Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Di Balik Dinding
Emma Taylor langsung beranjak pergi, ia buru-buru ke kamar mandi, pintu tertutup rapat.
"BLAM !"
Noah Jones beringsut pelan sembari berbaring miring, menyeringai tipis lalu tertawa pendek.
"Dasar perempuan..." gumamnya.
Terdengar suara air mengalir dari arah kamar mandi. Noah Jones tersenyum sembari menarik nafas.
"Aku juga akan mandi... Ah, lelah rasanya..." ucapnya lalu beranjak berdiri dan pergi dari kamar 215, dimana Emma tinggal di Anggrek Resident ini.
"Tap... Tap... Tap..."
Langkah Noah terdengar ringan, raut wajahnya serius menatap lurus jalan di depannya.
"BLAM !" pintu kamar 215 tertutup saat Noah Jones keluar dari sana.
Hening kembali suasana di kamar 215. Udara dingin dari mesin pendingin masuk perlahan-lahan mengisi ruangan tidur hingga membuat segar kamar 215.
Kamar 215 berukuran luas, bernuansa putih gading dengan ranjang tidur antik terpajang di tengah-tengah ruangan.
Tirai-tirai halus menghiasi jendela kamar 215 yang lebar, berdesir lembut tertiup angin dari hembusan udara segar mesin pendingin ruangan.
Kamar 215 tertata rapi serta terasa sangat nyaman, ada satu set sofa putih lengkap terletak di depan jendela kamar, di sudut ruangan terdapat meja konsul dengan hiasan vas bunga mawar merah.
Sebenarnya kamar 215 tidak memerlukan mesin pendingin karena bukaan kamar yang luas membuat ruangan di kamar itu sangatlah sejuk. Tidak ada yang istimewa dari kamar 215, hanya saja kamar itu terlihat bersih sehingga terkesan mewah.
Emma Taylor menyelesaikan kegiatan mandinya, ia melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan jubah selutut berwarna putih gading sedangkan rambutnya basah sehabis keramas.
"Kemana dia ?" gumamnya sembari mengedarkan pandangannya.
Emma berjalan pelan, ia bergegas ke ranjang tidurnya dan bergegas istirahat. Ditariknya kain selimut tebal sampai menutupi badannya lalu berbaring tidur.
Namun kedua matanya tidak mampu terpejam, masih terbuka lebar bahkan ia tidak mengantuk sama sekali.
"Fuih..." Ia menarik nafas pelan lalu menoleh pada jam welker di atas meja, terdiam lama sembari menghitung menit.
Emma merapatkan kain selimut tebalnya, berusaha terpejam meski itu sangat sulit untuknya.
"Sudah jam dua belas malam, tapi mataku masih menyala dan aku belum merasa ngantuk." ucapnya.
Emma mencoba memejamkan mata, ia hitung menit per menit supaya ia dapat terpejam rapat.
Lampu di ruangan kamar 215 menyala redup, membuat hangat tempat itu.
Tiba-tiba bayangan Noah Jones berkelebat cepat di benak Emma Taylor, menyentakkan kesadarannya hingga ia semakin tak dapat tertidur.
Emma buru-buru menyingkirkan bayangan Noah di benaknya, mengalihkan setiap momen yang ia rasakan bersama Noah Jones, dan berusaha tetap fokus. Namun itu sangatlah berat bagi Emma. Ia tetap sulit memejamkan dua kelopak matanya.
Lima belas menit berlalu sia-sia, Emma masih tak mampu memejamkan kedua mata indahnya.
"Ya, Tuhan..., sulit sekali merasa lelah, aku tetap tidak bisa merasa mengantuk..." kata Emma sambil beringsut pelan, membetulkan letak kain selimut tebalnya.
Emma terdiam, sejenak berpikir lalu turun dari atas ranjang tidurnya. Ia sulit tidur jika memikirkan semuanya.
Ia duduk sambil menopang kepalanya lalu berkata pelan.
"Bagaimana aku bisa terperangkap lebih dalam dengannya, kami masih asing satu dengan lainnya, belum kenal lama tapi aku telah jatuh dalam permainannya."
Emma memegangi kepalanya sembari menundukkan pandangannya.
"Apa aku sedang mabuk tadi hingga pikiranku tidak jernih, ini sungguh memalukan buatku ?"
Emma lagi-lagi mengeluh, mendesah ringan.
"Demi Tuhan... Aku terlalu berani serta gegabah. Kenapa aku nekat berbuat seperti itu dengannya ?" ucapnya bingung. "Sebaiknya aku menjernihkan pikiran dan kembali tidur."
Emma beranjak bangun seraya berjalan pelan menuju pintu kamar dari kayu besar berwarna putih. Kemudian ia pergi dari kamar 215 tanpa tujuan, sembari menelusuri jalan panjang yang terbentang oleh permadani mewah serta terhubung dengan koridor.
Ia terus melangkahkan kakinya, hendak mengambil minuman.
"Apa dia berkata demikian tadi ?" terdengar suara seseorang berbicara dari balik dinding sehingga Emma terpaksa menghentikan langkah kakinya cepat.
Emma berdiri bersembunyi tepat di dekat dinding sembari mendengarkan pembicaraan di baliknya.
