NovelToon NovelToon
Cinta Anyelir

Cinta Anyelir

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:106.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nopani Dwi Ari

Tahap Revisi

Tak pernah terpikirkan untuk Anyelir, bahwa mencintai seorang Dika akan semenyakitkan ini. Di tambah perbedaan status sosial di antara dirinya dan Dika, awalnya dia bahagia. Namun, saat ke munculan Jenny dan ancamannya membuatnya pergi dari jangkauan Dika.

"Aku takut cinta membuat ku lemah, walau aku tau cinta itu bisa membuat ku kuat."

*Harap membaca Twin's lebih dulu agar tidak ada yang bingung

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.14

Jenny menepati janjinya, dia keluar dari rumah sakit sebelum waktu istirahat. Sebelum bertemu Dika, dia melakukan make-up terlebih dulu agar tak kelihatan wajahnya yang pucat beruntung pusingnya sudah hilang.

Berpuluh menit kemudian, Jenny sudah tiba di perusahaan milik Mario. Dengan tenang dia masuk tanpa ada yang mencegah. Namun, saat akan membuka pintu. Mona menarik tangan Jenny.

"Hey, apa-apaan kamu. Aku sudah izin sama Dika," pekik Jenny.

"Tapi, Pak Dika sedang ada tamu," tolak Mona, Mona merasa Dika tidak memberitahu tentang kedatangan Jenny.

Jenny pun berdecak kesal, dengan terpaksa dia pun menunggu Dika.

Tak membutuhkan waktu lama, tamu yang disebut Mona sudah keluar. Dan saat itu, Dika pun ikut mengantar sampai depan. Dengan tergesa Jenny menghampiri Dika.

"Dika," pekik Jenny.

"Jen, kamu sudah datang?"

"Iya baru saja."

Dika pun mengangguk, dia melirik jam di pergelangan tangannya.

"Mona pekerjaanku sudah selesai, jika Papi bertanya bilang saja aku bersama Jenny." Ujar Dika.

"Baik Pak," balas Mona.

"Ayo," ajak Dika, walau Dika tak banyak bicara. Tapi Jenny merasa bahagia.

Mona menatap lift yang sudah tertutup, dia sangat heran mengapa Dika berubah. Pasalnya dia tahu, beberapa minggu terakhir dia tak suka jika Jenny masuk ke dalam ruangannya.

"Sudahlah bukan urusan ku," gumam Mona dia pun melanjutkan pekerjaannya kembali.

****

Sementara Dela dan Auriga kini sudah tiba di kediaman mereka, perjalanan yang sedikit lambat. Karena Dela kembali mual, Auriga pun sudah membuat janji dengan dokter kandungan.

"Ayah, Bunda kenapa?" tanya Ara, pasalnya Ara tahu, saat Dela muntah di tepi jalan.

"Bunda sedang sakit," jawab Auriga, dia belum ingin memberitahu Ara dan Lula kalau Dela kemungkinan hamil. 

"Kenapa ayah tak membawa Bunda, ke dokter?"

"Nanti sore kita akan ke dokter, Ara dan Kak Lula tunggu saja di rumah tante Zea oke!" usul Auriga.

"Engga, aku mau ke rumah Nana Yumna saja. Aku mau ketemu tante Tiana," sahut Lula.

Auriga pun menghembuskan nafasnya secara pelan, pasalnya masih ada rasa sungkan dia bertemu dengan Yumna yang kini menjadi Ibu mertuanya. Sungguh aneh memang, tapi itu takdir Auriga.

"Baiklah ayah akan antar kalian ke rumah Nana Yumna."

"Yeay!" seru Lula dan Ara kompak.

"Oke! Sekarang kalian tidur siang dulu."

Ara dan Lula pun berlari menuju kamar mereka, yang berada di lantai dua. Karena sekarang Ara tidur bersama Lula.

****

Pusat perbelanjaan yang di kunjungi Jenny dan Dika, adalah pusat perbelanjaan terbesar di kotanya.

"Kita makan siang dulu atau belanja, dulu?" tanya Jenny antusias.

