Mahalini Lembong menatap tajam Rae Sitha Dewi. ia berjalan memutar menuju ke meja Rae dan menulis cek seratus juta rupiah. Rae mengambil cek itu acuh dan memasukkan ke kantong celana jeannya. Ia berharap dengan uang ini ia bisa mengobati ibunya yang lagi butuh pertolongan.
Dengan senyum licik Mahalini menyodorkan selembar kertas putih untuk ditandatangani oleh Rae. Walaupun agak ragu, Rae dengan cepat menggores kan pulpen hitam itu diatas kertas.
Mahalini Lembong adalah gadis kaya berusia dua puluh lima tahun. Dia putri pemilik Cafe Gaul tempat Rae mengais rejeki setiap hari. Kebetulan postur tubuh mereka juga hampir mirip yang membuat Mahalini lebih leluasa menguasai Rae. Ia punya rencana jitu untuk bertukar posisi dan mengelabui ibunya, serta calon suaminya.
Apakah rencana Mahalini Lembong dibalik pemberian uang seratus juta?
***
Hallo guys, ini buku baruku. Jangan lupa like, comment dan gift. Trimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUGAS PERTAMA
Rae berjalan dengan bi Sumi ke ruang makan, disana sudah menunggu nyonya Agung dan Dewa. Tatapan Dewa aneh ketika melihat Rae.
"Selamat pagi ma..." sapa Rae, ia melirik Dewa dengan perasaan malu. Sulit melupakan kejadian tadi malam.
"Pagi, kamu cantik sekali memakai kebaya warna kuning, cocok kalau jadi model di Boutique."
"Hemm...jangan diajarin dia kerjaan di luar, di Puri sudah banyak kerjaan." sahut Dewa tidak senang. Ia benci kepada perasaannya yang secara intens kagum dengan Rae, apalagi kalau Rae tersenyum.
"Tidak apa-apa ma, pekerjaan apa saja saya mau, asal halal." jawab Rae asal.
"Mahalini diam kamu, nyahut aja." bentak Dewa. Rae baru sadar kalau ia adalah Mahalini. Seorang Mahalini tidak mungkin bicara merendah begitu. Masalahnya Mahalini sudah kaya.
"Saya bercanda, maksud saya semua pekerjaan bagus, asal ditemani."
"Benar nak, hari ini kamu bertugas keliling semoga betah, mama sudah bertahun- tahun mengabdi disini, sekarang giliran kamu."
"Semoga saya bisa.." senyum Rae.
Dewa menatap Rae dengan seksama, hatinya bergejolak. Dia tidak percaya kenapa tadi malam ia melakukan itu. Ia yakin wanita ini bukan Mahalini, ia harus bisa menahan diri. Jangan sampai terlanjur mencoblos dan wanita ini hamil. Bisa-bisa hartanya ludes. Kadang-kadang ia curiga dengan nyonya Fransiska.
"Makan kamu sebelum bekerja." ucap Dewa sinis.
Rae tidak menjawab, ia mengambil makanan sedikit, malu mengambil banyak, padahal semua yang dihidangkan enak.
"Tumben makan sedikit biasanya banyak, seperti kuli bangunan." sindir Dewa.
Ingin sekali melempar mulut Dewa dengan piring, supaya bisa diam. Awas ia disuruh mesum lagi, kalau dipaksa ia akan gigit anunya sampai putus.
"Rae, Dewa, mama duluan...." nyonya Agung berdiri, ia terkesan buru-buru habis menerima telepon.
"Baik ma, hati-hati dijalan." ucap Rae ikut berdiri.
"Ngapain kamu berdiri, habisi nasinya."
Rae duduk kembali, ia tadi berdiri itu bentuk penghormatan untuk orang yang lebih tua. Mungkin orang kaya seperti Dewa tidak mengerti.
"Sekarang banyak penipu, demi uang ia rela berkorban." sindir Dewa.
Rae tidak menyahut, ia mengambil sosis asap, setelah menjilatnya ia menggigitnya sampai putus.
"Hemm...ternyata gigi ku tajam kalau menggigit sebuah sosis..." sindir Rae menatap Dewa.
"Aku jijik melihatmu, awas kau!" ucap Dewa melempar ponsel Rae.
"Rupanya kau yang mencuri ponselku pantas dicari-cari tidak ketemu." kata Rae kesal, ia cepat mengambil hapenya.
"PENIPU!!" bentak Dewa lalu keluar.
Hati Rae sakit mendengar tuduhan itu, ia tahu ucapan Dewa benar, tapi ia tidak terima kalau dikatakan penipu. Ya Tuhan, lindungilah hamba dari setiap cobaan ini. bisik Rae dalam hati.
