Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi di ambang pintu
Malam itu, pukul tujuh tepat, mobil Farhan berhenti di depan rumah mertuanya. Suasana terasa sangat mencekam. Dua pria berbadan tegap suruhan Pak Broto berdiri di depan pagar, menghalangi jalan masuk. Alika turun lebih dulu, diikuti Alya yang tampak pucat, dan Farhan yang berjalan paling belakang dengan tenang.
"Minggir," kata Farhan lugas saat salah satu pria itu mencoba menahan dada Alika.
"Pak Broto sudah di dalam. Jangan buat keributan kalau tidak mau barang-barang di sini diangkut," ancam si preman.
Farhan tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menatap mata pria itu dengan tajam sampai pria itu perlahan menurunkan tangannya. Mereka masuk ke ruang tamu. Di sana, Pak Broto sudah duduk bersedekap, sementara Ayah Alika terbaring di sofa panjang dengan kompres di dahi. Ibu Alika duduk bersimpuh di lantai sambil terisak.
"Akhirnya datang juga. Bagus," Pak Broto menyeringai melihat Alya. "Sudah siap ikut saya, Cantik? Kamar kamu sudah harum bunga mawar."
Alya bersembunyi di belakang punggung Alika. Alika maju selangkah, menatap Pak Broto dengan berani. "Jangan sentuh kakakku. Dia tidak akan pergi ke mana-mana denganmu."
Pak Broto tertawa keras, suaranya memenuhi ruangan. "Lalu siapa yang mau bayar lima ratus juta yang sudah dipakai Ayahmu? Kamu? Atau suamimu si tukang bengkel itu?"
Farhan melangkah maju ke tengah ruangan. Ia meletakkan sebuah map plastik jernih di atas meja, tepat di depan Pak Broto. "Ini bukti transfer pengembalian dana sebesar lima ratus juta rupiah ke rekening perusahaan Anda. Silakan cek ponsel Anda sekarang."
Suasana mendadak sunyi. Pak Broto segera meraih ponselnya, jarinya bergerak cepat membuka aplikasi perbankan. Wajahnya yang semula merah padam perlahan berubah menjadi kaku.
"Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini dalam tiga jam?" tanya Pak Broto, suaranya tak lagi meninggi, tapi penuh kecurigaan.
"Itu bukan urusan Anda. Uang muka sudah dikembalikan utuh. Sesuai perjanjian tidak tertulis, jika dana kembali, maka kesepakatan batal," jawab Farhan tegas.
Sebenarnya, Farhan tidak punya uang itu secara tunai. Ia baru saja menggadaikan sertifikat tanah bengkelnya kepada seorang rekan bisnis lama untuk mendapatkan pinjaman kilat. Ia melakukan itu tanpa memberi tahu Alika sebelumnya, karena ia tahu Alika akan menolak jika tahu suaminya mengorbankan aset usahanya.
"Tapi bunganya?! Dan kerugian nama baik saya?!" Pak Broto berdiri, mencoba menggertak. "Keluarga Ahmad sudah janji! Saya sudah sebar kabar ke kolega saya kalau saya akan menikah minggu depan!"
"Nama baik tidak bisa dibeli dengan paksaan, Pak Broto," sahut Farhan. "Soal bunga, tidak ada perjanjian tertulis mengenai bunga dalam pemberian modal awal Anda. Jika Anda ingin menuntut, silakan hubungi pengacara saya. Tapi ingat, memaksakan pernikahan dengan ancaman penyitaan bisa masuk ke ranah tindak pidana perdagangan orang atau pemerasan. Anda ingin saya bawa ini ke jalur hukum?"
Pak Broto terdiam. Ia menatap Ayah Alika yang masih lemah di sofa, lalu menatap Farhan yang berdiri tegak. Ia tahu ia kalah secara posisi hukum jika Farhan benar-benar berani melapor.
"Sialan!" Pak Broto menyambar jasnya. "Ahmad! Kamu punya menantu yang sombong. Tapi ingat, bisnis kamu tetap hancur! Jangan harap ada pengusaha lain yang mau bantu kamu setelah ini!"
Pak Broto keluar dari rumah dengan menghentakkan kaki, diikuti kedua anak buahnya. Begitu suara mesin mobil mewah itu menjauh, Ibu Alika langsung sujud syukur di lantai. Alya merosot duduk di kursi, menangis lega karena ia tidak jadi "dijual".
Ayah Alika perlahan bangun dari baringnya. Ia menatap Farhan dengan tatapan yang sangat kompleks—ada rasa malu yang besar, namun juga rasa terima kasih yang tak terucapkan.
"Farhan... dari mana kamu dapat uang itu?" tanya Ayah lirih.
"Saya ada simpanan, Ayah. Jangan dipikirkan," bohong Farhan agar mertuanya tidak merasa makin terbebani.
Alika mendekati Farhan, ia tahu suaminya berbohong. Ia memegang lengan Farhan dengan erat. "Terima kasih, Farhan."
Ayah kemudian menoleh ke arah Alika. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, tidak ada sorot kemarahan di matanya. "Alika... maafkan Ayah. Ayah hampir menghancurkan hidup kakakmu karena keserakahan Ayah."
Alika hanya diam. Ia belum bisa memaafkan begitu saja, tapi ia juga tidak ingin memaki lagi. "Sekarang fokus saja ke kesehatan Ayah. Masalah perusahaan, mungkin Farhan bisa bantu carikan solusi lain yang lebih halal."
Malam itu, Alika menyadari satu hal. Farhan tidak hanya menyelamatkan nyawanya dari kegelapan jalanan, tapi juga menyelamatkan seluruh keluarganya dari kehancuran moral. Di balik sikapnya yang lugas dan tenang, Farhan adalah pahlawan yang tidak pernah meminta tanda jasa.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...