Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Berhasil Keluar
Ruby menyusun rencana, dia akan membawa keluar untuk gelombang pertama. Kelompok itu yang mengambil persediaan obat-obatan.
Setelah mereka berhasil keluar, Ruby membawa mereka untuk bersembunyi di gedung kosong. Dan segera kembali ke Rumah Sakit untuk memancing para polisi yang berjaga.
Ruby bisa saja meminta bantuan mereka, tapi obat-obatan yang mereka bawa pasti jadi incaran, dia bukan pelit, tapi mendapatkan itu bukanlah hal mudah.
Ruby menambak beberapa kali agar para zombie terpancing ke satu titik. Sehingga para polisi lengah dengan tugas mereka.
Sedangkan di halaman Rumah Sakit. Jack juga langsung bertindak saat mendengar tembakan itu. Dia segera melempar daging mentah yang mereka dapat di kantin ke beberapa titik.
"Cepat naik!" Jack meminta Dokter Wiliam naik terlebih dahulu, agar dia bisa membantu anak-anak dari atas.
"Baik!" Dokter Wiliam naik dengan lancar.
Jack menaikkan anak-anak terlebih dahulu, baru menyusul yang lainnya. Tapi sesuatu kembali terjadi, salah satu dari mereka, takut ketinggian.
"Aku.. Aku takut..!" suaranya bergetar.
"Kau lebih takut ketinggian atau takut zombie?" Jack menatapnya dengan jengkel. "Naiklah, aku nggak bakalan antar kamu kembali!"
Wanita itu masih berdiam, dia ingin memanjat tapi kakinya seolah-olah terkunci. Apa dia harus kembali ke dalam dan menunggu bantuan?
Jack makin kesal, karena zombie-zombie itu sudah menghabiskan dagingnya. Mereka sudah mulai berjalan kembali.
Tiba-tiba Jack punya ide, dia naik ke pohon terlebih dahulu. Dia ingin lihat, apakah wanita itu masih akan terus berdiri jika para Zombie sudah menyadari penyamarannya.
"Kau.. Kau.. Kenapa kau naik lebih dulu?" Dia sangat terkejut dan juga takut, karena hanya tinggal dia seorang yang belum naik.
"Hmm. Aku sudah memintamu untuk naik, tapi kamu terus mematung, jadi aku naik lebih dulu, aku masih ingin hidup!" balas Jack dengan datar.
"Tapi aku takut!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa dia belum naik?" tanya Dokter Wiliam yang sudah membantu mereka semua turun dari pagar.
"Dia takut ketinggian! Oh, kalian duluan saja, Manda tahu di mana Ruby sekarang!" Jack masih harus mengurus wanita penakut itu.
"Oh baiklah! Kalian hati-hati!" Dokter Wiliam menurut, karena sebentar lagi hari mulai terang.
Jack melihat wanita itu diam mematung, tubuhnya gemetar. Tapi ada yang aneh, zombie-zombie itu mulai mendekat ke arahnya.
"Cepat naik! Zombie-zombie nya sudah mulai menyadari keberadaan kita.!" pinta Jack.
Wanita itu menoleh, matanya terbelalak melihat puluhan Zombie mendekat ke arahnya.
Grrr-Khhh....
Grrr-Khhh....
Rasa takut yang besar itu seketika mengalahkan traumanya dengan ketinggian. Dia mulai memanjat pohon dengan kaki gemetar.
Tapi, memanjat pohon besar bukanlah hal yang muda, apalagi tidak ada pengalaman sama sekali, dia tidak tahu harus pegang bagian yang mana atau pijak sebelah mana.
Dia sudah berhasil naik sedikit, tapi para zombie itu makin dekat yang membuatnya makin takut dan tidak fokus.
Grrr-Khhh....
Zombie itu sudah berada di bawahnya, tangan nya sudah bersiap untuk menarik kakinya.
Jleb..
Zombie itu langsung mati terkena anak panah dari atas. Jack segera membantu wanita itu naik dengan cara menarik kedua tangannya, sedangkan tubuhnya dia ikat dengan tali di batang pohon.
"Terima kasih!" suaranya gemetar, dia tidak berani menatap ke bawah.
Jack terdiam, dia merasa sedikit bersalah. Tapi jika tidak tidak seperti itu, dia tidak bisa melawan rasa traumanya.
Jack akhirnya sadar, jika wanita itu bukan hanya sekedar takut ketinggian. Tapi dia memiliki trauma di masa lalu.
"Kita harus turun sekarang!" Jack tidak bisa menunggu lagi. Dia tidak ingin berurusan dengan polisi.
...----------------...
Ruby dan Kelompok Dokter Wiliam sudah berkumpul di gedung kosong. Semuanya terdiam, mereka masih tak menyangka benar-benar berhasil keluar dengan selamat.
"Di mana Kak Jack?" Ruby begitu khawatir tidak melihat keberadaan Jack.
"Dia masih di atas pohon! Ada seorang wanita yang takut ketinggian, dia masih berusaha membujuknya naik! Kami terpaksa pergi lebih dulu, takutnya memancing para zombie!" jelas Dokter Wiliam.
Ruby mengangguk mengerti, mereka sudah mengambil keputusan yang tepat. Jika masih berdiam di sana, para zombie itu pasti sudah menyadari penyamaran mereka dan usahanya akan sia-sia.
