Agatha senang saat tahu akan memiliki kakak walau tidak kandung. Tapi rasa senangnya itu berubah jadi rasa takut, Jeno sang kakak tirinya itu merusaknya dan membawanya kabur lalu menikahinya. Rasa takut pun perlahan berubah menjadi rasa yang tak asing yaitu rasa cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chanie1001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Septian menepuk bahu Jeno yang sudah menunggunya di temani segelas jus jeruk di bar milik Septian.
Septian duduk di samping Jeno lalu memesan minum pada pegawainya setelahnya Septian menatap kearah Jeno.
"Serius pindah?"
Jeno mengangguk."Agatha yang mau.." jawab Jeno acuh.
Septian mangut - mangut paham.
"Kenapa keluar kerja juga? Agatha juga yang mau?"
Jeno mengangguk seraya meneguk sedikit jusnya. Jeno melirik kearah Septian.
"Makasih ya bro udah bantuin gue selama ini.."
"Hm, santai aja, terus soal sekolah?"
Jeno terdiam, benar juga hampir saja terlupakan.
"Masih ada waktukan?"
Septian mengangguk."Ada.."
Jeno menepuk bahu Septian lalu beranjak."Gue pergi sorry ga bisa temenin lo sekarang.." Jeno pun berlalu.
Septian memanggil Jeno namun tak diindahkan olehnya. Septian berdecak.
"Dasar tu anak untung temen,baru aja gue dateng.."dumelnya
Wanita cantik bergaun seksi menghampiri Septian.
"Boss kok sendirian?" tanyanya genit nan manja.
Septian kembali bersemangat."Eh ada kamu, iya nih aku sendirian, kode kayaknya biar di temenin kamu.."
***
Jeno mengusap rambut Agatha pelan. Agatha yang kelelahan tengah rebahan di dada Jeno.
"Gue mau sekolah.."
Agatha mendongkak."Sekolah? Yang temen kakak tawarin waktu itu?" tanya Agatha senang.
Jeno mengangguk samar. Agatha mengulas senyum.
"Bagus, Agatha seneng kak Jeno masih mau lanjutin sekolah, untung Agatha minta kerjaan yang di kerjainnya di rumah jadikan Agatha ga terus di tinggalin.." aku Agatha dengan polos dan tulus.
Jeno hanya menatap Agatha dengan berbagai pemikiran.
"Oh iya kak, Agatha dapet kiriman ga tahu dari siapa.."
Jeno menautkan alisnya serius."Kiriman? Mana?"
Agatha membawa tubuhnya bangun seraya melilitkan selimut. Jeno meraih boxernya lalu memakainya.
Agatha turun kearah lemari pakaiannya. Meraih kotak berwarna merah itu lalu membawanya ke Jeno.
"Ini.."
Jeno meraihnya lalu membukanya dengan berbagai pemikiran yang kini mengganggunya.
Uang seratus ribuan yang banyak. Dengan penuh penasaran Jeno mengeluarkan semuanya ke lantai, mengacaknya dan secarik surat pun di temukannya. Agatha mengintip di samping Jeno.
"Kembalikan Agatha.." baca Agatha setelahnya Agatha menutup mulutnya.
"Kak.." panggil Agatha di landa takut dan cemas.
Jeno melempar surat itu asal lalu membawa Agatha untuk kembali rebahan di kasur.
"Ga usah di respon, orang gila.."
Jeno memeluk Agatha, membuat Agatha sedikit nyaman.
"Kalau kak Jeno sekolah, Agatha gimana?"
Kini Agatha kembali di landa takut.
"Lo ikut sekolah, soal lo yang hamil Septian akan bantu rahasiain.."
Padahal Jeno tidak ingin membuat Agatha kembali sekolah. Jeno tak ingin Agatha berurusan dengan laki laki lain. Agatha dan anak di rahim Agatha adalah miliknya!
***
Agatha menatap haru dirinya di depan cermin. Seragam putih abu - abu yang dirinduinya kini kembali melekat di tubuhnya.
"Kak.." panggil Agatha seraya berbalik lalu menghampiri Jeno.
Jeno merapihkan kerah Agatha lalu menarik Agatha keluar kamar.
"Inget! Jangan deket sama cowok lain.."
Agatha mengangguk walau tidak di lihat Jeno.
"Dan satu lagi, kalo ada yang nanya siapa gue lo harus jawab gue tunangan lo.."
Agatha hanya mengangguk, tanpa tahu maksud Jeno.
"Ini.." Jeno menyelipkan uang lima puluh ribu dua lembar ke saku Agatha.
Agatha tersenyum."Makasih kak.." senyum Agatha hilang."apa kita akan sekelas?" tanya Agatha penasaran.
