Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan yang Kutemui Secara Tidak Sengaja
Di tempat lain.
Joyce sedang menjalani hari yang jauh lebih sederhana. Tidak ada ballroom. Tidak ada panggung. Tidak ada klien. Dan dia sudah berpesan pada bagian front line apartemen, untuk tidak memberikan akses pada Arka menuju ke lantai apartemennya.
Hari Minggu adalah satu-satunya hari yang benar-benar ia gunakan untuk beristirahat. Saat ini, ia sedang duduk di balkon apartemennya dengan secangkir teh panas. Terlihat toast yang tinggal beberpa potong menemani. ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi, Joyce melihat ke arah layar. Nama yang muncul membuatnya sedikit tersenyum.
Ardian
Entah sejak kapan mereka mulai bertukar pesan lebih sering. Bukan sesuatu yang intens. Hanya percakapan ringan. Tetapi cukup membuat hari-harinya terasa sedikit lebih baik. Seperti hiburan lucu, yang mengaburkan pikirannya tentang Arka.
“Sedang apa?”
Joyce membaca pesan itu beberapa kali sebelum membalas.
“Minum teh panas ditemani toast buatan sendiri, dan menikmati hari tanpa klien.”
Balasan datang hampir seketika.
“Nikmat sekali caramu mengisi hari Ms Joyce.. Kedengarannya menyenangkan.”
“Saya sendiri sedang menghadapi rapat keluarga. Betul-betul menjemukan.”
Joyce tertawa kecil.
“Lah.. seharusnya senang berkumpul dengan keluarga dong. Tidak ada salahnya melakukan silaturahmi, yang kata pemuka agama bisa memperpanjang rejeki.”
„Seharusnya.. tapi bagiku tidak ada menariknya.”
“Hempph.. masak sih. Apakah lebih menakutkan daripada rapat direksi?” goda Joyce
„Jauh lebih menakutkan.”
Senyumnya semakin lebar. Joyce berpikir jika Ardian hanya sedang mengajaknya bercanda. Sama sekali tidak ada pikiran, jika laki-laki itu sedang curhat padanya.
Namun beberapa menit kemudian, pesan berikutnya membuatnya terdiam. Keningnya mengerenyit..
“Joyce. Kalau suatu hari hidup saya menjadi rumit...”
“apakah kamu akan menjauh?”
Jari Joyce berhenti di atas layar. Dia mendadak bingung dengan pertanyaan itu. Pertanyaan itu terasa aneh. Terlalu serius. Terlalu mendalam. Dan entah kenapa membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Joyce.. apakah kamu sedang repot”
“Mmmhh.. tidak sih, Cuman bingung mencerna perkataan terakhir.” Dia tidak berbohong, karena tidak mau multi tafsir dengan pernyataan Ardian.
“Sudahlah.. lain waktu mungkin kita perlu copy darat nih. Ga enak, sering bertukar chat, tapi tidak pernah ketemuan.”
“He.. he.. he.. lebih enak kayak gini sih menurutku. Jika ketemu, mungkin banyak paparazi, mengingat status besar tuan Ardian Mahendra..:
“Lagi nih.. lagi.. Beberapa kali Joy.. aku minta jangan pernah memanggilku Tuan. Aku baru merasa nyaman, merasa punya teman untuk berbagi, malah ada batasan kata Tuan..”
Joyce tersenyum..
„Iyalah maaf..”
*************
Minggu sore.
Nyonya Ratih Mahendra baru saja meninggalkan sebuah acara amal yang diselenggarakan oleh yayasan pendidikan di kawasan Menteng.
Selepas pertemuan keluarga, wanita tua itu keluar dengan ditemani sopir dan pengawal.
Sebagai salah satu donatur utama, kehadirannya selalu menjadi pusat perhatian. Namun di usianya yang menginjak tujuh puluh tahun, acara-acara seperti ini lebih sering membuatnya lelah daripada bangga. Sepertinya keaktifan dalam kehidupan sosialita dalam arti sebenarnya itu, hanya untuk mengisi waktu saja.
"Nyonya, mobil sudah siap."
Asistennya membuka pintu mobil. Ratih mengangguk pelan. Namun baru beberapa langkah berjalan, ia merasakan sedikit pusing.
"Mungkin tekanan darah saya turun."
"Nyonya baik-baik saja?"
"Saya hanya perlu duduk sebentar."
Di seberang jalan terdapat sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai.
“Nyonya mungkin bisa beristirahat sejenak di café depan.. Mungkin satu cangkir teh panas bisa kembali menyegarkan nyonya.”
Dengan khawatir asisten menunjuk ke café depan mereka berdiri.
“Ayolah..”
Ratih dengan diikuti asisten dan pengawal akhirnya memutuskan masuk café untuk beristirahat sebelum kembali ke rumah.
**********
Di sudut lain kafe. Joyce sedang duduk sendirian. Laptop terbuka di depannya. Bahkan beberapa proposal acara terlihat berserakan di meja. Hari liburnya berubah menjadi hari kerja karena salah satu klien mendadak meminta revisi konsep acara.
