NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14. DI GARIS BAHAYA

..."Di antara kemiskinan yang meminta kesembuhan dan kekayaan yang menuntut jaminan, seorang tabib berdiri di garis bahaya."...

...---•---...

Hari ketiga Doni membuka praktik di balai kampung, dan antriannya tidak berkurang.

Malah bertambah.

Orang-orang datang dari kampung-kampung tetangga, bahkan dari kota kecamatan yang berjarak hampir sepuluh kilometer. Ada yang berjalan kaki, kaki berdebu, napas terengah. Ada yang naik gerobak sapi, duduk di atas jerami kusut. Ada bahkan yang dipikul dengan tandu karena tidak sanggup berjalan, tubuh terbungkus kain, wajah pucat.

Suara gerobak berderit. Batuk-batuk. Tangis bayi. Desahan orang sakit. Bisikan cemas yang tak pernah berhenti.

Bambang duduk di meja kecil di teras, mencatat nama dan keluhan dengan tulisan rapi di buku yang sudah mulai penuh. Alis mengerut. Ia tidak mengangkat kepala dari buku kecuali untuk bertanya detail tambahan. Di sampingnya, adiknya yang baru berusia dua belas tahun, Slamet, membantu mengatur nomor antrian dengan potongan-potongan bambu yang diberi tanda.

"Nomor dua puluh tiga!" Slamet berteriak dengan suara nyaring. "Yang nomor dua puluh tiga, masuk!"

Seorang lelaki paruh baya dengan luka bakar luas di punggung masuk ke ruang pemeriksaan. Kulitnya mengelupas, merah muda basah di bawahnya, tepi hitam gosong. Bau daging terbakar samar masih tercium.

Luka bakarnya sudah mulai terinfeksi, tapi masih ringan. Perlu dibersihkan dari jaringan mati dan dirawat dengan antiseptik.

"Bagaimana ini bisa terjadi?" Doni bertanya sambil membersihkan luka dengan air rebusan daun sirih yang sudah dingin, gerakan lembut, hati-hati.

"Aku kuli di pabrik gula di kota. Kemarin terciprat air panas dari ketel..." Lelaki itu terdiam. Rahang mengatup. "Mandor bilang beli salep Belanda. Tapi harganya... dua minggu gajiku."

Doni menggeleng pelan. Obat-obatan Eropa yang dijual di kota sangat mahal, hanya terjangkau orang kaya atau pegawai kolonial.

"Aku akan berikan ramuan yang bisa membantu penyembuhan," katanya sambil mengoleskan pasta madu dan lidah buaya. "Oleskan tiga kali sehari. Jangan sampai luka terkena air kotor atau debu. Dan jangan garuk meskipun gatal."

Setelah lelaki itu keluar dengan botol kecil ramuan di tangan, membungkuk dalam, berterima kasih berkali-kali, pasien berikutnya masuk.

Seorang perempuan muda menggendong bayi yang menangis lemah. Kulitnya kekuningan seperti lilin tua, mata cekung dalam bayangan hitam, tubuh kurus. Tulang rusuk terlihat jelas di bawah kulit tipis.

"Sudah berapa lama bayinya seperti ini?" tanya Doni sambil memeriksa bayi itu dengan hati-hati. Jarinya menyentuh ubun-ubun yang masih lunak, lalu meraba denyut nadi di pergelangan tangan mungilnya.

"Tiga minggu," jawab perempuan itu, suaranya gemetar. "Dia malas menyusu. Menangis terus tapi lemas. Aku takut dia akan..."

Ia tak mampu melanjutkan. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca.

Doni memeriksa lebih saksama. Cubitan kecil di kulit punggung tangan bayi itu lambat kembali, pertanda dehidrasi yang cukup parah. Ubun-ubunnya terlihat cekung. Saat menangis, tak ada air mata yang keluar. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Napasnya pun cepat dan dangkal.

Dehidrasi grade tiga. Malnutrisi akut. Diare kronis tidak tertangani.

"Bayinya harus minum terus-menerus," Doni menjelaskan dengan serius, menatap mata perempuan itu langsung. "Setiap sepuluh menit, sedikit-sedikit. Kalau dia tidak mau menyusu, berikan air kelapa dengan sendok kecil. Dan ibu harus makan makanan bergizi, agar ASI juga berkualitas."

Perempuan itu menunduk. Bahu terkulai. "Kami tidak punya banyak makanan. Suami bekerja di sawah orang lain, gajinya hanya cukup untuk beras dan sedikit garam."

