Kisah Asmara Arini, seorang gadis muda sederhana dengan kekasihnya Aditya yang harus kandas ditengah jalan. Status sosial menjadi tembok penghalang hubungan mereka.
Dengan terpaksa Aditya melakukan pernikahan dengan wanita pilihan orang tuanya.Tanpa Aditya sadari, Arini melahirkan seorang anak dari hubungan mereka selama ini.
Dengan menelan kekecewaan dan sakit hati, Arini membesarkan anaknya seorang diri dengan penuh perjuangan dan air mata. Hingga akhirnya datang seorang pria bernama Radit yang begitu bersimpatik dan mengagumi kehidupan Arini. Bersamaan dengan itu pula Aditya datang kembali dalam kehidupannya.
Akankah Arini kembali menerima cinta Aditya?
Atau....
Akankah Arini menerima cinta tulus Radit yang begitu mencintai dan menerima semua masa lalunya?
Penasaran.....? pantengin terus cerita di setiap partnya...❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Merah Jambu
Membelah jalanan ibu kota dimalam hari, suasana lenggang tanpa deru mesin pendaki jalan, selenggang hati sang pengendara mobil yang sunyi sepi tanpa seorang yang menemani. Menyusuri jalan ditemani lampu kota yang sesekali diselingi bunyi klakson yang sengaja ditekan karena merasa jalannya terhalangi.
Memasuki gedung tinggi sebuah apartemen, memarkirkan mobil diparkiran khusus pengguna kamar apartemen VIV. Keluar menuju pintu masuk apartemen.
"Mas Aditya ya?" Tanya seseorang dari arah depan yang kemudian mendekat kearahnya. Ternyata seorang satpam dengan rambut yang sebagian sudah beruban. Aditya hanya tersenyum, mengiyakan.
"Aduh Mas, bagaimana kabarnya, makin ganteng saja. Sudah lama sekali tidak kesini, kemana saja. Sudah berapa tahun ya bapak sendiri juga lupa. Banyak yang nanyain Mas Adit waktu itu." Saling berjabat tangan.
Memang Aditya merupakan sosok yang ramah dan mudah bergaul terkecuali untuk urusan wanita. Teman wanitanya hanya bisa dihitung dengan hitungan jari.
"Iya Pak saya baru pulang dari Jerman, kebetulan lewat jadi mampir dulu kesini. Pak Diman sehat?" Begitu Aditya menyebut nama satpam itu.
"Begini lah Mas, kalau sudah tua kadang suka sakit-sakitan."
Aditya tersenyum," Mudah-mudahan Bapak sehat terus ya, saya permisi masuk dulu ya Pak."
"Oh iya silahkan Mas."
Belum seberapa jauh Aditya melangkah, Pak Diman mengejar Aditya setelah sebelumnya mengambil sesuatu dari jaket yang tergantung di pos satpam.
"Mas Adit...tunggu sebentar. Ini ada titipan surat buat Mas Adit. Sudah lama sekali beberapa tahun yang lalu. Maaf Bapak baru memberikannya. Waktu itu Bapak bingung harus memberikannya ke siapa, soalnya nggak tahu alamat rumah Mas Adit. Setiap hari surat ini Bapak bawa, takutnya ketemu Mas Adit tiba-tiba."
Aditya menatap penuh tanya surat yang berwarna merah jambu yang masih terbungkus rapat, namun sudah sedikit usang.
Belum sempat Aditya bertanya, Pak Diman kembali berkata seakan bisa membaca raut muka Aditya.
"Seorang gadis Mas, cantik berambut panjang. Beberapa kali dia mendatangi apartemen Mas Adit, tapi Mas Adit nggak pernah ada. Jadi dia menitipkan surat ini ke Bapak karena ditelepon katanya HP Mas Adit nggak aktif terus."
Arini.... Bisik Aditya dalam hati. Pikirannya menggantung. Kemudian cepat berpamitan pergi setelah mengucapkan terima kasih kepada Pak Diman.
Menekan tombol pin masuk apartemen, nomor yang sudah sangat dia hapal yaitu tanggal lahir Arini 100595... pintu terbuka, Otomatis lampu apartemen menyala.
Kondisi apartemen yang semrawut, pecahan vas bunga yang tergeletak dilantai, buku dan majalah yang berserakan dimana-mana, sofa yang sudah bergeser menyamping.
Aditya melewati ruangan itu menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Kondisinya pun tidak jauh beda dengan keadaan dilantai bawah tadi. Seprai, bantal dan guling yang acak-acakan tercerai berai dari tempat asalnya. Kaca meja rias yang retak, ada darah yang sudah mengering disana. Dia ingat, itu akibat pukulan tangannya sendiri.
Aditya tidak sempat menelepon tukang kebersihan saat dia meninggalkan apartemennya dulu karena pikirannya saat itu benar-benar sangat kalut hingga tidak bisa berpikiran jernih.