Dia sudah tahu, jika darah zombie yang ada di tubuh mereka tidak bisa bertahan lama untuk menutupi bau badan mereka. Yang bisa mereka gunakan hanyalah darah Zombie yang baru mati.
"Hmm. Kalian semua, setelah hari terang, apa ada rencana?" tanya Ruby.
"Aku harus pulang ke rumah untuk melihat Ibuku!"
"Aku juga. Semoga saja mereka baik-baik saja!"
"Baiklah. Tapi informasi dari petugas, sudah banyak warga pergi mengungsi ke pangkalan yang mereka buat!"
"Baguslah.. Kalau tidak ada di rumah, kalian cari ke sana!" sela Dokter Wiliam.
"Tapi, bagaimana kalau mereka sudah...?"
"Huss.. Jangan berpikir yang tidak-tidak! Semoga saja mereka baik-baik saja!"
Ruby membagikan makanan yang diambil di kantin Rumah Sakit, makanan yang dibawa sudah habis.
"Makanlah..! Mulai sekarang, kalian harus mengumpulkan banyak perbekalan. Tapi jangan terlalu mencolok!" Ruby memperingati mereka semua.
Sambil makan, Ruby menanyakan kondisi mereka, apa ada yang terluka? Dan ternyata mereka hampir semuanya terluka di bagain tangan saat memanjat pohon.
Dokter Wiliam dan beberapa perawat segera mengambil obat dan melakukan pengobatan. Saat itulah, mereka baru merasakan sakit.
Sedangkan Jack baru datang setelah hari terang, wanita itu benar-benar sangat sulit dibujuk. Dia ingin menakutinya dengan zombie, tapi mereka berada di atas pohon.
Terpaksa dia menggendongnya dari belakang, dan hal itu sangatlah sulit, karena hanya ada satu balok yang mereka gunakan untuk turun.
"Kak Jack kamu nggak apa-apa kan?" Ruby segera menghampirinya.
"Nggak apa-apa, cuman lecet sedikit!" Jack mengambil obat lalu mengobati luka di tangannya sendiri.
Sedangkan wanita yang datang bersamanya hanya terus diam. Wajahnya masih pucat, seolah-olah baru melihat hantu.
"Kak, kau apakan anak gadis orang?" bisik Ruby.
Jack menatap Ruby dengan tatapan melotot. "Ck. Aku ini pria baik-baik! Dia cuman syok melihat situasi di luar!"
Wanita itu bisa melihatnya dengan jelas, bagaimana situasi kota saat ini. Terlihat sangat menyeramkan dengan banyaknya bangkai zombie.
"Emang kenapa di luar?" tanya Dokter William yang mewakili yang lainnya.
"Oh, kalian tadi turunya masih gelap ya, jadi nggak lihat bagaimana kondisi di luar!" Jack tidak langsung menjelaskannya. "Kalian akan tau sendiri nanti!"
Mereka tidak bertanya lagi, tapi sudah membayangkan Seperti apa di luar sana. mungkin tidak jauh beda dengan kondisi di Rumah Sakit.
Setelah semua makan dan diobati, ruby membagi obat-obatan dan makanan yang tersisa secara merata.
"Jika kalian tidak menemukan keluarga kalian, atau bingung mau ke mana, kalian bisa mencariku di alamat ini!" Ruby menyebutkan alamat rumahnya.
"Ruby terima kasih!"
"Sudah! kalian sudah berterima kasih puluhan kali!" Ruby sedikit di jengah mendengarnya. "Oh iya, jika kalian datang mencariku, dan aku nggak ada di sana mungkin aku sudah pergi!"
"Ruby kamu mau ke mana?" tanya Mohan. Dia dan keempat temannya tidak punya siapa di kota tersebut, mereka semua perantau dari Desa.
"Mungkin pergi cari tempat yang aman!" Ruby tidak bisa membocorkan alamat perkebunan.
"Bisakah aku ikut? Di sini, kami berlima cuman ngontrak, semua kerabat ada di Desa, dan sekarang dunia sedang kacau, kami pasti tidak bisa pulang!" ujar Mohan.
Ruby tertawa bahagia di dalam hatinya, dari awal dia sudah mengincar Mohan, dia sangat suka dengannya yang sangat setia kawan.
"Oh ternyata begitu! Tapi, kalian nggak pulang ambil barang-barang yang penting?"
Mohan terdiam, barang apa yang penting di dunia yang kacau ini selain makanan dan obat-obatan? Tapi dia teringat sesuatu yang sangat berharga di dalam kopernya.
"Kayaknya emang harus pulang dulu!" kata Mohan.
"Benar. Kita pulang ke kontrakan dulu!" sela temannya yang lain.
"Baiklah. Kalian pulang saja dulu. Kalau sudah selesai, kalian langsung pergi ke alamat yang tadi. Kalau aku nggak ada, sebut saja namaku!"
"Baik. Kami pasti datang!"
Akhirnya mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Meski takut, tapi harus dipaksakan untuk melawan dan membunuh zombie.
Ruby dan yang lainnya juga pulang ke rumahnya, dia tidak lupa mengajak ketiga anak kecil itu. Karena dia yang akan mengantar mereka pulang.
.
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka