Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.
Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.
Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?
Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Pergi ke Villa
Alya akhirnya memutuskan untuk membuat syal dengan tangannya sendiri. Dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan, tekad Alya dalam hati. Hanya butuh beberapa bahan saja, seperti benang wol dan jarum maka Alya sudah bisa memulai rajutannya.
Setelah pulang kerja, waktu istirahat malam sebelum tidur Alya gunakan untuk mulai merajut. Hanya tinggal beberapa hari lagi waktu yang tersisa sebelum acara pesta ulang tahun Daffa dimulai.
Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang didapat Alya sebelumnya, saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas Alya dengan mudah bisa menyelesaikan syal rajutannya tanpa mendapatkan kesulitan yang berarti. Walaupun hasil rajutannya tidak seperti syal yang ada di butik, tapi itulah yang bisa Alya lakukan untuk saat ini.
Hari yang ditunggu pun tiba, pagi-pagi sekali mereka semua berangkat menuju lokasi dengan mengendarai bis yang khusus disewa oleh kantor untuk kepentingan pesta. Tidak terkecuali Alya dan Ola yang ikut serta dalam rombongan.
Suasana ceria mewarnai pagi hari itu, sepanjang perjalanan mereka semua tak henti-hentinya bernyanyi. Diiringi permainan gitar Alex, salah satu rekan kerja Alya di bagian keuangan yang terlihat sangat piawai dalam memainkan salah satu alat musik petik itu.
Suasana bertambah meriah ketika Ardi berdiri dari tempat duduknya, lalu meniup harmonika dari mulutnya. Tepuk tangan mengiringi permainan alat musik keduanya, apalagi kemudian Ardi melakukan beatbox dengan menutup mulutnya.
Ola tidak mau kalah, sahabat Alya yang satu ini kemudian bernyanyi sambil melakukan gerakan tari kocak yang tentu saja mengundang tawa rekan-rekannya. Alya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menahan tawanya, sudah tidak kaget lagi melihat Ola bertingkah seperti itu.
Tidak terasa dua jam perjalanan yang mereka lewati, bis yang membawa rombongan kantornya tiba di lokasi pesta. Semua orang sibuk dengan tas bawaan mereka masing-masing.
Kedatangan mereka disambut senyum lebar bu Dhesita yang berdiri di depan teras rumahnya yang megah dengan tangan melambai ke atas. Di sampingnya ada Daffa yang juga berdiri menyambut mereka semua bersama seorang wanita cantik yang tengah bergelayut manja di lengan kirinya.
Ola menghentikan langkahnya, kemudian menarik lengan Alya yang hendak berjalan terlebih dahulu untuk mendekat padanya.
"Bentar Ay, Lu nggak lihat apa di depan sono," Ola setengah berbisik.
Sejenak Alya menahan langkahnya, dagunya terangkat, matanya yang tajam menyipit. Pandangannya kini terarah pada dua orang di depan mereka yang berdiri dengan tubuh saling berdekatan.
Dilihatnya Daffa yang menatap lurus padanya, datar tanpa senyum di wajahnya. Tangan kanannya terlihat menepuk-nepuk jemari wanita yang ada di dekatnya, senyumnya mengembang sempurna pada wanita yang tengah bergayut manja di lengannya itu.
Wanita itu tampak berbinar matanya saat dirinya mendapatkan perlakuan manis dari Daffa, kepalanya semakin dalam menempel pada bahu Daffa. Keduanya lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh pada Alya dan Ola.
"Huh, dia pikir Aku bakalan cemburu apa! Nggak bakalan, deh!" bisik Alya dalam hati, tangannya mencengkeram tali tas ransel di bahunya, teringat isi di dalamnya ada kado syal yang ia buat untuk Daffa.
"Apaan sih, La. Sudah biarin, bukan urusan kita mau mereka berdua pelukan juga," kata Alya sambil menyeret langkahnya, kembali berjalan mendekat pada bu Dhes yang tengah bergabung bersama teman-temannya yang lain.
"Lu nggak cemburu lihat Daffa dipeluk kayak gitu?" Ola mengerutkan keningnya, telunjuknya mengarah pada kedua orang yang tengah berjalan masuk ke dalam rumah.
"Nggak!" Alya menjawab tegas.
"Lu sebenarnya suka nggak sih sama Daffa? Jujur Ay, jangan bohongin perasaan Lu sendiri. Lu cemburu kan lihat Daffa dipeluk gitu sama cewek lain. Ngaku Lu!"
"Nggak!"
"Awas aja Lu entar malam mewek ke Gue, terus cari bahu sandaran sama Gue. Nggak bakalan Gue kasih ini bahu, pegel tau!"
"Ishh, nggak lucu tau. Sudah ah, buruan datengin bu Dhes. Ingat tugas!" serunya pada Ola.
"Giliran tugas aja Lu cepat. Peka dikit kenapa sih, Ay. Nggak mungkin Daffa secepat itu dekat sama cewek lain kalau nggak ada maksud lain, dia mau buat Lu cemburu Ay," cerocos Ola yang masih saja tidak terima dengan sikap Alya yang masa bodoh pada Daffa.
Alya berdecak tidak suka, Ola beneran rese. Sementara itu sepasang mata tajam tengah menatap Alya sambil tersenyum rahasia.
🌹🌹🌹
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