Aretha memilih hidup menderita bersama suaminya. padahal Kemewahan disediakan oleh orangtuanya. Namun Suaminya berselingkuh karena tekanan dari mertuanya. Apakah Aretha bisa mempertahankan rumah tangganya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa Joseph Marah
Karena sakit hatinya, Jihan dengan berani mengirim foto kebersamaan Andreas dan darinya ke mertua Andreas, alias papa dan mama Aretha. Foto - foto kebersamaan itu membuat mamanya Aretha langsung pingsan. Dan langsung dilarikan ke rumah sakit tempat Aretha bekerja.
Aretha yang saat ini masih berada di ruang operasi belum mengetahui keadaan mamanya.
"Sakit pa, sakit sekali. Kasihan anak kita. Apa salah kita pa??"
"Mama yang tenang ya. Mama harus kuat. Kita harus kuat dan sehat buat anak kita."
"Mama tidak menyangka Andreas akan berbuat seperti itu kepada Aretha anak kita."
Aretha yang baru keluar dari ruang operasi, begitu mengetahui keadaan mamanya langsung menuju ruang inapnya.
"Mama, mama sakit apa??? Semalam mama baik- baik saja."
"Sayang..... Kenapa kamu harus kuat begini. Kenapa kamu harus sembunyikan masalah rumah tangga kamu dari mama dan papa." Aretha langsung melihat ke arah papanya.
"Mama begini karena menerima foto dari sahabat kamu. Siapa ma??"
"Jihan. Dia mengirim fotonya bersama Andreas di sebuah hotel." Aretha langsung terdiam. Ketika foto - foto itu di perlihatkan kepada dirinya.
"Kamu tahu sayang??"
"Andre sudah jujur kepada Thea mama, papa."
"Ooooo sayang, mama sakit hati sekali melihat anak mama di perlakukan seperti itu."
"Papa ngak terima kamu diperlakukan begitu oleh Andreas. Mulai sekarang kamu kembali tinggal bersama mama dan papa."
"Pa......"
"Tidak ada alasan apa pun. Papa sanggup menghidupi kamu dengan anak kamu sayang. Papa sanggup." Papanya Aretha berbicara sampai menangis. Aretha hanya bisa memeluk papanya. Dia tidak menyangka bahwa Jihan akan berbuat nekat.
"Dan mulai detik ini, papa tidak ijinkan Andreas menghubungi kamu atau pun menjumpai kamu."
Sore itu setelah satu botol infus berisi vitamin habis. Mamanya Aretha langsung dibawa pulang oleh papanya. Begitu juga dengan Aretha. Aretha tidak tahu, bahwa papanya sudah menghubungi orang kepercayaannya di cyber untuk memblokir nomor Andreas. Sehingga dia tidak bisa menghubungi Aretha.
Seperti biasa sebelum Andreas menjemput istrinya, dia mencoba menghubungi Aretha. Namun nomor itu tidak bisa di hubungi. Andreas berpikir positif. Pasti Istrinya Aretha Lopez sedang berada di ruang operasi. Maka dengan inisiatifnya, dia mampir ke toko bunga membeli bunga kesukaan Aretha dan membeli kue kesukaan istrinya di cafenya Yuda.
Pukul lima lewat tiga puluh menit. Tiga puluh menit lagi Aretha sudah selesai dinas paginya.
"Dokter Aretha masih operasi???"
"Pagi tadi dokter, tadi sebelum jam empat dokter sudah pulang bersama orangtuanya."
"Orangtua??? Mertua saya maksudnya."
"Iya dokter, mamanya dokter Aretha tadi dibawa ke rumah sakit ini dalam keadaan tidak sadar."
"Terima kasih." Andreas langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah mertuanya. Dalam perjalanan menuju rumah mertua, banyak sekali pertanyaan yang ada di pikirannya.
"Kenapa Thea tidak menghubungi saya, jika mama sakit??? Kenapa???"
Dia kembali mencoba menelepon istrinya. Namun lagi - lagi nomornya tidak aktif. Dan begitu menyakitkan hatinya, dia tidak di ijinkan oleh satpam di rumah mertuanya untuk masuk.
"Pak Amat, aku Andreas suaminya non Aretha."
"Iya, tuan besar memberi perintah agar tidak mengijinkan den masuk. Maaf ya."
"Kenapa alasannya???"
"Untuk itu saya tidak tahu den."
