Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Boba
Engkong akan baik-baik saja.
Harus.
Keesokan paginya, Bandung turun hujan kecil.
Aku bangun di kamar tamu Tan family house dengan suara air jatuh di daun dan aroma kopi dari dapur. Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa bangun tanpa rasa dikejar-kejar.
Natasha mengetuk pintu tanpa menunggu jawaban.
"Ci Kei, jalan pagi!"
"Hujan."
"Gerimis. Orang Bandung tidak mati kena gerimis."
Lima belas menit kemudian, aku berjalan di trotoar dekat rumah Tan dengan jaket tipis, Natasha di sampingku, dan Reynard beberapa langkah di belakang karena katanya ingin memberi kami ruang. Anto mengikuti dari jarak aman.
Natasha bicara tanpa jeda. Tentang Engkong yang keras kepala, Vincent yang terlalu baik sampai menyebalkan, dan bagaimana ia yakin aku dulu terlalu sering diam karena rumah Liem mengisap jiwa.
"Kau tahu?" katanya. "Dulu aku selalu ingin menculikmu dari Pondok Indah."
Aku tertawa kecil. "Kenapa tidak jadi?"
"Engkong bilang urusan keluarga orang harus hati-hati. Aku masih kecil. Sekarang aku sudah besar, jadi kalau Monica macam-macam, aku bisa gigit."
"Kau sering mengancam gigit orang?"
"Efektif."
Di tikungan kecil dekat warung roti, aku mendengar suara lirih.
Menciut.
Aku berhenti.
Di bawah bangku kayu, seekor anak anjing hitam meringkuk basah. Tubuhnya kecil, bulunya kusut, matanya besar dan takut. Di lehernya tidak ada kalung.
Hatiku jatuh.
"Nat."
Natasha langsung jongkok. "Aduh, kecil banget."
Anak anjing itu gemetar.
Aku meraih perlahan. "Hei. Tidak apa-apa."
Ia mundur sedikit, lalu mencium jariku. Hidungnya dingin. Ketika kuangkat, tubuhnya ringan sekali.
Ingatan Naomi menghantamku.
Seekor anjing hitam kecil di apartemen lama. Boba. Menunggu di depan pintu setiap aku pulang. Menggonggong pada kurir. Tidur di kakiku saat aku belajar. Lalu aku mati di museum dan tidak pernah pulang.
Mataku panas.
[Resonansi memori terdeteksi.]
Aku memeluk anak anjing itu lebih erat. "Namanya Boba."
Natasha tersenyum lembut. "Langsung punya nama?"
"Iya."
Dari belakang, langkah Reynard berhenti.
Aku menoleh.
Wajahnya berubah.
Tidak banyak. Tapi tubuhnya menegang, bahunya kaku, napasnya tertahan sejenak. Matanya bukan menatap Boba, melainkan sesuatu yang jauh di belakang masa kini.
[Respons trauma terdeteksi.]
[Catatan: Reynard pernah diserang anjing besar saat kecil.]
Oh.
Aku menurunkan tangan sedikit. "Reynard?"
"Tidak apa-apa."
Bohong.
Kali ini aku tahu tanpa bantuan Si Kepo.
"Aku bisa titipkan ke klinik dulu."
Boba menciut di pelukanku, kecil dan basah.
Reynard menatapku. Lalu menatap anak anjing itu. Jarinya mengepal di sisi tubuh, tapi ia tidak mundur.
"Kau ingin membawanya?"
Aku tidak menjawab cepat.
Karena aku ingin. Sangat ingin. Tapi aku juga melihat wajahnya.
"Aku tidak mau memaksamu."
Kalimat itu membuat matanya bergerak.
Mungkin selama ini terlalu banyak orang memaksa Reynard. Minum ramuan. Memakai topeng. Diam. Menanggung.
Ia menarik napas panjang.
"Bawa."
"Yakin?"
"Dia kecil."
"Dia bisa tumbuh."
