kapan harus membiarkan pria merasa berkuasa, dan kapan harus mematahkan dominasi itu dengan cara yang paling halus.
Dengan gerakan yang teramat tenang, Clarissa tidak membalas ciuman yang hampir mendarat di bibirnya. Ia justru memiringkan kepala sedikit, menyapukan ujung jemari lentiknya dari dada tegap Dominic, menyusuri deretan kancing kemeja kusut pria itu hingga berhenti tepat di atas detak jantungnya yang bergemuruh hebat.
"Membuatmu gila?" cicit Clarissa dengan nada yang teramat lembut, hampir menyerupai bisikan angin, namun puncaknya memancarkan ketenangan mutlak seorang penguasa.
"Bukan aku yang membuatmu gila, Dominic. Diri muliamu sendirilah yang tak sanggup mengendalikan hasrat fana itu."
Dominic mengetatkan rahangnya.
"Clarissa—"
"Huuus..."
Clarissa menghentikan ucapan Dominic dengan menekan telunjuknya di bibir pria itu. Tatapannya berubah dari lembut menjadi teramat tajam, dingin, dan mengintimidasi—sebuah pancaran aura imperial yang membuat Dominic secara tak sadar menahan napasnya.
"Kau ingin bertindak memimpin di atas pangkuanmu sendiri?" bisik Clarissa tepat di depan telinga Dominic. "Sayang sekali... di panggung ini, akulah yang menentukan kapan musik mulai dimainkan dan kapan pertunjukan harus usai."
Dengan gerakan yang cepat dan terukur, Clarissa memanfaatkan celah ketakjuban Dominic. Ia mengangkat tubuhnya dengan begitu anggun dari pangkuan Dominic, melepaskan cengkeraman tangan pria itu dari pinggangnya dalam satu hentakan halus.
Srett.
Clarissa berdiri tegak di samping meja makan. Gaun sutra merah marunnya jatuh melambai sempurna, tanpa ada sedikit pun lipatan yang berantakan. Ia merapikan helai rambut gelombangnya di depan Dominic yang masih terduduk kaku dengan napas memburu dan rasa dahaga yang kian tak tertahan.
Clarissa melangkah satu titik menjauh, lalu berbalik menatap Dominic dari atas. Tangannya terangkat, mengusap bahu kemeja Dominic yang kusut dengan kelembutan yang menyindir.
"Rapikan penampakanmu, Suamiku," tutur Clarissa dengan senyuman anggun yang memikat sekaligus mematikan. "Seorang pemimpin klan Pratama tidak boleh terlihat compang-camping dan hilang kendali hanya karena sedikit godaan."
Dominic menatap istrinya dengan rahang terkatup rapat. Rasa frustrasi dan kekaguman bercampur menjadi satu di dadanya. Pria yang biasanya memegang kendali atas ribuan orang dan keputusan bisnis bernilai triliunan itu, kini benar-benar tak berdaya di bawah kendali catur seorang Clarissa.
"Kau benar-benar berubah, Clarissa," gumam Dominic rendah, matanya menyipit penuh selidik. "Kau bukan wanita ragu-ragu yang kunikahi dulu."
Clarissa terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang bergaung indah di ruang makan. Ia menyentuh dagu Dominic dengan ujung jarinya, mengangkat wajah pria itu sedikit.
"Orang bodoh tetap berada di tempatnya, Dominic. Sementara orang yang bertahan hidup akan belajar menguasai keadaan," jawab Clarissa amat dingin.
"Sekarang, nikmati sarapanmu. Aku ada urusan yang jauh lebih penting daripada melayani amarah fanamu."
Clarissa berbalik, menghentakkan sepatu hak tingginya dengan irama yang mantap, lalu melangkah keluar dari ruang makan meninggalkan Dominic sendirian yang mengepalkan tangan di atas meja.
Di luar ruang makan, Tulus sudah berdiri menunggu dengan membungkuk hormat. Aura Clarissa seketika berganti menjadi dingin dan tak tersentuh.
"Tulus," panggil Clarissa tanpa menghentikan langkahnya.
"Hamba, Nyonya," sahut Tulus patuh.
"Bagaimana perkembangan kondisi Helena di rumah sakit?"
"Melaporkan, Nyonya. Helena sudah sadarkan diri secara penuh. Namun, informasi batalnya seluruh kerja sama bisnis Pratama Group dengan perusahaan keluarganya baru saja bocor ke publik. Saham keluarga Helena merosot tajam pagi ini," terang Tulus dengan nada rendah.
Sudut bibir Clarissa terangkat menyunggingkan senyuman kemenangan. Ular itu kini sudah kehilangan taring dan wilayah kekuasaannya. Saatnya memberikan pukulan pamungkas yang akan memastikan Helena tak akan pernah bisa bangkit lagi.
"Siapkan kendaraan," perintah Clarissa tegas.
"Kita akan menjenguk 'sahabat kecil' suamiku ke rumah sakit."
sangat menarik sekali