NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kiamat di Jam Pelajaran Gambar

Matahari pagi itu tidak lagi memberikan kehangatan yang bersahabat. Di dalam ruang kelas dua SD Sektor Tujuh, suhu udara mulai merangkak naik dengan kecepatan yang tidak wajar. Suara dengungan mesin pendingin ruangan di sudut kelas terdengar semakin berat, seolah-olah ia sedang berjuang melawan gelombang panas yang tidak terlihat.

Arthur duduk di kursinya, memegang sebuah krayon berwarna biru. Di depannya ada selembar kertas gambar putih yang masih kosong. Seharusnya, ia sedang menggambar Rumah Impian sesuai instruksi Bu Hera. Namun, perhatian Arthur sepenuhnya teralihkan oleh getaran di lapisan termosfer bumi yang tertangkap oleh indra kosmik nya.

"Architects," bisik Arthur sangat pelan. "Kalian benar-benar tidak tahu cara bertamu dengan sopan."

Ia bisa merasakan di luar sana, jutaan kilometer dari atmosfer bumi, sebuah susunan satelit organik milik Architects mulai memfokuskan radiasi bintang ke arah satu titik koordinat: Sektor Tujuh. Ini bukan sekadar cuaca panas; ini adalah The Solar Flare, sebuah serangan konseptual yang dirancang untuk membakar lapisan pelindung dimensi bumi agar portal Jembatan bisa dibuka dengan paksa.

Di sampingnya, Mia mulai mengipasi wajahnya dengan buku gambar. "Arthur, kenapa panas sekali ya? Rasanya seperti kita sedang duduk di dalam oven."

Bu Hera berjalan menuju jendela, mencoba menutup tirai otomatis. Namun, motor penggerak tirai itu mendadak mengeluarkan asap dan berhenti berfungsi. "Anak-anak, tetap tenang. Sepertinya ada gangguan pada sistem pendingin pusat sekolah. Minumlah air kalian dan jangan banyak bergerak."

Arthur menatap keluar jendela melalui celah tirai yang macet. Langit yang tadinya biru cerah kini mulai berubah menjadi warna kuning keemasan yang menyilaukan. Aspal di halaman sekolah mulai terlihat "berair" karena bayangan panas, dan dedaunan pohon sintetis mulai melengkung.

Di dalam tasnya, Heart of Gaia mulai berdenyut dengan warna merah yang semakin pekat. Kristal itu sedang memberikan peringatan bahwa jika radiasi ini mencapai puncaknya, oksigen di Sektor Tujuh akan terbakar habis dalam hitungan menit.

Arthur menghela napas panjang. Ia harus bertindak, tapi ia tidak bisa keluar dari kelas. Jika ia menghilang saat situasi darurat seperti ini, Bu Hera pasti akan mencarinya. Ia harus memadamkan api dari luar angkasa ini sambil tetap duduk di bangkunya, memegang krayon biru.

Sementara itu, di Markas GDC, alarm level merah meraung di setiap lorong. Layar monitor utama menampilkan grafik suhu global yang melonjak drastis di area Sektor Tujuh.

"Lapor! Satelit cuaca kita mendeteksi lonjakan radiasi UV yang melampaui batas aman!" teriak seorang operator. "Suhu di permukaan Sektor Tujuh mencapai enam puluh derajat Celcius dan terus meningkat!"

Valerius berdiri di depan layar dengan wajah pucat. Ia mengenakan baju pendingin khusus, namun ia tetap bisa merasakan panas yang menembus dinding markas. "Silas! Di mana Arthur? Apakah dia sedang melakukan sesuatu?"

Silas, yang berada di ruang kontrol bawah tanah, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV sekolah Arthur. Ia melihat Arthur sedang duduk diam, menatap kertas gambarnya dengan wajah bosan.

"Dia masih di kelas, Komandan," jawab Silas melalui interkom. "Tapi lihat sensor gravitasinya. Ruang kelas itu adalah satu satunya tempat yang suhunya masih stabil di angka dua puluh lima derajat. Dia sedang menciptakan 'kubah' pelindung di sekitar kelasnya."

"Hanya kelasnya?" Valerius terbelalak. "Bagaimana dengan sisa kota ini? Aspal sudah mulai meleleh, Silas! Jika ini terus berlanjut, Sektor Tujuh akan menjadi padang pasir dalam satu jam!"