"Aku juga bisa belajar."
Dadaku terasa penuh.
Natasha mengangkat kedua tangan. "Oke. Aku resmi menyaksikan Tuan Muda Wijaya kalah oleh anak anjing basah."
Reynard menatapnya datar.
Natasha pura-pura takut. "Ampun, Ko Rey."
Kami membawa Boba ke klinik hewan terdekat. Dokter mengatakan ia dehidrasi ringan, banyak kutu, tapi secara umum bisa pulih. Aku membeli handuk, makanan puppy, obat kutu, dan carrier kecil. Reynard membayar semuanya sebelum aku sempat membuka tas.
Dalam perjalanan kembali ke rumah Tan, Boba tertidur di carrier di pangkuanku.
Reynard duduk agak jauh.
Tidak menyentuh.
Tapi juga tidak menjauh.
Itu sudah cukup.
Siang itu, aku akhirnya menggunakan hadiah Si Kepo.
Tentu tidak bisa tiba-tiba mengeluarkan insulin dari udara. Jadi aku meminjam bantuan Vincent. Ia mengatur dokter keluarga datang dengan alasan evaluasi ulang. Si Kepo memberiku data dosis, dokter memeriksa ulang, dan injector kit yang muncul dalam Ruang Penyimpanan kupindahkan diam-diam ke kotak medis setelah memastikan bentuknya sesuai.
Antonius mengomel selama dua puluh menit.
"Orang tua disuntik seperti anak kecil."
Natasha melipat tangan. "Engkong yang kelakuannya seperti anak kecil."
Vincent menahan senyum.
Aku duduk di samping Engkong. "Janji kemarin."
Antonius menatapku, lalu menghela napas seperti kalah perang.
"Sekali saja."
"Rutin," koreksi dokter.
"Dokter juga cerewet."
Namun ia tidak menolak ketika suntikan pertama diberikan.
Panel Si Kepo berkedip.
[Penggunaan insulin pertama berhasil.]
[Status Antonius: stabil sementara.]
Aku hampir menangis lega.
Sore itu, sebelum pulang ke PIK, Antonius memanggilku.
"Bawa anjing itu," katanya.
"Engkong yakin?"
"Rumah yang ada anjing kecil biasanya lebih hidup."
Aku tersenyum.
Reynard berdiri di samping mobil, menatap carrier Boba dengan ekspresi seperti menghadapi rapat paling sulit dalam hidup.
Aku mendekat. "Kau masih bisa berubah pikiran."
"Masuk."
"Kau takut?"
Ia diam.
Jawaban itu cukup.
Aku menahan tangan sebelum menyentuh lengannya. "Terima kasih."
Ia melihatku. "Kau senang."
"Sangat."
"Kalau begitu, tidak masalah."
Di perjalanan pulang, Boba sempat bangun dan mengeluarkan suara kecil. Reynard langsung menegang. Aku membuka carrier sedikit, membiarkan anak anjing itu mencium udara.
Boba mengendus arah Reynard.
Reynard membeku seperti patung.
Pelan-pelan, sangat pelan, ia mengulurkan satu jari.
Boba menjilat ujung jarinya.
Reynard menarik napas.
Tidak mundur.
Di kepalaku, sesuatu meleleh.
[Tingkat kedekatan meningkat.]
Malamnya, kami tiba di PIK villa dengan anggota keluarga baru.
Belum sempat aku membawa Boba masuk, ponsel Reynard berbunyi.
Ia membaca pesan itu.
Wajahnya langsung berubah.
"Apa?" tanyaku.
Reynard tidak menjawab. Ia menyerahkan ponsel pada Steven yang muncul di layar panggilan terenkripsi.
Suara Steven terdengar tajam.
"Ko Rey, emergency. Ong Corporation bergerak di Jawa Timur. Orang kita dibeli."
Reynard menatap layar.
Di tanganku, Boba menciut kecil.
Steven melanjutkan, "Faisal berkhianat."
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih