Ali, seorang pemuda berusia 23 tahun, terjebak dalam kebuntuan hidup—menganggur dan bermimpi membangun bisnis, tetapi tak memiliki modal. Namun, segalanya berubah ketika tanpa sengaja ia membangkitkan kekuatan untuk menjelajahi dunia paralel. Di sana, ia menemukan teknologi canggih, harta tanpa batas, serta buku-buku seni bela diri yang dapat ia bawa kembali ke dunia nyata. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Ali memanfaatkan semua yang ia peroleh untuk menaklukkan dunia. Uang, teknologi, dan keterampilan bertarung kini ada di tangannya. Inilah kisah seorang pemuda yang melangkah dari nol menuju kejayaan—mengubah takdir dan menapaki jalan menuju puncak dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 KABAR BAIK, BAYANGAN BURUK
Bayangan Masa Lalu
Malam sudah semakin larut ketika Alana akhirnya tiba di apartemen Ali. Napasnya sedikit tersengal, dan raut wajahnya masih menyiratkan kecemasan. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung duduk di sofa, menatap Ali dengan sorot mata penuh pertanyaan.
“Jadi… gimana hasilnya di kantor polisi?” tanyanya pelan.
Ali menyandarkan tubuhnya, menatap langit-langit sejenak sebelum menghela napas. "Aku dinyatakan tidak bersalah. Itu murni pembelaan diri."
Alana mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi kekhawatiran. “Syukurlah… Aku benar-benar takut kalau kamu sampai ditahan, Kak.”
Ali hanya tersenyum tipis.
Setelah perbincangan panjang tentang kejadian itu, Alana akhirnya bersiap untuk pulang.
Saat hendak keluar dari apartemen, ia berbalik dan berkata, “Oh iya, tadi aku nggak angkat teleponmu karena polisi sudah ada di rumah. Mereka terus menanyakan tentang kamu.”
Ali menatapnya sejenak sebelum mengangguk. “Iya, aku ngerti. Nggak apa-apa.”
Sebelum pergi, Alana tiba-tiba bertanya, “Kak, kapan hasil ujian masuk kuliah keluar?”
Ali berpikir sebentar, lalu menjawab santai, “Mungkin lusa.”
"Baiklah. Kalau gitu, aku pulang dulu ya. Jaga diri, Kak.”
“Iya, hati-hati.”
Alana meninggalkan apartemen, dan Ali kembali duduk di sofa. Ia menatap langit malam dari balik jendela, menyadari bahwa babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai.
Kabar Baik, Bayangan Buruk
Dua hari berlalu dengan cepat.
Hari Rabu, pukul 08.00 pagi, Ali terbangun oleh suara notifikasi ponselnya. Ia meraih perangkat itu dan melihat satu email masuk.
“PENGUMUMAN HASIL UJIAN MASUK UNIVERSITAS NASIONAL”
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat ia membuka email itu. Matanya menyapu layar, membaca setiap kata dengan saksama.
“Selamat! Anda dinyatakan lulus dan diterima di Fakultas Profesional Bisnis.”
Ali tersenyum tipis. “Akhirnya.”
Dalam email itu juga tertulis instruksi agar mahasiswa baru segera datang ke kampus untuk melakukan pembayaran serta mendapatkan informasi mengenai jadwal orientasi.
Ali bangkit, berjalan menuju lemari, dan mengambil sejumlah uang—100 juta rupiah—lalu memasukkannya ke dalam tasnya.
“Setelah ini, aku juga harus mampir beli motor,” gumamnya.
Setelah bersiap, Ali memesan taksi dan bergegas menuju kampusnya.
Langkah Awal di Kampus
Beberapa saat kemudian, taksi berhenti di depan gedung Universitas Nasional. Ali turun, menghirup udara pagi yang masih segar, lalu melangkah masuk ke dalam kampus.
Sesampainya di dalam, ia mencari ruang administrasi. Seorang pegawai wanita yang duduk di balik meja menatapnya dengan ramah.
“Permisi, Bu. Ini ruang administrasi, kan?” tanya Ali.
“Iya, betul. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau melakukan pembayaran uang kuliah.”
Pegawai itu mengangguk. “Atas nama siapa?”
“Alinasr.”
Wanita itu mengetik di komputernya, lalu mengangguk setelah menemukan namanya dalam daftar. “Silakan lakukan pembayaran di loket sebelah.”
Ali segera menyelesaikan administrasinya, lalu keluar dari ruangan itu. Langkahnya kemudian mengarah ke sebuah aula tempat mahasiswa baru berkumpul untuk mendapatkan informasi mengenai orientasi.
Ketika ia masuk ke ruangan itu, ia melihat banyak mahasiswa baru yang duduk berkelompok, beberapa di antaranya sibuk berbicara satu sama lain.
Ali menarik napas pelan dan duduk di kursi kosong.
“Baguslah, aku nggak terlambat,” gumamnya.
Namun, tiba-tiba—
“WOI! SEMUA DIAM!”
Suara bentakan menggema di ruangan.
Ali mengangkat kepalanya, menatap seorang senior yang berdiri di depan aula dengan ekspresi garang. Namun, bukan senior itu yang menarik perhatiannya—melainkan seseorang yang berdiri di belakangnya.
Seorang pria dengan tatapan tajam dan senyum sinis.
Ali membeku sejenak.
“Rio…”
Mantan pacar Alana.
Dendam Lama yang Terpendam
Ali buru-buru menundukkan kepala, berharap Rio tidak menyadarinya. Namun, harapan itu pupus ketika tiba-tiba suara tawa lantang menggema di aula.
“HAHAHAHA! GILA, DUNIA INI KECIL BANGET!”
Ali menutup matanya sesaat, lalu mengangkat kepalanya.
Rio menatapnya dengan tatapan penuh ejekan.
“BISA-BISANYA KAMU MASUK KE KAMPUS INI, BANGSAT!” serunya, masih tertawa.
Seorang teman Rio menoleh ke arahnya. “Bro, kenapa ketawa gitu? Lo ada masalah sama dia?”
“Oh, jelas ada! Bocah ini pernah bikin gue malu. Tenang aja, kita kerjain dia nanti.” kata Rio sambil menatap Ali dengan tatapan berbahaya.
Ali tetap menunjukkan ekspresi datar. Ia tahu bahwa masalah dengan Rio belum berakhir.
Tak lama kemudian, sesi orientasi berakhir. Namun, sebelum Ali sempat keluar dari aula, seorang senior memanggilnya.
“Hei, kamu!”
Ali menoleh.
“Hari Senin nanti, OSPEK resmi dimulai. Dan kamu…” senior itu menyeringai. “…akan berpakaian badut. Sendirian. Di lapangan utama.”
Beberapa senior lain tertawa pelan.
Ali tetap diam, hanya menatap senior itu dengan ekspresi tenang.
BELEUNG BELENG....