Soraya sang Primadona online terjebak di Abad 13 karena insiden yang menimpanya. Jiwanya terperangkap dalam tubuh seorang selir Senopati perang, apakah yang akan dilakukan oleh Sora agar bisa kembali ke abad 20.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Bertemu Ayah Gayatri
"Apa yang harus aku lakukan Om?"
"Pertama kita hilangkan bekas cekikan itu agar Adipati Sentanu merasa kesal karena bukti kejahatannya menghilang,"
"Okey,"
Aku langsung menemui Layung Sari setibanya di Paviliun Ratu.
"Kau darimana saja Ndoro, aku sangat panik mencari mu," ucap Layung Sari memelukku
"Hmmm,"
"Kau baik-baik saja kan, apa lehermu masih sakit?" tanya wanita itu menatap leher ku
"Sedikit, apa kau tadi melihatnya?" tanyaku curiga
"Iya Ndoro, hamba khawatir ketika Adipati Sentanu menyeret anda keluar dari perjamuan, karena aku takut terjadi sesuatu dengan anda makanya aku mengikuti kalian. Maaf karena aku tidak bisa menolong mu Yang Mulia," ucapnya sembari terisak
"Apa kau melihat aku menghilang juga?" tanyaku lirih
"Eh iya, aku sampai kaget, emangnya beneran Ndoro bisa ngilang?" tanya wanita itu dengan polosnya
"Anggap aja kamu tidak lihat apa-apa, jadi jangan beritahukan hal ini pada siapapun Ok,"
"Baik,"
"Sekarang bantuin aku menghilangkan bekas luka ini,"
"Baik Ndoro," wanita itu langsung memoleskan make up ke leherku untuk menutupi bekas luka cekikan Adipati Sentanu.
"Om, jika lelaki laknat itu kembali mencari ku di sini dan melakukan kekerasan kepadaku, jangan pernah menolongku lagi. Aku ingin memberikan pelajaran pada dia,"
"Ogey," jawab Barra mengedipkan matanya
"Diih, lenjeh!" cibirku membuat om Barra terkekeh.
Aku kembali membaur dalam pesta, ketika melihat Prabu Kertanegara dan Ratu Kusumawardani sedang bersitegang aku langsung menghampiri keduanya dan berhasil mendamaikan ke duanya meski harus merayu keduanya dengan rayuan maut yang penuh dengan kebohongan wkwkwk.
"Bagaimana kalau kita menari lagi supaya suasana kita lebih akrab lagi," ajakku
Meraka pun langsung setuju dan kami menari bertiga di temani oleh satu penari keraton.
Tidak lama kemudian Adipati Sentanu datang menghampiri kami.
Aku sudah menduga jika Adipati Sentanu akan kembali mencari ku untuk menginterogasi aku.
"Oh, apa yang kau lakukan Adipati!" seru Kertanegara ketika melihat lelaki itu mencekik ku.
Adipati Sentanu langsung melepaskan cekikkannya dan menarik lenganku membawaku pergi dari tempat itu tanpa menghiraukan Prabu Kertanegara.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti seorang wanita, apalagi dia adalah selir dari adikku, yang berarti dia juga adalah adikku," ucap Kertanegara menarik pundak Adipati Sentanu
"Aku diperintahkan oleh Dyah Lembu Tal untuk membawa pulang wanita ini, apa aku salah jika aku sedikit keras terhadap wanita pembangkang seperti dia," jawabnya sinis
"Tapi...."
"Tidak apa yang mulia, aku akan ikut bersamanya karena ini perintah dari kanda Senopati," jawabku memotong ucapan Kertanegara
"Baiklah Nyimas," jawab Kertanegara kemudian membiarkan kami pergi
Ia kemudian mendorong ku keluar dari gerbang Paviliun hingga jatuh tersungkur ke tanah.
Om Barra langsung menghampiriku dan membantuku berdiri.
"Aku sudah tidak tahan lagi Sora, biarkan aku memberikan pelajaran kepada lelaki bajing*n itu," tukasnya kesal
"Jangan dulu Om, aku ingin tahu dulu kelemahannya,"
Lelaki psikopat seperti dia memang susah di taklukan, aku harus mencari cara bagaimana menaklukan dia.
"Wanita sepertimu memang harus di beri pelajaran terlebih dulu, agar bisa berkata jujur!" serunya kemudian melepaskan pukulannya kearahku.
Saat aku berusaha menghindar, kaki tangannya langsung memegangi kedua tanganku.