Doni mengeluarkan beberapa keping uang dari kantungnya, hasil dari pasien-pasien yang membayar. Jari meremas sebentar. Berat. Tapi ia menyerahkannya pada perempuan itu. "Gunakan ini untuk membeli telur dan sayur. Bayimu membutuhkannya."

Perempuan itu menatap uang di tangannya. Mata melebar. "Tapi ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menerima."

"Terima saja. Anggap ini bagian dari pengobatan."

Ketika perempuan itu keluar, membungkuk berkali-kali, suara tersedat, Karyo yang berdiri di sudut ruangan berkata, "Kau terlalu baik hati. Uangmu sendiri tidak banyak, tapi kau bagikan pada orang lain."

"Apa gunanya uang kalau bayi itu mati karena kelaparan?" Doni menjawab sambil mencuci tangan, air mengalir dari jemarinya. "Nyawa lebih berharga dari uang."

Karyo tersenyum. Menggeleng pelan. Matanya menyipit. Ada kekaguman di sana, tapi juga kekhawatiran yang mengendap.

...---•---...

Jam berganti. Wajah berganti. Penyakit berganti.

Seorang kakek dengan mata katarak, pupil tertutup kabut putih kebiruan. Seorang remaja dengan kudis parah, kulit berkerak di lipatan siku. Seorang perempuan tua dengan rematik, sendi jarinya bengkak seperti buku bambu.

Doni tangani semuanya dengan sabar, jelaskan dengan detail, beri ramuan dan instruksi perawatan.

Tapi ada satu kasus yang membuat dadanya sesak.

...---•---...

Matahari sudah tinggi, cahaya putih membakar, ketika seorang lelaki berbadan besar dengan pakaian yang lebih rapi datang masuk. Ia mengenakan celana panjang dan kemeja katun putih yang meskipun sudah kusam, jelas lebih baik dari pakaian kebanyakan orang di kampung. Kain tidak tambalan. Kancing lengkap.

Di belakangnya, dua orang pembantu membawa sebuah tandu berisi seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun.

Lelaki itu adalah Tuan Kasim, seorang pedagang kain dari kota. Wajahnya tegas, rahang kotak, alis tebal. Mata tajam, tapi saat ini ada kilat kekhawatiran di sana.

"Kau tabib yang mereka sebut bisa menyembuhkan penyakit apa saja?" ia bertanya tanpa basa-basi, suara keras, langsung.

"Saya mencoba membantu sebaik yang saya bisa." Doni menjawab hati-hati. Ia tidak suka klaim seperti itu, tidak realistis, menciptakan ekspektasi yang terlalu tinggi.

"Anakku sakit sudah sebulan." Tuan Kasim menunjuk ke tandu. "Badannya panas-dingin, berkeringat malam, kadang menggigil hebat. Aku sudah bawa ke dukun terbaik di kota, ke tabib Cina, bahkan ke rumah sakit Belanda. Mereka semua bilang penyakit aneh yang tidak bisa disembuhkan. Tapi anakku terus memburuk."

Doni mendekat ke tandu. Anak laki-laki itu berbaring lemah, napas pendek, dangkal. Kulitnya pucat kekuningan seperti kertas tua. Mata cekung. Bibir kering pecah-pecah. Perut sedikit membesar, tidak proporsional dengan tubuh yang kurus.

Doni mengusap dahinya. Hangat. Demam yang tidak tinggi, tapi tak kunjung reda. Lalu, tangannya menelusuri perutnya dengan cermat, memeriksa bagian demi bagian, dimulai dari sisi kanan atas.

Limpa membesar. Teraba jelas di bawah tulang rusuk kirinya, keras dan menonjol. Hati pun sedikit membesar.

Pembesaran limpa dan hati. Demam naik-turun dengan pola tertentu. Keringat malam. Anemia jelas.

Malaria serebral. Tipikal malaria tropika kronis.

"Sudah berapa lama demamnya?" tanya Doni sambil memeriksa mata anak itu. Ia menarik lembut kelopak mata bawah. Pucat sekali. Anemia parah.

"Awalnya setiap tiga hari. Sekarang hampir tiap hari, tapi tidak terlalu tinggi. Lebih seperti rasa meriang yang tak putus."

Gejala klasik malaria kronis. Parasit Plasmodium menghancurkan sel darah merah pelan-pelan.

