"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14 - Anak Yang Membelaku
Acara keluarga sekolah Arka diadakan dua minggu setelah tangannya digips.
Sebenarnya Alina tidak ingin datang.
Ia tahu tempat seperti itu akan dipenuhi tatapan. Orang tua murid sudah membaca gosip. Mereka sudah melihat klarifikasi. Mereka mungkin sudah memilih sisi, atau lebih buruk, datang hanya untuk menonton drama dari dekat.
Namun Bu Rani mengirim pesan pribadi.
Bu Rani:
Bu Alina, Mas Arka bertanya apakah Ibu akan datang. Acara ini tidak wajib, tapi mungkin penting untuk dia.
Alina menatap pesan itu lama.
Penting untuk dia.
Lalu ia datang.
Sekolah menghias aula dengan balon warna pastel. Ada meja kerajinan keluarga, lomba menyusun puzzle, dan panggung kecil untuk penampilan anak-anak. Tema acaranya sederhana: My Family, My Safe Place.
Alina hampir tertawa saat membaca spanduk itu.
Tempat aman.
Ia masuk dengan pakaian sederhana, blus putih dan rok navy. Tidak membawa pendamping. Tidak membawa drama.
Namun drama sudah menunggu.
Di meja keluarga Arka, Adrian berdiri dengan kemeja biru muda. Di sampingnya ada Ratna. Dan, tentu saja, Vania.
Vania memakai dress krem yang lembut, rambutnya diikat rendah. Ia tersenyum pada beberapa orang tua yang menyapanya, wajahnya seolah berkata ia datang karena diminta, bukan karena ingin mengambil tempat.
Arka duduk di kursi kecil, tangan kirinya masih digips, wajahnya langsung berubah ketika melihat Alina.
"Mama!"
Ia setengah berdiri, lalu berhenti, seperti ingat sesuatu. Matanya menoleh ke Vania.
Alina melihat gerakan kecil itu.
Ia berjalan mendekat. "Hai, Arka."
Adrian menatapnya. "Kamu datang."
"Bu Rani mengundang."
Ratna berkata dingin, "Baguslah kamu masih ingat punya anak."
Alina tidak menjawab.
Di masa lalu ia akan tersinggung, membela diri, menjelaskan jadwal telepon dan kontrol dokter. Hari ini ia tidak ingin memberi Ratna panggung.
Vania melangkah maju. "Alina, aku senang kamu datang. Arka menunggumu."
"Terima kasih sudah memberitahu."
Nada Alina sopan, tapi tidak hangat.
Vania tersenyum kaku.
Bu Rani datang menyelamatkan suasana. "Karena semua sudah hadir, kita mulai aktivitas pertama. Anak-anak akan membuat papan keluarga bersama orang dewasa yang mendampingi."
Arka menatap meja. Di sana ada kertas karton, lem, foto kecil, spidol, dan stiker.
Ia memegang foto yang dibawa dari rumah.
Foto Adrian, Alina, dan Arka saat Arka berusia tiga tahun.
Alina terkejut.
Ia pikir Ratna atau Vania akan membawa foto baru tanpa dirinya.
Arka menatap foto itu, lalu berkata pelan, "Aku yang pilih."
Alina menatapnya.
Hati kecilnya bergerak.
Vania jelas tidak senang, tapi ia tetap tersenyum. "Bagus. Foto lama juga indah."
Arka mengambil spidol. "Aku mau tempel Mama di tengah."
Ratna langsung berkata, "Arka, biasanya Papa di tengah."
Arka ragu.
Alina tidak berkata apa-apa.
Adrian menatap anaknya. Setelah beberapa detik, ia berkata, "Tempel seperti yang kamu mau."
Arka menempel foto itu di tengah karton.
Vania berdiri di samping, tangan menggenggam tas kecilnya.
Seorang ibu murid di meja sebelah berbisik, tapi cukup terdengar, "Itu Vania, kan? Yang di gosip itu."
Ibu lain menjawab pelan, "Iya. Berani juga datang ke acara keluarga."
Vania pura-pura tidak mendengar.
Alina juga.
Tapi Arka mendengar.
Anak itu mengerutkan kening. "Mereka ngomongin Tante Vania?"
Ratna langsung berkata, "Jangan dengarkan."
Arka menoleh ke Alina. "Mama, mereka jahat."
Alina meletakkan spidol. "Orang dewasa kadang bicara tanpa berpikir. Itu tidak baik."
Vania menatapnya, mungkin terkejut karena Alina tidak ikut menyerang.
Namun Alina melanjutkan, "Tapi kalau kita tidak ingin dibicarakan, kita juga harus berhati-hati dengan tindakan kita."
Wajah Vania membeku lagi.
Arka tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia kembali menempel stiker.
*****
Masalah muncul saat aktivitas kedua.
Setiap keluarga diminta naik ke panggung kecil dan memperkenalkan papan keluarga mereka. Anak-anak boleh menjelaskan siapa saja orang di foto dan kenapa mereka penting.
Ketika giliran Arka, Ratna ingin ikut naik. Vania juga bergerak setengah langkah.
Namun Arka menggenggam tangan Alina.
"Mama ikut."
Alina terdiam.
Adrian melihat tangan kecil Arka di jemari Alina.
Sudah lama ia tidak melihat itu.
"Papa juga," kata Arka.
Adrian naik bersama mereka.
Vania berdiri di bawah panggung dengan senyum yang mulai retak.
Bu Rani memberikan mikrofon pada Arka.
Anak itu berdiri di tengah, sedikit gugup. Gips putih di tangannya penuh coretan teman-temannya.
"Ini keluargaku," katanya.
