Ayahnya Arumi terlilit hutang. Hal itu membuat sang ayah kena serangan jantung. Arumi tidak punya uang untuk membawa sang ayah berobat. Bahkan, rumah sebagai jaminan sudah ditarik rentenir. Dalam keadaan sulit itu, seorang dokter wanita menawarkan bantuan kepada Arumi. Akan membiayai pengobatan sang ayah, asal Arumi mau menikah dengan ayahnya yang sedang sakit.
Tidak ada pilihan lain, dalam keadaan terpaksa Arumi menerima tawaran itu, walau sebenarnya ia masih ingin melanjutkan studynya.
Pernikahan Itu pun terlaksana, dan ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa, pria yang ia sukai di pandangan pertama adalah anak dari pria tua yang menikahinya, tepatnya. Arumi menyukai anak tirinya.
Bagaimana kah kelanjutan kisah cinta terlarang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah tidak jelaz
Dua minggu kemudian.
Sekitar pukul 20.30 Wib. Arum sedang memijat kaki sang suami, pak Subroto. Perlakuan lembut penuh ketulusan dari Arum membuat pria tua itu kagum kepada Arum. Dalam dua minggu i ini kesehatan Pak Subroto membaik dengan signifikan. Karena memang penanganannya segera dilakukan saat Pak subroto kena serangan stroke, yaitu pada masa golden hour. Dan Arum selalu semangati Pak Subroto untuk terafi dalam dua minggu ini.
"Rum,"
"Ya pak!" sahut Arum menoleh ke arah sang suami yang bersandar di head tempat tidur. Sedangkan kakinya sebelah kanan sedang dipijat oleh Nur.
"Besok kamu gak usah temani bapak terafi. Biar ibu Dewi saja teman bapak terafi!" ujar Pak Subroto lembut. Tatapannya kini sedikit berubah kepada Arum, yang jadi nya tidak ada menunjukkan rasa ketertarikan, dan sekarang tatapannya terlihat mendamba.
"Oouuww.. Iya pak, memang besok aku gak bisa temani bapak berobat. Kan, aku besok hari pertama kuliah pak." Jawab Arum sopan. Ia sama sekali tidak mau bersitatap dengan Pak Subroto. Ia fokus memijat kaki sang suami.
"Oh Iya ya, bapak hampir lupa. Kalau Kamu besok masuk kuliah." Jawab Pak Subroto dengan semangat. Ia sangat suka dengan karakter Arum yang semangat untuk berkuliah.
"Iya pak!" Arum kini melirik sang suami. Pak Subroto masih tersenyum padanya.
"Misi kita hampir berhasil Rum. Kamu hebat!" ujar Pak Subroto dengan berat.
"Iyakah, Syukurlah pak!" Jawab Arum tidak salah sedang nya.
"Iya, makanya ibu Dewi mau temenin bapak berobat hari ini!"
"Iya pak, selamat!"
"Eemm.. Bukan berarti aku akan melepaskanmu Rum!" tegas Pak Subroto tertawa kecil.
"Emm.. suka-suka bapak lah. Aku ini bisa apa pak. Kami orang miskin. Diperlakukan baik oleh baik dan keluarga saja, aku sudah sangat bersyukur sekali." Ujar Arum lembut. Ia turun dari atas ranjang. Berjalan ke kamar mandi, ia akan mencuci tangan nya yang yang masih dibaluri minyak karo.
"Rumm!' ujar Pak Subroto kuat.
" Iya pak!" sahut Arum dari dalam kamar mandi.
"Kemarahan Dimas tiga hari yang lalu, kamu jangan ambil hati ya?!"
Deg
Arum yang sedang mencuci muka di wastafel kamar mandi teringat kejadian tiga hari yang lalu. Saat Arum ulang tahun. Pak Subroto memaksa diadakan acara kecil-kecilan di rumah. Arum yang tidak pernah merasakan ulang tahunnya dirayakan, mengiyakan permintaan sang suami.
Saat acara ulang tahun itu, Pak Subroto meminta Arum bersikap romantis padanya. Jadi saat ulang tahunnya itu, setelah tiup lilin dan suap kue ulang tahun kepada suami dan ayahnya. Arum kembali memeluk Pak Subroto, mencium seluruh wajah pak Subroto. Itu memang permintaan pak Subroto, agar istri pertamanya Dewi cemburu.
Kemudian ia hendak menyuapi Dimas dengan kue ulang tahun. Tapi Dimas malah menepis kue itu dari hadapannya. Sehingga sendok di tangan nya Arum berisi ke tart jatuh ke lantai.
"Iihh.. Geram... Kenapa sih, aku harus bertemu lagi dengan Dimas. Kenapa pula ia jadi anak tiriku? dan sekarang Kenapa sikap nya begitu kasar padaku!" Arum bermonolog, ia geram sendiri. Ia sedang mengingat kejadian tiga hari yang lalu. Arum tidak mengerti kenapa Dimas bersikap kaisar padanya. Padahal sewaktu mengikuti bimbingan belajar, di perusahaannya Dimas, pria itu sangat baik padanya.
Wanita murahan!
Bisik Dimas ke telinga Arum. Kemudian pria itu meninggalkan ruangan itu dengan kesalnya. Sontak sikap kasarnya Dimas ke Arum, membuat semua nya kesal pada Dimas. Dan Arum yang lebih sakit hati lagi tentunya.