NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meniti Harapan Maju Kedepan

Pagi itu, embun masih menempel di ujung daun-daun pohon di sepanjang jalan menuju Sekolah Menengah Atas yang terletak tidak jauh dari pusat nagari, di kaki Gunung Singgalang. Matahari baru saja mengintip dari balik puncak gunung, memancarkan cahaya keemasan yang menyinari atap-atap rumah tradisional dan halaman sekolah yang luas serta tertata rapi. Di antara keramaian siswa yang berdatangan, tampak tiga sosok pemuda melangkah masuk dengan langkah yang terasa agak berat dan kaku. Mereka adalah Erwin Rasyad Chaniago, Bhumi, dan Bayu, yang kini duduk di Kelas 2 IPA. Usia mereka yang baru menginjak tujuh belas tahun membuat postur tubuh mereka tampak gagah dan tegap, namun pada pagi itu, ada sesuatu yang berbeda dari cara mereka berjalan dan menggerakkan tangan.

Setelah masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku masing-masing, kegiatan belajar mengajar pun dimulai. Sebagai siswa jurusan IPA, materi yang dipelajari semakin mendalam dan membutuhkan banyak pencatatan, perhitungan, serta pengamatan. Saat guru memulai pelajaran Fisika dan Kimia, lalu meminta siswa untuk mencatat rumus-rumus serta penjelasan materi di papan tulis, barulah terlihat jelas apa yang sedang mereka alami. Ketiga pemuda itu mengangkat tangan perlahan, namun jari-jari mereka terasa kaku, terasa berat seolah memegang benda yang sangat panas. Saat mencoba memegang pulpen, jari-jari mereka gemetar hebat, tidak dapat menekan dan menggenggam dengan kuat seperti biasanya. Pulpen itu terasa licin dan berat, seolah-olah bukan benda kecil melainkan sepotong kayu yang besar dan kasar. Beberapa kali Erwin mencoba mengeratkan genggamannya, namun justru membuatnya meringis menahan nyeri, sementara Bhumi dan Bayu hanya bisa mengatur napas panjang sambil berusaha menulis dengan gerakan yang sangat lambat dan terbatas.

Peristiwa ini tidak luput dari perhatian Siti Dawiyah Tanjuang, wali kelas Kelas 2 IPA sekaligus istri dari Kepala Sekolah Ibrahim Chaniago, serta bibi kandung ketiga pemuda itu. Di lingkungan sekolah, ia biasa dipanggil dengan sebutan Ibu Guru, mengikuti kebiasaan adat setempat yang menyapa pendidik dengan sebutan penuh hormat tanpa memandang jenis kelamin. Sebagai pendidik yang cermat dan penuh kasih sayang, ia segera melihat keanehan tersebut. Ia mendekati meja mereka satu per satu, memperhatikan bagaimana jari-jari mereka terlihat sedikit bengkak, urat-uratnya menonjol jelas, dan wajah mereka yang sesekali menegang karena rasa nyeri yang menjalar. Hatinya langsung terasa gelisah. Ia tahu betul bahwa ketiga pemuda ini setiap hari menjalani latihan fisik yang sangat keras di bawah bimbingan Arlan Rasyad Sikumbang, namun ia tidak menyangka efeknya akan terasa sampai mengganggu kegiatan belajar di sekolah, apalagi di jenjang yang materi pelajarannya semakin berat seperti ini.

Setelah jam pelajaran pertama selesai, Pak Tanjuang segera bergegas menuju ruang kepala sekolah. Di sana sudah menunggu suaminya sendiri, Ibrahim Chaniago, yang juga merupakan paman dari Erwin, Bhumi, dan Bayu. Ibrahim adalah sosok yang bijaksana, tegas, dan sangat dihormati di lingkungan sekolah maupun masyarakat nagari. Sebagai kakak dari ibu ketiga pemuda itu, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengawasi perkembangan keponakan-keponakannya itu.

“ Ayah, saya khawatir melihat keadaan mereka pagi ini,” ujar Siti Dawiyah Tanjuang segera setelah masuk ke ruangan, suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.

“Mereka duduk di Kelas 2 IPA, materi pelajarannya sudah sangat membutuhkan ketelitian dan banyak menulis. Tapi lihatlah, mereka mencoba memegang pulpen saja sudah sulit, jari-jari gemetar dan terlihat kesakitan. Sepertinya latihan yang mereka jalani setiap hari terlalu berat bagi tubuh mereka.”