"Ini malaria," Doni menjelaskan, suara tenang tapi jelas. "Penyakit dari parasit yang dibawa nyamuk. Sudah masuk ke darah dan hati anakmu."

Tuan Kasim menatapnya tajam. Mata tidak berkedip. "Dokter Belanda juga bilang begitu. Tapi mereka bilang tidak ada obatnya yang tersedia di sini. Harus impor dari Eropa, dan itu butuh waktu berbulan-bulan."

Ia condong ke depan. "Apa kau punya obatnya?"

Doni terdiam. Jari-jarinya berhenti meraba perut anak itu.

Kulit pohon kina, tapi aku tidak tahu apakah tumbuh di daerah sini. Daun artemisia mungkin bisa membantu, tapi khasiatnya jauh tidak sekuat obat malaria modern seperti klorokuin.

"Aku tidak punya obat spesifik untuk malaria," ia menjawab jujur, menatap mata Tuan Kasim. "Tapi aku bisa memberikan ramuan yang membantu tubuh melawan infeksi dan mengurangi gejala. Juga, anakmu harus tidur dengan kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk lebih lanjut."

Wajah Tuan Kasim mengeras. Rahang mengatup kuat. Otot leher menegang. "Jadi kau juga tidak bisa menyembuhkannya?"

"Aku tidak bilang tidak bisa. Aku bilang aku tidak punya obat spesifik. Tapi dengan perawatan yang tepat, tubuh anakmu bisa melawan sendiri."

"Berapa lama?"

"Beberapa minggu. Mungkin lebih."

Tuan Kasim menatapnya lama, mata menyipit, menimbang, mengukur. Lalu ia mengeluarkan sebuah kantung kain dari sakunya, membukanya dengan gerakan lambat. Di dalamnya ada beberapa keping uang perak dan bahkan satu keping emas kecil berkilau di cahaya yang masuk dari jendela.

"Ini lebih dari cukup untuk membayarmu selama sebulan," katanya, suara rendah, berbahaya. "Kalau kau bisa menyembuhkan anakku, aku akan membayar dua kali lipat. Tapi kalau dia mati..."

Ancaman tidak terucap itu menggantung di udara seperti kabut tebal.

Doni merasakan ketegangan di ruangan. Napas tertahan. Dada seperti ditekan batu. Karyo bergerak sedikit lebih dekat, siap membela kalau terjadi sesuatu.

"Aku akan melakukan yang terbaik," Doni berkata dengan tenang, suara tidak gemetar. "Tapi aku tidak bisa menjanjikan kesembuhan pasti. Penyakit ini serius. Sudah terlalu lama dibiarkan. Kalau datang lebih awal, kemungkinan kesembuhannya lebih besar."

Tuan Kasim memasukkan kembali kantung uangnya, gerakan kasar. "Baiklah. Aku akan tinggal di kampung ini selama anakku dirawat. Tunjukkan kemampuanmu, tabib muda."

Setelah memberikan instruksi detail tentang perawatan: ramuan daun artemisia, kompres penurun demam, dan diet tinggi protein untuk melawan kekurangan darah, Tuan Kasim dan rombongannya pun pergi.

Ruangan menjadi lebih sepi. Tapi ada ketegangan yang tertinggal seperti senar yang ditarik terlalu kencang.

"Orang itu berbahaya," Karyo berbisik, suara hampir tidak terdengar. "Aku kenal reputasinya. Pedagang kaya yang punya banyak koneksi dengan orang-orang Belanda. Kalau anaknya mati, dia bisa membuat masalah besar."

Doni menghela napas. Bahu terkulai. "Aku sudah menduga akan ada kasus seperti ini. Ketika reputasi tumbuh, ekspektasi juga tumbuh. Dan ketika ekspektasi tidak terpenuhi, konsekuensinya bisa berbahaya."

Aku hanya bisa melakukan yang terbaik. Sisanya bukan di tanganku.

...---•---...

Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat, cahaya jingga panjang merayap di lantai, Bambang masuk. Jari-jarinya meremas buku catatan. Wajah tegang.

"Kang Doni, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dia bilang penting."

"Siapa?"

"Mandor Belanda dari pabrik gula. Namanya Tuan Van der Berg."

Napas Doni tertahan. Dada seperti ditekan batu lagi, lebih berat kali ini. Telapak tangan tiba-tiba berkeringat dingin meskipun udara panas.

Orang Belanda. Ini pertama kalinya.

"Biarkan dia masuk."

