NovelToon NovelToon
(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Katrina jaeyadi

Dinda yang secara mendadak menjadi yatim piatu karna ditinggal oleh ke dua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan mobil. Tiba tiba mendapatkan kabar bahwa dia telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak sahabatnya.

Dinda yang tak dapat diterima oleh pria yang telah menikahinya dan menjadi suaminya hanya bisa berdiam diri di rumah, dan menyibukkan diri dengan bisnis yang ditinggalkan orang tuanya. Dan suaminya malah membawah wanita yang dicintainya, serta memberikan hak sebagai nyonya rumah yang sama dengan dinda.

Akankah dinda yang tak pernah mendapatkan cinta dan perhatian dari suaminya itu bisa terlepas dan bebas dari jeratan rantai pernikahan. Dan mendapatkan seseorang yang bisa menerima dan mencintainya secara tulus.

Penasaran dengan ceritanya...jangan lupa untuk selalu memberi dukungan dan meninggalkan


Like 👍
Comen ✍️
Hadiah 🎁
Vote ✌️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katrina jaeyadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyanyi cafe

Hari Demi hari ku lalui dengan perpegang teguh pada keyakinanku, berharap semua yang ku lewati akan berubah indah. Setiap hari aku melihat kemesraan mas Bram bersama mbak Monica, dan aku hanya bisa bertahan dengan segala kesabaranku. "Ya Allah, seperti apa rasanya sentuhan seorang suami dan seperti apa rasanya dimanjakan oleh suami" keluhku saat melihat mas Bram yang selalu menatap mbak Monica dengan kelembutan dan membelainya penuh sayang.

"Dinda, tolong besok subuh bangunkan mas ya, jika kamu bangun duluan" kata mas Bram setelah selesai makan malam. "Insya Allah mas, kalo dinda bisa bangun ya" jawabku sambil beresin meja makan. "Baiklah sekarang kamu tidur sudah malam" kata mas Bram yang bantu aku beres-beres. "Iya, apa mbak Monica uda tidur mas?" tanyaku pada suamiku, karna aku tak melihatnya dari tadi. "Iya, dia sudah tidur" jawab suamiku itu sambil tertunduk. "Ya sudah, kalo gitu dinda kekamar dulu ya mas. Mas Bram cepat istirahat" kataku dan aku langsung menghilang di balik pintu kamarku.

Seperti perintah mas Bram, pagi itu aku mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkan dia sholat subuh. "Iya din aku sudah bangun" katanya sambil menguap. "Mbak Monica gak dibangunin juga mas, biar sholat bareng" kataku sambil melongokkan kepala melihat ke dalam kamar mas Bram. "Sudah ku bangunkan tadi tapi dia gak mau bangun" katanya yang langsung keluar dan menutup pintu kamarnya. "Ya sudah kalo gitu mas Bram sholat dulu dinda balik ke kamar" kataku yang mau turun tangga. "Loh, sholat bareng aja Din" ajak mas Bram padaku. "Maaf mas Dinda lagi halangan" kataku dan langsung turun ke lantai bawah.

Kegiatan pagiku seperti biasanya, aku masak untuk Sarapan. "Dinda ternyata kamu disini, pantas tadi aku ketok pintu kamu gak nyahut" kata mas Bram yang kulihat sudah berpakean rapi, tapi aku tak melihat mbak Monica turun bareng, mungkin dia masih tidur. Aku menyiapkan sarapan untuk mas Bram. "Sini biar aku sajah!" kata mbak Monica yang langsung menyahut piring yang berisi nasi dari tanganku, sehingga nasi itu berceceran. Kulihat dia emang sepertinya habis bangun tidur, namun rambutnya sudah disisir rapi dan sepertinya dia juga sudah cuci muka saja tadi sebelum turun. "Ya Allah mbak, kenapa kasar begitu sih, kan bisa bilang baik-baik sama Dinda. Dinda juga pasti akan kasik" kataku sambil bersihin nasi yang tercecer di bawah. "Sudah-sudah masih pagi jangan ribut, siapa pun yang menyiapkan dan melayaniku sama saja, kalian sama-sama istriku" jawab mas Bram yg nada sedikit keras.

