Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 14.
Aurora berjalan cepat menyusuri koridor sekolah. tidak ada murid yang melihat kekacauan Aurora yang matanya merah dan wajahnya basah oleh tangis, tetapi ia tidak peduli. Kepalanya penuh, dadanya sesak, dan satu-satunya tempat yang terpikir olehnya hanyalah perpustakaan—tempat paling tenang untuk bersembunyi dari semuanya.
Pintu perpustakaan dibukanya perlahan. Aroma buku dan suasana sunyi langsung menyambutnya Aurora berjalan ke sudut paling belakang lalu duduk di sana sambil menundukkan kepala. Tangannya menutupi wajahnya sendiri, berusaha meredam tangis yang terus pecah.
Sementara itu, laki-laki itu akhirnya mengangkat pandangan ke arah pintu yang sejak tadi terbuka. Aurora benar-benar pergi tanpa menoleh sedikit pun padanya.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan kendali atas seseorang yang selama ini selalu bisa ia dekati kapan saja.
"Hiks.... Hikss... Hikss..." Isak Aurora mencoba ia tahan.
Beberapa menit berlalu, tetapi perpustakaan tetap terasa sama sunyinya. Hanya suara pendingin ruangan. Aurora masih duduk di sudut belakang dengan mata sembab dan napas yang belum teratur.
Ia menggenggam ujung lengan bajunya sendiri erat-erat, mencoba menahan tangis yang sesekali kembali pecah. Kepalanya dipenuhi banyak hal sekaligus. Marah, kecewa, takut, dan bingung bercampur menjadi satu sampai membuat dadanya semakin sesak.
Aurora mencoba mengatur napasnya meski itu sulit, menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir, kenapa hubungan yang Aurora pikir di awal tidak akan ada pertengkaran. Tapi, justru sebaliknya Aurora tidak pernah menangis hanya karna seorang pria.
Aurora tidak pernah membayangkan hubungan mereka akan sampai di titik seperti itu. Awalnya semua memang hanya tentang kesepakatan. Tidak lebih. Ia menerima tawaran laki-laki itu karena uang, sementara laki-laki itu membutuhkan dirinya untuk alasan yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Suara langkah kaki terdengar dari keheningan perpustakaan, tubuh Aurora tanpa sadar menegang ia takut Gama yang menghampiri ke perpustakaan. Aurora masih belum mau bertemu dengan Gama sekarang, emosinya belum stabil.
"Hei...kenapa?." Tanya seseorang.
Aurora menghembuskan napas lega ternyata bukan Gama yang menemuinya. Tetapi, ketua osis SMA Mandala.
Aurora menghapus air matanya cepat cepat sebelum menengok kebelang dan tersenyum kecil yang di paksakan."Gapapa kak."
Elvano Julian tersenyum kecil Elvano tahu gadis di sampingnya sedang berbohong, mana mungkin gadis ini baik baik saja di saat matanya yang merah dan hidungnya yang merah terlihat habis menangis.
"Kalau mau bohong itu yang pinter dikit." Tukas Elvano geli menepuk kepala Aurora gemas.
Aurora merengut menelungkupkan kepalanya pada lipatan tangan.
"Hei, lo belum jawab pertanyaan gue." Elvano mencegah Aurora yang ingin tidur mungkin.
Aurora terpaksa mengangkat kepalanya memandang ketosnya." Kenapa lagi."
Lama lama Aurora juga kesal waktu tenangnya di ganggu.
"Lo habis putus?."
"Kepo." Jawab Aurora ketus.
"Wis, ketus banget jawabnya."
"Eh, lo kan yang lagi viral itu, yang lagi deket sama Gama."
Aurora menatap sinis ketosnya kenapa ni orang kepo banget sih."Kak lebih baik pergi aja deh ganggu banget sih!."
Elvano terkekeh pelan mendengar nada suara Aurora yang berubah kesal."Okay, okay gue bakal pergi."
"Tapi, lo bolos sekarang gue bisa aja laporin lo ke BK."
Aurora yang sudah tidak peduli lagi."Terserah." Tak lama dari itu Elvano pergi dari hadapan Aurora.
Aurora termenung belum juga otaknya bisa berhenti memikirkan kejadian tadi. Emosi yang tidak terbendung, membuat Aurora dengan berani menampar pipi Gama.
Tanpa Aurora sadari di saat Aurora berbincang dengan Elvano sebenarnya Gama beberapa saat setelah kepergian Aurora di rooftop Gama langsung menyusul Aurora ke perpustakaan, sebelum Gama ingin menghampiri Aurora langkah Gama terhenti di sudut rak yang tidak dapat di lihat dari tempat duduk Aurora.
