Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Sadar diri
Bab 13 Sadar Diri
Hari-hari Kalila kini menjadi tidak damai semenjak adanya Akbar yang mengajar di sekolahnya. Sudah dua hari Kalila memilih tidak masuk sekolah. Ana berulang kali menanyakan pada Kama apa yang terjadi, tapi Kama sendiri tidak mengetahuinya. Bukan hanya Ana saja yang merasa khawatir, Akbar pun sama. Setiap hari dia pasti menyempatkan melihat kelas Kalila pada saat jam pelajaran, tapi dia sama sekali tidak melihatnya.
“Lo kemana aja sih Lila? Sakit? Pokoknya pulang sekolah aku sama Andri mau ke rumah Lo. Jahat Lo bikin gue sama Andri kangen,” ucap Hesti pada saat jam istirahat. Akbar yang duduk di bekalang Hesti mendengar percakapan mereka.
“Gue enggak enak badan. Ya sudah kalau mau main ke sini. Nanti gue suruh Bibi masak yang banyak buat lo.”
“Asiiik ... oke deal! Gue pulang sekolah langsung ke sana.” Hesti pun menutup ponselnya.
Akbar langsung beranjak dari duduknya dan menuju ruang guru. Dia masuk melihat data siswa, karena kebetulan beberapa hari yang lalu Akbar diangkat sementara mengantikan posisi wali kelas, di kelas Kalila. Tapi, kekecewaan dia dapatkan, karena Kalila tidak menyimpan nomor ponselnya di sana. Akbar merasa bersalah, apa karena dua hari yang lalu dia menegur Kalila tentang nilai dia yang trun? Banyak pertanyaan-pertanyaan yang membuat Akbar semakin khawatir dengan muridnya.
Jam pelajaran sebelum pulang sekolah kebetulan Akbar kosong dan itu dia gunakan melihat data-data siswa yang ada di kelasnya. Dia juga melihat berkas-berkas daei hasil psikotes anak didiknya, untuk mengetahui satu-persatu kemapuan mereka. Matanya oun langsung tertuju pada Kalila yang memiliki hasil psikotes tertinggi. Dia langsung tersenyum dan mengusap wajah cantik Kalila di dalam foto.
‘Astaga! Apa yang aku lakukan!’ gumamnya langsung menutup map data itu. Akbar mencubit keningnya, dia merasa semakin hari menjadi semakin gila karena Kalila. ‘Akbar sadar woy! Dia itu murid kamu dan mungkin selamanya akan menjadi anak didikmu,’ gumamnya lagi. Tidak terasa bel pergantian pelajaran pun berbunyi dan Akbar langsung segera merapihkan bukunya untuk mengisi kelasnya.
“Selamat siang semua!” sapa Akbar. Semua siswa menjawabnya dengan histeris, terutama para siswi. Akbar tersenyum dan matanya langsung menatap ke arah meja Kalila.
“Apakah ada yang tidak masuk?” tanyanya yang pura-pura tidak mengetahui kalau Kalila yang sudah dua hari ini tidak masuk sekolah.
“Kalila, Pak! Sudah dua hari dia tidak masuk sekolah,” jelas Hesti teman sebangkunya. Ini adalah kesempatan Akbar untuk mengetahui nomor ponsel Kalila. Akbar pun menjelaskan kalau mulai saat ini dirinya akan mengantikan wali kelas sementara selama wali kelas yang asli cuti melahirkan, hal ini dia baru umumkan, karena surat tugasnya yang baru turun hari ini. Lagi-lagi semua bersorak kegirangan mendengar itu.
Akbar pun meminta pada Hesti nomor ponsel Kalila. Hesti yang tidak mengetahui masalah keduanya langsung memberikan nomor ponsel itu. Akhirnya yang selama ini dicari, dia temukan. Akbar langsung menyimpan nomornya dan melanjutkan pelajaran ekonomi. Semua siswa dan siswi hening saat Akbar memulai kelasnya. Bukannya memperhatikan pelajaran yang diterangkan oleh akbar, kebanyakan dari para siswi malah menikmati wajah tampan Akbar saat menerangkan.
Tidak bisa dipungkiri, kalau ketampanan wajah Akbar membuat semua orang terpukau. Bukan hanya para siswi sekolah saja, bahkan para guru magang seperti dirinya, sangat menyukai dia. Selain tampan, Akbar juga sangat ramah dan lemah lembut. Dia tidak pernah marah dan selalu tersenyum pada semua orang. Inilah kenapa Akbar sangat disukai oleh setiap siswi sekolah dan membuat para guru yang mendekati dia menjadi salah paham terhadapnya.
Sikap Akbar yang ramah pada semua orang pun sering dimanfaatkan oleh para guru-guru wanita, terutama Gendis dan Sarah. Untuk Sarah sendiri dia sudah mengenal Akbar jauh sebelum Gendis dan merasa kalau hubungan mereka sudah sangat dekat. Walaupun Gendis baru mengenal Akbar, tapi dia juga merasakan hal yang sama. Akbar sendiri tidak tahu kalau pikiran dua wanita itu, begitu terhadapnya. Karena yang dia lakukan selama ini hanya untuk menghargai orang dan tidak lebih dari itu.
Tidak terasa bel pulang berbunyi. Seperti biasa Akbar akan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah. Setelah semua beres, Akbar segera keluar dari kelas, karena dia tidak ingin kehilangan jejak Hesti yang akan pergi ke rumah Kalila. Ya ... hari ini memang Akbar berencana mengikuti Hesti, walau sebenarnya dia sudah mengetahui alamat Kalila, tapi Akbar tidak tahu jelas itu di mana.
Dengan langkah yang sedikit cepat, Akbar menuju ruang guru dan merapihkan bukunya.
“Pak Akbar, mau kemana? kelihatannya buru-buru sekali,” Sapa Gendis yang baru saja menghampiri.
“Eh ... Bu Gendis. Iya Bu, saya buru-buru ada acara keluarga.”
“Yah ... sayang sekali. Tadinya saya ingin mengajak Pak Akbar untuk mencari cemilan sore bersama guru-guru lainnya.”
“Aduh, maaf Bu Gendis! Mungkin lain kali pasti saya ikut,” ucap Akbar sambil tersenyum dan itu membuat hati Gendis sangat berdebar.
“Oke deh kalau gitu. Janji ya Pak.” Akbar tersenyum mengangguk. Dia pun pamit dan langsung bergegas ke parkiran untuk mengendarai motor bebeknya.
Akbar menarik napas panjang, karena di parkiran dia melihat Hesti dan seorang lelaki yang baru saja ingin melajukan motornya. Dia pun bergegas agar tidak tertinggal oleh kedua muridnya. Hesti tidak mengetahui kalau Akbar sejak tadi mengikuti dirinya dari belakang. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di depan rumah Kalila. Akbar hanya melihat dari sebrang saat Hesti masuk ke dalam halaman rumah Kalila.
Hati Akbar kembali ciut saat melihat kediaman Kalila. Dia tidak tahu kalau Kalila lahir dari keluarga yang sangat berada. Setelah mengetahui rumah Kalila, Akbar pun kembali melajukan motornya.
‘Akbar, lo harus sadar diri!’ ucapnya pada diri sendiri. Akbar pun kembali melajukan motornya.
~Bersambung~