"Kita makan dulu saja."

"Oke!"

Dika dan Jenny pun memasuki restoran Jepang, karena Dika ingin makan ramen. Dan dia pun tahu, ramen terenak di mall tersebut.

Dika memesan Ramen, Sushi dan Onigiri. Sedangkan Jenny hanya memesan takoyaki dan ramen saja, karena dia tak suka makan ikan mentah atau goreng karena alergi.

"Kamu gak suka Sushi?"

"Engga, aku alergi semua jenis ikan." Ujar Jenny

Dika pun mengangguk sebagai jawaban, tak banyak yang mereka bicarakan saat menunggu pesanan datang.

Mereka hanya sibuk dengan ponselnya masing-masing, walau begitu Jenny tak masalah dia bahagia. Jika Dika kini mau menerimanya, mungkin pelan-pelan akan mencintainya.

Memikirkan kata cinta, Jenny mendadak murung. Bagaimana jika Dika mencintainya saat penyakitnya semakin parah? Jenny melirik Dika yang asik menatap ponselnya.

Setelah selesai makan siang, Dika pun mengajak Jenny ke sebuah toko perhiasan langganan keluarganya.

"Pak Dika," sapa Manager toko tersebut. "Ada yang bisa kami bantu?"

"Berikan cincin pertunangan dan pernikahan yang cocok untuk calon saya pak," ujar Dika.

"Wah.. Pak Dika akan menikah? Selamat pak, baik ini yang terbaru di toko kami."

Manager tersebut menunjukan lima buah cincin yang katanya limited edition, dan terbaru pada Jenny. Semua bagus dan Jenny suka, tapi yang paling mencuri perhatian Jenny adalah sebuah cincin berbentuk mahkota dengan berlian di sekelilingnya.

"Yang itu bagus," tunjuk Jenny, dan Manager toko memberikannya pada Jenny.

Dan sangat pas di jari manisnya.

"Bisakah ini di ukir nama dengan nama, Dika?" tanya Jenny, membuat Dika yang sibuk melihat kalung anak pun menoleh.

"Kenapa?"

"Tidak apa, aku ingin saja."

"Bisa Nona."

Manager tersebut memberikan pada pelayan untuk di bawa ke tempat ukir, lalu Jenny pun melihat-lihat perhiasan yang lain. Pandangannya terpaku, pada satu buah kalung yang sangat cantik. Berbentuk sebuah perisai, dia sangat ingin membelinya.

Dia pun berbicara pada Manager toko, untuk membungkus kalung tersebut. Dan membayar dengan uang pribadinya, walau sedikit mahal. Dia akan memberikannya pada sang anak nanti, sebagai kenang-kenangan darinya saat dia tidak ada.

Setelah dari toko perhiasan, Dika dan Jenny memasuki toko baju ternama, toko tas terkenal dan lain-lainnya. Sehingga menghabiskan waktu kurang lebih dua jam.

"Makasih Dik, kamu sudah membelikan adik ku juga." Ucap Jenny.

"Tidak masalah, aku mau Tara juga hadir di acara pertunangan dan pernikahan kita."

"Tapi.. Daddy tidak akan suka," lirih Jenny.

"Tara urusan ku, biar dia datang bersama keluarga besar ku. Ibu akan menjaga Tara," ucap Dika.

Jenny pun mengangguk setuju, dia pun minta di antar ke rumah Tara. Dia akan tinggal disana, beberapa hari.

Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai.

"Kamu gak mau mampir, dulu?" tanya Jenny.

"Lain kali saja, aku harus bertemu Dela."

"Dela? Wanita yang mengaku pacar kamu itu?" tanya Jenny.

Dika tertawa untuk pertama kalinya, dan Jenny terpesona.

"Dia bukan pacar ku, dia keponakan ku. Aku risih pada mu waktu itu. Sampai minta tolong sama dia," kekeh Dika.

"Lagian dia sudah menikah," sambungnya kemudian, Jenny pun mengangguk saja.

"Ya sudah, kalau begitu. Aku pergi dulu," pamit Dika.

"Iya hati-hati Dika."

