NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Informan Nadya

"Jadi kamu belum kapok juga menjadi pengacau di keluarga Frederick, nona Nadya?!" ucap Ben dingin ketika tiba di dalam gedung tua tempat Nadya sibuk menelpon.

Suara langkah sepatu pantofel Ben yang beradu dengan lantai beton yang berdebu terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur ajal seseorang.

Nadya, yang sedang membelakangi pintu sambil terus berbicara dengan nada meremehkan di ponselnya, tidak segera membalikkan badan. Ia hanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar tajam dan memuakkan.

​"Oh, lihat siapa yang datang," ucap Nadya tanpa menoleh. "Anjing penjaga keluarga Frederick yang paling setia. Berapa lama kau akan terus menjilati kaki mereka, Ben? Sepuluh tahun? Tidakkah kau lelah berpura-pura menjadi manusia ketika pada dasarnya kau hanyalah perangkat lunak yang diprogram untuk patuh?"

​Nadya mematikan ponselnya dan berbalik perlahan. Ia berdiri di sana, di tengah-tengah gudang yang temaram, memegang sebuah pemantik api perak yang ia mainkan di antara jemarinya dengan gaya yang provokatif.

​"Tugasmu adalah menjaga harta karun mereka," lanjut Nadya, matanya menatap Ben dengan kebencian murni. "Tapi kau justru sibuk bermain sandiwara dengan desainer ceroboh itu, kan? Aku tahu semuanya, Ben. Aku tahu kau melindunginya karena kau mulai merasa 'hidup'. Kau pikir dengan membiarkannya memakaimu—atau kemejamu—kau bisa merasa bebas?"

​Ben tidak membalas. Ia terus berjalan mendekat, setiap langkahnya presisi dan tanpa keraguan sedikit pun. Ia tidak mengeluarkan senjata, namun auranya membuat udara di ruangan itu terasa sesak.

​"Bicaramu terlalu banyak, Nadya," suara Ben dingin, absolut, dan tidak memiliki emosi. "Setiap kata yang kau ucapkan hanya memperpendek durasi hidupmu yang tersisa."

​Nadya tertawa lagi, namun kali ini ada sedikit getaran gugup di matanya saat ia menyadari bahwa Ben sudah berada dalam jarak serang yang fatal.

​"Kau tidak akan berani membunuhku di sini, Ben. Jika kau melakukannya, kau akan kehilangan satu-satunya akses untuk mengetahui di mana sisa aset ibuku disembunyikan. Baron akan mencincangmu jika kau membuat informan berharga ini mati."

​Ben berhenti tepat di hadapan Nadya, menatap wanita itu dengan tatapan kosong yang membekukan. Ia tidak peduli pada aset. Ia tidak peduli pada interogasi. Prioritasnya saat ini sudah bergeser—Gita yang terluka, dan Lala yang kini menjadi target di matanya.

​"Aku tidak perlu bertanya padamu," ucap Ben, suaranya kini hanya berupa bisikan yang sangat dekat di telinga Nadya.

​Dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk mata telanjang, Ben mencengkeram leher Nadya dan membenturkannya ke pilar beton di belakangnya. Tidak ada teriakan, hanya suara benturan keras dan napas yang terputus.

​"Aku punya cara lain untuk mendapatkan informasi," lanjut Ben, matanya berkilat dengan intensitas yang mengerikan. "Dan untuk apa yang kau lakukan pada Nyonya Gita... kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri."

​Nadya mencoba meraih pistol di balik

pinggangnya, namun Ben lebih cepat. Ia melumpuhkan pergelangan tangan Nadya dengan teknik lock yang menyakitkan, membuat pistol itu jatuh ke lantai dan meluncur jauh.

​"Katakan padaku," bisik Ben, "siapa saja orang yang kau tugaskan untuk memantau desainer itu? Jika satu helai rambutnya jatuh karena ulahmu, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari lagi, baik di dalam maupun di luar penjara."

​Nadya tersenyum menyeringai meski wajahnya kesakitan, menantang Ben. "Jadi dia benar-benar kelemahan barumu, ya? Bagus. Setidaknya sekarang aku tahu di mana harus menekan tombol untuk menghancurkanmu, Ben Arganza."

​Ben menatap wajah wanita itu dengan tatapan yang bisa membunuh, namun di dalam kepalanya, peringatan bahaya mulai berbunyi. Jika Nadya sudah tahu Lala adalah target, maka setiap detik yang ia habiskan di sini adalah risiko bagi Lala.

"Kelemahan? Dia? Gadis ceroboh itu hanya aset Frederick grup seperti semua orang disana. Jadi jangan pernah mencari cara lain untuk lari, Nadya," geram Ben dan langsung memukul tengkuk Nadya hingga pingsan.

Tubuh Nadya terkulai lemas di lantai beton yang dingin setelah hantaman presisi itu. Ben berdiri tegak, merapikan letak jam tangannya dengan jemari yang stabil, seolah ia baru saja menyelesaikan tugas administratif rutin, bukan melumpuhkan seorang musuh berbahaya.

Di luar, suara sirene dari tim taktis Frederick Group mulai terdengar mendekat. Ben tidak membuang waktu. Ia menyambar ponsel Nadya yang tergeletak di lantai, lalu menekan tombol call pada kontak terakhir yang dihubungi..

"Kalian terlambat," ucap Ben dingin ke arah ponsel itu sebelum mematikannya dan menghancurkannya dengan sol sepatunya hingga menjadi serpihan.

Ia menoleh ke arah tim keamanannya yang baru saja menyerbu masuk.

"Amankan dia," perintah Ben tanpa menoleh. "Bawa ke ruang interogasi bawah tanah. Jangan biarkan dia berkomunikasi dengan siapa pun, termasuk pengacaranya. Jika dia bangun, beri dia dosis penenang yang cukup untuk membuatnya tidak bisa berpikir jernih selama 24 jam."

"Siap, Tuan!" sahut ketua tim keamanan.

Ben berbalik dan berjalan keluar dari gudang itu. Udara malam yang lembap menyambutnya, namun pikirannya tidak berada di sana. Ia kembali ke dalam mobilnya, namun kali ini ia tidak duduk diam. Ia segera mengambil alih kemudi dan memacu mobilnya kembali ke pusat kota dengan kecepatan yang jauh lebih gila dari sebelumnya.

Di dalam kepalanya, suara Nadya masih terngiang: “Jadi dia benar-benar kelemahan barumu?”

Ben mencengkeram handphone Nadya hingga buku jarinya memutih. Ia baru saja mengatakan pada Nadya bahwa Lala hanyalah "aset", namun saat ia menyadari bahwa gadis itu kini sedang sendirian di kantor—mungkin sedang kebingungan, mungkin sedang merasa terancam—rasa dingin yang biasanya membungkus hatinya benar-benar luruh.

Ben membuka handphone Nadya untuk mencari bukti lain kejahatan wanita itu, namun yang ia dapati adalah, beberapa riwayat panggilan dan pesan wanita itu justru mengarah pada nomor kontak Lala yang entah kenapa sudah ia hapal di luar kepala.

"Lala? Nadya? Apa hubungan mereka?"

Tiba-tiba firasat buruk pun muncul dikepalanya.

Apakah gadis ceroboh itu justru adalah informan Nadya?

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!