NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prioritas yang Berbeda

Suasana di dalam ruang kerja Arsen mendadak diselimuti keheningan yang kaku sesaat setelah Alana, Damar, dan Naira melangkah masuk.

Ketiga mahasiswa itu berdiri berjejer dengan rapi di depan meja kerja besar berbahan kayu jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkuliahan dan beberapa berkas eksekutif perusahaan.

Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara lebih dulu. Alana bahkan bisa mendengar dengan jelas detak jarum jam dinding yang menggema pelan, berkejaran dengan irama napasnya yang masih sedikit memburu.

Arsen menerima map tugas mereka satu per satu tanpa ekspresi. Tatapan matanya yang tajam bergerak dengan ritme cepat, memeriksa lembar demi lembar halaman pertama milik Damar, beralih ke milik Naira, dan akhirnya berhenti cukup lama pada lembar analisis milik Alana.

Tidak ada untaian pujian, tidak ada pula komentar miring. Wajah tegas dosen killer itu tetap sedatar biasanya, membuat ketiganya semakin menahan napas dalam kecemasan.

Namun, sebelum atmosfer canggung itu berlangsung lebih lama, ponsel pintar milik Arsen yang tergeletak di atas meja tiba-tiba saja bergetar hebat dan berdering nyaring.

Arsen melirik sekilas ke arah layar. Begitu melihat nama asistennya 'Raka' terpampang di sana, rahang tegas pria itu tampak sedikit mengeras.

Tanpa memedulikan keberadaan ketiga mahasiswanya, Arsen langsung menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut.

"Ya," jawab Arsen pendek dengan suara baritonnya yang berat.

Suara Raka di seberang telepon terdengar sangat tergesa-gesa dan dipenuhi nada panik. "Mohon maaf mengganggu, Pak. Saya baru saja mendapat telepon darurat dari pihak sekolah Axel."

Alis Arsen langsung berkerut dalam, memancarkan gumpalan emosi yang siap meledak. "Apa lagi yang dia lakukan sekarang, Raka?"

Mendengar intonasi suara Arsen yang mendadak turun beberapa derajat menjadi sangat dingin, Alana, Damar, dan Naira secara refleks saling melirik dari sudut mata.

Mereka sebenarnya sama sekali tidak berniat untuk menguping urusan pribadi sang dosen, namun aura mengintimidasi yang menguar dari tubuh Arsen membuat mereka otomatis berdiri kaku dan menegang di tempat.

"Terjadi perkelahian lagi di area sekolah, Pak," lapor Raka dengan suara yang mengecil, tahu betul bagaimana tabiat bosnya jika menyangkut masalah sang putra sulung.

"Kali ini cukup serius. Axel memukul salah satu siswa lain hingga anak itu harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka."

Atmosfer di dalam ruangan dosen itu langsung berubah drastis menjadi sangat mencekam.

Bahkan Alana, yang sama sekali tidak mengenal siapa itu Axel, ikut terdiam dengan mata sedikit melebar. Ada rasa ngeri yang menjalar di tengkuknya.

Di seberang sana, Raka melanjutkan dengan nada suara yang teramat hati-hati.

"Pihak sekolah dan kepala sekolah meminta dengan sangat agar Bapak bisa datang langsung ke sekolah siang ini sebagai wali murid."

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyiksa tanpa ada jawaban apa pun dari Arsen.

Pria itu hanya memejamkan matanya sesaat, menahan pening yang mendadak mendera pelipisnya, sebelum akhirnya menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi kulit.

"Tidak," jawab Arsen mutlak.

Raka sempat terdiam di seberang sana, terkejut dengan penolakan instan sang atasan.

"Tapi, Pak? Pihak sekolah meminta wali murid yang bersangkutan untuk hadir—"

"Selesaikan masalah itu, Raka. Saya sedang tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu," potong Arsen dengan nada suara yang teramat tegas dan tidak menerima bantahan apa pun.

"Dampingi seluruh prosesnya di ruang kepala sekolah. Bayar semua biaya pengobatan anak itu di rumah sakit tanpa kurang sepeser pun. Dan jika orang tua dari siswa tersebut menuntut untuk bertemu, temui mereka atas nama saya."

"Baik, Pak. Dimengerti."

"Pastikan semuanya selesai hari ini juga dan tidak ada berita yang bocor ke media."

"Siap, Pak. Segera saya laksanakan."

Sambungan telepon pun terputus sepihak. Ruang kerja itu kembali dilingkupi kesunyian, namun kali ini suasananya terasa jauh lebih berat dan menekan daripada sebelumnya.

Arsen meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan gerakan dingin, seolah-olah berita kekerasan yang baru saja melibatkan anak kandungnya sendiri hanyalah sebuah kerikil kecil dalam bisnis yang harus segera disingkirkan dari jalannya.

Sementara itu, Alana yang berdiri paling depan justru mendadak merasa dadanya sesak dan tidak nyaman.

Ada perasaan aneh yang mengganjal di dalam hatinya. Cara Arsen berbicara tentang anaknya sendiri di telepon tadi terdengar... terlampau dingin.

Terlalu kaku dan abai untuk ukuran seorang ayah yang mendapati anaknya sedang terjerat masalah besar di sekolah.

“Jika tidak ada hal lain lagi, kalian bertiga bisa segera keluar dari ruangan saya,” suara berat Arsen yang tiba-tiba memecah keheningan sukses membuat Alana tersentak kaget dari lamunannya.

“Hah? Eh...” Alana mengerjap polos, membuat tatapan mata tajam Arsen langsung beralih lurus menghujam ke arahnya.

“Saya tidak terbiasa mengulang perintah sampai dua kali, Saudari Alana,” sindir Arsen dingin.

“Eh... iya, Pak! Baik!” Damar dengan sigap segera menyikut siku lengan Alana, memberi kode agar gadis itu tidak berbuat ulah lagi.

Mereka bertiga pun bergantian mengucapkan terima kasih dan berpamitan, lalu bergegas melangkah keluar dari ruangan mencekam itu sebelum sang dosen killer berubah pikiran dan menambah hukuman mereka.

Begitu pintu kayu di belakang mereka tertutup rapat, Naira langsung bersandar ke dinding koridor dan menghembuskan napas panjang yang teramat lega.

“Gila... Gue beneran ngerasa pasokan oksigen gue habis di dalam tadi. Nggak kuat gue kalau lama-lama.”

“Sama, gue juga,” sahut Damar sambil menyugar rambutnya yang terasa tegang.

Berbeda dengan kedua sahabatnya, Alana hanya memilih untuk diam seribu bahasa.

Entah kenapa, fokus pikirannya masih tertinggal pada potongan percakapan telepon Arsen beberapa menit yang lalu.

Axel.

Nama anak itu terasa sangat akrab dan berdengung aneh di indra pendengarannya. Seolah-olah dia pernah mendengar atau meneriakkan nama itu belum lama ini.

Namun, sekeras apa pun Alana mencoba memutar otaknya, ia tetap gagal mengingat di mana tepatnya ia pernah berinteraksi dengan nama tersebut.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!