Aku bisa melihat mereka 2
Inara seorang gadis indigo, yang ternyata hidupnya di incar oleh seorang iblis yang menginginkannya menjadi ratu iblis.
Dapatkah Inara bisa lepas dari jerat iblis itu?
Lalu bagaimana dia menghadapi musuh lama keluarganya, yang selalu meneror dirinya dan keluarganya?
Bagaimana ceritanya? Ikuti terus ya Aku bisa melihat mereka 2.
Selamat Membaca 📖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Un.Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Inara menjaga Inka dan Iqbal di ruang perawatan. Padahal Penty sudah menyuruh Inara untuk pulang dan beristirahat, tapi Inara menolak dia ingin menjaga ayah dan bundanya. Inara terus menggenggam tangan Inka dan tidak beranjak sedetik pun dari sisi Inka dan Iqbal.
"Bunda sama ayah cepet bangun, Inar gak mau sendirian. Jangan tinggalin Inar." Isaknya.
Argan dan Penty menatap lirih keponakannya, Penty menyenderkan kepalanya di pundak Argan.
Tak lama Aji datang menjenguk. Aji langsung menghampiri Inara dan mengusap kepalanya.
"Dedek sabar ya, doain ayah sama bunda terus." Inara mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari Inka.
Aji menatap Inka dan Iqbal. "Kalian harus kuat demi Inara." Batin Aji.
Lalu Aji menghampiri Argan. Tak lama Sandi dan Shina datang, Shina langsung memeluk Inara. Tangis Inara pecah lagi saat Shina memeluknya.
Sandi mengusap kepala Inara. "Inar gak mau kehilangan ayah sama bunda mah." Isak Inara.
"Dedek gak boleh ngomong kaya gitu. Ayah sama bunda pasti baik-baik aja, sebentar lagi mereka pasti bangun dan akan kembali sama kita, dedek terus berdoa untuk ayah dan bunda ya." Ucap Shina. Inara mengangguk dan masih memeluk Shina.
"Kalian harus kuat, kalian punya Inara yang butuh kalian." ucap Sandi menatap lirih Inka dan Iqbal.
Sandi pun menghampiri Argan yang sedang berada di luar, dia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Inka dan Iqbal. Argan menceritakan apa yang dia dengar dari Inara. Sandi dan Aji mendengarkan cerita Argan.
"Tapi kenapa makhluk itu menyerang Iqbal dan Inka?" Tanya Sandi.
"Kayaknya ada orang yang gak suka sama mereka om?" Jawab Argan.
"Ya udah nanti kita tanyain kalo dedek sudah lebih tenang, karena aku juga belum tau pasti cerita lengkapnya." Lanjut Argan. Sandi dan Aji mengangguk.
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba terdengar teriakan Inara.
Argan dan yang lainnya kaget, mereka langsung menghampiri Inara. Ternyata Iqbal kejang-kejang. Argan segera memanggil dokter.
"Ayaaahh.." Tangis Inara histeris.
Tak lama dokter datang, dokter menyuruh semuanya untuk keluar agar dia bisa memeriksa. Tapi Inara tidak ingin meninggalkan kedua orang tuanya. Terpaksa Argan menggendong Inara dan membawanya keluar.
"Ayah jangan tinggalin Inar." Isak Inara sambil melihat Iqbal dari jendela yang sedang di beri alat pacu jantung.
Inara semakin khawatir saat Iqbal tidak merespon alat itu, dokter pun sudah berkali-kali meletakkannya di dada Iqbal. Tapi alat pendeteksi jantung pun tak menunjukan Iqbal merespon.
Tak lama dokter menggelengkan kepalanya, Iqbal sudah tidak bisa di selamatkan. Melihat dokter berhenti memberi alat itu, Inara semakin panik. Apa lagi saat dokter menutup seluruh tubuh Iqbal dengan selimut.
"Ayaaaaaahh.." teriak Inara histeris. Inara memaksa masuk dan langsung berlari memeluk Iqbal.
"Ayah bangun, jangan tinggalin Inar sama bunda." Ucap Inara sambil menggoyangkan tubuh Iqbal.
Argan dan yang lainnya pun tak kuasa menahan air matanya.
"Ayaaahh bangunnn.." Inara histeris. Penty dan Shina berusaha menenangkan Inara.
"Ayah jangan tinggalin Inar." Isak Inara sambil memeluk erat tubuh Iqbal.
"Jangan tinggalin Inar ayah. Ayah bangun, nanti Inar ngomong apa sama bunda? Ayah cepat bangun." Isak Inara semakin histeris.
"Ayaaaaaahh.."
Penty dan Shina berusaha menenangkan Inara yang sudah mulai tak bisa di kendalikan karena histeris. Tak lama tubuh Inara lemas dan dia langsung tak sadarkan diri.
"Dedek!" pekik Penty dan Shina.
Sandi segera menggendong Inara, dan membaringkannya di brankar. Penty dan Shina menjaga Inara. Tangis Penty dan Shina pun tak bisa berhenti.