Seorang pria berkulit putih memasuki ruangan. Tinggi, hampir dua kepala lebih tinggi dari Doni. Berambut pirang yang mulai menipis. Mata biru tajam seperti es. Ia mengenakan celana panjang cokelat, kemeja putih dengan rompi, dan topi fedora. Kumis tebal menutupi bibir atasnya.

Wajahnya keras, garis tegas di dahi dan rahang, tapi saat ini menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat di wajah orang Belanda ketika berhadapan dengan pribumi.

Rasa hormat.

"Jij bent de dokter?" ia bertanya dalam bahasa Belanda, suara dalam, aksen kental. Lalu tampak menyadari Doni mungkin tidak mengerti, beralih ke bahasa Melayu yang patah-patah. "Kau... dokter? Tabib?"

"Ya, Tuan," Doni menjawab dalam bahasa Melayu yang lebih lancar. "Ada yang bisa saya bantu?"

Tuan Van der Berg duduk di bangku dengan gerakan kaku, seperti tidak biasa duduk di tempat yang rendah. "Pekerja saya, Sujirman, cerita tentangmu. Katanya kau..." Ia terdiam. Jari meremas topi di pangkuan. "Katanya kau lebih baik dari dokter di kota."

Doni tidak tahu harus menjawab apa. Bibir terbuka, tertutup lagi.

"Saya punya... masalah." Tuan Van der Berg melanjutkan dengan susah payah memilih kata, seperti memilih batu untuk menyeberang sungai. "Istri saya, dia sakit sudah dua bulan. Dokter Belanda di kota bilang dia hanya stres dan memberi obat penenang. Tapi tidak membaik. Malah tambah buruk. Dia tidak mau makan, berat badan turun banyak, selalu sakit perut."

"Apa gejala tepatnya?"

"Mual setiap pagi. Sakit di perut bagian atas. Kadang muntah darah. Wajah pucat."

Gastritis kronis? Tukak lambung? Atau kanker? Muntah darah berarti perdarahan di saluran cerna atas.

"Saya perlu memeriksa langsung untuk tahu pasti," katanya.

Tuan Van der Berg menatapnya lama. Mata menyipit sedikit. "Kau... mau datang ke rumah saya? Periksa istri saya?"

"Kalau Tuan mengizinkan."

Wajah pria Belanda itu menunjukkan kejutan yang nyata. Alisnya merenggang ke atas. Matanya membesar sejenak. Tampak jelas, ia sama sekali tidak menduga seorang pemuda pribumi akan bersedia datang ke rumah orang Belanda.

"Besok sore," Van der Berg akhirnya berkata, suara lebih pelan. "Aku akan kirim kereta untuk menjemputmu. Rumahku di dekat pabrik gula, di area perumahan pegawai Belanda."

Setelah pria itu pergi, langkah kaki berat di tangga kayu, Karyo menatap Doni dengan mata melebar.

"Kau gila? Mau pergi ke kompleks Belanda?"

Suaranya naik. Tangan mencengkeram lengan Doni, cengkeraman kuat, mendesak.

"Di sana pribumi hanya boleh masuk sebagai pembantu atau kuli. Kalau ada yang salah, kau bisa ditangkap atau lebih buruk!"

Doni menatap pintu tempat Van der Berg keluar. Kereta hitam masih terlihat di jalan, lambang kekuasaan kolonial yang bisa melindungi atau menghancurkan.

Dua ancaman dalam satu hari. Tuan Kasim yang bisa membunuhku kalau anaknya mati. Van der Berg yang bisa menangkapku kalau ada yang salah. Atau lebih buruk, kalau istrinya mati, aku bisa dituduh membunuh orang Belanda.

"Kalau ada orang yang sakit dan meminta bantuan, aku tidak bisa menolak." Suaranya pelan tapi tegas. "Apapun ras atau statusnya."

Karyo melepas cengkeraman. Rahang mengatup keras. Napas pendek.

"Kau akan membuat dirimu dibunuh dengan kebaikanmu sendiri."

Doni tidak menjawab. Karena ia tahu Karyo benar.

Tapi ia juga tahu ia tidak punya pilihan lain.

...---•---...

...Bersambung...

1
Chimpanzini Menolak Nepotisme
akhirnya tari berhasil juga melawan penyakitnya. good job Doni, good job thor/Determined//Determined/
Chimpanzini Menolak Nepotisme
vigil itu apa thor?
CACASTAR
kalau kataku ya, Doni itu ketitipan roh, jadi kuat saat menangani ratusan pasien...
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!