Arthur, di dalam kelasnya, mulai menggerakkan krayon birunya di atas kertas. Ia tidak menggambar rumah. Ia mulai menggambar pola melingkar yang rumit sebuah diagram kuno penstabil suhu semesta.

Hukum Termodinamika: Terbalik, batin Arthur.

Ia menggunakan Heart of Gaia sebagai mesin penggerak. Melalui tas sekolahnya, ia memancarkan gelombang dingin absolut yang tidak berbasis pada suhu, melainkan pada penghentian getaran molekul secara total.

Arthur meletakkan telapak tangan kirinya di bawah meja, menyentuh lantai. Ia mengirimkan gelombang itu melalui pondasi gedung, merambat ke seluruh penjuru Sektor Tujuh.

Secara visual, apa yang terjadi di luar sana sungguh luar biasa. Di saat matahari di atas sana tampak membara dengan warna emas yang mengerikan, sebuah cahaya biru lembut mulai menyelimuti gedung-gedung di Sektor Tujuh.

Suhu yang tadinya mencapai enam puluh derajat, tiba-tiba turun secara instan menuju angka normal. Es tipis bahkan mulai terbentuk di pipa-pipa air yang tadi hampir meledak karena tekanan uap.

Masyarakat yang tadinya panik ketakutan di dalam gedung, kini menatap ke luar jendela dengan bingung. Mereka melihat salju tipis yang turun di tengah matahari yang menyengat, sebuah fenomena yang secara ilmiah tidak mungkin terjadi.

"Apa itu?" Jenderal Marcus di Markas GDC menatap layar dengan mulut terbuka. "Salju? Di tengah serangan radiasi surya?"

Silas tersenyum kecut di ruang kontrolnya. Ia tahu ini adalah cara Arthur untuk mendinginkan situasi tanpa harus menghancurkan matahari. Arthur sedang menyeimbangkan energi panas dari Architects dengan energi dingin dari kristal Gaia.

"Itu adalah 'Keadilan' yang sedang bekerja, Jenderal," ujar Silas sarkastik. "Sepertinya pahlawan Valerius telah mengaktifkan sistem pendingin atmosfer rahasianya."

Valerius, yang mendengar itu, segera sadar. Ia langsung menuju podium siaran pers. "Warga Sektor Tujuh! Jangan panik! Ini adalah Project Blizzard, sistem pertahanan cuaca terbaru GDC untuk menangkal serangan radiasi musuh! Tetaplah di dalam rumah, kami sedang menstabilkan atmosfer!"

Di dimensi tinggi, para Architects berteriak murka. "Mustahil! Mereka menetralkan Solar Flare dengan energi dari planet itu sendiri? Bagaimana mungkin sebuah planet primitif memiliki output energi yang setara dengan bintang?"

"Targetkan ulang!" perintah sang pemimpin. "Jika kita tidak bisa membakar atmosfernya, kita akan menabrakkan satelit pengintai kita langsung ke Sektor itu! Biarkan massa fisiknya yang menghancurkan mereka!"

Salah satu satelit organik Architects, yang ukurannya sebesar dua lapangan sepak bola, mulai melepaskan diri dari orbit. Ia meluncur turun menuju bumi, terbakar oleh gesekan atmosfer, berubah menjadi meteor raksasa yang mengarah tepat ke sekolah Arthur.

Arthur merasakan perubahan tekanan di langit. Ia mendongak, menatap langit-langit kelas seolah olah ia bisa melihat menembus beton.

"Kalian benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah," gumam Arthur.

Ia melihat meteor itu melalui indra kosmiknya. Jaraknya hanya tinggal tiga puluh detik sebelum menghantam daratan. Jika meteor itu jatuh, kubah pendinginnya tidak akan berguna melawan benturan fisik sekuat itu.

Arthur menoleh ke arah Bu Hera. "Bu, aku ingin ke kamar mandi."

"Sekarang, Arthur? Di tengah situasi aneh seperti ini?" Bu Hera tampak ragu, namun melihat wajah Arthur yang tampak pucat (akting yang sempurna), ia mengizinkannya. "Cepatlah kembali, dan jangan keluar dari area koridor!"

Arthur segera berlari keluar kelas. Begitu ia berada di koridor yang sepi, ia menghilang. Bukan dengan berlari, tapi dengan melipat ruang antara koridor dan atap gedung tertinggi di sekolah.

