NovelToon NovelToon
Plot Twist : I'M The Villainess

Plot Twist : I'M The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai

Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!

Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Perjanjian Pra-Nikah

~HAPPY READING~

"Habiskan sarapanmu terlebih dahulu," ujar Alex melihat Elia yang tampak terburu-buru.

"Sudah nih, sudah habis!" jawab Elia sambil memperlihatkan kedua telapak tangannya yang sudah kosong tanpa ada sedikit pun sisa roti yang tersisa.

"Rayyan, ambilkan susu," perintah Alex pada Rayyan yang berdiri tak jauh di dekat mobil.

"Baik, Bos!" Rayyan langsung berlari kembali ke dalam rumah keluarga Lauren. "Susu..." ujar Rayyan celingukan di area lorong depan.

"Nih..." Meilin yang baru keluar dari ruang tamu langsung memberikan gelas susu murni hangat yang tadi sempat dipegang Elia

Setelah menerima gelas susu itu dari Meilin, Rayyan dengan cepat kembali berlari keluar dan memberikan gelas itu pada sang bos. "Ini, Bos..." Rayyan menyodorkan gelas berisi susu murni itu.

"Minum," Alex langsung mengambil gelas tersebut dan memberikannya pada Elia.

Tanpa protest dan menunggu lama, Elia langsung menerima gelas susu itu dan menenggak habis isinya dalam beberapa kali tegukan.

"Udah habis! Ayo buruan, waktu gue terbatas tau," ujar Elia dengan santai menggunakan aksen 'Gue'-nya.

Alex sempat sedikit terkejut mendengar gaya bicara kasual yang terlontar begitu saja, namun tidak butuh waktu lama bagi pria itu untuk kembali membetulkan ekspresi wajahnya yang tenang. "Rayyan, ke toko perhiasan terlebih dahulu."

"Baik, Bos!" ujar Rayyan. Perlahan mobil sedan mewah itu melaju dengan kecepatan sedang di atas jalan raya menuju kawasan perhiasan elit pusat kota.

Di dalam kabin mobil yang hening, Alex merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map tebal berwarna merah marun. "Ini adalah surat pra-nikah, bukan kontrak, hanya sebuah perjanjian pra-nikah biasa. Coba kamu pelajari terlebih dahulu. Jika ada poin yang ingin ditambah atau ada poin yang memberatkan kamu, kita bisa bicarakan lagi," ujar Alex seraya memberikan map berwarna merah itu ke tangan Elia.

"Janji pra-nikah, ya?" Elia menerima map itu, membuka sampulnya, dan membaca baris demi baris dokumen di dalamnya dengan serius.

Pihak Pertama: Alex Cassian Veradoux

Pihak Kedua: Helena Evangelin Lauren

Poin 1: Setelah menikah, saham HELX Corporation akan diberikan kepada Helena sebanyak 20%.

Poin 2: Jika pihak kedua ketahuan memiliki hubungan dengan pria lain setelah menikah, maka pihak kedua diceraikan tanpa membawa apa pun. Begitu pun sebaliknya dengan pihak pertama.

‘Eh... miskin dong gue kalau dicerai tanpa bawa harta gono-gini?! Wah, curang ini!’ jerit Elia kaget dalam batinnya. ‘Eh... tunggu sebentar. Berhubungan dengan pria lain setelah menikah... itu artinya selingkuh dong gue?! Gak salah sih kalau gitu. Oke, berarti ini gak masalah karena gue gak mungkin selingkuh! Apalagi yang kurang coba? Harta bertabur di mana-mana, gantengnya kebangetan. Ini mah lebih dari cukup!’ batin Elia mengangguk-angguk paham.

Ia meneliti poin berikutnya.

Poin 3: Pihak pertama dan kedua harus jadi diri sendiri.

‘Poin ke-3 ini apa maksudnya?’ batin Elia bingung menatap tulisan itu. Namun karena terasa tidak terlalu mengganggu, Elia kembali membaca poin-poin berikutnya.

Poin 7: Pihak kedua dilarang berinteraksi dengan Arton lebih dari 10 menit jika tidak ada pihak pertama.

‘Hah? Ini...’ batin Elia bingung. Gadis itu menoleh ke arah Alex sebentar dari sudut matanya. ‘Entahlah... tapi poin ini gak masalah sih buat gue! Lagian gue malas dekat-dekat sama Arton. Bisa-bisa plot mati tragis gue terpicu! Enggak, enggak, harus jauh-jauh dari Arton!’ batin Elia bergidik ngeri membayangkan ending tragis Helena asli di novel. Gadis itu lalu kembali membaca poin-poin lainnya.