Andreas mulai pasti ada yang tidak beres. Dia berusaha berteriak memanggil nama istrinya namun tidak ada respon dari rumah besar itu. Aretha yang mengetahui suaminya ada di luar hanya bisa menangis. Jika papanya sudah bertindak, maka tidak ada bantahan apapun.
Andreas langsung mencari Yuda dan Siska. Dan langsung menceritakan.
"Pasti ada yang tidak beres."
"Sis, coba kamu hubungi Thea."
Waktu Siska menghubungi, sambungan telepon langsung terhubung. Aretha yang sedang berada di kamarnya, tepatnya di kamar mandinya, langsing mengangkat vidio call itu.
"Thea ada apa??"
"Andre ada bersama kalian."
"Sayang, abang tidak bisa begini. Abang tidak mau jauh dari kamu dan anak kita."
"Jihan mengirim foto kebersamaan kalian ke mama dan papa. Mama pingsan."
"Maafkan aku sayang. Abang salah, tetapi abang tidak mau jauh dari kamu sayang. Abang akan tetap ke rumah abang di luar sampai papa mengijinkan abang masuk."
Akhirnya Andreas tahu apa penyebabnya. Dia hanya bisa melihat istrinya, Aretha dan Andreas menangis. Dia langsung menuju mobilnya dan kembali ke rumah mertuanya.
"Benar - benar itu ular. Kalau ada di dekat sini sudah gue patahi kepalanya."
Dokter Lydia yang mengetahui itu juga tidak menyangka Jihan berani juga.
"Andreas kemana Sis."
"Dia kembali ke rumah mertuanya."
"Biarkan Sis, dia harus menebus perbuatannya, jika dia memang sayang dan cinta istri dan calon anaknya."
Andreas sudah hampir tiga jam berada di luar pagar rumah mertuanya. Memanggil nama istrinya. Aretha hanya bisa menangis, satu sisi dia tidak bisa melawan papanya. Satu sisi dia mencintai suaminya, walaupun suaminya sudah berbuat salah.
"Ibu, non Thea pingsan dan ada pendarahan."
"Pa, kita harus membawa Thea ke rumah sakit. Biarkan Andreas masuk pa."
Akhirnya Andreas di bolehkan masuk. Dia langsung berlari menuju kamar istrinya ketika tahu, istrinya pingsan. Dia melihat Aretha mengalami pendarahan. Langsung di gendong istrinya dan dengan supir keluarga mereka membawa Aretha ke rumah sakit. Andreas kembali mengendong istrinya. Ketika sampai di rumah sakit.
Dokter sedang memeriksa keadaan Aretha, dan langsung di ambil tindakan operasi.
"Selamatkan mereka dokter."
Ternyata kandungan Aretha bermasalah, Janin yang sudah berusia delapan bulan meninggal di dalam perutnya. Dan mereka harus operasi mengeluarkan bayi itu. Karena Aretha masih belum sadarkan diri. Dokter Yusak yang ada disitu langsung memberitahukan kabar itu. Andreas langsung terduduk lemas. Dia menangis.
"Selamatkan istri saya dokter."
"Iya akan kami lakukan sebaik mungkin."
Bayi perempuan yang sudah sempurna itu, berhasil di keluarkan dalam perut maminya namun sayang sudah tidak bernyawa. Dokter membungkusnya dengan kain berwarna putih. Andreas menangis waktu memeluk buah hatinya yang tidak bernyawa itu. Siska dan Yuda membeli baju cewek berwarna putih. Andreas sendiri yang memandikan bayi perempuan itu dan di dokumentasikan oleh Siska. Andreas mengendong memeluk dan mencium anaknya itu. Di rumah duka rumah sakit itu sudah ada papa dan mama juga adiknya.
"Abang, ayo kita akan membawa adek ke tempat istirahatnya."
Andreas meletakan jasad anaknya di dalam peti kecil. Bayi perempuan itu diberinama Abigail Jatmiko. Ibadah yang hanya di hadiri oleh keluarganya, sahabat serta dokter Lydia bersama suaminya. Orangtua Aretha tidak ada. Hanya orang kepercayaannya.
Bayi mungil itu di kuburkan seliang dengan omanya. Mama dari Andreas. Sementara itu di rumah sakit, papa Joseph dan mama Wulan orangtua Aretha sedang memindahkan tubuh Aretha ke luar negeri. Pesawat jet pribadi punya perusahaan sudah siap terbang menuju ke Swiss. Ya Aretha akan di pindahkan ke Swiss jauh dari suaminya.