Jenny menunggu sampai mobil Dika keluar dari perumahan, setelah mobil keluar dan tak terlihat lagi. Jenny masuk ke dalam rumah, dan disambut oleh bibi Maura.

"Bi," sapa Jenny dengan senyum merekah di wajahnya.

Bibi Maura pun senang melihat senyum yang menghiasi sang anak asuh, selain Tara. Dulu bibi Maura yang membantu merawat Jenny saat masih bayi.

"Sepertinya ada yang bahagia, nih!" goda bibi Maura.

"Ayo masuk, aku mau cerita Bi. Dimana Tara?" tanya Jenny dan duduk di ruang tengah.

"Dia ada di kamarnya, sedang tidur."

Bibi Maura menuju dapur, dan membawakan minuman untuk Jenny.

"Terima kasih Bibi."

Setelah meminum minumannya, Jenny pun mulai bercerita pada bibi Maura. Bahwa dua minggu lagi, dia akan bertunangan dan menikah. Setelah menikah dia akan berhenti bekerja, dan semua tabungan untuk Tara.

"Apa keputusan anda sudah benar, Nona?" tanya Bibi Maura terlihat khawatir, setelah Jenny bercerita.

"Iya Bi, aku akan lega. Jika ada orang yang melindungi Tara sebelum aku pergi," tutur Jenny.

"Sebaiknya Nona, memberitahu tuan Dika tentang penyakit Nona." Usul Bibi Maura.

"Tidak bisa Bi, aku tidak mau. Dika menikahi ku dan mencintai ku karena penyakit ku ini."

"Jika nanti aku pergi anggap Tara sebagai anakmu Bi, dan tetap tinggal di sini." Timpal Jenny.

"Kamu pasti sembuh, Nak." Bibi Maura menyeka sudut matanya.

"Aku tidak akan sembuh Bi." Isak Jenny.

Bibi Maura membawa Jenny ke dalam pelukannya, sejatinya Jenny harus menjadi tulang punggung untuk sang adik. Karena ayah mereka tidak tanggung jawab, mungkin bukan tidak bertanggung jawab lebih tepatnya karena istri barunya Linda. Yang selalu menghasut Alderik, agar lepas tanggung pada kedua putrinya.

Bersambung…

Maaf typo

1
Eva Nietha✌🏻
Terimakasih thor karya mu keren
Eva Nietha✌🏻
Luar biasa bnyk tokoh d cerita mu thor
Eva Nietha✌🏻
Ameera hatinya julid ga bersyukur banget
Eva Nietha✌🏻
Ameera kelakuannya buruk sih
Eva Nietha✌🏻
Keren
Eva Nietha✌🏻
Semoga mereka menjadi keluarga
Eva Nietha✌🏻
Seru
Eva Nietha✌🏻
Klo ga hafal2 banget bingung bnyk banget tokohnya .. scara kluarga besar ya 😁😁 terimakasih ya thor bagus ceritanya
AriNovani: Heheh
aku pun kadang bingung kakk, mampir di karya ku yg lain 100 Hari Mengejar Cinta suami mohon dukungannya ya kak 🙏
total 1 replies
Eva Nietha✌🏻
Dela merajuk 😁
Eva Nietha✌🏻
Bapak pecundang tuh alderik
Eva Nietha✌🏻
Baba jimi lg puber Shay
Eva Nietha✌🏻
Ckkk murahan banget Riana
Eva Nietha✌🏻
Ehmm baba jimi jodoh bu sekar
Eva Nietha✌🏻
Lanjut lagi
Eva Nietha✌🏻
Wah dela mulai tanda2 hamidun
Eva Nietha✌🏻
Anye pergi uncle Dika galau
Eva Nietha✌🏻
Seru banget
Eva Nietha✌🏻
Msh stay
Eva Nietha✌🏻
Dari twins menclok kemari 😀😀
wily andriani
apa cuma aku aja yg agak bingung dengan tokoh dalam novel ini.

apakah ada novel sebelumnya yg berhubungan novel ini??
AriNovani: ada Twins judulnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!