Jeno tak menjawab terus membawa Agatha keluar rumah menuju motornya.
"Dan satu lagi, pake daleman tambahan biar waktu naik motor paha lo ga ke umbar kemana - mana.."
Agatha lagi lagi mengangguk patuh lalu mulai naik keatas motor Jeno yang kebetulan di sediakan Saem padahal mobil juga ada.
"Kenapa ga mobil kak?"tanya Agatha seraya memeluk pinggang Jeno.
"Biar cepet.." jawab Jeno singkat.
***
Agatha memandang takjub sekolah di depannya.
"Woa.."
Jeno melirik Agatha lalu mengabaikannya. Setelah menyimpan helm Jeno menarik Agatha untuk masuk.
"Jen!" teriak Septian di belakang membuat keduanya menoleh.
"Kalian udah sampe, ayo gue anter.."sambung septian seraya melirik Agatha sesaat.
Jeno kembali melanjutkan langkahnya tanpa menyahut. Septian berdiri di samping Jeno seraya merangkulnya.
"Seneng gue bisa sekolah bareng lo.."
"Kak septian pernah satu sekolah sama kak Jeno?" tanya Agatha ramah.
Septian menatap Agatha senang karena Agatha mulai mau berinteraksi dengannya.
"Iya, waktu sekolah dasar.."
Jeno melirik Agatha yang begitu terlihat bahagia pagi ini.
Jeno mengusap sekilas pipi Agatha. Membuat Agatha dan juga Septian menatap Jeno.
Setelahnya Jeno kembali acuh.
Septian mengerutkan alisnya, sedikit heran dan penasaran maksudnya tadi itu apa.
"Apa ada sesuatu di pipi Agatha kak?" tanya Agatha seraya mengusap - usap pipinya.
"Ga ada kok.."jawab Septian.
"Udah sampe.." ujar Jeno membuat dua orang disamping kanan- kirinya tersadar.
"Oh iya.." balas Septian lalu menatap keduanya."gue tunggu di kelas ya siapa tahu sekelas.."
***
Agatha semakin melebarkan senyumnya saat tahu ternyata Jeno dan Septian akan menjadi teman sekelasnya. Rasanya Agatha aman di kelas.
"Wow! Kalian sekelas bareng gue ternyata.."
"Hm" gumam Jeno seraya menyimpan tasnya di kursi kosong dekat Agatha dan di samping Septian.
Semua murid menatap kearah mereka dengan penasaran.
Septian dengan semangat berdiri lalu berteriak."Guys, dia temen gue, Jeno.."
Para perempuan bersorak heboh dan bahagia.
"Eitsss jangan pede dulu dan di sampingnya Agatha.."
Para laki - laki bersiul heboh mengabaikan tatapan tajam Jeno.
"Dia tunangannya Jeno.." sambung Septian dengan terbahak karena mendengar erangan kecewa dari para perempuan maupun laki - laki. Septian merasa puas menjahili semua teman - temannya.
Pintu terbuka, guru pun masuk membuat semua kembali keposisi awal.
"Pagi anak - anak.."
"Pagi bu.."
"Ibu dengar ada murid baru?"
***
Jeno melilitkan sebelah tangannya ke pinggang Agatha. Keduanya tengah duduk di kantin.
Semua pasang mata menatap kearah meja mereka.
"Aku risih.." bisik Agatha membuat Jeno mengusap punggung Agatha pelan.
"Ga usah di respon, makan aja.."
Agatha mengangguk lesu lalu mulai memakan makanannya.
"Jen, lo masih inget mayang?" Tanya Septian setelah selesai mengunyah makanannya.
Jeno berpikir sesaat lalu mengangguk setelahnya memakan batagornya.
"Di arah jam 9, dia lagi liatin lo. Kayaknya, dia masih nyimpen rasa sama lo.."
Jeno meliriknya sekilas."Gue ga peduli.." jawabnya acuh.
Agatha hanya melirik Jeno lalu detik berikutnya tersentak kaget saat merasakan tangan Jeno masuk kedalam baju belakang Agatha dan mengusap punggung Agatha dengan telapak tangannya yang hangat.
Jeno memakan batagornya dengan santai meskipun tangannya terus berkelana di baju Agatha.
Agatha merona, pantas saja Jeno memilih tempat yang paling pojok. Ternyata.
Kilas Balik...
Septian merengek manja di lengan sang kakek.
"Ayolah kek.. bikin mereka sekelas,hm? Septian janji akan lebih rajin lagi belajarnya.."
"Janji?"
Septian mengangguk dengan menatap sang kakek penuh harap.
"Oke.. "
Septian memekik dan beryes heboh lalu kembali memeluk sang kakek.
"Makasih kek.."
***