Gama memandang ke arah Aurora yang sedang berbincang dengan ketua osis SMA Mandala, terlihat Elvano tertawa pelan seperti telihat bahagia. Berbanding terbalik dengan Aurora yang terlihat kesal, ekpresi yang cemberut karna kesal selalu membuat Gama tanpa sadar tersenyum kecil. Terlalu gemas dengan Aurora.
Karna tidak tahan melihat kedekatan mereka Gama akhirnya memilih pergi dari perpustakaan dan menuju rooftop kembali, entah kenapa Gama tidak suka Aurora dekat dengan pria lain selalin dirinya. Tapi, seolah tersadar dari apa yang barusan ia katakan di hatinya bahwa Gama tidak suka melihat Aurora dekat dengan lelaki lain.
Setelah Dua pelajaran yang Aurora lewatkan Aurora bangkit berdiri dan membereskan kekacauan, melangkah keluar dari perpustakaan karna waktu istirahat sudah berdering. Aurora berjalan lesu menunduk muram, Aurora sadar banyak memperhatikan dirinya selama Aurora melangkah. Tetapi, Aurora mencoba mengabaikan semua murid yang memandangnya. Aurora bisa mendengar bisik bisik kecil yang mencemooh dirinya, atau hanya memandang Aurora sinis, memandang Aurora atas dan bawah seperti menilai Aurora rendah Aurora mengabaikan itu semua.
"Raa. Lo dimana aja anjir?." Panik Zara.
"Weh, kenapa sama muka lo yang suram gitu?."
"Lo okay kan? apa Gama lakuin sesuatu sama lo hah bilang?." Tebak Khanza khawatir memang bener Gama menyakitinya bukan secara fisik tapi mental.
Aurora melengkungkan bibirnya matanya berkaca kaca sekali kedip air matanya langsung rembes keluar, Khanza dan Zara makin panik melihat keadaan Aurora yang sedang tidak baik baik saja. Ini pasti ada sangkut pautnya denga Gama, tidak salah lagi.
"Hp gue rusak." Aurora menyodorkan handphonenya ke hadapan kedua temannya.
Zara dan Khanza terbelalak terkejut melihat handphone Aurora rusak parah, mereka pikir handphone Aurora sudah tidak bisa di gunakan kembali .
Zara memeluk pelan Aurora sayang, Khanza yang tidak mau ketinggalan ikut memeluk Aurora. Aurora tertawa pelan melihat tingkah Zara dan Khanza. Ia membalas pelukan mereka, memang benar sahabat akan selalu membuat suasana lebih terasa hangat meski mereka sering berselisih paham.
"Siapa yang berani rusakin hp lo Ra, kasih tau gue Ra biar gue kasih paham tuh orang." Ujar Zara menggebu-gebu.
"Udah deh gapapa."
"Gapapa gimana hah! liat hp lo rusak anjir emang lo sanggup beli lagi?." Tanya khanza emang mulut Khanza di rancang untuk menghina Aurora saja.
Aurora mencibir sinis."Mentang mentang cuman gue yang miskin di antara kita bertiga lo seenaknya ngomong kayak gitu."
Khanza tersadar ucapannya yang seolah mengatakan Aurora miskin, tertawa ngakak."Maaf, maaf bukan itu maksud gue."
Zara juga ikut tertawa berbanding terbalik dengan Aurora yang cemberut.
"Mungkin nanti gue nabung buat beli hp lagi."
"Kita beliin aja deh."
Aurora menggeleng menolak usulan Zara dan Khanza."Nggak, nggak usah gue nabung sendiri aja."
"Tapi, Ra jawab jujur siapa yang buat hp lo rusak kayak gini?."
Aurora hilang sudah nafsu makannya dan menjelaskan kejadian kenapa handphonenya bisa rusak.
"Tadi pagi gue mau ke kelas. Tapi, sebelum gue sampe ke kelas tangan gue di cekal sama Gama dan gue di bawa ke rooftop. Di sana gue sama Gama berantem, Gama nyadar kalau gue lagi ngehindar dari Gama. Tapi, gue ngelak terus, gue bilang mau akhiri hubungan palsu ini dan gue akan kembalikan uang dia beri sama gue, sebelum gue mau ngirim uang tiba-tiba Gama banting hp gue sampe kayak gini."
"wah kurang ajar tuh orang." Zara kesal hampir sama mau mendatangi Gama.
Tapi di cegah sama Khanza."Lo gila hah."
"Udah Zara gue gapapa kok ya gue nggak munafik kalau gue sedih juga."
Aurora menenangkan Zara yang emosi karna Gama, Aurora tidak ingin ada keributan lagi yang membuatnya pusing.