Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Lembah Seribu Bunga (bagian kedua)
Guan Xian merasakan bulu kuduknya berdiri. Setiap langkah Zhao Yun terasa seperti dentuman Godam yang menghantam jantungnya. "Mencuri mangsamu? apa maksudmu?"
Zhao Yun menghentikan langkahnya tepat tiga tindak di depan Guan Xian. Ujung kipasnya kini menunjuk tepat ke tenggorakan wanita itu.
"Gadis ini, sudah menjadi milik iblis," ucap Zhao Yun, suaranya sedingin embun yang beracun. "Hanya aku yang berhak menentukan apakah dia boleh bernapas atau harus mati saat ini juga."
"Kurang ajar!" teriak Guan Xian dengan amarah yang membara. "apa hakmu atas dirinya?!"
Tanpa menunggu lama lagi, Guan Xian mencabut pedangnya. Logam pedang itu berdenting nyaring, membelah kesunyian lembah. Dengan kecepatan penuh, ia menerjang ke arah Zhao Yun membawa seluruh amarah dan harga dirinya.
"Pergilah ke neraka!"
Zhao Yun tidak menghindar sama sekali. Ia berdiri kokoh seperti batu karang di tengah badai. Alih-alih menghunus senjata, ia justru tersenyum tipis sambil mengangkat satu tangannya ke udara.
Su Ying yang melihat gerakan tangan Zhao Yun itu seketika merasa darahnya membeku. ingatannya melesat kembali pada tragedi masa lalu, pada jeritan para bandit yang menderita akibat kekuatan sihir yang di ciptakan oleh Zhao Yun. Jika sampai jari-jari itu melepaskan energi sihir yang mengerikan, maka nasib Guan Xian akan sama dengan mereka.
Dengan cepat Su Ying melangkah maju. Ia bukan menyerang Zhao Yun, melainkan menahan serangan Guan Xian.
"Hentikan, jangan!" teriaknya sambil mendorong Guan Xian menjauh.
Guan Xian terhuyung mundur, napasnya memburu. Ujung pedangnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena di paksa berhenti saat amarahnya sedang memuncak. Ia menatap Su Ying dengan pandangan tak mengerti.
"Apa yang kau lakukan, Su Ying? kenapa kau melindunginya?"
Su Ying tidak menjawab. Ia semakin erat memeluk tubuh Guan Xian, mengunci setiap gerakan wanita itu dengan tenaga yang tersisa agar ia tidak melanjutkan serangan yang sia-sia. Su Ying tahu, meski Guan Xian memiliki keterampilan bela diri yang cukup hebat, satu inci saja pedang itu bergerak maju, maka nyawa gadis itu akan melayang sebelum sempat menyentuh tanah.
Zhao Yun tertawa menggelegar melihat kedua wanita itu. Di matanya, mereka tampak seperti sepasang angsa putih yang saling mendekap di bawah bayang-bayang cakaran elang. indah, namun menyedihkan.
"Dia telah melindungi kau gadis bodoh" ucap Zhao Yun setelah tawanya mereda.
Su Ying perlahan melepas dekapannya, ia berbalik menatap Zhao Yun. Air mata berlinang di sudut matanya yang indah, memantulkan cahaya senja yang memudar. Tanpa memedulikan harga dirinya, ia berlutut di tanah, memohon dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"To-tolong lepaskan dia, akulah orang yang punya hutang padamu, jangan sakiti dia," rintih Su Ying.
Melihat hal itu, Guan Xian tak tinggal diam. Ia menarik lengan Su Ying agar kembali berdiri. "jangan mudah berlutut seperti itu. Meski kau berhutang padanya, jangan pernah kau dengan mudah menyerahkan dirimu seperti ini."
"Dia telah menolongku. Guan Xian...dan aku harus membalas orang yang telah menyelamatkanku," sahut Su Ying lirih.
Dengan suara yang bergetar, Su Ying menceritakan pengalaman buruknya di masa itu. Tentang hari yang hampir gelap ketika ia di kejar oleh sekelompok bandit yang ingin melecehkannya. Di saat ia sudah kehilangan harapan dan maut terasa lebih manis dari pada kehinaan, Zhao Yun muncul menyelamatkannya. Zhao Yun tidak datang sebagai pahlawan, melainkan sebagai algojo yang membungkam niat jahat para bandit itu dalam sekejap. Sebagai gantinya, Su Ying menyerahkan hidupnya dalam sebuah kontrak iblis.
Guan Xian terpaku. Pedang di tangannya terasa semakin berat, bukan karena beban logamnya, tapi karena kebenaran yang baru saja ia dengar. "Jadi... Kau menjual jiwamu pada iblis itu?"
Zhao Yun mengibas-ngibaskan kipasnya, tampak menikmati raut wajah Guan Xian yang di dera kebingungan. "Dunia ini tidak memberikan bantuan dengan cuma-cuma, gadis bodoh. Aku memberinya kehidupan, dan dia memberiku poin untuk kembali ke neraka. Adil, bukan?"
"Apa...apa yang kalian katakan?" Guan Xian menatap Su Ying dan Zhao Yun silih berganti.
Ia tidak mengerti dengan apa yang di katakan keduanya. Iblis? baginya, iblis hanyalah tokoh dalam dongeng yang di ceritakan ayahnya sebagai pengantar tidur di malam hari. Sosok menyeramkan yang hanya ada di dalam buku tua. Namun, pria yang berdiri di depannya ini terasa berbeda dengan bayangannya tentang iblis.
...****************...