Soraya sang Primadona online terjebak di Abad 13 karena insiden yang menimpanya. Jiwanya terperangkap dalam tubuh seorang selir Senopati perang, apakah yang akan dilakukan oleh Sora agar bisa kembali ke abad 20.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Sisi Lain Adipati Sentanu
"Kau begitu berani sekarang, kau memang terlihat berbeda dengan Gayatri yang dulu, kau begitu berani dan ceroboh, bahasa mu juga bukan tidak mencerminkan kaum bangsawan. Siapa kau sebenarnya!" serunya sembari mencekik ku membuat ku kesulitan bernafas
"Katakan siapa dirimu yang sebenarnya dan dimana Gayatri yang asli!" ucapnya terus mencekikku dengan erat
Om bar-bar, help me, help..., jangan biarkan lelaki ini membunuhku, please help me....
Tiba-tiba aku merasakan tubuhku terasa ringan, pandangan mataku mulai kabur, dan....
*Wuuushhh!!!
Barra segera menyambar tubuh Gayatri dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Kemana dia, tidak mungkin wanita itu bisa menghilang begitu saja dari hadapanku," ucap Adipati Sentanu celingukan mencari Gayatri yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
"Tidak mungkin jika wanita itu memiliki ilmu, hitam, aku harus mencarinya, dia pasti belum jauh dari sini, lelaki itu kemudian berlari mencari keberadaan Gayatri
Ia mencari keseluruh penjuru paviliun Ratu, tapi tidak menemukan wanita itu.
"Dimana dia, dimana dia!!" serunya dengan suara menggelegar
"Siapa yang anda cari Ndoro?" tanya Mahespatih
"Gayatri Prameswari, apa kalian melihat wanita itu," jawabnya dengan nafas terengah-engah
Mahespatih dan para prajurit yang berjaga disekitar gerbang paviliun pun tidak melihat Gayatri keluar dari tempat itu.
"Kalau begitu kita harus ke paviliunnya sekarang!" ujar lelaki itu memberikan komando
"Sendiko Ndoro!" semuanya langsung bergegas menaiki kuda mereka mengikuti Adipati Sentanu
"Sora bangun!!" seru Barra menepuk-nepuk pipi gadis itu
*Uhuk, uhuk!!
"Syukurlah lo udah bangun," ucap Barra
"Alhamdulillah gue masih hidup, makasih Om udah menyelamatkan gue walaupun telat, hampir saja aku mati penasaran di tangan psikopat Sentanu,"
"Mulai sekarang kau harus hati-hati dengan lelaki itu Sora, karena aku agak kesulitan menggunakan kesaktian ku di negeri dongeng ini,"
"Okey Om,"
Baru saja aku meneguk segelas air, tiba-tiba suara derap kaki kuda membuatku langsung menyemburkan air yang baru saja aku minum.
"Siapa yang datang malam-malam begini," aku langsung berlari kedepan untuk mengintip siapa yang datang.
"Dia datang untuk menangkap mu, sepertinya dia sangat terkejut ketika melihatmu menghilang di depan matanya, untuk itulah dia ingin memastikan sendiri kau ada di sini atau tidak,"
"Jadi aku harus gimana Om?"
"Bagaimana kalau kita kerjain dia, kita bikin seolah-olah dia mengalami delusi ketika melihatmu menghilang,"
"Okey," Om Barra kemudian membawaku pergi dari paviliun ku dan kembali ke pesta.
*POV Adipati Sentanu
Lelaki itu segera masuk kedalam paviliun Kenanga, dan memeriksa semua sudut ruangan itu, mencari keberadaan Gayatri.
Namun ia tidak menemukan wanita itu, ataupun dayangnya Layung Sari.
"Ndoro Ayu belum kembali dari Paviliun Ratu Raden," ucap seorang dayang saat di interogasi oleh Adipati Sentanu.
Bahkan jawaban serupa juga ia dapatkan dari beberapa orang prajurit yang berjaga di paviliun itu.