Mendengar penjelasan istrinya, Ibrahim mengangguk perlahan, lalu meminta agar ketiga pemuda itu dipanggil ke ruangannya. Tak lama kemudian, Erwin, Bhumi, dan Bayu masuk dengan kepala sedikit tertunduk, menyadari bahwa mereka pasti akan ditanya mengenai kondisi tubuh mereka. Mereka berdiri rapi di depan meja paman mereka, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang masih terasa di seluruh lengan dan kaki.

Ibrahim menatap mereka satu per satu dengan tatapan lembut namun tajam. Ia meminta mereka mengulurkan kedua tangan, dan saat melihat jari-jari yang masih kaku serta urat yang menonjol jelas, ia hanya tersenyum tipis seolah sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi.

“Sudah berapa hari terasa seperti ini?” tanya Ibrahim dengan suara tenang dan tidak menakutkan.

“Sudah dua hari, Paman. Sejak ujian terakhir yang Bapak Arlan berikan,” jawab Bhumi mewakili semuanya dengan nada sopan dan jujur.

Mendengar jawaban itu, Ibrahim mengangguk mantap, lalu menoleh ke arah istrinya, Siti Dawiyah Tanjuang.

“Bunda, jangan terlalu khawatir. Dulu, saat usiaku masih persis sama seperti mereka dan juga duduk di kelas yang setingkat ini, aku pun pernah merasakan hal yang serupa. Saat itu aku baru mulai diajari dasar-dasar ketahanan tubuh dan ilmu bela diri keluarga, dan selama seminggu penuh tanganku terasa kaku dan berat. Bahkan saat makan pun sulit memegang sendok, apalagi mencatat rumus dan menyelesaikan soal hitungan yang banyak seperti pelajaran IPA. Ini bukan tanda tubuh mereka lemah, melainkan tanda bahwa otot dan tenaga mereka sedang berkembang dan beradaptasi. Namun tentu saja, tubuh tetap butuh waktu untuk memulihkan diri agar bisa kembali berpikir dan bekerja dengan baik.”

Penjelasan itu sedikit menenangkan hati Siti Dawiyah Tanjuang, meskipun rasa sayangnya sebagai bibi tidak sepenuhnya hilang. Ibrahim kemudian mengumumkan keputusan yang dianggap paling tepat bagi keponakan-keponakannya itu.

“Baiklah, untuk itu aku memutuskan,” lanjut Ibrahim sambil menatap ketiga pemuda itu dengan tegas namun penuh perhatian.

“Kalian diberi izin untuk beristirahat total selama satu minggu penuh di rumah. Selama masa itu, kalian tidak perlu datang ke sekolah sama sekali. Jangan dipikirkan pelajaran yang tertinggal, meskipun ini kelas 2 IPA dan materinya padat. Nanti aku dan Bibi Dawiyah Tanjuang yang akan mengajari serta menjelaskan kembali materi apa saja yang terlewatkan, begitu kalian sudah pulih sepenuhnya. Sekarang, tinggalkan saja tas sekolah kalian di sini, tidak perlu dibawa pulang dan membebani tubuh yang masih lelah.”

Mendengar keputusan itu, wajah Erwin yang tadinya tampak lelah langsung berseri, meski ia berusaha menahan senyum lebar agar tidak terlihat terlalu berlebihan.

“Benarkah, Paman? Kami boleh istirahat sepenuhnya tanpa memikirkan tugas sekolah dulu?” tanyanya cepat, suara semangatnya kembali terdengar jelas.

“Benar,” jawab Ibrahim sambil tersenyum melihat tingkah keponakannya yang paling lincah dan banyak bicara itu.

“Tapi ingat, ini bukan waktu untuk bermalas-malasan tanpa tujuan. Ini waktu untuk memulihkan tenaga agar bisa kembali berlatih dengan semangat dan kekuatan yang utuh, serta bisa mengikuti pelajaran lagi dengan pikiran yang segar nanti.”

Ibrahim kemudian berdiri dan bersiap mengantar mereka pulang. Ia mengajak Mereka Ke Parkiran ikut Masuk kedalam Mobil Tua kesayangannya, sementara ketiga pemuda itu duduk di belakangnya dengan posisi yang hati-hati agar tidak menambah rasa nyeri di tubuh. Dalam perjalanan menuju rumah Arlan Rasyad Sikumbang, Ibrahim melanjutkan percakapan sambil mengemudi dengan tenang dan hati-hati melewati jalan berbatu yang berkelok.

“Kalian beruntung, tahu tidak?” ujar Ibrahim dengan nada bercanda namun mengandung pesan mendalam.