Hingga matanya terhenti di poin sepuluh.

Poin 10: Pihak kedua dilarang minum minuman keras, merokok, berjudi, pergi ke club malam.

"Heii, Paman! Mau protes ini! Poin kesepuluh kenapa cuma aku yang gak boleh, terus Anda boleh gitu ke club, mabuk, ngerokok?! Wah, curang!" protes Elia melambaikan kertas di tangannya.

Mendengar protes nyaring dari Elia, pria itu mengalihkan pandangannya. Matanya yang tadinya menatap fokus ke arah ponsel pintar kini beralih menatap tajam wajah Elia. Tanpa peringatan, Alex mendekatkan wajah tampannya hingga tersisa hanya satu sentimeter saja jarak di antara mereka. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Elia.

"Helena... stop panggil saya Paman. Saya tunangan kamu, bukan paman kamu," tegur Alex dingin. Bukannya menjawab protes Elia, Alex malah protes keras karena terus-menerus dipanggil 'Paman'.

Suasana mendadak mengunci. Jarak yang memangkas hingga satu sentimeter itu membuat Elia bisa merasakan hembusan napas hangat Alex menyapu permukaan kulit pipinya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, pasokan udara di paru-paru Elia terasa tersendat. Jantungnya mendadak berdesir heboh Deg!

Rasa canggung dan gugup yang amat sangat mendadak menyerang sistem sarafnya. Namun, demi menutupi rasa gugup dan gemetar di tubuhnya, Elia nekat membalas dengan pura-pura sok berani.

"Emmm... Paman~" ujar Elia lagi, sengaja memancing emosi Alex padahal dalam hatinya sudah ketar-ketir setengah mati.

Pletak!

Alex mengetuk lembut kepala Elia menggunakan buku jarinya.

"Heii..." Elia hendak merajuk protes lagi karena kepalanya diketuk. Namun sebelum kalimatnya selesai, mulutnya yang terbuka langsung disumpal oleh sebuah makanan lembut dan kenyal.

"Emmm... mochi?" gumam Elia dengan pipi mengembung.

"Makan dan lanjutkan. Kalau tidak ada yang perlu diubah, langsung tanda tangan," ujar Alex tenang seraya menarik kembali posisinya, menyandarkan punggungnya ke jok mobil.

"Emmm..." jawab Elia pasrah dengan mulut penuh mochi. Rasa gugup dari kejadian jarak satu sentimeter tadi masih menempel di dadanya, membuat jemari tangannya kini sedikit gemetar saat membalik halaman terakhir.

Poin 15: Dilarang meminta cerai tanpa alasan yang masuk akal.

"Emmm... nih udah! Poinnya banyak yang menguntungkan aku, jadi gak ada yang perlu diubah apalagi ditambah," ujar Elia seraya menyodorkan kembali map berwarna merah itu pada Alex.

"Setelah kita benar-benar menikah, aku akan memberikan salinannya padamu," ujar Alex seraya menerima map tersebut.

"Bos, kita sudah sampai," sapa Rayyan memecah keheningan dari kursi kemudi.

Elia melemparkan pandangannya ke luar jendela. Binar matanya terpaku pada sebuah butik perhiasan beraksen emas dan kaca kristal megah di depan mereka. "Wah... gila sih, tokonya bagus banget!" serunya, berusaha mengalihkan debar jantungnya yang masih beruntun.

"Sebentar, Helena," panggil Alex. Pria itu menyodorkan saputangannya pada Elia. "Bersihkan dahulu bubuk putih yang menempel di pipimu."

"Oh..." Elia menerima saputangan sutra beraroma wangi maskulin itu. "Makasih," ujar Elia singkat.

Gadis itu bingung ingin memanggil Alex dengan sebutan apa. Menurutnya tidak tepat memanggil Alex 'Paman' untuk saat ini karena takut pria itu bertindak nekat lagi, tapi mau panggil nama rasanya belum terbiasa. Akhirnya Elia memutuskan hanya mengucapkan terima kasih saja seraya mengusap lembut pipinya.

"Sudah? Ayo masuk," ujar Alex.

Pria itu turun dari mobil terlebih dahulu. Saat Elia hendak membuka pintu mobil dari dalam, tiba-tiba Alex sudah membukakannya dari luar dengan gerakan tegap dan elok.