"Nona sudah selesai sarapan, cepat sekali, ini minum susunya." bi Sumi menyodorkan susu hangat.
"Sudah kenyang bi."
kenyang dengerin ocehan Dewa. bathinnya. Kemudian ia minum susunya sampai tuntas.
"Mari kita jalan, saya mengantar nona keliling, jangan lupa bawa air mineral. Kita pasti haus."
Rae dan bi sumi membawa peralatan untuk sembahyang, mereka naik baggy.
"Nona belajar naik baggy supaya gampang berkeliling, siapa tahu saya ada halangan, tidak mungkin nona jalan kaki."
"Ajarin saya bi, gara-gara tabrak lari saya agak trauma." bohong Rae.
"Oke, habis menjalani kewajiban kita belajar, semakin cepat bisa, semakin bagus."
Tempat pemujaan nyonya Agung begitu mewah, banyak dan sangat indah. Rae mulai menata dan bi Sumi yang menyapu halaman Pura. Rae mencari tempat terjauh, setelah itu dia urut sampai dekat.
"Bibi dimana tempat yang terjauh?"
"Kita urut dari yang dekat nona."
"Tidak bi, cari yang paling jauh, badan masih fit, tidak terlalu panas, semua yang kita bawa lengkap."
"Masuk akal juga, jika ada bahan yang kurang, supaya cepat mengambil. terakhir pilih tempat yang paling dekat. Begitu maksud nona?"
"Ya bi, kita tidak terlalu lelah bolak balik."
"Mari kita mencari tempat terjauh."
"Apakah kita menuju hutan dibelakang sana?"
"Itu bukan hutan nona, itu taman, masuk kesana indah sekali. Itu belakang hotelnya Tuan."
"Busyet, saya kira hutan. Jadi Dewa membohongi saya."
"Kita sekarang kesana." bi Sumi dengan sigap naik baggy, seperti naik mobil saja.
"Bi apa naik baggy harus ada STNK nya."
"Ada sim khusus nona." sahut bi Sumi .
Ini tugas awal yang dijalankan oleh Rae, terlihat ribet, karena baru pertama kali. Cara menjalankannya kurang simpel, perlu diperbaharui supaya lebih ringan.
Akibat tingkah polah Rae yang baik, para pelayan mulai jatuh hati kepada sikap Rae yang ramah, kebaikannya menyebar ke semua orang di Puri, semua orang menjadi bahagia mendengarnya. Tidak ada celaan tentang Rae, hanya Dewa saja yang memusuhinya.
Seperti hari ini Dewa pagi-pagi sudah mencari gara-gara, ia marah-marah tidak karuan ketika Benedictine menemuinya. Padahal Dewa sudah memblokir nomer hape Bened di hape istrinya, tapi kenapa masih berhubungan. Ia akhirnya menuduh Rae membuka blokirnya.
"Kamu yang mengundang Bened supaya datang ya."
"Tidak ada, senang sekali nuduh-nuduh."
"Kalau tidak kamu, siapa lagi. Selalu membantah." kata Dewa tambah emosi. Ia sudah emosi dari tadi malam, ketika istrinya berani menolak saat keinginannya memuncak.
"Aku juga bisa berselingkuh, membawa wanita kesini."
"Terserah, aku tidak peduli padamu. Mau jungkir balik aku tidak peduli. Kita punya jalan sendiri-sendiri."
"Oke, kita perang, aku tidak ada lagi urusan denganmu, begitu juga sebaliknya."
Akhirnya Dewa masuk kamar, dengan suara pintu berdebum. Rae mengurut dada sambil menggeleng kan kepalanya. Iapun berjalan menuju ruangan pak Agung, ini kesempatan bagus ke kamar pak Agung. Mumpung Dewa marah, tidak mungkin ia akan mencarinya.
"Nona, ada apa?" tanya suster Ani kaget ketika Rae sudah ada di depannya. Ia langsung berdiri.
"Saya mau nemenin bapak. Mumpung orang-orang pada sibuk dan nyonya tidak ada.
"Nanti nyonya marah."
"Dia tidak mungkin tahu kecuali suster yang kasitahu."
"Tidak mungkin saya mengadu kepada nyonya. Kadang saya butuh teman juga, disini sepi."
"Saya ke dalam, semoga nyonya tidak datang."
"Silahkan nona masuk ke dalam, saya jaga di luar saja. Jika nyonya datang saya akan kasi tanda dengan cara bersiul, nona boleh sembunyi di kamar mandi atau di almari." sahut suster Ani cepat. Ia bisa main hape dengan tenang.
"Siipp...kalau saya lama di dalam, berarti saya ketiduran. Tolong bangunin."
"Oke nona, good luck!"