Dalam sekejap, Arthur berdiri di puncak gedung. Ia menatap ke atas. Sebuah bola api raksasa menutupi seluruh pandangan matanya, meluncur turun dengan suara gemuruh yang mulai memecahkan kaca-kaca jendela di sekitar.

Arthur tidak memukul meteor itu. Ia tidak ingin menciptakan ledakan yang akan menghujani kota dengan puing-puing api.

Ia mengangkat jari telunjuknya. Di ujung jarinya, terkumpul energi dari Heart of Gaia yang dicampur dengan otoritas kedaulatannya.

"Konsep Ruang: Lipatan Hampa," bisik Arthur.

Ia melakukan gerakan seperti sedang mencubit udara di depan meteor tersebut.

Seketika, di depan meteor yang membara itu, sebuah celah hitam muncul. Meteor raksasa itu masuk ke dalam celah tersebut seolah olah ia tertelan oleh mulut yang tak terlihat. Tidak ada suara ledakan. Tidak ada benturan. Meteor sebesar dua lapangan sepak bola itu menghilang sepenuhnya dari langit bumi.

Di saat yang sama, di sebuah planet kosong yang tak berpenghuni di galaksi lain, meteor itu muncul kembali dan meledak dengan dahsyat di padang pasir yang sepi.

Arthur mengibaskan tangannya, menghilangkan sisa panas di ujung jarinya. Ia melihat ke arah langit yang kini kembali biru cerah. Radiasi Architects telah berhenti karena mereka terlalu terkejut melihat satelit mereka lenyap begitu saja.

Arthur kembali ke koridor sekolah, lalu masuk ke kelas seolah-olah ia baru saja selesai membuang air kecil. Ia duduk kembali di bangkunya, mengambil krayon birunya, dan melanjutkan gambarnya.

Mia menatapnya dengan heran. "Arthur, kau melewatkannya! Tadi ada cahaya biru besar di langit, lalu panasnya tiba-tiba hilang total! Bu Hera bilang pahlawan Valerius baru saja menyelamatkan kita lagi!"

"Oh ya? Hebat sekali," jawab Arthur sambil mulai mewarnai atap rumah impiannya di kertas gambar. "Mungkin dia sedang bersemangat hari ini."

Di Markas GDC, Silas terduduk lemas di kursinya. Ia melihat radar yang menunjukkan bahwa meteor raksasa itu baru saja terhapus dari radar dalam waktu 0,001 detik.

"Dia baru saja membuang sampah galaksi ke tempat lain," gumam Silas sambil tertawa pelan yang terdengar seperti tangisan frustrasi. "Dan dia melakukannya di waktu istirahat sekolah."

Valerius, di sisi lain, sedang dipuja oleh jutaan orang melalui layar televisi karena keberhasilannya menahan serangan matahari dan meteor. Namun, Valerius hanya bisa menatap tangannya yang gemetar. Ia tahu, setiap kali ia dipuja, ia sebenarnya sedang berhutang nyawa pada seorang bocah yang saat ini mungkin sedang mendapatkan nilai B untuk gambar rumah impiannya.

Arthur menyelesaikan gambarnya. Ia menggambar sebuah rumah kecil dengan kebun bunga dan seekor kucing di depannya. Di bawah gambar itu, ia menulis dengan huruf-huruf besar yang miring: "Cita citaku adalah tidur siang tanpa ada gangguan dari langit."

Bu Hera berjalan berkeliling melihat hasil karya murid muridnya. Saat sampai di meja Arthur, ia berhenti sejenak. "Gambar yang bagus, Arthur. Tapi kenapa langit di gambarmu warnanya biru gelap sekali, hampir seperti ruang angkasa?"

Arthur mendongak dan tersenyum polos. "Karena di sana sangat tenang, Bu. Tidak ada yang berisik."

Arthur tahu bahwa Fase Ketiga baru saja gagal total bagi Architects. Namun, ia juga tahu bahwa ini hanyalah awal dari kemarahan mereka yang sebenarnya. Heart of Gaia di dalam tasnya berdenyut hangat, memberikan tanda bahwa Jembatan di Pasifik akan segera terbuka sepenuhnya dalam dua hari.

"Dua hari lagi," bisik Arthur sambil merapikan krayonnya. "Aku harap tidak ada PR matematika di hari itu."

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!