"Kenapa semua orang suka mengubah konsep di hari Minggu?" gumam Joyce perlahan.
Pelayan datang mengantarkan secangkir Peach Americano. Dia memang menyukai minuman itu. Rasa asam membangkitkan mood nya dalam berpikir.
“Terima kasih..”
“Sama-sama non..”
Saat itulah ia melihat seorang wanita tua tampak sedikit limbung ketika berjalan menuju meja dekat jendela. Refleks. Tanpa berpikir panjang, Joyce langsung berdiri.
"Nyonya, hati-hati."
Tangannya sigap menopang lengan wanita itu sebelum terjatuh. Ratih menoleh. Sedikit terkejut dengan kecepatan gadis itu. Bahkan jauh lebih cepat dari respon asistennya yang sejak tadi menemaninya.
"Oh..."
"Sebaiknya duduk dulu nyonya..."
Joyce membantu menarik kursi.
"Duduk dulu nyonya.. Nyonya terlihat pucat."
Tanpa menjawab, Ratih duduk mengikuti arahan Joyce. Beberapa saat Ratih memperhatikan perempuan di depannya. Cantik. Sopan. Dan tidak tampak sedang berusaha mencari perhatian.
"Terima kasih."
Joyce tersenyum.
"Tidak masalah."
Setelah memastikan wanita itu baik-baik saja, Joyce sebenarnya berniat kembali ke mejanya. Namun Ratih memanggilnya.
"Nona."
"Ya?"
"Bolehkah saya meminta bantuan?"
"Tentu nyonya, jangan sungkan."
"Saya lupa membawa obat diabetes saya."
Joyce langsung mengangguk. Dia paham bagaimana menangani penderita diabetes, yang tiba-tiba drop.
"Tunggu sebentar nyonya."
Joyce meninggalkan Ratih. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan segelas air hangat dan sedikit camilan manis yang direkomendasikan pelayan. Ratih memperhatikannya dalam diam. Dia kagum pada kecekatan gadis itu. Zaman sekarang jarang ada anak muda yang peduli pada orang asing. Terlebih kepada orang tua yang bahkan tidak mereka kenal.
“Minumlah dulu nyonya.., dan cicipin kue ini. Akan membantu menghilangkan rasa lemasnya.”
Tanpa diulang, Ratih melakukan apa intruksi gadis itu.
"Kamu bekerja?"
Joyce tersenyum kecil, dan menganggukkan kepala.
"MC dan event organizer nyonya. Bukan pekerja tetap, tapi freelancer"
"Menarik. Malah bagus, kamu bisa mengatur waktumu sefleksible mungkin"
“Iya nyonya..dan saya mencintai serta menikmati profesi saya.”
“Temani aku ngobrol ya. Aku tidak suka duduk sendiri soalnya..”
„Baik nyonya.. namun tidak lama ya. Soalnya saya juga masih ada kerjaan yang harus finish malam ini.”
Nenek Ratih mengangguk, dan dia kagum dengan keterus terangan Joyce. Percakapan ringan mulai mengalir.
Tentang pekerjaan. Tentang Jakarta. Tentang kehidupan. Tanpa menyadari bahwa mereka berasal dari dunia yang sangat berbeda.
Namun Ratih menyukai cara Joyce berbicara. Dia merasa cocok. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat. Tidak berusaha mengesankan siapa pun. Dan yang paling penting... matanya menyimpan keteguhan yang jarang ia temui.
“Gadis ini terlihat cocok untuk Ardian.. “ Ratih membatin dalam hati.
“Oh iya nyonya.. by the way, mungkin dirasa cukup perbincangan kita sore ini ya. Saya masih ada tanggung jawab lain yang harus saya selesaikan.”
Ratih kaget dengan keterus terangan gadis itu. Tidak ada rasa takut, atau disalahkan ketika minta untuk menyudahi pembicaraan. Lugas, jujur.. tanpa ada yang disembunyikan.
“Baik.. baik.. aku yang tidak tahu diri, sudah mengganggu aktivitasmu..”
Sebelum Joyce pergi, ia berkata,
"Kita baru bertemu, tetapi saya merasa nyaman berbicara denganmu."
Joyce tersenyum.
"Mungkin karena Nyonya mengingatkan saya pada nenek saya."
Ratih terlihat tersentuh. Sudah lama tidak ada yang mengatakan itu kepadanya.
"Siapa namamu?"
"Joyce."
Ratih mengangguk. Hanya nama depan. Tidak lebih. Dan ia tidak berpikir untuk bertanya lebih jauh.
"Kamu perempuan yang baik, Joyce."
"Saya hanya melakukan hal yang seharusnya."
Ratih tersenyum.
"Lalu dunia membutuhkan lebih banyak orang seperti kamu."
Mereka berpisah. Tidak ada yang menyadari bahwa pertemuan sederhana itu akan mengubah banyak hal.