"Itu yang kami dengar sebelum Nona Hermione pergi dari rumah ini, Tuan Noah." sahut suara Alfred yang terdengar akrab.
"Jika benar maka dia telah menabuh genderang peperangan dengan kami." suara berat terdengar dari balik dinding. "Artinya Lucent Gem memutuskan hubungan dengan keluarga Hermione dan mencari pemegang saham lainnya."
Alfred menarik nafas pelan sebelum ia lanjut bicara.
"Tapi itu bukan soal mudah, kita tahu keluarga Nona Hermione selama ini adalah pemilik saham kedua terbesar di Lucent Gem, Tuan Noah."
"Aku tahu itu, Alfred. Tapi kita juga tidak akan lagi tunduk pada perintah mereka dan aliansi perjodohan kami dibatalkan." kata Noah Jones.
"Apa Nenek Charlotte akan setuju, saya takut beliau marah mendengar ini, Tuan."
"Itu resiko yang akan terjadi, tapi bagaimana lagi sudah keputusan bulat bahwa Lucent Gem harus berdiri sendiri."
"Saya harap beliau mau menerima keputusan ini, dan merestui keinginan anda bersama pilihan anda, Tuan Noah."
Terdengar suara Alfred berbicara hati-hati dari balik dinding.
"Namun begitu aku harus meyakinkan Nenek Charlotte kalau aku dan Emma benar-benar memiliki anak jika tidak nenek akan terus-terusan memaksakan Hermione kembali." sahut Noah Jones.
"Anda akan menikahinya, Tuan ?"
"Kemungkinan begitu, tapi aku telah bersepakat dengan Emma bahwa kami hanya terikat kontrak perjanjian sampai ia benar-benar melahirkan anak buat penerus Lucent Gem."
"Perlu diingatkan kembali bahwa anda masih punya sepupu Callum, ia bisa menjadi pesaing kuat anda, Tuan."
"Yah, kau benar, Alfred. Bahwa aku masih punya Callum sebagai pesaing kuat di Lucent Gem. Dan kakek tahu hal itu kalau dia masih punya penerus lainnya."
Noah Jones memperbaiki letak jam tangannya, tersenyum tipis.
"Namun Callum bukan ancaman terberatku sebab kakek telah memilih aku sebagai pewaris utama di Lucent Gem. Dan kau tahu bahwa pewaris utama memiliki kekuatan hukum serta kekuasaan tertinggi yang tidak bisa diganggu gugat."
"Bebar, posisi anda sebagai pewaris utama adalah mutlak." sahut Alfred.
"Meski Nenek Charlotte tidak menyukai keputusan kakek, tapi beliau tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyingkirkanku dari posisi pewaris utama di Lucent Gem."
"Karena itulah anda bersandiwara dengan memaksa Nona muda itu menerima anda sebagai ayah dari anaknya yang tidak dia inginkan, Tuan Noah."
"Aku harus melakukannya, Alfred." sahut Noah Jones gamang. "Karena nasib masa depan Lucent Gem dipertaruhkan disini. Kita tahu bahwa ratusan tahun keluarga Jones adalah bangsawan terkuat yang kedudukannya tidak diragukan lagi di mata masyarakat. Dan kami wajib menjaga Lucent Gem tetap berdiri kuat, karena percaturan dunia tidaklah mudah.
Alfred mengulurkan tangannya yang mengenakan sarung tangan putih, ia bantu Noah Jones membetulkan jam tangannya, sambil berkata.
"Dan anda harus berhati-hati menjaga tradisi tersebut. Tapi Nona Malang itu benar-benar kasihan karena dia tidak tahu betapa beratnya menjadi Nyonya Utama di keluarga ini. Mampukah Nona muda beradaptasi serta menjadi bagian keluarga Jones."
"Emma tidak malang nasibnya, Alfred. Sebab dia telah mendapatkan kopensasi besar dari kontrak perjanjian ini. Ia secara tidak langsung telah mendapatkan keuntungan besar bahkan hidupnya terjamin seumur hidup jika ia berhasil hamil dan melahirkan anak bagi Lucent Gem."
Noah Jones menjawab datar. Ia menatap dingin sembari tersenyum tipis.
"Otomatis ia akan menjadi kaya raya dan tidak bernasib malang atau kasihan seperti kehidupan sebelumnya. Walaupun pamannya sendiri telah menjaminkan dirinya sebagai bayaran hutang-hutangnya pada ku." lanjutnya. "Emma justru beruntung karena hal itu meskipun ia tidak suka dan terpaksa memenuhi kemauanku untuk hamil."
"Bisa dipahami, bahkan saya berharap kalian bisa mendapatkan kebahagiaan serta keberuntungan atas perjanjian tersebut, Tuan."
"Tanpa cinta itu akan sulit, Alfred." sahut Noah Jones skeptis.
Alfred tersenyum sekilas lalu berdiri sempurna.
"Saya yakin anda akan beruntung kali ini, Tuan Noah. Dan saya doakan semoga kebahagiaan menyertai hidup anda bersama Nona muda nantinya, baik sekarang maupun di masa depan." ucapnya tulus.
"Kau bisa saja, Alfred." sahut Noah Jones sembari meninju pelan bahu Alfred lalu tertawa pendek.