NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Laras oh Laras

Rasa penasaran, kurangnya peran orang tua, pendidikan akhlak yang tidak terpenuhi. Membuat kehidupan remaja Aditya penuh kebebasan. Dan puncaknya adalah ketidakberdayaan Laras yang membuat Aditya semakin jauh tersesat. Semakin menyelami, semakin Aditya menemukan euforianya.

Dengan berani, Aditya mulai menyentuh bibir Laras. Awalnya diam dan meresapi, kemudian jiwa lelakinya merayu untuk melakukan lebih. Gelengan kuat Laras tidak berarti apa-apa, cowok itu dengan mudah menahan wajah Laras. Sesekali menyesap kemudian turun ke leher. Semakin merendah seiring dengan berjalannya waktu.

"Eng-gakk, ini salah," suara Laras terbata. "Jangan seperti ini please," sambungnya. Isakan mulai terdengar. Laras membenci dirinya sendiri karena menangis, pun benci dengan Aditya yang berlipat ganda.

Aditya yang sedari tadi memejamkan mata, berhenti kala mendengar suara lemah Laras. Wajah tidak berdaya itu menyadarkan setengah kewarasan Aditnya. Membuatnya merutuk, "sialan."

Aditya tahu dirinya salah, tapi jiwa pemberontaknya terus membara. Apalagi suhu tubuhnya kini naik drastis, sesak.

"Berhenti okey." Sebisa mungkin Laras tidak menyinggung kelakuan cowok itu. "Jangan menarikku masuk ke jurang, Aditya. Please." Sebisa mungkin tidak menyenggol ego Aditya, atau jika terjadi akan fatal akibatnya.

"Loe udah gue sentuh, jadi kita harus menikah." Memang belum sampai di tahap paling dalam, tapi Aditya menganggapnya sama saja.

Kali ini Laras mengangguk. "Lepasin dulu, ya?"

Tanpa basa basi, Aditya melepas ikatan di tangan Laras. Setelahnya, cowok itu kembali merebahkan diri di atas tubuh Laras. Memeluk Laras dan menjadikan d*da gadis itu sebagai bantal. Mengambil napas perlahan untuk menetralkan degub jantung, merilekskan tubuh. Aditya terpejam. "Laras, ingat omongan gue. Loe gak bisa menjauh setelah kejadian ini. Jangan buang tenaga untuk hasil yang sia-sia." Aditya tidak main-main dengan ucapannya.

Laras enggak menyahut, gadis itu malah melirik nakas yang tidak terjangkau dari pandangan Aditya. Perlahan tangannya meraih lampu meja. Apapun yang terjadi, terjadilah. Kali ini Laras melegalkan tindak kekerasan demi melindungi diri. Ayah dan ibunya pasti akan mengerti jika terjadi suatu hal besar nantinya, karena ini menyangkut harga diri. Laras meyakinkan dirinya sendiri. Dirinya tidak salah, dirinya hanya ingin aman.

"Loe, cewek pertama yang bikin gue senekat ini." Aditya berceloteh dengan tenang, tanpa tahu sebuah lampu meja sedang diarahkan ke kepalanya.

Sedetik kemudian, sebuah hantaman keras mengporandakan sistem saraf Aditya. Walaupun telat, cowok itu masih berusaha melindungi kepala dengan tangan.

"Arghhhhh!" Aditya tidak menduga Laras akan berbuat nekat. Bertambah sakit Aditya saat Laras mendorong tubuh itu.

"Silahkan lapor polisi, aku enggak takut!" Seru Laras saat sudah menjauh. Tanpa peduli Aditya yang terus merintih kesakitan, gadis itu mencari kartu akses dengan tangan gemetar dan kurang dari semenit, dirinya pergi meninggalkan Aditya di dalam kamar sendirian.

Langkah kaki yang biasanya tidak berbunyi, kini sedikit menimbulkan suara karena tergesa. Sembari merapikan penampilan, Laras mulai berpikir cara untuk pulang karena dirinya benar-benar tidak membawa apapun. Pilihan Laras jatuh pada resepsionis yang sedang duduk sembari melihat note, harapan Laras sepenuhnya bertumpu pada wanita resepsionis itu.

"Permisi kak, boleh pinjam ponsel enggak? Ponselku ketinggalan, aku mau telpon adik buat jemput." Laras langsung menyampaikan tujuannya. Untung saja resepsionis berbaik hati mau meminjamkan Laras ponsel.

"Telfon WhatsApp saja ya kak, saya tidak punya pulsa," ujar resepsionis sambil menyodorkan ponsel miliknya.

Laras mengangguk patuh dan dengan cepat langsung melakukan panggilan pada Rara, sebab hanya adiknya itu yang Laras hapal nomornya.

"Ra, jemput kakak sekarang juga, please. Nanti kakak share lokasinya yaa."

Laras mematikan telepon dan mengirim lokasi tempat hotel dirinya berada. Tanpa basa-basi Laras mengembalikan ponsel tersebut. "Makasih ya kak." senyum tulus terbit. "Aku enggak akan lupa kebaikan kakak," sambungnya sebelum pergi.

Si resepsionis melempar senyum juga, hatinya berbunga-bunga karena seseorang menghormati kebaikannya.

Laras pergi ke sisi samping hotel dan menunggu di sana. Netranya terus mengawasi barang kali Aditya menghalangi rencananya untuk kabur. Menit demi menit berlalu, tangan Laras semakin dingin, dirinya tidak sabar menunggu Rara. Sedangkan dalam hati mengkhawatirkan kondisi Aditya, harapan kecil muncul semoga tidak terjadi sesuatu yang serius pada cowok itu. Jangan sampai lumpuh atau bahkan meninggal.

Laras terus berdoa, memohon supaya adiknya cepat sampai. Gadis itu bahkan tidak berpikir apakah Rara sudah pulang sekolah atau belum, mengingat keseharian Rara yang tidak pasti membuat Laras tidak paham dengan jadwal kegiatan adiknya.

Pandangan Laras terpaku, matanya membulat saat melihat Tommy turun dari sebuah mobil dengan langkah terburu. Laras mengambil tempat bersembunyi begitu Tommy berlari ke arah lobby.

Perasaan Laras semakin kacau, sialan. Dirinya tidak bisa tinggal diam. Gadis itu tidak bisa lebih lama menunggu dan memilih pergi ke tepi jalan. Berlari menuju tukang ojek pengkolan yang kebetulan sedang sepi orderan.

"Pak, bisa ngebut gak? Buru-buru bangettt, nanti saya kasih bonus." Laras memberi iming-iming, tentu saja mamang ojek yang dimaksud Laras langsung berbinar mendengar kata bonus.

"Siap boss!"

Permintaan Laras di sanggupi dengan penuh semangat. "Pegangan ya boss." bahkan mamang ojek langsung memanggilnya bos beberapa kali.

Bertambah semangat saat Laras menyebutkan alamat yang dituju, mamang ojek kemudian memilih jalan tikus untuk mempersingkat jarak.

Di kamar hotel Aditya terus meringis menahan sakit. Setelah menghubungi Tommy, cowok itu bangkit dan memulai langkahnya dengan sempoyongan. Kepalanya pusing, berdenyut tiada henti.

"Ternyata ngeri juga gadis itu jika sudah terpojok." Aditya tidak bisa menyalahkan Laras, karena semua berasa dari tindakannya yang kurang ajar. Tapi dengan adanya kejadian ini, Aditya bisa mengambil kesempatan untuk mengikat gadis itu. Otak liciknya masih bekerja di saat Kritis.

"Sial." Aditya memaki begitu melihat tangannya penuh darah.

"Astagaa! Loe kenapa njir?" Tommy datang dengan wajah terkejut. Cowok itu langsung memapah Aditya.

"Dapet salam cinta, cepet bawa gue ke rumah sakit!" Aditya mengalihkan topik.

Tommy mengangguk paham, pria itu tidak ingin mengulik lebih jauh walau hatinya penasaran. Jika Aditya ingin, biarkan saja cowok itu yang cerita dengan sendirinya.

Sampai di lobby, Aditya meminta Tommy bicara pada resepsionis yang sedang terkejut memperhatikan penampilan Aditya, meminta pegawai itu tutup mulut. Tidak usah menyebarkan cerita apapun yang terjadi hari ini. Masalah CCTV biarlah menjadi arsip, Aditya yakin rekaman itu tidak akan menjadi masalah selama tidak ada yang mempermasalahkan.

Si resepsionis hanya bisa mengangguk patuh sembari memperhatikan Aditya kesukaannya yang kini terlihat memprihatinkan dengan kondisinya. Ingatan wanita itu mundur beberapa waktu lalu saat seorang gadis datang padanya dengan wajah panik. "Jangan-jangan ada hubungannya dengan gadis itu." batinnya mulai menerka-nerka.

1
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!