"Tidak mungkin, aku sudah jelas-jelas aku melihat wanita itu menghilang di depan mataku, kalau bukan kembali pulang lalu dia bersembunyi dimana!" serunya geram
"Bagaimana kalau kita kembali ke paviliun Ratu, kita pastikan sekali lagi apakah Gayatri ada di sana atau tidak," jawab Mahespatih
"Bagaimana jika dia tidak ada?" tanya Sentanu lagi
"Berarti dia memiliki ilmu hitam dan sengaja menghindari anda," sahut Mahespatih
"Baik, ayo kita kembali ke paviliun Ratu!" seru Adipati Sentanu
Sesampainya di kediaman Ratu, lelaki itu segera menuju ke pendopo utama yang di jadikan sebagai tempat pesta.
Ia terkejut ketika melihat Gayatri Prameswari sedang menari bersama Ratu Kusumawardhani dan juga Kertanegara.
Lelaki itu langsung bergabung bersama mereka.
"Yang Mulia, boleh hamba bergabung?" tanya lelaki itu
"Tentu saja Adipati," jawab Kertanegara
Lelaki itu segera meraih lengan Gayatri dan menari bersamanya, wanita itu tanpa sungkan menerima ajakannya.
Sentanu memperhatikan leher Gayatri yang tetap mulus tanpa ada luka bekas cekikan darinya.
Bagaimana bisa luka itu tidak ada, aku yakin sekalibsudah mencekiknya, tapi kenapa tidak ada bekasnya.
"Kenapa Adipati, apa ada yang salah dariku?" tanya Gayatri menyunggingkan senyumnya
"Bagaimana bisa bekas luka bekas cekikan di lehermu menghilang," bisik lelaki itu
Wanita itu tersenyum simpul sembari menatap lelaki itu dengan tatapan menggoda.
Ia mendekatkan dirinya kearah Adipati, hingga ia bisa merasakan detak jantung lelaki itu.
Gayatri menatap wajah Sentanu dan menuntun tangan lelaki itu hingga melingkar di pinggangnya. Ia kemudian mengalungkan tangannya ke leher lelaki itu.
"Sekarang lihatlah dari dekat, apakah ada luka di leherku atau tidak," ucapnya lirih
Adipati Sentanu kini melihat dengan jelas tidak ada bekas luka cekikan, bahkan ia memberanikan diri menyentuh leher panjang wanita itu.
"Bagaimana, apa kau melihat sesuatu?" tanya Gayatri
Lelaki itu kemudian menatap lekat wanita itu dengan tatapan penuh amarah.
"Aku tahu kau pasti sudah menghilangkannya, tapi syukurlah dengan begitu kau juga sudah membantu menghilangkan jejak kejahatan ku yang sudah berusaha membunuhmu malam ini," bisik lelaki itu
"Kau mungkin mengalami delusi Adipati, setelah obsesimu untuk menyingkirkan aku bersama adikmu gagal. Kau berusaha melakukan hal yang sama malam ini, setelah melihat adikmu menanangis karena suaminya sudah bosan padanya dan lebih tertarik dengan selirnya. Keinginanmu yang sangat kuat untuk membunuhku membuatmu berdelusi seolah- olah kau sudah menghabisi nyawaku dengan mencekik ku." jawab wanita itu
"Omong kosong, semuanya bukan delusi tapi nyata. Aku bahkan menyeretmu ke tempat sepi agar bisa membunuhmu, kau hampir mati saat aku mencekik mu, namun saat aku yakin kau sudah mati tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang menarik tanganku dan saat itulah kau menghilang dari pandanganku. Aku yakin kau memiliki ilmu hitam yang bisa membuat dirimu menghilang saat dalam bahaya, mengakulah atau aku akan membunuhmu sekarang juga," ancam Adipati Sentanu
"Kalau semua itu benar-benar terjadi, kenapa aku harus ada disini, bukankah lebih baik aku pulang dan bersembunyi darimu. Lalu untuk apa aku harus menerima ajakan musuhku untuk kedua kalinya, aku bukan wanita bodoh Adipati, aku melakukan semua ini karena hal yang kau katakan itu tidak pernah terjadi, jadi sadarlah sayang," sahutnya dengan senyum merekah di wajahnya
Adipati Sentanu yang sudah terbakar emosi langsung mencekik wanita itu membuat semua orang menatapnya.
"Oh, apa yang kau lakukan Adipati!" seru Kertanegara membuat Adipati Sentanu langsung melepaskan cekikkannya.