Saat mas Bram mau berangkat tiba-tiba mbak Monica menarikku hingga aku hampir saja jatuh. "Hey Dinda.! Sini berikan kunci mobil pada ku, aku juga mau pakek mobil karna aku mautelat" katanya dengan nada kasar. "Maksud mbak kunci mobil yang mana?" jawab ku bingung, karna dirumah hanya ada mobil mas Bram dan mobilku saja. "Tentu saja kunci mobil yang biasa kamu pakek, kamu begok ya!?. Itu juga pemberian mas Bram jadi gantian yang pekek jangan kamu hak i sendiri mobil itu, berikan sini kuncinya!" katanya bertolak pinggang. "Apa? Pemberian mas Bram?" kataku sedikit merasa aneh. "Lama ah kamu ini, gantian yang pakek.! Kamu jalan kaki saja sana.!" katanya sambil menggeledah isi tasku. "Sebaiknya mbak tanyakan sama mas Bram" kataku sambil menarik tasku kembali. "Mas Bram pasti akan pemperbolehkannya" katanya dengan percaya diri. "Monica ada apa ini? Bisakah kamu berkata dengan baik pada Dinda?" kata mas Bram saat dia keluar dari dalam rumah. "Aku sudah bicara baik-baik padanya tadi mas, tapi Dinda bersih keras" adunya dengan nada manja pada mas Bram. "Emangnya ada apa. Din kenapa? Apa kamu tidak bisa untuk tidak membuat masalah?" kata mas Bram yang terdengar menyalahkan ku. "Mas, sebaiknya mas tanyakan sama mbak Monica kenapa?" kataku pada mas Bram yang terlihat sedikit emosi. "Aduh mas aku cuma bilang pada Dinda agat dia mau gantian, aki cuma mau minta kunci mobil, karna aku mau telat berangkat ini. Tapi Dinda gak mau ngasik kunci mobilnya" adunya lagi dengan suara yang dibuat-buat sedih. "Mobil itu milik Dinda sendiri bukan pemberian ku. Jika kamu takut telat aku antar, sekarang masuklah ke mobil" kata mas Bram pada mbak Monica. Ku lihat seperti ada wajah kesal dan marah dari raut wajah mbak Monica, begitu juga dengan mas Bram yang sedikit malu.

Di butik aku terus berfikir kenapa mbak Monica bisa mengira kalo mobil itu pemberian mas Bram, dan dia merasa iri padaku, padahal dia sudah mendapatkan mas Bram seutuhnya. 🎶🎶 Tak ingin lagi rasanya ku bercinta setelah ku rasa peri

Kegagalan ini membuatku tak berdaya

Tak dapat lagi rasanya ku tersenyum setelah kau tinggal pergi

Biar ku sendiri tanpa hadir mu kini lagi

"Eh, siapa yang telpon. Mas Bram? 🤔kenapa ya?"

"Halo Din"

"Assalamu'alaikum mas"

"Iya, wa'alaikumsalam"

"Ada apa mas? Kok tumben telpon Dinda"

"Iya, mas mau bilang nanti kamu gak usah masak karna mas mau makan di luar sama Monica"

"Ooo...Ya sudah mas, apa nanti mas bakalan pulang telat?"

"Tidak tau lihat nanti saja"

"Ya sudah kalo gitu, itu saja yang mau mas sampein sama Dinda?"

"Iya, soalnya takut nanti kamu masak"

"Baiklah mas, kalo begitu semoga mas dan mbak Monica bersenang-senang. Assalamu'alaikum"

"Iya, wa'alaikumsalam"

Tuut

"Eh, din? Sudah mati, aku sms saja"

(Din maaf tadi mas lupa belum nanya, apa kamu mau dibawakan makanan nanti kalo mas dan Monica pulang?)

(Tidak usah mas, terima kasih)

"Dibawakan makanan apanya, pulang e aja gak tau, bisa kelaparan nanti aku"

"Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, baru saja sore sekarang uda malam aja. Sebaiknya sekarang aku ke cafe saja, sekalian nanti makan disana, kebetulan ini juga jadwalku mengisi acara di sana" aku bangkit dan menemui Yulia. "Yulia aku balik dulu, mau ke cafe ketemu sama mas Dido dan jadwalku ngisi disana" pamitku pada teman ku Yulia yang bekerja pada ku sebagai manajer butikku. "Iya hati-hati di jalan, kamu gak makan dulu Din? Atau nanti makan di cafe?" katanya padaku dengan rasa khawatir. "Iya nanti aku makan disana saja" jawabku sambil senyum. "Beneran makan ya? Jangan sampai gak makan, nanti aku akan telpon mas Dido" katanya sambil mengancam ku.