Rae mengetok pintu sebentar, kemudian "Kleekk" ia melihat seorang laki-laki tua yang masih terlihat gagah tergeletak di atas bed stretcher, matanya terbuka kaget melihat wajah Rae. Senyumnya seketika mengembang.
Wajah keriput yang masih terlihat tampan itu memancarkan sinar ceria. Pak Agung Mahendra, salah satu keturunan Raja di Bali, kaya raya dan tersohor. Dia anak dari seorang selir Raja. Menikah dengan putri pendeta Brahmana, nyonya Agung Mirah Mahendra. Cantik, anggun dan sosialita."
"Hallo pa, bagaimana keadaan papa hari ini? sudah makan apa belum?"
"Menantu ku, papa senang kamu datang." ucapnya berusaha menggapai tangan Rae.
Tentu saja tidak bisa, karena badan pak Agung stroke, tidak bisa bergerak. Kata suster Ani, pak Agung deabet komplikasi dengan darah tinggi. Kalau bicara bibirnya sempengot sedikit dan matanya terus berkedip-kedip.
"Saya pasti datang pa, mau menginap di sini saja."
"Yang benar, apa Dewa tidak marah kamu kesini?"
"Aman pa, tidak usah dipikir. Dewa lagi sibuk tidak mungkin dia sempat mikirin saya."
"Hahaha...sayang sekali, istri secantik ini disia-siakan, kalau begitu jadi anak papa saja."
"Boleh saya memijit kakinya, pa?" tanya Rae ragu-ragu.
Sambil ngobrol ngalor ngidul Rae memijit kaki pak Agung. Pekerjaan ini sering ia lakukan jika disuruh nungguin orang sakit. Dikasi upah atau tidak, ia tidak masalah. Apa yang ia lakukan dengan ikhlas.
"Pijatanmu sangat enak, pasti orang tuamu senang punya anak seperti kamu."
"Cinta kasih ibu tak terbatas, sementara saya sebagai anak belum mampu untuk membahagiakannya. Tapi untuk menolong ibu, saya relakan masa depan dan nyawa sebagai taruhannya."
"Mulia sekali dirimu nak...semoga kamu selalu dalam lindungan Tuhan."
"Trimakasih pak, semoga bapak cepat sembuh dan bisa mengajak saya naik baggy keliling."
"Hanya naik baggy? kenapa tidak ingin keluar negeri, Paris, Hawai, Florida atau tempat wisata lain."
"Angan saya mentok sampai disitu, tidak muluk-muluk hehe..."
"Sebentar lagi magrib, bibi akan datang mencari mu untuk makan malam."
"Kalau begitu saya permisi dulu, lain kali saya datang lagi. Terus terang saya takut kesini, kalau ketahuan mama, hancurlah saya."
"Pergilah, jika ada waktu datanglah kesini. Bapak senang ada teman ngobrol, kamu anak yang baik."
"Kalau mama keluar, saya akan kesini. Saya akan hati-hati supaya tidak ada yang melihat."
"Ya..mintalah sesuatu dari bapak, misalnya uang, baju atau mobil."
"Hahaha...saya tidak perlu semua itu, saya bisa memijit bapak sudah senang. Suatu hari nanti saya akan minta sesuatu.."
"Katakan apa itu?"
"Saya mau menemui seseorang di luar Puri, orang itu sangat berarti bagi saya."
"Semangat nak, mimpimu pasti menjadi kenyataan."
"Bapak juga semangat untuk sembuh."
Rae mohon diri dan keluar dari kamar Pak Agung. Ia mengendap-endap keluar. Dewa tersenyum geli melihat tingkah istrinya. Kecurigaannya terus bertambah, ia yakin suatu hari nanti topeng istrinya akan terbongkar.
Penipuan ini tidak mungkin dilakukan oleh istrinya sendiri, pasti ada orang lain di belakangnya. Istilahnya ada dalangnya. Tujuannya tentu harta, mereka menunggu harta dari nyonya Fransiska dan harta dari Puri. pikir Dewa.
Ia akan terus memantau dan mengikuti permainan kelompok penipu ini. Sekarang ia akan memasang cctv di ruang makan, kata bibi Nur, istrinya pernah menelpon seseorang saat berada di ruang makan.
Untuk lebih cepat mengetahui siapa sebenarnya istrinya, ia akan membiarkan gadis itu menemui papanya. Dewa keluar kamar dan berdiri di depan pintu saat istrinya sudah dekat.
Melihat Dewa di depan kamarnya dada Rae berdebar takut di marah. Ia ingat kata-kata manis kalau mau lewat di tempat angker,
"Permisi setan baik penunggu disini, saya mau lewat." kata Rae sambil melemparkan satu buah permen karet. Dia lalu lari, tapi sebelum Rae masuk ke kamarnya, Dewa langsung menangkapnya.
****