“Meskipun tingkah laku kalian kadang membuat pusing kepala, sering kali dianggap agak keras kepala dan bengal, namun kalian tetap disayangi oleh semua guru di sekolah ini. Bagaimana tidak? Di Kelas 2 IPA ini pun, hampir setiap ulangan dan ujian, nama kalian selalu muncul di urutan teratas. Erwin sering meraih peringkat pertama, Bhumi di peringkat kedua, dan Bayu hampir selalu bertahan di peringkat ketiga. Kalau saja nilai dan semangat belajar kalian tidak sebaik ini, bisa dipastikan aku sudah menjatuhkan hukuman skorsing yang lebih berat dan lama, bukan malah memberi izin istirahat seperti ini.”

Kata-kata paman itu membuat ketiga pemuda itu tertawa kecil sambil mengangguk setuju. Mereka sadar betul bahwa meskipun sering terlihat lincah dan tidak suka aturan yang terlalu ketat, usaha mereka dalam belajar tidak pernah mereka abaikan. Di tengah kesibukan latihan fisik yang melelahkan, mereka tetap menyempatkan waktu untuk membaca buku, memahami konsep sains, dan mengerjakan tugas, karena mereka tahu bahwa seorang pemuda Minangkabau tidak hanya dituntut memiliki tubuh yang kuat dan gagah, tetapi juga akal yang cerdas serta pengetahuan yang luas.

“Terima kasih banyak, Paman. Kami janji akan menjaga istirahat dengan baik dan segera pulih kembali,” jawab Bayu dengan nada hormat dan sungguh-sungguh.

“Baguslah begitu. Ingat, kekuatan sejati tidak dibangun hanya dengan memaksakan tubuh terus bekerja tanpa henti, tetapi juga dengan mengetahui kapan harus berhenti dan memulihkan tenaga. Itu juga bagian dari pelajaran hidup yang harus kalian pahami selamanya,” tambah Ibrahim mengingatkan.

Tak lama kemudian, sampailah mereka di halaman rumah besar keluarga Sikumbang yang sejuk dan teduh, dikelilingi pohon-pohon rindang yang tumbuh subur. Arlan Rasyad Sikumbang segera keluar menyambut kedatangan mereka, dan setelah mendengar penjelasan lengkap dari Ibrahim mengenai kondisi putra dan kedua keponakannya itu, ia hanya mengangguk dengan tatapan yang penuh pengertian.

"Tarimo kasih, Uda Ibrahim. Memang bana, badan jo pikiran butuah wakatu untuak manyarok jo manyimpan hasil latihan sarato tanago nan alah dikaluakan. Salamo saminggu ko, biakanlah awak tu baristirahat sacukuiknyo, cukuihkan tidua jo bari makanan nan bagizi. Beko kok tanago jo konsentrasi urang-urang tu alah puliah sabana, kito lanjutkan pulo tahapan latihan salanjuiknyo.(Terima kasih, Kakak Ibrahim. Memang benar, tubuh dan pikiran butuh waktu untuk menyerap dan menyimpan hasil latihan serta tenaga yang telah dikeluarkan. Selama seminggu ini, biarkan mereka istirahat secukupnya, cukupkan tidur dan berikan makanan bergizi. Nanti setelah tenaga dan konsentrasi mereka kembali pulih sepenuhnya, kita lanjutkan lagi tahap latihan berikutnya,)” kata Arlan dengan tenang dan meyakinkan.

Di bawah naungan keluarga yang penuh perhatian dan kasih sayang itu, selama satu minggu ke depan, Erwin, Bhumi, dan Bayu benar-benar memanfaatkan waktu istirahat itu dengan baik. Mereka banyak beristirahat, mengonsumsi masakan tradisional yang kaya nutrisi, dan sesekali hanya duduk-duduk santai di teras sambil mengamati keindahan alam sekitar kaki Gunung Singgalang. Rasa nyeri di tangan dan kaki perlahan-lahan hilang, digantikan dengan rasa segar dan tenaga yang kembali terisi penuh.

Mereka sadar, hari-hari ini adalah pengingat berharga bahwa dalam perjalanan menjadi pemuda yang tangguh, berilmu, dan berbudi luhur, keseimbangan antara usaha keras dan istirahat yang cukup adalah kuncinya. Dan saat masa istirahat berakhir nanti, mereka akan kembali melangkah dengan semangat baru, siap menghadapi tantangan latihan, pelajaran di Kelas 2 IPA, serta menjunjung tinggi nama keluarga, adat, dan budaya yang mereka warisi dengan bangga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!