Aku pun melajukan mobilku menuju cafe, dan sesampainya di sana aku langsung minta di buatkan makanan sama pegawe ku, karna jika tidak makan Yulia akan mengomel pada ku, kalo aku gak makan. Aku pun makan malam ditemani sama mas Dido, dan selesai makan kami berbincang sejenak setelah itu aku naik kepanggung untuk mengisi lagu, setelah lagu terakhir yang di nyanyikan oleh bend penyanyi cafe ku.

Cuwek

Kadang ku kesal dengan sikapmu

Yang s'lalu bertanya mana perhatianku

Mungkin kau tak pernah merasakan

Apa yang kulakukan di setiap pengorbananku

S'lalu jadi yang kau mau

Menjaga di setiap saat

Tapi kau tak melihatnya

Mana ada aku cuek

Apalagi gak mikirin kamu

Tiap pagi malam ku s'lalu

Memikirkan kamu

Bukalah pintu hatimu

Agar kau tahu isi hatiku

Semua perjuanganku

Tertuju padamu

Mungkin kau

Tak pernah merasakan

Apa yang kulakukan

Di setiap pengorbananku

S'lalu jadi yang kau mau

Menjaga di setiap saat

Tapi kau tak melihatnya

Mana ada aku cuek

Apalagi gak mikirin kamu

Tiap pagi malam ku s'lalu

Memikirkan kamu

Bukalah pintu hatimu

Agar kau tahu isi hatiku

Semua perjuanganku

Tertuju padamu

Ho-oo-oo-ah, yeah

Ho-oo-oo

Ho-oo-oo-ah, yeah

Ho-oo-oo

Mungkin kau tak merasa

Yang t'lah kuperlihatkan

Rasa ingin kumilikimu

Janganlah kau merasa

Bahwa ku hanya main-main

Tolong, dengarkanlah

Mana ada aku cuek ('tuk kali ini saja)

Apalagi gak mikirin kamu (kau yang mulai padaku)

Tiap pagi malam ku s'lalu (hingga ku memilihmu)

Memikirkan kamu (semua caraku)

Bukalah pintu hatimu (hingga kau pun merasa)

Agar kau tahu isi hatiku

(Dan takkan meragu) semua perjuanganku

Tertuju padamu (uu-uu, yeah)

Bukalah pintu hatimu

Izinkanlah ku merayu

Bukalah pintu hatimu

Jangan meragu

Bukalah pintu hatimu

Izinkanlah ku merayu

Bukalah pintu hatimu

Jangan meragu

Mana ada aku cuek

Apalagi gak mikirin kamu

Tiap pagi malam ku s'lalu

Memikirkan kamu

Bukalah pintu hatimu

Agar kau tahu isi hatiku

Semua perjuanganku

Tertuju padamu

Penulis lagu: Rizky Febian Andriansyah

Diantara pengunjung itu ternyata ada Bram dan Monica yang sedang menikmati makan malam mereka berdua. "Ya ampun, pantas aku selalu familiar saat ketemu sama dia. Ternyata sekarang aku, kalo aku ketemu dia disini waktu kita masih pacara dulu sayang. Apakah waktu itu dia sudah jadi istri mas Bram? Penyanyi cafe, apa tidak ada pekerjaan yang lebih baik lagi dari ini?"

"Sudah makan saja makanan kita, jangan sampai semuanya merusak suasana kita makan"

"Apa yang mas Bram katakan benar, kenapa kita harus mengurus dia. Dia hanya seorang penyanyi cafe"

Setelah aku selesai mengisi lagu, kunserahkan lagi kepada grub band yang malam itu mengisi acara. Lalu aku pamit untuk pulang pada mas Dido. "Dinda tunggu, sekarang tolong katakan dengan jujur sama mas ada apa dengan rumah tanggamu?" tanyanya padaku dengan nada marah. "Maksud mas apa? Rumah tangga Dinda baik-baik saja mas" jawabku dengan bingung. "Apa kamu ingin mas tanyakan pada suamimu?" kata mas Dido sambil. menunjuk ke arah salah satu pengunjung di cafe itu. Dan aku pun mengikuti arah yang ditunjuk sama mas Dido, ternyata disana ada mas Bram dan bak Monica yang sedang makan dan bercanda.

