Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Maaf pak tadi nama teman nya siapa?"
"Dewi Ratna"
"Oh... tamu bernama Dewi Ratna dia ke sini hanya menemui temannya juga "
"Oh begitu, emang dia selalu ke sini ya mbak?"
"Sering, semingu bisa tiga sampai empat kali pak "
"Wahh......."
"Kalau dia ke sini bisa nggak mbak hubungi saya? Mohon bantuannya ya mbak "
"Oh boleh, pak simpan saja nomor nya di sini ya pak"
Dewi mendengar kan pesan suara yang di kirimkan resepsionis hotel.
"Bu Dewi, penggemarnya bertambah lagi nih" Pesan dari Wiwit resepsionis itu
"Gila Wit...dia calon adik ipar saya loh"
"Hahaha..... kayaknya dia udah salah paham sama Bu Dewi, dia berpikir Bu Dewi tamu hotel ini terus saya tambahin deh biar dia makin penasaran"
"Terserah lah, Gila ya ada orang kayak gitu "
"Adalah Bu, tu yang cari ibu dari kemarin "
"Malas Wit, suruh dia ke laut aja "
Dewi senyum senyum sendiri membaca pesan dari Wiwit karyawan hotel tempat Dewi bekerja. Mendengar Jack yang begitu bersemangat bertanya tentang nya tidak membuat Dewi senang. Dewi merasa seakan-akan dia wanita kesepian saja.
Matanya tertuju pada satu pesan masuk dari nomor baru
"Kami bersenang senang di sini " satu foto yang di kirimkan pada Dewi. Randi dan seorang wanita membelakangi pintu dan seseorang memotret mereka dari belakang.
Dewi membaca pesan itu dan langsung membalasnya.
"Selamat bersenang-senang pengecut" Balas Dewi
Dewi menunggu balasan namun sampai satu jam tak ada lagi balasan. Dewi tertawa kecil.
"Cuman seorang Randi saja apa yang harus saya takut kan? Ambil saja suami saya. Tapi jangan sekarang dulu. saya masih membutuhkannya sebagai suami yang menjaga saya dan anak anak dari gangguan orang " Dewi membatin. Dewi tersenyum.
Mati rasa seperti itu yang di rasakan Dewi sekarang. Jika dulu dia terlalu bodoh mencintai Rama tapi tidak dengan Randi. Dewi akan menjalani kehidupan pernikahan ini dengan alur yang di buat Randi dan keluarganya.
Dewi kembali berkutat dengan pekerjaan rumahnya, selesai mencuci dan membereskan semuanya Dewi duduk di ruang tengah sambil melihat video yang sudah dia buat untuk hotelnya. Di upload nya.
"Kamu jangan menangis ya " pesan dari nomor baru itu lagi. Dewi ingat Mariam punya 2 ponsel. Mungkin dia yang melakukan ini. Terobsesi sekali dia dengan suaminya.
"Kita lihat saja nanti, siapapun kamu...toh kamu juga akan menghadapinya nanti. Selamat bersenang-senang ya " balas Dewi.
Sementara di tempat lain, Rani dan Mariam menahan kesal karena tidak bisa membuat Dewi marah.
"Kak... Kok dia tenang aja" Tanya Mariam
"Huss... Diam, ntar Randi curiga. Randi nggak suka kita seperti ini " Sahut Rani.
"Apa maksudnya kak, kok dia nggak takut atau bertanya ini siapa kek. Malah bilang selamat bersenang-senang lagi. Hiiss sebel kak "
"Iya kamu tenang aja, lagian tinggal sebulan lagi kok kamu bakal jadi istri Randi. Ingat ya dek jangan di tunda kehamilannya karena itu yang ibu inginkan"
"Sayang, kalian ngapain?" Johan tiba-tiba muncul dari belakang
"Oh nggak sayang, ini lagi ngobrol aja sama Mariam, Randi mana sayang?"
"Lagi di dalam "
"Panggilan Randi dek " Mariam segera bangun.
Memasuki kamar yang ditempati Randi, Mariam melihat Randi sedang bertelanjang dada. Mariam tersenyum manis sekali. Mariam mendekati Randi dan langsung memeluk Randi dari belakang.
"Eh.. Kamu sayang" Randi membiarkan Mariam memeluk nya
"Di panggil sama kak Rani "
"Ok sayang"
Setelah selesai berpakaian Randi dan Mariam segera ke depan.
"Sini dek.. "
"Kata ibu setelah semua keperluan di beli. bulan depan acara pertunangan kalian di lanjutkan. Ibu udah pengen sekali punya cucu dari kamu dek "
"Itu terserah ayah sama ibu saja, Lalu setelah itu Mariam udah boleh ikut saya kan ?" Tanya Randi.
"Ya rumah yang di sebelah kakak itu kebetulan sedang di kontrakan. Kakak udah ngomong sama pemiliknya. Kebetulan pemiliknya pindah tugas, jadi uang sewa rumah lumayan murah "
"Wah bagus dong kak".
"Iya, mereka hanya menerima uang sewa pas berangkat, setelah itu mereka minta rumahnya di rawat aja"
"Ya nggak apa-apa, sambil kalian menabung juga " Sambung Johan.
"Lagian Dewi nggak bakalan curiga kalau Randi ke rumah.. anggap aja datang ke rumah kakak"
"Siap kak "
Selama 3 hari mereka menghabiskan waktu di kota W.
Randi kembali ke rumah istrinya, Randi terkejut melihat di rumah ada Jack dan Reni.