"Dasar banci beraninya menyiksa wanita lemah, jika kalian memang seorang kesatria, maka lepaskan aku dan lawan aku secara jantan!" ucapkubmembuat Adipati Sentanu menyeringai dan mendekatiku.
"Aku suka wanita pemberani sepertimu Gayatri, kau benar-benar seorang putri Raja yang tangguh, tidak manja dan penuh percaya diri,"
"Tapi aku benci lelaki laknat seperti mu yang suka memperlakukan wanita dengan kasar, dasar banci!" sahutku membuat Adipati Sentanu tertawa terbahak-bahak
"Kau pikir aku juga menyukai wanita murahan seperti dirimu hah!!" ucapnya sinis
Barra yang sudah muak melihat lelaki itu menyakiti Sora, langsung melesat masuk kedalam tubuh wanita itu dan melepaskan tendangan keras kearah Adipati Sentanu
*Buugghhhh!!!
"Aku paling tidak suka mendengar ada orang yang menghinaku sebagai wanita murahan, karena aku bukan wanita murahan!"
Entah kenapa aku begitu emosi mendengar kata-kata itu dan kembali melepaskan tinju kearah Adipati Sentanu.
Akan tetapi kali ini pukulan ku meleset, setelah berhasil mengelak dari pukulanku Adipati Sentanu berbalik melepaskan pukulannya kearah kearahku, namun pukulannya selalu meleset karena om Barra selalu melesat secepat kilat menghindari pukulannya.
Sial, bagaimana bisa dia berpindah tempat secepat itu, apa benar dia memiliki ilmu hitam.
Melihat Sentanu yang mulai lemah membuat Om Barra yang masih menguasai tubuhku langsung melepaskan tendangannya kearah lelaki itu hingga darah segar keluar dari mulutnya.
"Darah..., darah!!" teriak lelaki itu ketakutan ketika melihat darah dari mulutnya.
"Jangan bunuh aku, tolong ampuni aku, tolong!" serunya sembari bersimpuh di tanah
Ada yang tidak beres dengannya, lebih baik om segera keluar dari tubuhku, sepertinya aku tahu kelemahan Adipati Sentanu,
Aku berjalan mendekati lelaki itu yang tampak ketakutan melihat darah di tangannya dan beringsut menjauh ketika aku semakin mendekat kearahnya.
"Jangan bunuh aku, tolong ampuni aku, tolong ampuni aku!!" serunya tersedu-sedu
"Jika aku mati, maka adikku akan sendirian, aku tidak bisa membiarkan dia hidup sendirian, aku harus menjaganya karena hanya aku yang dia punya di dunia ini, jadi tolong ampuni aku!" serunya sambil bersimpuh di kakiku
Walaupun dia lelaki kejam, yang sudah berusaha membunuhku, tapi melihatnya ketakutan, dan perhatiannya kepada adiknya membuat hatiku ikut sedih melihatnya. Bagaimanapun ia di balik sikap kejamnya dia adalah seorang kakak yang sangat sayang dan peduli kepada adiknya, aku bisa melihat itu di matanya.
"Aku tidak akan membunuhmu, jadi tenanglah!" ucapku membantunya bangun dan memeluknya untuk membantu menenangkannya.
Sepertinya ia memiliki trauma masa lalu yang begitu menyedihkan sehingga membuatnya terguncang.
Ku tepuk-tepuk pundaknya sembari menyanyikan kidung jawa yang selalu ayah nyanyikan setiap malam. Adipati Sentanu yang dari tadi gelisah akhirnya bisa tenang dan kemudian tertidur dalam pelukanku.
Melihat Sentanu terlelap dalam dekapanku membuat Mahespatih langsung menghampiriku.
"Berikan dia padaku, aku akan membawanya pulang," ucap Mahespatih
"Kenapa kau diam saja dari tadi hah!" cibirku geram
"Karena kalau aku ikut campur, atau menolongnya tidak akan membuat suasana membaik, tapi justru akan semakin memperburuk keadaan," jawab Mahespatih
"Dasar sue!" maki Gayatri
"Terima kasih sudah membantu menenangkan Adipati," sahut lelaki itu
"Sama-sama,"
Mahespatih kemudian membawa Adipati Sentanu menuju ke kediaman pribadinya.
Ia kemudian membaringkan lelaki itu di kamarnya, tidak lama kemudian Adipati pun siuman.
"Apa yang terjadi denganku?" tanyanya lirih
"Anda mengalami kejadian itu lagi setelah sekian lama anda tidak pernah mengalaminya lagi,"
"Lalu siapa yang berhasil membuatku sadar dan tertidur?"