"Ayo," Alex menyodorkan telapak tangannya.

Kali ini, uluran tangan Alex diterima dengan senang hati oleh Elia. Namun, saat jemari mereka bertautan, rasa hangat dan tegas dari genggaman Alex kembali menyengat kesadaran Elia. Rasa gugup yang sedari tadi ditahannya merayap semakin naik. Dan seperti takut Elia akan hilang atau melarikan diri, Alex sama sekali tidak melepas genggaman tangannya saat mereka berjalan membelah pintu kaca toko.

"Selamat datang, Tuan Alex," sapa para pegawai toko dengan bungkukan hormat.

Tidak lama kemudian, manager toko datang terburu-buru dari ruang privat sambil membawakan sebuah kotak beludru berisi cincin yang sangat indah. Di dalam lingkaran cincin titanium berhias berlian itu, terpatri nama Helena dengan ukiran yang amat halus.

"Cantik sekali..." bisik Elia terpesona.

"Suka?" ujar Alex menatap wajahnya.

"Suka," jawab Elia polos.

"Helena..." Alex meraih jemari tangan kiri Elia, lalu dengan sangat hati-hati memasangkan cincin berlian itu ke jari manisnya.

"Pas... Cincin ini seperti memang dibuat untuk aku," ujar Elia memandangi jarinya yang kini berhiaskan berlian.

"Itu memang dibuat khusus untuk kamu," jawab Alex lembut.

Elia melirik ke dalam kotak beludru yang masih menyisakan satu cincin pria berdesain gagah. "Punya..." ujar Elia menggantung, kembali bingung harus memanggil Alex apa.

"Punya apa, Helena?" pancing Alex halus.

"Itu... cincinnya."

"Punya saya..." jawab Alex cepat.

"Oh, ini milik Tuan Alex, Nona," ujar manager toko memahami situasi canggung yang ada di depan matanya.

Elia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar dadanya yang makin tak beraturan. Jemarinya yang kini terasa dingin dan gemetar meraih cincin pria tersebut. Dengan lembut, Elia memegang jemari Alex dan mulai memasangkan cincin itu ke jari manis Alex.

Namun, tepat saat cincin itu terpasang sempurna menandakan bahwa dirinya kini benar-benar terikat resmi dengan sosok pria paling berpengaruh dan dominan ini seluruh benteng pertahanan mental Elia mendadak runtuh.

Rasa gugup berlebihan yang menumpuk sejak jarak satu sentimeter di mobil tadi, kecemasan berlebih, berpadu dengan sensasi panik drastis yang meledak bersamaan. Reaksi psikosomatis menyerang tubuhnya secara mendadak. Pasokan oksigen ke paru-parunya seolah terputus tiba-tiba, memicu serangan hiperventilasi.

DEG... DEG... DEG!

Jantung Elia tiba-tiba berdetak begitu kencang dan liar hingga rasanya menyengat seluruh rongga dadanya. Udara di sekitarnya mendadak hampa, membuat gadis itu amat sulit bernapas.

"Hah... kenapa... jantungku... uhuk!" Elia memegangi dadanya yang terasa menyempit dan menyakitkan. Tubuhnya melemas seketika, kakinya tak lagi sanggup menopang berat badan.

DUG! DUG! DUG!

Elia memegangi dadanya yang terus berdetak sangat kencang, terengah-engah mencari pasokan udara sementara pandangannya mulai berkunang-kunang membias hitam.

"Helena?! Kamu kenapa?!" tanya Alex panik luar biasa. Raut wajahnya yang biasa tenang dan dingin seketika hancur berkeping-keping saat melihat Elia kesulitan bernapas dan hampir ambruk ke lantai marmer.

Dengan refleks secepat kilat, Alex merengkuh pinggang Elia erat-erat, menahan tubuh gadis itu dalam pelukannya.

"Tuan! Bawa Nona Helena ke sofa privat di dalam!" seru manager toko panik melihat wajah Elia yang mendadak pucat pasi dengan bibir gemetaran.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alex menyelipkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Elia. Pria itu menggendong Elia secara bridal style dan melangkah lebar-lebar menuju ruang VIP di bagian belakang toko.

"Rayyan! panggil dokter pribadi saya sekarang juga!" bentak Alex setengah berteriak pada Rayyan yang baru saja melangkah masuk ke ruangan.