Ia menunjuk foto. "Ini Papa. Papa kerja terus. Tapi Papa kuat."
Beberapa orang tertawa kecil.
Arka menunjuk Alina. "Ini Mama. Mama dulu masak, jahit, anter aku, bacain cerita. Mama sekarang tinggal di tempat lain."
Aula sunyi.
Alina menahan napas.
Arka menunduk, lalu berkata lebih pelan, "Aku pernah bilang Tante Vania lebih cocok jadi Mama. Tapi Bu Rani bilang kita harus pakai kata yang benar. Mama aku cuma satu."
Di bawah panggung, wajah Vania berubah pucat.
Ratna tampak tidak nyaman.
Adrian menatap Arka dengan mata yang sulit dibaca.
Arka melanjutkan, "Tante Vania baik. Tapi Tante Vania tante. Mama tetap Mama."
Alina tidak tahu harus merasa apa.
Sakit.
Lega.
Terlambat.
Semua bercampur.
Di meja depan, seorang anak laki-laki tiba-tiba berkata, "Tapi Mama kamu jahat, kan? Kata mamaku, Mama kamu ninggalin kamu."
Itu Bima.
Ibunya langsung menarik tangannya. "Bima!"
Arka membeku.
Alina hendak bicara, tapi suara kecil lain lebih dulu terdengar dari sisi panggung.
"Tante Alina nggak jahat."
Semua orang menoleh.
Nara berdiri di dekat pintu aula, mengenakan seragam sekolah lain. Di belakangnya, Damar tampak baru datang, mungkin karena acara sekolahnya sendiri selesai lebih awal.
Bu Rani terkejut. "Nara?"
Nara melangkah maju dengan wajah serius. "Tante Alina kehujanan malam itu. Aku yang pegang payung. Papa cuma bantu bawa koper. Orang-orang di internet bohong."
Aula benar-benar hening.
Damar menutup mata sebentar, seperti ayah yang tahu anaknya baru saja melempar batu ke kolam paling mahal di kota.
Alina menatap Nara, dadanya tiba-tiba penuh.
Anak itu bukan anaknya.
Tapi ia membelanya di depan semua orang.
Bima berkata pelan, "Tapi..."
Nara menatapnya. "Kalau kamu nggak lihat sendiri, jangan ngomong kayak tahu."
Beberapa orang tua menahan tawa. Beberapa tampak malu.
Bu Rani cepat mengambil alih. "Baik, terima kasih, Nara. Kita lanjutkan dengan keluarga berikutnya."
Namun suasana sudah berubah.
Tatapan orang-orang kepada Alina tidak lagi sama.
Vania menggenggam tasnya begitu erat sampai buku jarinya putih.
*****
Setelah acara selesai, Arka mendekati Nara.
"Kenapa kamu belain Mama aku?"
Nara menatapnya. "Karena Tante Alina baik."
"Kamu kan bukan anaknya."
"Memangnya harus jadi anak dulu baru boleh tahu orang baik?"
Arka tidak bisa menjawab.
Nara melirik gips Arka. "Tanganmu sakit?"
"Sedikit."
"Kalau sakit, bilang. Jangan pura-pura kuat cuma karena orang dewasa sibuk."
Kalimat itu terlalu dewasa untuk anak seusianya. Mungkin ia mendengar dari Damar.
Arka menunduk.
Alina berdiri beberapa langkah dari mereka, mendengar semuanya.
Damar mendekat. "Maaf. Aku tidak tahu dia akan bicara."
"Jangan minta maaf."
"Dia kadang terlalu lurus."
"Hari ini aku butuh yang lurus."
Damar tersenyum tipis.
Adrian melihat mereka dari kejauhan.
Ia melihat Damar berdiri di sisi Alina tanpa menyentuhnya. Melihat Nara berbicara dengan Arka tanpa permusuhan. Melihat Alina tampak lebih tenang di dekat orang lain daripada di dekat dirinya.
Rasa tidak nyaman merayap di dadanya.
Vania mendekat dengan suara pelan. "Adrian, aku merasa tidak enak. Mungkin seharusnya aku tidak datang."
Adrian tidak langsung menjawab.
Dulu ia akan berkata, "Jangan berpikir begitu."
Hari ini ia hanya berkata, "Mungkin."
Vania menatapnya, terkejut.
Adrian sendiri juga terkejut dengan jawabannya.
Di sisi lain aula, Arka menarik ujung baju Alina.
"Mama."
"Ya?"
"Nanti malam telepon?"
Alina mengangguk. "Pukul tujuh."
"Kalau aku mau cerita tentang papan keluarga?"
"Cerita saja."
Arka ragu, lalu berbisik, "Mama marah karena aku dulu bilang Tante Vania lebih cocok?"
Alina menatap anaknya.
Ia bisa berkata tidak.
Tapi itu bohong.
"Mama sakit hati."
Mata Arka memerah.
"Tapi Mama tetap telepon?"
"Iya."
"Kenapa?"
Alina menyentuh rambutnya pelan. "Karena sakit hati tidak selalu membuat orang berhenti sayang. Tapi sayang juga tidak berarti Mama harus membiarkan kamu melukai Mama terus."
Arka menunduk, seperti sedang mencoba memahami.
Di dekat pintu, Nara melambaikan tangan pada Alina. "Tante, nanti kalau ada yang bohong lagi, bilang aku."
Damar langsung memegang bahu anaknya. "Tidak perlu membuka jasa saksi publik."
Untuk pertama kalinya hari itu, Alina tertawa.
Tawa kecil.
Tapi cukup membuat Adrian, yang berdiri jauh, merasa seperti ada sesuatu yang benar-benar lepas dari tangannya.
ternyata di luar ekspektasi