Arya dan Rania dipaksa menikah oleh kedua orang tua masing masing karena tidak ingin wanita lain yang merawat bayi yang dilahirkan oleh Ayumi yang tidak lain dari kakak dari Rania sendiri. Arumi meninggal dunia tak lama setelah melahirkan anak keduanya.
Ternyata menjadi ibu sambung untuk anak yang terbiasa memanggil dirinya Tante dan menjadi istri dari laki laki yang terbiasa dia panggil kakak ipar adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Sofia, putri pertama Arya dan Arumi yang sudah berusia sepuluh tahun tidak menerima Rania sebagai ibu sambung. Kata kata hinaan dan kata kata tuduhan dari Sofia menjadi santapan Rania di awal pernikahannya dengan Arya. Bukan hanya Sofia yang menolak kehadirannya. Arya yang seharusnya memberikan perlindungan kepada Rania. Laki laki itu juga sangat jelas menunjukkan kebenciannya pada Rania.
Lalu, sanggupkah Rania bertahan. Apakah Rania tega meninggalkan Rio yang mengenal dirinya sebagai ibunya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebatas baby sitter
Satu bulan menikah, ternyata tidak sanggup meluluhkan hati Arya. Juga Sofia yang masih membenci Rania karena kepergian Hanin. Selama satu bulan ini. Hanin tidak pernah lagi datang berkunjung ke rumah Arya. Tapi Rania mengetahui jika Hanin masih menjalin komunikasi dengan Sofia. Hampir setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Rania mendengar Hanin menghubungi Sofia lewat panggilan video.
Satu bulan tinggal di atap yang sama. Seharusnya membuat mereka semakin dekat. Ternyata tidak. Arya masih menjaga jarak. Sofia juga menjaga jarak.
Berada diantara orang yang tidak menginginkannya. Tentu saja, Rania merasa tidak nyaman. Jika tidak ada Rio, mungkin Rania akan lebih baik saja menyerah. Rania tak ubahnya hanya seorang baby sitter di rumah itu. Satu bulan menyandang status istri dan mama sambung. Selama satu bulan itu juga, Rania berusaha memerankan perannya sebaik mungkin.
Tapi usahanya sia sia. Sofia tidak mau dibantu dalam segala hal. Putri dari Arya itu, lebih mengharapkan Hanin daripada Sofia.
"Apa ini, kak?" tanya Rania heran ketika Arya meletakkan amplop coklat di atas meja.
Suasana ruang tamu itu hening. Arga tidak menjawab pertanyaan Rania. Laki laki itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Rania menatap Arya yang sepertinya sangat kelelahan. Selama satu Minggu ini, Arya di liat kota. Dan begitu tiba, laki laki itu memberikan dirinya sebuah amplop coklat. Apakah itu surat gugatan cerai?.
Seketika, jantung Rania berdenyut sangat nyeri. Dia tidak siap jika diceraikan secepat ini. Selain membuat kedua orang tua mereka kecewa. Rania juga tidak siap berpisah dengan Rio. Anak sambung sekaligus keponakannya yang sudah mencuri hatinya.
"Sebaiknya, kakak membersihkan diri dulu. Apapun isi dari amplop itu. Kakak bisa membicarakannya setelah mandi dengan perut terisi," kata Rania lagi.
Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas malam, sudah bisa dipastikan suaminya itu sudah lapar.
"Duduklah, Rania. Tidak perlu repot-repot melayaniku. Aku sudah makan malam."
Rania yang sudah beranjak dari duduknya. Kini kembali duduk di sofa. Rania berniat untuk menghangatkan makanan untuk suaminya tapi sayang. Suaminya lebih memilih makan di luar daripada di rumah. Dan Rania tahu, itu salah satu cara Arya untuk menghindari dirinya.
"Buka dan lihat isinya."
"Apa ini kak?"
Rania masih ragu untuk mengambil amplop itu. Rania takut dugaannya benar. Melihat gerakan mata Arya yang mengisyaratkan dirinya meraih amplop itu akhirnya Rania menurut juga. Menyadari amplop itu tebal. Rania merasa lega. Seperti perintah Arya. Rania membuka amplop itu hingga lembaran rupiah terlihat oleh matanya.
"Itu gajimu selama satu bulan ini. Seandainya pun bekerja di kantor untuk fresh graduate seperti mu. Tidak akan mendapatkan gaji sebanyak itu."
Deg
Kata kata Arya bagaikan anak panah yang menancap di ulu hati Rania. Dia yang berpikir awalnya jika uang itu nafkah dari suami ternyata dirinya hanya dianggap sebagai pekerja di rumah itu. Dia tahu, Arya tidak mencintai dirinya. Tapi bisakah, dirinya tidak dianggap sebagai pekerja?. Kata gaji sudah jelas menunjukkan jika Arya hanya menganggap dirinya sebatas baby sitter untuk Rio.