"Baik, Bos!" Rayyan yang kaget melihat kondisi Elia langsung merogoh ponselnya dan menelepon dokter dengan panik.

Di dalam ruang VIP, Alex merebahkan tubuh Elia secara perlahan di atas sofa kulit yang empuk. Tangannya yang hangat tidak pernah melepas jemari Elia yang terasa sangat dingin dan basah oleh keringat dingin.

"Helena... dengarkan suara saya. Tatap mata saya," panggil Alex dengan suara bergetar. Pria bertubuh tegap itu berlutut di samping sofa, menumpu satu lututnya di lantai tanpa peduli celana jas mewahnya kotor.

Ia mengusap pelan pipi Elia, lalu membimbing tangan gadis itu untuk menempel tepat di atas dadanya sendiri di mana detak jantung Alex berdenyut kuat dan teratur.

"Tarik napas pelan-pelan, Helena... Ikuti irama napas saya. Tarik... buang... kamu cuma gugup. Saya ada di sini," bisik Alex lembut namun tegas, matanya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Elia yang sayu.

Elia yang dadanya terasa seperti dihimpit batu besar berusaha menguasai pernapasan. Sentuhan hangat tangan Alex di pipinya serta denyut jantung Alex yang stabil di bawah telapak tangannya perlahan-lahan menjadi jangkar penenang bagi sarafnya yang kacau.

"Hah... hah... Pa... man..." bisik Elia lirih dengan suara tercekat di tenggorokan.

Alex menghembuskan napas lega yang amat panjang, mengusap lembut sisa keringat dingin di dahi Elia. "Iya, saya di sini. Napas pelan-pelan, jangan dipaksa."

Setelah beberapa menit melewati hembusan napas teratur yang dibimbing Alex, detak jantung Elia perlahan-lahan mulai stabil kembali. Warna kemerahan alami sedikit demi sedikit kembali ke wajahnya yang tadi pucat pasi. Elia menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, menghembuskan napas lega yang sangat panjang.

‘Anjir... cuma gara-gara keseringan natap muka ni om-om sama dipasagin cincin, gue sampai kena panic attack?! Malu-maluin banget lu, Elia!’ jerit Elia pasrah dalam batinnya seraya memejamkan mata erat-erat karena malu setengah mati pada Alex yang masih berlutut Setia di samping sofanya.

Bersambung 🫰🏻🤗

1
Prayy
benarrr ini baruuu tidak di jodohkan dan di paksa hanya karena bisnis biarkan mereka memilih pasangan mereka sendiri
Prayy
jadi Arton bakal sama elia yaa
Prayy
ternyata dia tidak sebaik itu
Myz Pena
benar2 calon suami idaman para wanita kalau gini... 👍
Myz Pena
senang hatinya leila 🤭
Myz Pena
jadi mereka suda ekhemekhem rupayan 🤭
Myz Pena
kita lihat saja nanti apakah perasaan mu berubah atau akan selalu mencintai leila arton 🤭
Mingyu gf😘
Aduhh aku yang takut
Mingyu gf😘
Ayo lex cepat bergerak dengan segala kekuasaanmu
Mingyu gf😘
Andai kamu tahu lex, wanita kesayanganmu sedang di culik
-Thiea-
terima aja si arton lagi. beneran tulus dia kok. 🫂
-Thiea-
nah bagus sama Leila aja. jangan ganggu Helena lagi, dia udah jadi milik pamanmu.
-Thiea-
sebaiknya diselesaikan aja yang masih mengganjal di hati.
Arni Arlinawati Pratiwi💃
di bunbun aja udah.. 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
alex sih lebih realistis melihat helena yang sekarang.. tapi kalian yang akan rebutan helena, dan helena yang ngumpulin pundi pundi kemewahan karena cuek bebek nya skarang! /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
si setan berkedok sistem.. cape banget ya elia! 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
yang ada nambah musuh, di suruh jadi antagonis mulu mah sistem!!! kocak.. 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
pikiran nya absurd banget! 🗿😭
Arni Arlinawati Pratiwi💃
ga ada ya.. sory, helena hanya melihat uang lex.. uang! 🗿uang adalah segala nya bagi helena.. /Curse/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
helena nya gak dapet cuan, 10 tril, malah cash 10jt langsung ke rekening.. dan arton sama akex malah rebutan helena nanti, rasain.. dan leila yang di cintai arton cuma melongo karena alur nya jadi berubah! 🗿/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!