"Gayatri, wanita itu yang sudah berhasil menenangkan anda,"
"Gayatri, siapa sebenarnya wanita itu," ucapnya sembari mengepalkan tangannya.
********
"Pagi!" seruku sembari menguap menyapa para dayang-dayang, dan juga prajurit.
"Ndoro, ada yang mulia Raja di pendopo utama," bisik Layung Sari
"Yang Mulia Raja yang mana?" tanyaku bingung
"Siapa lagi tentu saja ayahmu, Yang Mulia Prabu Rakeyan Saunggalah," jawab Layung Sari
"Oh My God, dari semua tokoh yang ada dalam kerajaan ini, hanya satu yang aku takuti, yaitu bertemu dengan orang tua wanita ini, aku takut dia akan tahu kalau aku ini bukan putrinya, karena setiap orang tua pasti akan mengenal anaknya dengan baik. Aku takut identitas ku terbongkar,"
"Kalau kau bisa berakting dengan baik, maka ia tidak akan tahu kalau kau ini bukan putrinya, jadi beraktinglah dengan bagus agar kau bisa mendapatkan piala oscar bukan piala citra lagi," jawab Barra
"Ogey!"
Tiba-tiba dua orang lelaki datang menghampiriku dan aku bingung yang mana ayahku.
"Senang bertemu denganmu Nduk," sapa salah seorang dari mereka membuatku langsung berpikir kalau dia adalah ayah Gayatri.
"Aku juga suka senang bertemu dengan mu Romo," jawabku kemudian memeluknya
*Krik, krik, krik!!
Tiba-tiba suasana di halaman paviliun yang ramai dengan suara burung berkicau berubah menjadi.
"Kenapa semuanya diam, ada yang salah?" tanyaku dengan polosnya
"Ndoro ayah anda bukan yang itu tapi yang satunya lagi," bisik Layung Sari membuatku merasa bersalah
"Maaf Om Raja, sepertinya aku salah orang," ucapku kemudian melipir menghampiri pria satunya lagi.
"Maaf Romo, ketampanan anda mengalihkan pikiranku, sehingga aku hampir saja tidak mengenalimu," ucapku menghampirinya dan langsung memeluknya.
"Tidak kusangka, sepertinya luka di kepalamu sangat serius hingga kau tidak mengenaliku sebagai ayahmu," jawab lelaki itu mengusap lembut rambut putrinya itu.
"Kamu terlihat sangat kurus Nduk, berapa kali kamu makan sehari Nduk. Kamu pasti sangat kesepian di sini. Kamu tidak usah bersedih karena aku akan mengajakmu pulang ke Galuh pakuan agar bisa mengembalikan ingatanmu," ucap lelaki itu
"Tapi Romo, aku tidak bisa pergi ke Galuh pakuan tanpa seijin Kanda Senopati,"
"Tidak apa Dinda, pergilah menginap beberapa hari di istana Galuh pakuan agar ingatan mu segera kembali," ucap Lembu Tal mengagetkan aku
"Kau benar-benar menantu yang baik Lembu Tal, terima kasih sudah mengijinkan Gayatri untuk sowan ke Galuh Pakuan," jawab Rakeyan Saunggala
"Tapi Kanda...."
" Kau tidak usah mengkhawatirkan aku dinda, aku akan mengijinkan mu menginap di Galuh Pakuan sesuai keinginanmu, agar ingatanmu bisa segera kembali,"
"Sumpeh lo," jawabku membuat semuanya menatap kearahku
"Ah, maksudku apa itu benar Kanda?" tanyaku sembari menggaruk-garuk rambutku
"Tentu saja Dinda,"
"Yeay, terima kasih Kanda," ucapku sumringah
Aku yakin dia sangat senang ketika aku pergi jauh darinya, karena dia akan bebas bersenang-senang dengan Sawitri tanpa ada aku yang mengganggunya, dasar brengsek.
"Sama-sama Dinda, kalau sempat aku nanti akan menyusul mu," jawab Lembu Tal membuatku tertawa terpingkal-pingkal
"Jan bercanda Bambang, lebih baik kau jaga saja Sawitri dengan bayinya, jangan membuat ia jelous lagi, okey!" seruku sembari mengarahkan kepalan tanganku padanya.
"Kalau begitu biarkan aku saja yang akan menjaganya!" seru Adipati Sentanu membuat kami semua tercengang