***
Setelah menemui dokter dan menyelesaikan administrasi, Argan siap membawa Jenazah Iqbal pulang, Argan menemui Inara yang masih belum sadarkan diri.
"Pah apa kita tunggu dedek sadar dulu, baru bawa pulang Iqbal." Ucap Penty.
"Papa takut Inara gak kuat liat ayahnya."
"Iya tapi kan Inar pasti pengen liat ayahnya untuk terakhir kalinya." Argan terdiam apa yang di katakan istrinya benar.
"Ya sudah, nanti kalo dedek bangun kasih tau papa. Mama di sini aja sama kak Shina jagain Inka." Penty mengangguk.
Setelah Inara sadar Inara ikut pulang mengantar ayahnya untuk segera di makamkan. Namun pandangan Inara kosong, bahkan air matanya sudah tak mengalir lagi.
Setiap ada yang datang untuk mengucapkan belasungkawa Inara hanya terdiam membisu. Argan semakin kasian melihat keponakannya.
"Kenapa nasibnya sama seperti bundanya, harus jadi yatim saat dia masih membutuhkan kasih sayang ayahnya." Lirih Argan sambil meneteskan air mata.
***
Inara ikut dalam pemakaman Iqbal tapi dia hanya terdiam sambil menatap kosong. Sampai pemakaman selesai, Inara masih tak bergeming. Argan semakin tak tega melihat keadaan keponakannya.
"Ayo sayang kita pulang!" Ajak Argan.
Inara terdiam mematung sambil menatap pusara ayahnya. Tak lama sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.
"Ayah tenang aja! Aku pasti akan menemukan dia untuk membalas kematian ayah." batinnya dengan sorot mata tajam.
Argan mengajak Inara pulang, Inara pun menurut. Dia terus menoleh ke arah makam ayahnya.
"Ayah istirahat yang tenang ya." batin Inara sambil tersenyum lirih dan air matanya mengalir.
Sesampainya di rumah, Inara langsung pergi ke kamarnya. Argan dan Sandi menatap nanar keponakannya. Argan duduk di sofa sambil memijit pelipisnya.
"Kenapa keluarga kita harus selalu mengalami ini om?" tanya Argan lirih.
Sandi duduk di samping Argan dan menepuk pundak Argan.
"Sabar gan, ini ujian buat keluarga kita."
"Tapi om gimana nanti dengan Inka? Gimana aku ngomong sama dia kalo suaminya sudah tidak ada?" Ucap Argan terisak sambil menunduk dan mencengkram kepalanya.
Sandi pun tak bisa berkata apa-apa, karena dia pun bingung bagaimana menyampaikan berita duka itu. Sandi menghela nafas panjang.
"Astaghfirullah.." gumamnya.
Tak lama terdengar suara Isak tangis di kamar Inara dan itu membuat hati Argan dan Sandi semakin teriris. Argan tak bisa lagi menahan tangisannya. Sandi mengusap punggung Argan untuk memberi kekuatan. Sandi pun tidak bisa lagi menahan air matanya, sungguh kepergian Iqbal terlalu mendadak, membuat semuanya benar-benar kehilangan.
***
Setelah tak mendengar suara tangis Inara lagi, Argan menghampirinya ke kamar. Inara terlelap sambil memeluk foto Iqbal. Argan mengusap kepala Inara dan mengecup kepalanya, lalu dia mengambil foto Iqbal dalam pelukan Inara lalu menaruhnya di nakas.
"Semoga Allah selalu memberikan mu kekuatan ya sayang."
Argan berniat akan ke rumah sakit untuk menggantikan Penty dan Shina menjaga Inka dan biar mereka di rumah yang menjaga Inara.
Setelah selesai melihat Inara, Argan bergegas menemui Sandi.
"Om aku mau ke rumah sakit. Om di sini ya jagain dedek, nanti biar Penty dan kak Shina pulang." Sandi mengangguk.
"Aku pamit ya om. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati gan!"
"Iya om."
Argan pun berangkat ke rumah sakit. Tapi saat dia mau memasuki mobilnya dia melihat seseorang yang sedang memperhatikan ke arah rumah Inka. Gerak gerik orang itu mencurigakan, Argan tak bisa melihat wajahnya karena gelap dan juga dia memakai masker dan topi.
Argan berniat menghampirinya, tapi orang itu keburu pergi saat tau Argan melihatnya.
"Siapa dia? Kenapa dia terus memperhatikan rumah Inka?" gumam Argan.
Dia pun bergegas naik mobil dan berangkat ke rumah sakit. Sambil melajukan mobilnya Argan celingak-celinguk barangkali melihat orang tadi. Tapi sampai dia sudah menjauh dari daerah rumahnya tidak ketemu orang itu.
Sesampainya di rumah sakit, Argan langsung menuju ruangan Inka di rawat. Istrinya sedang terlelap di sofa dan Shina terlelap di kursi pinggir tempat tidur Inka.
Argan membangunkan Penty dan menyuruhnya pulang untuk menemani Inara. Akhirnya Penty dan Shina pun pulang naik taksi dan Argan yang menjaga Inka.
Bersambung..