Akhirnya aku pun menjelaskan dan menenagkan amarah mas Dido, dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja walo sebenarnya hatiku serasa tersayat setiap kalian melihat mereka berdua bermesraan. "Ku mohon mas, jangan lakukan apa pun biar Dinda yang atasi semua masalah keluarga Dinda. Tolong mas, Dinda mohon 🙏. Nanti jika Dinda tak sanggup makan orang pertama yang akan Dinda hubungi adalah mas Dido" aku memohon, karna aku atau mas Dido orangnya pemarah dan tak sabaran. "Baiklah, tapi jika nanti mereka membuat ulah mas gak akan bersabar lagi, mas akan menghajar mereka berdua" katanya sambil manahan marah. "Terima kasih mas, tolong jangan ceritakan ini sama Om dan mas Didi". Mas Dido memeluk dan mengusap punggungku.

Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke dalam kamarku. Aku mengistirahatkan tubuh dan pikiranku, karna aku gak mau berfikir tentang mas Bram dan mbak Monica. Dan pada saat di sepertiga malam, aku yang bermaksud ingin membangunkan mas Bram untuk sholat malam bareng justru mendengar sesuatu yang semakin menyayat hatiku. Aku bersimpun di hadapan Rabb ku, ku adukan segala keluh kesahku padanya, aku memohon jalan keluar yang terbaik untuk kehidupan dan kebahagianku. Aku tak sanggup lagi rasanya memohon untuk pertahanan rumah tanggaku.

Penyesalanku yang menerima perjodohan dan pernikahan ini jadi ku pertanyakan. Aku tak merasa sedih dengan pernikahan kedua suamiku, aku hanya merasa sedih atas perlakuan yang tak sama padaku, sebagai seorang istri aku juga merindukan pelukan dan belaian dari suamiku. Karna dari awal pernikahan aku sudah berusaha untuk menerima mas Bram sebagai suamiku. Namun, jangankan dekapan bahkan gandengan tangan saja aku tak pernah mendapatkannya.

1
Hari Saktiawan
aku tak suka India /Smug//Smug//Smug//Smug//Smug//Smug/
falea sezi
ada laki pd kek lu brambang/Curse/
Nunung Ainus
Luar biasa
💓 KJ: trm kasih dukungannya kak
total 1 replies
Wisteria
bengok amat si dinda kenapa pula harus takut dan bertele"
Wisteria
lah kok Naya salah apa bang
kan sudah jelas situ salah apa🤦🤦🤦🤦
Wisteria
😆😆😆 diberi barang bagus malah pilih sampah
💓 KJ: trm kasih dukungannya kak
total 1 replies
Rismawati Damhoeri
bagus sih alur ceritanya, tp kata2nya bnyk yg salah, pegawe, dibawa jdi dibawah, mol dan bnyk lagi yg lainnya, Napa nggak menurut eyd aja sih?
Yennie Susantie: iya sekarang banyak orang yang kalau ngetik kayak gitu apalagi kalau para author novel bikin males buat baca.
total 1 replies
Rismawati Damhoeri
kok pegawe sih? bukannya pegawai yaa..?
MOMMY
hahaha ya allah berakhir sdah penderitaanku.../Scream//Scream//Scream//Scream//Scream/
MOMMY
hahaha inda terasa ciumanya soal nya pake costom pande.../Scream//Scream//Scream//Scream//Scream//Scream//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
MOMMY
kurang elok dibaca yng muda remaja
mudah terpesong..jikatdk pandai mmbawa diri atau kurang didikan ugama
MOMMY
masa bunda karak dngn cinta malah sanggup mau tukar agama..cetek bnar kpercayaanya.
Nonik Anda Swl: yes di point ini kita sepaham,aku pikir karakter dinda karena dia paham.agama,akan kuat pendirian mempertahankan akidah nya,tp eh hampir goyah hanya karena cinta manusia,miris
total 1 replies
Anonim
kan goblok’a dh kebangetan si dinda
Anonim
capek baca’a klo ada cwek yg hoblok kaya dinda
Nofarahin Mohd Kamel
hebat..mantapp
💓 KJ: trm kasih dukungannya kak 🙏
total 1 replies
Bulan Biru
bingung
tini_raharjo
beda
tini_raharjo
kalut
tini_raharjo
pegawai
tini_raharjo
sampai

terkejut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!