Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Bayangan di cermin besar meja rias itu perlahan memudar, larut kembali ke dalam kegelapan sudut kamar mandi dalam seiring dengan embusan angin malam yang mendesing pelan melalui celah jendela kamar tidur utama. Itu hanyalah ilusi—buah dari kelelahan mental seorang Jenderal yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang kewaspadaan tingkat tinggi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Yang ada hanyalah kesunyian mutlak yang menyergap rongga dada Damian Valerius tanpa ampun.
Damian berdiri mematung di hadapan meja tulis kayu mahoni, napasnya sedikit memburu. Jari-jarinya yang terbalut sarung tangan kulit hitam masih mencengkeram selembar perkamen kecil yang ia temukan terselip di bawah wadah tinta kering. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu dingin, seolah-olah sisa-sisa kehangatan manusia telah lama enyah dari tempat ini, menyisakan debu dan kehampaan.
Dengan gerakan lambat yang dipenuhi keengganan batin, Damian membalikkan perkamen tersebut ke sisi terang, mendekatkannya pada pendar cahaya obor yang merambat masuk dari pintu koridor terbuka. Di atas kertas usang itu, tertera goresan tinta tangan yang sudah sangat ia kenali meskipun ia berusaha menyangkalnya selama berbulan-bulan—tulisan tangan Aurelia.
Tidak ada ancaman politik, tidak pula tuntutan egois tentang permata atau gaun sutra kekaisaran yang biasa menghiasi hari-hari mereka. Surat itu ditulis dengan sangat sederhana, begitu jujur hingga terasa menusuk:
"Damian,
Saat surat ini kau baca, aku mungkin sudah berada sangat jauh dari bayang-bayang benteng batu ini. Maaf karena pergi tanpa pamit, tapi aku tahu kau tidak akan pernah sudi melepaskannya secara baik-baik. Aku tidak ingin lagi menjadi beban, musuh, ataupun bagian dari sandiwara yang melelahkan ini. Terima kasih untuk atap yang sempat melindungiku. Hiduplah dengan damai.
— Aurelia"
Pesan itu begitu singkat, tanpa emosi berlebihan, namun setiap hurufnya menyuarakan sebuah kepastian mutlak bahwa wanita itu telah menanggalkan seluruh ikatan pernikahannya dengan sang Jenderal tanpa secercah pun keraguan.
Di sebelah perkamen tersebut, tergeletak sebuah benda kecil yang terbungkus kain tipis: sebuah biskuit kering buatan tangan yang telah mengeras dan sedikit gosong di bagian pinggirnya. Sisa makanan murahan yang tidak sengaja tertinggal di dalam laci kecil meja—bukti nyata dari tangan seorang wanita bangsawan yang belajar menguleni adonan di sudut dapur belakang kastil ini berbulan-bulan lalu, saat Damian masih mengawasinya dengan tatapan curiga penuh kebencian.
Damian menatap biskuit gosong itu lekat-lekat. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
Tepat pada saat itu, langkah kaki tergesa-gesa namun tertib terdengar mendekati kamar utama. Kepala pelayan wanita paruh baya muncul di ambang pintu, membungkuk dalam-dalam dengan tubuh sedikit gemetar, menyadari aura kelam yang menguar dari tubuh sang Jenderal.
"Y-Yang Mulia Jenderal..." suara kepala pelayan itu terdengar ragu-ragu, takut salah melangkah. "Hamba melihat Anda masuk ke sini. Ada... ada hal penting yang harus hamba laporkan mengenai kamar ini."
Tanpa mengalihkan pandangannya dari biskuit kecil di atas meja, Damian bersuara berat, dingin, dan nyaris berbisik, "Katakan."
Pelayan itu menelan ludah, menundukkan kepalanya semakin rendah. "Nyonya Besar Aurelia... baginda, beliau sebenarnya telah meninggalkan kediaman ini sejak hari pertama keberangkatan Anda ke perbatasan utara, enam bulan lalu. Beliau pergi secara diam-diam bersama seorang pelayan magang di tengah kekacauan logistik pasukan. Hamba... hamba baru berani melaporkannya sekarang karena takut akan murka Anda, Yang Mulia."