Lelaki itu tidak menjawab, dan membawa wanita itu pergi dari tempat itu.
Ia kemudian mendorong Gayatri keluar dari paviliun.
Lelaki psikopat seperti dia memang susah di taklukan, aku harus mencari cara bagaimana menaklukan dia.
"Wanita sepertimu memang harus di beri pelajaran terlebih dulu, agar bisa berkata jujur!" serunya kemudian melepaskan pukulannya kearah Gayatri,
Wanita itu tidak bisa menghindar karena Mahespatih langsung memeganginya.
"Dasar banci beraninya menyiksa wanita lemah, jika kalian memang seorang kesatria, maka lepaskan aku dan lawan aku secara jantan!" seru gadis itu membuat Adipati Sentanu menyeringai.
"Aku suka wanita pemberani sepertimu Gayatri, kau benar-benar seorang putri Raja yang tangguh,"
"Tapi aku benci lelaki laknat seperti mu yang suka memperlakukan wanita dengan kasar, dasar banci!" sahut Gayatri membuat Adipati Sentanu tertawa terbahak-bahak
"Kau pikir aku juga menyukai wanita murahan seperti dirimu hah!!"
*Buugghhhh!!!
Gayatri langsung melesatkan tendangannya ke wajah Adipati Sentanu.
"Aku paling tidak suka mendengar ada orang yang menghinaku sebagai wanita murahan, karena aku bukan wanita murahan!" teriak Gayatri kembali melesatkan pukulannya kearah lelaki itu, namun kali ini pukulannya meleset.
Setelah berhasil menepis pukulan Gayatri, Adipati Sentanu melesatkan pukulannya kearah wanita itu, namun pukulannya selalu meleset.
Sial, bagaimana bisa dia berpindah tempat secepat itu, apa benar dia memiliki ilmu hitam.
Melihat Sentanu yang mulai lemah membuat Gayatri langsung melepaskan tendangannya kearah lelaki itu hingga darah segar keluar dari mulutnya.
"Darah..., darah!!" teriak lelaki itu ketakutan ketika melihat darah dari mulutnya.
"Jangan bunuh aku, tolong ampuni aku, tolong!" serunya sembari bersimpuh di tanah
Ada yang tidak beres dengannya,
Gayatri kemudian berjalan mendekati lelaki itu, namun Sentanu berusaha menjauh darinya.
"Jangan bunuh aku, tolong ampuni aku, tolong ampuni aku!!" serunya tersedu-sedu
"Jika aku mati, maka adikku akan sendirian, aku tidak bisa membiarkan dia hidup sendirian, aku harus menjaganya karena hanya aku yang dia punya di dunia ini, jadi tolong ampuni aku!" serunya sambil bersimpuh di kaki Gayatri
Wanita itu kemudian membantu lelaki itu bangun dan memeluknya.
"Aku tidak akan membunuhmu, jadi tenanglah!" ucap gadis itu kemudian menepuk-nepuk pundak lelaki itu hingga ia tertidur.
Mahespatih segera menghampiri Gayatri.
"Berikan dia padaku, aku akan membawanya pulang," ucap Mahespatih
"Kenapa kau diam saja dari tadi hah!" cibit Gayatri,
"Karena kalau aku ikut campur, atau menolongnya bukan malah membuat suasana membaik aku malah semakin memperburuk keadaan," jawab Mahespatih
"Dasar sue!" maki Gayatri
"Terima kasih sudah membantu menenangkan Adipati," sahut lelaki itu
"Sama-sama," jawab Gayatri
Mahespatih kemudian membawa Adipati Sentanu menujun ke kediaman pribadinya.
Ia kemudian membaringkan lelaki itu di kamarnya, tidak lama kemudian Adipati pun siuman.
"Apa yang terjadi denganku?" tanyanya lirih
"Anda mengalami kejadian itu lagi setelah sekian lama anda tidak pernah mengalaminya lagi,"
"Lalu siapa yang berhasil membuatku sadar dan tertidur?"
"Gayatri, wanita itu yang sudah berhasil menenangkan anda,"
"Gayatri, siapa sebenarnya wanita itu," ucapnya sembari mengepalkan tangannya