Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf mantan musuh
*****
Sofi dan Faiz berjalan cepat menuju ruangan rumah sakit di mana papanya di rawat, dan sesampainya di ruang yang dituju Faiz mengetuk pintu dengan pelan lalu membukanya.
"Assalamualaikum, Mama! bagaimana keadaan Papa, Ma.!" Sofi menyalami dan mencium tangan ibu mertuanya.
"Alhamdulillah, sudah stabil. Papa di haruskan banyak istirahat dan tidak boleh berpikir yang berat."
Mama Sarah terlihat habis menangis. Disampingnya ada Izzah yang terlihat samadengan Mamanya., baru menangis.
"Tadi tensinya nyampe 200 mm Hg, mengeluh pusing dan hampir pingsan. Untungnya syaraf tak pecah. Maaf ya, kalian pasti kaget dan langsung kesini, mama tadi juga kebingungan mencari bantuan. Adikmu tak bisa diandalkan, mama minta bantu untuk memapah jalan eh malah dia ndeprok dan nangis kenceng banget." Adu Mama yang membuat Faiz memandang tajam adiknya yang cengar cengir di depan pintu karena baru datang, tadi dia pergi ke toilet.
Faiz mendekati papanya yang masih tertidur akibat reaksi obat. Dipegang dan dielusnya tangan yang selama ini dijadikan untuk mencari nafkah menghidupi anak anak dan istrinya. Lalu mengecup punggung tangan itu dengan penuh perasaan.
Perlahan Papa Hendra, Hendra Habibi, membuka mata. Tersenyum melihat anak lelakinya telah datang.
"Alhamdulillah papa dah bangun," ucapnya mengucap syukur.
"Papa gimana keadaannya? bagian mana yang sakit papa?" Pa Hendra hanya menggeleng lemah.
"Ya udah kalau begitu papa istirahat dulu, jangan terlalu banyak pikiran ya!" sekali lagi Faiz mencium tangan papanya.
"Sof, mama minta kamu handle kerjaan kantor selagi mama nunggu papa disini. Bisa kan? kalau ada yang kamu tak ngerti bisa telfon mama." kata mama penuh harap. Sofi dan Faiz saling pandang, Faiz mengangguk tanda setuju.
"Kita bisa gantian jaga papa ma?"
"Ya udah kalau begitu, besok kamu masuk kantor. Dan lusa biar mama yang masuk."
"Makasih ya sayang, bantuan kamu sungguh berarti buat mama, " Sofi tersenyum, mama Sarah menepuk bahu menantunya. Akhirnya disepakati kalau mereka akan giliran untuk menjaga ayah di rumah sakit.
"Tak perlu terima kasih Ma, ini sudah kewajiban anak sama orang tuanya. Mama sudah saya anggap seperti ibu kandung Sofi," Entah kenapa ya dulu, aku tak begitu menyukai mamanya Mas Faiz saat kerja dulu. Sifatnya sangat jauh berbeda saat dirumah dan di kantor. Sebagai atasan, beliau sangat tegas dan disiplin, berbanding terbalik saat di rumah. Beliau seorang yang begitu penyayang pada keluarganya. Keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang, batin Sofi.
Sore harinya Faiz dan Sofi berangkat pulang karena untuk menyiapkan energi agar bisa bekerja dengan baik esok hari. Saat menyusuri koridor rumah sakit menuju tempat parkir seseorang memanggil nama Faiz. Mereka pun menoleh dan terkejut mendapati siapa yang memanggil. Seseorang dengan memakai tongkat berjalan tertatih tatih mendekati mereka. Sepertinya, dia pasien pasca kecelakaan. Di wajah cantiknya juga terdapat luka bekas goresan kecoklatan dan cukup panjang di pipi sampai dagu.
"Hai! Kalian berdua apa kabar? " Faiz dan Sofi saling berpandangan. Kemudian Sofi tersenyum, "Kami baik dan sehat, Alhamdulillah." jawab Sofi. "Mbak Jihan kenapa? Apa yang terjadi sama mbak? " Sofi dan Faiz terkejut dengan keadaan Jihan. Tapi Faiz hanya diam, acuh tapi mendengarkan obrolan mereka berdua.
"Ini sepertinya adalah balasan kejahatanku sama kamu, Sofi! Faiz!" Jihan menunduk sedih,
"Aku minta maaf dengan apa yang pernah aku lakukan pada kalian. Aku sadar, aku telah jahat pada kalian. Dan sekarang, aku telah mendapat balasannya secara langsung." Sofi masih terdiam mendengarkan kelanjutan bicara Jihan.
