Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari yang Hilang
Jasa Travel Gas Rem
"Mau pesan tiket travel atas nama siapa kak?",
"Liontin mbak",
"Namaku sendiri Liontin",
"Satu saja kak?",
"Iya mbak satu saja",
"Mau kemana kak?",
"Lewat jalur baru ya mbak",
"Aduh maaf kak, kami tidak menyediakan jasa yang lewat sana",
"Kenapa mbak?",
"Bukannya di ig tertulis jasa travel ini bisa lewat jalur baru?",
"Maaf ya kak, aku masih belum sempat update infonya",
"Memangnya kenapa mbak?",
"Maaf ya kak, tapi kemarin waktu travel kami lewat sana kami kena apes",
"Apes bagaimana?",
"Mobil travel kami kena begal kak",
"Puji Tuhan semua penumpang kami selamat",
"Ya sudah kalau begitu mbak",
"Aku coba cari jasa travel yang lain",
"Baik kak, maaf ya",
Empat jam kemudian
"Permisi mbak",
"Kakak balik lagi",
"Bagaimana kak, sudah dapat travel yang buat lewat jalur baru?",
"Di daerah sini beneran nggak ada mbak",
"Tadi sudah muter-muter sampai pening",
"Aku boleh minta tolong nggak mbak?",
"Iya silahkan kak, mau minta tolong apa?",
"Aku boleh ketemu sama sopir yang kemarin lewat jalur baru?",
"Aku kasih alamatnya saja ya kak",
"Soalnya dia statusnya sopir tembak",
"Ini alamatnya kak, namanya Pak Bono",
"Rumahnya tidak jauh kok dari sini",
"Ini ada nomor telepon nya juga",
"Terimakasih sekali ya mbak",
"Sama-sama kakak",
Tanpa menanyakan alasan yang lebih mendalam. Nisa memberikan alamat dan nomor telepon Bono kepada seorang perempuan dewasa yang bernama Liontin.
Terlihat sekali Liontin ingin pergi ke jalur baru.
Tapi ada apa?
Siapa sejatinya Liontin?
Liontin adalah seorang perempuan yang tengah berada di usia matang.
Seorang wanita karir yang bekerja di pusat kota di gedung tertinggi di daerah ini.
Penampilan nya sangat menarik.
Tubuhnya tinggi dan hot.
Rambutnya panjang lembut berkilau berwarna antara hitam dan kecoklatan.
Rumah Bono
"Mbah ada tamu",
"Siapa le?",
"Perempuan Mbah, ayu banget",
"Suruh tunggu sebentar ya le",
"Mbah dandan dulu kalau begitu",
Begitu keluar ke ruang tamu.
Bono bangga dengan cucu laki-laki yang selama ini tinggal bersamanya.
Cucu Bono memberikan informasi yang jujur.
Bono juga sependapat kalau perempuan yang sedang bertamu di rumah nya ini skornya menjulang ke langit.
"Selamat sore mbak",
"Aku Bono",
"Apa yang bisa aku bantu?",
"Selamat sore pak Bono",
"Namaku Liontin pak Bono",
"Mbak Nisa yang memberitahu alamat rumah bapak",
"Pak Bono bisa antar saya ke jalur baru?",
"Aku minta tolong ya pak",
"Waduh mbak",
"Kenapa meski lewat jalur baru?",
Bono yang masih traumatik enggan untuk memenuhi permintaan perempuan yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu.
Tapi setelah dijelaskan alasan kenapa Liontin harus pergi ke jalur baru.
Hati Bono melunak dan terketuk.
Sebuah mobil yang dikemudikan oleh seorang ibu dan anak laki-laki dilaporkan hilang.
Dan sampai sekarang masih belum ditemukan.
Pelakunya bukan Oscar dan komplotannya.
Satu kasus yang masih tertinggal.
Itulah alasan mengapa Liontin harus segera pergi ke jalur baru.
Ibu yang membawa mobil yang belum juga ditemukan itu adalah ibu Liontin.
Anak laki-laki yang bersamanya adalah adik Liontin.
"Apakah mbak Liontin sudah menghubungi pihak yang berwajib lagi?",
"Sudah mau satu Minggu ibu dan adikku hilang",
"Mobil mereka tidak pernah sampai terlihat masuk ke jalan kota",
"Ibu dan adikku tidak pernah keluar dari jalan jalur baru",
"Kamera pengawas jalan tidak pernah merekamnya",
"Aku membaca berita pelaku begal di jalur baru sudah berhasil ditangkap",
"Apakah pak Bono juga berada di sana malam itu?",
"Benar mbak",
"Kalau begitu aku mau bertemu dengan mereka secara langsung",
"Apakah pak Bono mau menolongku sekarang?",
Bono dengan hati-hati memikirkan nya.
"Bagaimana kalau supaya lebih aman, lewat jalur barunya pagi hari saja mbak Liontin?",
Bono bersedia dengan syarat yang lebih safety. Demi keselamatan dan menghindari hal-hal negatif yang tidak diharapkan.
"Okey",
"Kalau begitu kapan baiknya kita berangkat pak Bono?",
"Besok malam",
"Jangan besok malam",
"Malam ini saja",
"Tapi mobil ku sudah lama tidak bepergian jauh mbak Liontin",
"Besok biar aku service dulu",
"Tidak usah pak Bono",
"Pakai mobilku saja",
"Kalau begitu aku siap-siap dulu mbak",
"Aku pamit sama anak cucu dulu",
"Ini alamat apartemen ku pak",
"Datanglah kemari setelah bapak sudah siap",
"Aku tunggu malam ini",
"Baik mbak",