"Aku istrimu kak. Bukan baby sitter atau babu di rumah ini. Jika ini adalah gaji. Maka aku tidak bersedia menerima ini. Karena aku tidak mau digaji untuk memberikan kasih sayang pada keponakanku sendiri."
Rania meletakkan kembali amplop itu dengan kasar di atas meja. Diabaikan dan tidak dihargai. Rania masih bisa menerima. Karena dia sadar. Pernikahan tanpa cinta itu tidak semudah membalikkan tangan untuk bisa berbahagia. Apalagi Arya yang ditinggal mati oleh istrinya. Kenangan manis dan kebaikan Ayumi pasti menjadi benteng bagi Arya untuk membuka hati pada wanita lain.
Tapi jika dianggap sebagai pekerja. Rasanya Arya menghina Rania secara terang terangan.
"Kenapa harus marah. Bukankah aku sudah mengatakan ini sebelumnya?" tanya Arya dengan suara yang sangat tenang.
Melihat kemarahan Rania. Sedikit pun tidak terlihat rasa bersalah di mata laki laki itu.
Tak kuat lagi. Rania akhirnya tidak dapat menahan air matanya. Arya dan Sofia benar benar membuat dirinya seperti manusia yang tidak berguna.
"Tolong, hargai aku sebagai istri mu, kak. Tolong perlakuan aku sebagai istri bukan sebagai baby sitter."
Suara gelak tawa Arya terdengar di ruang tamu itu. Laki laki itu tertawa sinis sambil menatap wajah Rania.
"Kamu ingin, aku memperlakukan kamu sebagai istri. Bagaimana caranya. Katakan, seperti apa yang kamu inginkan untuk memperlakukan kamu sebagai istri."
Rania bergidik ngeri melihat tatapan Arya yang tidak seperti biasanya. Sebenarnya cukup simpel yang diinginkan oleh Rania. Arya hanya mengganti kata gaji saja dengan nafkah. Tapi sepertinya, Arya tidak paham dengan itu. Semudah itu menjaga perasaan Rania. Atau jangan-jangan, Arya sengaja mengatakan kata gaji untuk membuat Rania tidak betah dalam pernikahan itu. Rania menduga duga sendiri dalam hati. Alasannya Arya lebih mengatakan gaji daripada nafkah.
Rania tersentak ketika Arya sudah berdiri di hadapannya. Laki laki itu menatap nyalang ke Rania yang hanya berjarak beberapa senti saja. Bola matanya memerah. Mencium aroma nafas suaminya. Rania sadar ternyata Arya dibawah pengaruh alkohol.
"Cukup hanya mengatakan uang ini sebagai nafkah, kak."
Rania mengutarakan apa yang ada di hatinya. Arya kembali tertawa. Kemudian laki laki itu mengulurkan tangannya menjangkau dagu Rania sehingga Rania mendongak menatap wajah Arya.
"Jadi kamu menginginkan nafkah dariku, Ran?" tanya Arya dengan senyum miring di bibirnya. Seketika Rania merasa takut ketika kedua tangan Arya berpindah ke dua lengannya sehingga kini Rania berdiri.
"Lepas kak. Sakit," kata Rania pelan.
Dalam keadaan sakit seperti itu. Rania masih memikirkan kenyamanan di rumah itu. Merasakan sakit di lengannya seharusnya Rania bisa berteriak atau meronta. Tapi Rania tidak ingin semua penghuni rumah terbangun. Apalagi Rania juga tidak ingin Sofia melihat Arya melakukan setengah kekerasan pada dirinya.
"Kamu benar Ran, tak seharusnya aku menyamakan kamu dengan pekerja. Kamu ingin diberikan nafkah kan. Ayo, lakukan kewajibanmu sebagai istri."
Rania menggelengkan kepalanya dan menahan kakinya supaya Arya tidak bisa menarik tubuhnya. Arya setengah mabuk, sudah pasti laki laki itu juga tidak sadar sepenuhnya dengan apa yang keluar dari mulutnya.
Tarikan Arya semakin kuat dan kini mereka sudah berada di anak tangga paling bawah.
"Kak, aku mohon. Jangan seperti ini. Bagaimana kalau Sofia bangun," kata Rania memelas. Dia berpikir dengan mendengarkan nama Sofia. Arya melepaskan dirinya. Ternyata, Arya seperti dikuasai oleh setan. Dengan kasar, Arya semakin kuat menarik tubuh Rania. Rania berdoa dalam hati, semoga bibi Nining menampakkan dirinya.
pantes dr kmrn cek riceknko gk update 😁