"Loh ada apa ini dek, kok tumben sekali kalian ke sini?"
"Kakak baru pulang ya ?" Tanya Reni terus mengikuti Randi ke dalam. Tinggallah Dewi dan Jack. Tatapan Jack tak lepas dari wajah Dewi
"Kenapa pesan saya nggak di balas kak ?"
"Untuk apa? Saya rasa nggak ada yang harus di bahas sama saya kan ?"
Jack menahan kesal, dia berharap Dewi memberikan alasan padanya.
"Kak... Saya mau ketemu berdua saja. Ada yang ingin saya bicarakan "
"Saya nggak punya waktu "
Dewi mendengar bunyi langkah kaki menuju ke arah mereka.
"Sayang...gimana kalau gedung untuk resepsi pernikahan kita nanti di hotel tempat kak Dewi kerja ?"
"Hotel tempat kak Dewi kerja ?" Tanya Jack dengan tatapan mata yang tidak lepas dari wajah Dewi.
"Iya sayang, Hotel yang sering kamu jadikan tempat ketemu teman teman kamu "
Kedua bola mata Jack melotot, dia sudah salah selama ini. Dia berpikir itu tempat Dewi bertemu kekasih gelapnya. Dewi tersenyum melihat wajah pucat Jack. Ahh dia suka sekali dengan tampang bodoh pria seperti ini.
"Jack.. Kenapa diam aja ?' Tanya Randi, Dewi bisa melihat Jack terlihat salah tingkah.
"Oh nggak kak, saya lagi mempertimbangkan saran Reni. Gimana kalau kak Dewi yang bantu ngomong ke pemilik hotel atau manajernya soal gedung itu" Jack tersenyum puas, dengan alasan ini dia bisa bicara pada Dewi.
Jack tetap ingin mendekati Dewi, tidak lagi penasaran dengan sosok wanita itu tapi Jack menyukai Dewi.
"Kak Dewi pasti mau lah. ", Jawab Reni ketus
"Saya nggak bisa, kalian saja yang menemui manajer hotel itu. Pekerjaan saya banyak. Lagian kan Reni bisa bareng calon ibu mertua kamu. Bukan kamu biasanya seperti itu?"
Randi sangat terkejut mendengar Dewi bicara seperti itu, dia menatap Dewi tak percaya. Jawaban Dewi biasa saja namun entah kenapa Randi merasa Dewi semakin berubah.
"Sayang, Reni cuman minta kamu ngomong sama pemilik hotel atau manajer di hotel itu" Sambung Randi.
"Manajer hotel itu orang baru, sedangkan pemilik hotel nggak di sini. Kalau Reni mau, Kalian berdua saja yang ketemu manajer nya agar bisa mendengar sendiri apa katanya"
"Tapi kak......"
"Ah ...Kalian lanjutkan saja ngobrolnya, saya masuk ke dalam dulu. Saya ngantuk sekali. Mau tidur " Tanpa menunggu jawaban mereka bertiga. Dewi segera masuk kedalam.
"Ihh kak, sombong sekali tu si mandul itu, kak cepat cepat dah lamar kak Mariam. "
Jack yang sedang meminum kopinya hampir tersedak mendengar kekasihnya bicara seperti itu pada Randi.
"Kak Randi, Mariam adik ipar kakak kan? Emang mau di lamar untuk siapa ? Tanya Jack hati hati.
Reni segera membisikkan sesuatu ke telinga Jack. Jack hanya mengangguk anggukkan kepalanya.
"Ngerti kan ? Tanya Reni
"Iya sayang, saya mengerti " Jawab Jack, Jack menatap pintu kamar Dewi.
Dia tidak pernah membayangkan kalau calon istrinya memiliki sikap seperti ini. Luar biasa sekali. Ada rasa iba pada Dewi, Jack tidak mengenal seperti apa Dewi tapi dengan perlakuan suami dan adik iparnya, orang tua Reni bahkan ayah dan ibu Dewi sendiri membuat Jack merasa kasihan pada Dewi. Bahkan yang jadi madunya adalah adik tirinya sendiri.
Sampai menjelang pukul tujuh malam mereka pulang, Jack terus mengulur waktu dengan berpura pura membahas pernikahan mereka.
Sesuatu yang lain mulai di rasakan Jack untuk Dewi, Segala cara Jack pikirkan bagaimana agar dapat bicara berdua saja dengan Dewi.
"Sial... Kenapa bisa sesuka ini sama kakak ipar Reni " Batin Jack
"Sayang kamu kenapa? Sejak pulang dari rumah kak Randi kamu diam aja. Ada apa ?" Jack sama sekali tidak mendengar apa kata Reni, pandangannya lurus ke depan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Tut .tuu.tt....
"Jack.......... Kamu ini kenapa sih ?"
"Ah nggak sayang, saya kepikiran sama gedung yang kamu usulkan tadi "
"Jadi itu yang mengganggu pikiran kamu ?" Tanya Reni.
"Iya.. saya mau ngomong sama pemilik hotel itu "
"Terserah kamu aja, saya suka hotel nya... Kita juga bisa nginap di sana sayang "
"Betul sekali, Saya setuju sama usul kamu "
Jack tersenyum,.ada banyak rencana yang akan dia lakukan.
"Dewi..... Kemana saja saya selama ini, kenapa baru sekarang saya begitu tertarik dengan wanita itu " Batin Jack
.
.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers kesayangan ☺️☺️
sudahlah miskin belagu pulak tuh