Enam bulan lalu.
Angka itu berdengung di kepala Damian bagaikan hantaman palu baja yang menghantam gendang telinganya. Selama enam bulan penuh ia berada di garis depan pertempuran—menaklukkan wilayah utara, membawa pulang Putri Mahkota Elaina, dan menikmati kemenangan gemilang—sementara wanita itu telah lama melangkah keluar dari sangkar emas ini, merintis jalan kebebasannya seorang diri di dunia luar yang kejam.
Seketika itu juga, sebuah sensasi nyeri yang aneh, tajam, dan tidak dapat dijelaskan secara rasional menghantam rongga dada Damian.
Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga hampir berhenti berdetak. Rasa sakit itu bukan berasal dari luka tusuk pedang musuh di medan perang, melainkan sebuah kekosongan yang membakar, menyebar ke seluruh aliran darahnya. Selama ini, ia menganggap keberadaan Aurelia sebagai duri dalam daging—sebuah gangguan konstan yang melelahkan. Ia merasa dirinya adalah sosok yang berkuasa, pengendali mutlak yang memegang kendali atas hidup dan mati istrinya di dalam kastil ini.
Namun, kenyataan menamparnya telak: Aurelia tidak pernah bergantung padanya. Wanita itu memilih pergi meninggalkan segalanya—kemewahan, status sosial, benteng perlindungan, bahkan harta kekayaan—hanya demi melepaskan diri dari sangkar yang ia buat. Wanita itu memilih hidup susah di luar sana daripada bertahan sedetik pun lebih lama di bawah bayang-bayang kekuasaannya.
Kemarahan yang membara tiba-tiba meletup di dalam dada Damian, bercampur aduk dengan rasa asing yang menyesakkan. Dengan gerakan kasar dan impulsif, tangan bersarung kulit hitamnya meremas surat perpisahan dan biskuit gosong di atas meja itu hingga hancur berkeping-keping di dalam genggamannya.
Dia tidak lagi membutuhkanku.
Pikiran itu berkelebat tajam di dalam benaknya, menghantam ego seorang Jenderal Agung yang terbiasa dipuja dan dipatuhi oleh seluruh rakyat kekaisaran. Aurelia telah membuangnya begitu saja. Wanita itu pergi tanpa meminta izin, tanpa air mata penyesalan, dan tanpa secercah harapan untuk kembali.
Dan justru kenyataan itulah—bahwa dirinya tidak lagi dibutuhkan oleh wanita yang selama ini ia remehkan—yang membuat Damian merasa begitu tidak nyaman, gelisah, dan kehilangan kendali atas dunianya sendiri.
Napas Damian memburu, dadanya naik turun dengan cepat di dalam keheningan kamar yang kosong. Kilat kemarahan menyala tajam di balik manik mata abu-abu badainya. Ia tidak akan membiarkan ini terjadi. Seorang Valerius tidak pernah ditinggalkan begitu saja tanpa konsekuensi.
Tanpa memedulikan kepala pelayan yang masih membungkuk ketakutan di ambang pintu, Damian berbalik dengan kibasan jubah hitamnya yang berat. Langkah kaki larsnya menghantam lantai marmer koridor dengan kecepatan penuh, meninggalkan gema kemarahan yang menggetarkan dinding-dinding kastil.
Ia akan mencari wanita itu. Ke ujung dunia mana pun Aurelia melarikan diri, ia akan menyeretnya kembali ke tempat ini dengan tangannya sendiri.
Damian melangkah menuruni tangga utama menuju halaman dalam, bersiap meneriakkan perintah kepada kepala pengawal untuk menyiapkan pasukan pelacak rahasia malam itu juga, ketika tiba-tiba langkah kakinya terhenti secara mendadak di dekat gerbang depan—melihat sesosok bayangan kurir berkuda rahasia kekaisaran datang menerobos masuk dengan membawa gulungan surat berdarah yang membawa kabar mengejutkan dari wilayah selatan kekaisaran—
mampir diceritaku juga ya😊