NovelToon NovelToon
MEMAAFKAN BUKAN MELUPAKAN

MEMAAFKAN BUKAN MELUPAKAN

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu / Keluarga & Kasih Sayang / Penyesalan Suami / Slice of Life / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Kalung Tuti dipinjam, sampai sekarang belum dikembalikan." Tanpa basa-basi, Sari membuka suara dengan nada tajam.

"Ohh... yang katanya dipinjam Hendra itu? Kenapa Ibu ngomongnya ke aku? Yang pinjam, 'kan, anak Ibu sendiri," jawab Indah, berusaha tenang.

"Kalau Hendra yang pinjam, kamu sebagai istrinya harus tanggung jawab, dong!"

Menikah dengan anak sulung yang jadi tulang punggung keluarga, Indah dibawa ke pelosok tanpa akses memadai, tanpa kamar pribadi, dan tanpa perlindungan.

Ibu mertuanya merasa Indah adalah saingan dalam merebut cinta sang anak.

Sementara Hendra—suami yang seharusnya jadi penengah—lebih sering diam, seolah tak mendengar luka yang dialami istrinya.

Mampukah Indah mempertahankan rumah tangganya sendirian? Atau haruskah ia menyerah pada keluarga yang tak pernah benar-benar menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Antara Mistis dan Realitas

Suara Bu Dukun pelan, tapi cukup bikin bulu kuduk berdiri rapat seperti pasukan baris-berbaris.

“Apa, Bu?” Sari bertanya. Suaranya setengah takut, setengah kepo. Khas.

“Dari sore tadi… ada yang ikut dari pohon beringin dekat jembatan. Dia tertarik… sama cucumu.”

Indah spontan memeluk Rayhan erat-erat.

Antara ingin istigfar atau mencari sinyal buat kabur ke luar pulau.

Mau tak percaya, tapi ayat-ayat tentang makhluk gaib memang nyata di Al-Qur’an.

Mau percaya, tapi takut terlalu dalam… dan malah terjerumus.

Hendra merapat ke dinding, seolah dinding bisa lindungi dari hal gaib.

Tuti dan Astri langsung saling genggam tangan, seperti remaja nonton film horor.

Sementara ibu mertua menatap Bu Dukun dengan penuh keseriusan, seperti hakim mendengar pledoi terakhir. Para tetangga juga masih siaga. Entah karena peduli... atau karena sayang kalau kelewatan episode live action ini.

“Tenang, tenang. Sudah saya suruh pergi. Dia nggak jahat… cuma… kesepian.”

Nada Bu Dukun mendayu, seperti narator sinetron jam sembilan malam yang baru saja mengungkap rahasia keluarga.

Lalu ia berkata tenang, seolah sedang meresepkan obat dokter:

“Ini dibalur ke telapak kaki. Saya bacain doa.”

Semua orang menatap khidmat.

Seolah yang sedang terjadi bukan di ruang tengah rumah warga, tapi di altar sakral yang tidak boleh diganggu.

Bu Dukun kembali komat-kamit. Bibirnya bergerak cepat, entah membaca mantra, doa, atau sekadar asal komat-kamit sambil menyusun mimik serius penuh misteri—agar semua orang tersugesti?

Entahlah.

Apakah ia benar-benar memahami dunia gaib, atau hanya piawai memainkan atmosfer?

Tak ada yang tahu. Selain Tuhan… dan mungkin Bu Dukun sendiri.

Dan entah sugesti, takdir, atau kebetulan semesta...

Rayhan yang tadinya meraung seperti orkestra duka, mendadak diam.

Mendadak... sunyi.

Mungkin karena kaget saat daun sirih dingin ditempelkan di kakinya dengan semburan mantra.

Mungkin karena daun sirihnya memang sedingin sikap suami yang nggak ngerti-ngerti.

Atau mungkin juga... karena dia sudah kehabisan tenaga untuk menangis.

Apa pun alasannya, yang pasti—hening itu datang.

Dan bagi Indah malam itu... hening bukan sekadar kelegaan, tapi juga awal dari pertanyaan-pertanyaan yang menggantung tak bisa dijawab.

Tapi bagi para saksi malam itu, kejadian ini sudah cukup untuk memastikan satu hal:

Bu Dukun… sakti.

Dan lima menit kemudian…

Rayhan tertidur.

Dengan tenang. Dengan damai.

Tanpa tangis. Tanpa jerit.

Seperti habis divaksin doa.

Rumah jadi hening.

Hening yang aneh.

Bukan damai—lebih ke... ‘kok bisa?’

Bu Dukun berdiri.

Ia mengembalikan sisa bawang ke tas kantong, menutup tasnya, lalu hanya berkata singkat:

“Besok jangan lewat jembatan pas sore, ya. Udah.”

Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan aroma menyan dan satu pertanyaan besar:

Apa barusan nyata... atau cuma efek sugesti massal?

Indah terduduk lemas.

Rayhan tertidur di pelukannya, napasnya tenang.

Tetangga satu per satu pulang seperti penonton konser setelah encore.

Saling bisik-bisik, bawa cerita buat besok pagi.

Hendra meneguk air putih pelan.

Diam. Tapi bukan damai.

Lalu, satu-satunya yang terdengar hanyalah gumaman lirih dari Indah:

“Ingin percaya, takut syirik. Nggak percaya… tapi anakku akhirnya tidur.”

Ia menatap Rayhan yang terlelap.

Mungkin emang lagi capek nangis. Mungkin emang waktunya dia tidur. Tapi kenapa... semuanya terasa absurd?

Malam itu…

Seharusnya jadi penutup yang lega.

Rayhan akhirnya tertidur, tangis berhenti, aroma menyan pun pelan-pelan menguap dari udara.

Tapi rupanya… dunia belum selesai menyiram garam di luka.

Tanpa menoleh, dan dengan suara datar seperti membaca struk belanja yang salah item, Hendra berkata:

“Rawat anak aja nggak becus.”

Pelan. Tapi tajam.

Kalimat itu tidak meledak, tapi menyayat.

Indah menoleh.

Matanya menyala.

Bukan karena amarah yang meledak-ledak. Tapi karena ini… bukan pertama kalinya.

"Memangnya kau bisa mengurusnya lebih baik dariku?"

Tanyanya lirih, menjaga agar Rayhan tetap tidur. Tapi suaranya… seperti pisau dapur yang sudah diasah diam-diam.

Sari, Tuti, dan Astri saling melirik.

Mereka beku di tempat, seperti sedang menonton episode sinetron yang cliffhanger-nya terlalu nyata.

Entah ingin menyaksikan babak selanjutnya, atau sedang menimbang:

Tetap di sini nonton real drama rumah tangga atau nonton sinetron beneran di rumah tetangga?

"Memangnya kau bisa cari nafkah?"

Hendra membalas cepat. Suaranya naik setengah oktaf, seperti harga cabai waktu musim hujan.

"Memangnya tugas cari nafkah itu tanggung jawab siapa? Suami atau istri?"

Indah masih duduk, tapi nadanya mulai berdiri. Kalau bisa, nadanya sudah bawa pentungan.

"Ya suamilah! Dan aku udah jalani tugasku! Kamunya aja yang nggak becus jaga anak!"

Hendra makin nyolot, entah karena emosi… atau takut kehabisan argumen.

"Oh, jadi kamu udah bener? Dan aku yang salah? Gitu?"

Indah menyipitkan mata.

"Rayhan sakit, itu salahku? Emangnya ada manusia yang antibodi-nya garansi seumur hidup? Kalau gitu semua anak demam, ibunya masuk penjara dong."

Hendra terdiam sejenak. Tapi ego terlalu besar untuk diam lama-lama.

"Kamu emang jago ngeles," katanya ketus, meski hatinya tahu Indah benar. Nada suaranya seperti anak SD yang kentut di kelas, semua orang tahu sumbernya, tapi masih ngotot nuduh temennya.

Indah mendengus pelan, hampir tertawa.

"Aku diam bukan karena bisa ditindas. Aku diam karena debat sama orang yang selalu merasa paling benar itu kayak nyoba ngasih vaksin ke batu. Capek. Nggak ada hasil."

"Jaga mulutmu! Bicaramu makin nggak sopan sama suami," balas Hendra, dengan suara rendah khas intimidasi recehan yang sering dipakai tukang parkir rebutan lahan.

Tapi Indah bukan figuran sinetron azab yang akan tertunduk dan memeluk tiang listrik sambil menangis.

Dia… adalah wanita yang ditempa oleh kerasnya hidup, lebih kuat dari wajan penggorengan rumah kontrakan.

"Sopan?"

Dia mendesis pelan.

"Aku diam berarti masih menghargaimu, meski sejak awal kau menipuku. Katamu, semua biaya pernikahan kau yang tanggung. Tapi ujung-ujungnya... aku yang harus menjual kalung dan gelang hasil kerja kerasku."

"Aku sabar, saat kau selalu anggap keluhanku cuma lebay. Aku masih pengertian… saat harus membayar semua hutang-hutangmu yang bahkan aku nggak tahu dipakai buat apa. Mungkin buat beli lembaran togel, mimpi kaya mendadak."

Indah berdiri pelan. Tapi ucapannya kini mengalir deras—seperti narator sejarah.