Kembali terkenang kejadian yang dulu ia lewati. Mengamuk sendiri dikamar apartemen. Kekesalan yang ntah kepada siapa dia harus tumpahkan. Hubungan yang terjalin dua tahun lamanya bersama Arini tidak bisa dia pertahankan dihadapan kedua orang tuanya.
Ibu yang dia panggil mama mengalami serangan jantung dan memaksa dirinya untuk melakukan pertunangan secara sepihak dirumah sakit dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai.
Kemudian mamanya meninggal tiga hari setelah dia bertunangan dan seminggu setelahnya, ia dikirim ke Jerman untuk melanjutkan kuliah S2 dan mulai mengembangkan cabang perusahaan yang ada disana.
Merasa dirinya yang begitu lemah dan bodoh seperti pecundang, meninggalkan Arini tanpa ada kata perpisahan ataupun sebuah pesan.
Kesempatan itu tidak pernah Aditya dapatkan, karena ayahnya begitu membatasi semua akses yang Aditya miliki hingga sulit untuk dirinya bergerak bahkan untuk menghubungi teman terdekatnya sekalipun.
Kejadian itu begitu cepat berlalu, begitu menghujam bagaikan ribuan mata pisau yang menusuk kedalam ulu hatinya. Aditya duduk dipinggiran tempat tidur, memandang surat yang dia genggam ditangannya.
Dibukanya surat merah jambu itu, tulisan yang sedikit kabur karena terkena tetesan air mata yang sudah mengering. Mungkin Arini menulisnya sambil menangis, semakin teriris hati Aditya membayangkannya.
Dengan tangan bergetar Aditya mulai membaca surat itu.....
***Dear Aditya...
Dit kamu kemana saja selama ini,,?? aku mencari mu kemana-mana. Hp mu nggak aktif, di kampus kamu nggak pernah datang. Aku tanya ke semua temanmu mereka tidak tahu.
Aku datang kerumahmu aku tak bisa, satpam tidak mengizinkanku masuk.
Aku mendatangi apartemenmu setiap hari, tapi kamu tak pernah muncul.
Aku sangat merindukan mu Dit...
Ada apa denganmu, apa kamu baik-baik saja???
Apa sesuatu sudah terjadi???
Atau kamu sedang mencoba menghindariku???
Aku binggung Dit, setidaknya kamu mengirimkan satu pesan saja untukku.
Ada sesuatu hal penting yang ingin aku katakan. Dan ini tidak mungkin aku ceritakan dalam surat.
Aku takut seseorang akan membacanya.
Aku harus bertemu denganmu langsung.
Aku tunggu kamu di pantai ancol, ditempat kita jadian dulu, 1 minggu dari sekarang. Tepatnya tanggal 10 April jam 4 sore.
Seperti janji aku satu tahun yang lalu, aku akan setia menunggu mu disana.
Aku sangat membutuhkan mu Dit,,,
Aku Sayang Kamu💗***
Yang Sangat Mencintaimu,
Arini
Menitik air mata Aditya, merengkuh surat itu didadanya membayangkan kalau dia sedang memeluk Arini yang sedang menangis menunggu kedatangannya.
Aditya kembali tersadar menatap kembali surat itu dan bergegas pergi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seperti orang kesurupan menuju tempat yang Arini sebutkan tadi, berharap Arini akan ada disana menunggunya. Walau itu sangatlah mustahil karena selang waktu yang sudah sangatlah lama.
Berlari kencang, nafasnya menderu, terengah, menelisik setiap tempat...mencari seseorang yang sama sekali tidak mungkin ada disana.
Seperti orang gila Aditya mengacak-acak rambutnya, menjambaknya kuat...berteriak memanggil nama Arini...tapi hanya deburan ombak yang menyaut panggilannya.
Tersungkur Aditya tak berdaya, mencengkram pasir sampai buku-buku jarinya berwarna putih saking kuatnya dia meremas. Tak peduli dengan pasir yang basah terkena air laut yang akan mengotori celana panjangnya.
Menyesali takdir Tuhan yang sangat kejam kepadanya. Aditya menangis sekencang-kencangnya meluapkan segala kesedihan yang sudah dia tahan selama empat tahun ini. Semua bayangan tentang Arini, wajahnya, suara lembutnya, Senyuman manisnya, tawa renyahnya dan semua hari-hari yang sudah dia lewati bersama Arini, semua kenangan indah itu berputar-putar terus dalam pikirannya.
Semua yang ada dalam diri Arini benar-benar sangat dia rindukan. Tapi itu sudah terlambat, Arini telah pergi meninggalkannya jauh, pergi jauh ntah kemana...Tapi Bukan...bukan Arini yang meninggalkannya..tapi aku...aku yang meninggalkannya.
Maafkan aku Arini...Maafkan aku....
Jerit hati Aditya pilu...
"Ariniiiiiiiii......."