"Sayang, aku duduk di kursi itu ya! lanjutkan obrolan kalian, " Kata Faiz pada Sofi. Setelah Faiz menjauh Jihan meneruskan bicara.
"Setelah aku mendatangi mu dirumah waktu itu, aku pergi dengan keadaan sangat emosi. Dan aku kecelakaan hebat saat itu, wajahku terkena pecahan kaca dan kakiku terjepit dan patah. Dan hari ini aku jadwal kontrol dan terapi."
"Ini aku tadi mau mengantri dan lihat kalian disini. " Sofi mengangguk anggukkan kepala. "Oiya, sedang apa kalian disini? Siapa yang sakit! " tanya Jihan.
"Papanya mas Faiz kena hipertensi, tadi hampir jatuh saat di rumah. Dan untunglah mama segera membawanya kesini. Beliau harus opname minimal tiga hari untuk menormalkan tensinya. "
" Oooh gitu! Semoga om Hendra segera sembuh, ya." kata Jihan dan Sofi mengamininya. "Sof, kamu mau kan maafin aku kan? Aku benar benar minta maaf karena semua perkataan dan perbuatan kasarku sama kamu," Sofi tertegun mendengar permintaan maaf gadis sombong di depannya. Melihat dari sorot matanya sepertinya dia tulus, batin Sofi. lalu dia pun tersenyum.
"Iya aku maafin kamu kok, asal kau janji kau takkan mengulanginya lagi.
" Iya aku janji, kalau begitu kita bisa berteman kan? aku ingin jadi temanmu, itu kalau kau tak keberatan Sof. Berteman dengan gadis cacat sepertiku."
"Aku mau berteman dengan siapa pun kok, kau jangan sedih! Aku yakin, wajahmu dan juga kakimu akan segera pulih. Kau akan terlihat cantik seperti sediakala." Hibur Sofi pada teman barunya. Jihan pun tersenyum, dia mengulurkan tangan pertanda mereka sudah baikan, dan Sofi menyambut dengan senang hati.
"Eh dari tadi kita ngobrol sambil berdiri. Yok kita bicara sambil duduk di kursi itu?" Sofi menunjuk dengan wajahnya ke tempat Faiz duduk sambil bermain hp. Kasihan melihat kaki pincang Jihan, pasti merasa tak nyaman dengan keadaan seperti ibu.
"Eh gak usah, aku buru buru ke tempat praktik dokter Ortopedi. kalau begitu sampai ketemu lagi ya! senang sekali berteman denganmu Sof, beban hidupku seperti hilang dan terasa ringan sekarang."
"Iya iyaa. kamu lekas sembuh ya, semoga segera pulih."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam. Dan Sofi pun berlalu mendekati Faiz. Sedang Jihan menuju tempat praktik dokter ortopedi rumah sakit itu.
" Sudah ngobrolnya? Memang dia bicara apa, sepertinya dia tidak seperti memusuhimu."
"Mas kan tadi dengar dia minta maaf, ya udah dia minta maaf, "mereka bicara sambil berjalan menuju parkiran.
"Memang kamu percaya, dia tulus meminta maaf, tak ada maksud lain ? ada udang dibalik bakwan gitu,?"
"Ih jangan suka suudzon sama dia napa? aku yakin kok dia tulus, dia tadi juga cerita kenapa dia sampe seperti itu, dia baru kecelakaan waktu dia habis labrak aku siang itu, dar situ dia sadar akan kesalahannya selama ini. Dia sadar kalau cinta itu tak bisa dipaksakan. Dan dia mau berteman denganku. "
"Ya, semoga aja dia tidak sedang main drama."
"Maksudnya?"
"Maksudku ya dia tidak pura pura baik dan berteman denganmu, lalu dia melakukan sesuatu untuk mengelabui kamu."
"Aku sudah bilang jangan Suudzon iiih, bandel !"
**""
Sebelum pulang, mereka mampir dulu ke gerai makanan untuk mengisi perut.
"Mas, aku jadi kepikiran ayah, bagaimana ya keadaan ayah sama ibu sekarang? Sofi termenung dan pasang muka sedih.
" Memang kau tak pernah telfon mereka sayang.?" Faiz bicara tanpa menoleh dan fokus menyetir.
"Kemarin telfon sih..... tapi belum hilang kangennya."
"Ya kan bisa video call, sayang! "
"Iya deh nanti video call an kalau udah dirumah."
"Maaf ya, kita semenjak menikah belum sempat nengok ayah sama ibu, apalagi sekarang papa lagi sakit. sayang, aku janji insha Alloh kalau papa sudah sembuh, kita weekend kesana "