Ya.

Karena ternyata, Indah adalah ‘Ahli Sejarah’.

Versi hidup yang tidak akan lupa satu per satu kejadian penting, bahkan jam dan posisi bulan saat itu.

Lebih detail daripada buku sejarah cetakan ketiga belas di perpustakaan nasional.

Sari dan kedua putrinya mulai beringsut pergi.

Mereka tahu, kondisi sudah darurat—tak bisa ditenangkan dengan gorengan, teh manis, atau zikir dalam hati. Sebelum dosa-dosa masa lalu ikut disebut satu per satu kayak daftar absen, lebih baik kabur duluan.

Mereka bubar seperti penonton konser setelah penyanyi utama menyanyikan lagu terakhir.

Hendra?

Ia menyusul.

Dengan wajah merah—entah marah, atau malu. Atau mungkin karena akhirnya disadarkan bahwa ia bukan hanya suami gagal, tapi juga manusia yang bahkan gagal memahami dirinya sendiri.

Dan tinggallah Indah.

Sendiri.

Bersama Rayhan yang tertidur di pelukannya.

Dan sebuah lampu kaleng minyak yang cahayanya goyah…

Seperti hatinya malam itu.

Indah menghela napas panjang.

Lelah hati, lelah mental, lelah dompet juga.

“Ya Allah… hidup ini pahitnya udah kayak sambiloto yang direndam di air cucian dosa. Manisnya kapan, Ya Rabb?

Aku udah coba sabar, tetap waras, bahkan masih bisa senyum di depan mertua yang nyindiran-nya udah kayak ibu kos ketemu anak kos nunggak tiga bulan.

Sudah berusaha jadi istri shalihah, meski tiap hari rasanya kayak ikut lomba sabar tingkat internasional, cabang rumah tangga.

Tapi makin aku bertahan di jalan-Mu, kenapa ujiannya malah makin naik level? Kayak game survival yang lupa disetel ke ‘easy mode’. Ini hidup... atau audisi jadi bintang utama sinetron penderitaan?”

Tak ada jawaban.

Hanya lampu kaleng susu yang bergoyang—seolah minta ditiup karena yang jadi bab bi lagi dikejar warga.

Desiran angin lewat tanpa permisi. Pergi pun tanpa pamit.

Di pojok langit-langit, seekor tokek bersuara. Entah ikut prihatin, entah cuma gatel pengen tahu kelanjutan episode hidup Indah yang… tak seindah namanya.

Udah kayak FTV tengah malam—murah produksi, mahal luka.

...🍁💦🍁...

.

To be continued

1
YuWie
aku sing baca aja sdh gak tahan..kau masih ajaaa kuat walo dg ngomel2 dah indah🙃
YuWie
Luar biasa
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
YuWie
kenapa kok yo tahan in indah..
YuWie
hendra nyinyirnya noleh juga ya..sayur dimask cmn bumbu doa.. gelas disabun trus di celup 🤣
YuWie
kenapa laki2 versi terbaiknya pas pacaran.

sedangkan wanita versi sempurna kecantik annya pas pacaran...hmmm
YuWie
nyesek ya dapat anak sulung yg dituntut untuk ngurusin adiknya terus menerus..pelajaran juga lebih baik kali ya dapat anak ragil yg tanggung jawab 🤣
Yunita Sophi
selamat ya Ndah semoga kamu akan beruntung setelah menjadi guru...
Yunita Sophi
doa dan nekat udah cukup untuk sekarang Ndah... yg penting jauh dari mertua dan ipar 😂
Yunita Sophi
gimana mau ada yg tertarik jd guru yah...
Yunita Sophi
semua jg bisa menyalahkan orang lain... tp untuk diri sendiri mereka akan menutup mata dan hatinya
Yunita Sophi
bagus Indah... semoga kamu bahagia dengan hidupmu di masa depan..
Yunita Sophi
seru sih tp kasian Indah
Yunita Sophi
semoga orang orang baik selamat 🤲
Yunita Sophi
siapa yg datang..
Yunita Sophi
asal tau aja Indah gak perlu tanya tanya... gak penting juga kali..
Yunita Sophi
dasar ponakan gak tau diri... ngembat suami tante nya
Yunita Sophi
semoga Indah jd guru biar dia bisa nabung untuk pulang ke jawa..
Yunita Sophi
nasib mu Indah... kapan mau berubah nya
Yunita Sophi
terima kasih pak Usman... semoga aja Indah di pulangkan agar dia bisa lepas dari kluarga toxis dan suami yg gak punya hati...
Yunita Sophi
tolong paman Usman antar Indah ke jawa... kasian dia tdk ada harga nya di depan suami dan kluarga nya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!