Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nekat
Bunga duduk di kursi taman belakang. Menghindar dari keramaian yang tidak ia sukai. Matanya terpejam, tetapi dia tidak bisa tertidur. Bunga hanya butuh ketenangan dalam kesendirian.
"Pantes diisengin kakak kelas, baju lo penyebabnya," komentar Bian yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Bian tahu kemana Bunga pergi. Sudah beberapa kali mereka bertemu di taman belakang. Taman yang bisa dikatakan sudah terbengkalai. Jarang ada murid yang datang ke tempat itu.
Bunga tidak membuka matanya. Mendengar suaranya saja sudah bisa Bunga ketahui jika itu adalah Bian. Cowok yang akhir-akhir ini selalu muncul.
"Bukan urusan lo sih!" jawab Bunga masih pada posisinya. Duduk bersandar dengan mata terpejam. Seakan tidak begitu mempedulikan kedatangan Bian.
Padahal saat ini Bian seakan sedang mencuri kesempatan untuk menatap wajah Bunga dengan begitu leluasa.
Cantik dan sexy. Itu yang dapat Bian gambarkan dari seorang Bunga. Pantas saja jika banyak yang berusaha mencari perhatian dengan siswi cuek itu.
"Bukan urusan gue, tapi lo udah bikin temen-temen gue-" Bian menggeram, tidak melanjutkan kata-katanya.
Mendengar penuturan Bian barusan cukup menarik perhatian Bunga. Gadis itu membuka matanya, lalu menoleh ke arah Bian yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Bikin mereka berkhayal? tentang gue ketika di ranjang?" tanya Bunga dengan berani.
Bahkan saat ini gadis itu bangkit dari duduknya. Menghampiri Bian yang diam di tempatnya, dengan tatapan tajam ke arahnya. Tidak habis pikir saja dengan jawaban yang Bunga lontarkan.
Berikutnya Bunga tertawa hambar. "Nggak usah dipikirin sih, berati temen-temen lo itu normal," ucap Bunga berniat pergi meninggalkan Bian.
Bunga memang sudah sering dipandang seperti itu. Mereka melihat Bunga karena apa yang dimiliki oleh Bunga saat ini, wajah cantik dan tubuh sexy-nya.
"Lo suka menjadi hayalan mereka?" suara lantang Bian membuat langkah Bunga terhenti.
Bian menghampiri Bunga dan berdiri tepat di depannya. Menatap Bunga dengan tatapan yang entah tidak bisa Bunga artikan.
"Lo suka menjadi hayalan cowok-cowok berpikirin nakal tentang lo?" Bian tersenyum miring. "Lo indah tapi sayangnya...sedikit murahan," lanjut Bian merendahkan suaranya di akhir kalimat.
Tidak berniat menyakiti hati Bunga dengan ucapanya, tetapu jujur saja, Bian gemas sendiri dengan jawaban Bunga yang seakan tidak mempermasalahkan mereka yang menjadikannya tempat hayalan atau fantasi. Bunga terlampau tidak peduli akan hal itu. Dan entah kenapa Bian tidak suka Bunga bersikap demikian untuk dirinya.
Bunga mengepalkan tangannya. "Bian!" serunya menatap Bian yang masih berdiri di depannya.
Sedetik kemudian hal tidak terduga kembali terjadi. Dengan kesadaran yang penuh, Bunga mencium bibir Bian. Bahkan ciuman itu berlangsung cukup lama, sedangkan Bian sendiri tidak bisa melakukan apa-apa selain menikmati ciuman kedua dari Bunga.
Bunga melepaskan ciuma di antara mereka. Lalu menatap Bian dengan tatapan yang berbeda. "Ini kan yang lo sebut murahan?"
Setelah mengatakan itu Bunga pergi meninggalkan Bian yang masih berdiam diri di tempatnya. Bunga itu terlalu nekat sampai tidak bisa Bian pahami. Gadis itu benar-benar berbeda.
Setelah kejadian di taman belakang tadi. Pikiran Bunga sedikit terusik. Kata-kata Bian yang menyebutnya dengan sebutan murahan membuatnya tidak bisa tenang. Harusnya Bunga tidak usah pedulikan kata-kata Bian itu. Toh..memang pada kenyataannya dirinya seperti itu. Tetapi menurutnya langkahnya selama ini benar.
Bunga menjual dirinya dengan harga yang fantastis, tidak bisa disebut dengan kata murahan.
"Bu!" Bunga mengangkat tangannya.
"Ya Bunga, ada apa?" tanya Bu guru yang sedang mengajar.
"Mau ke belakang," ijinnya dan dipersilahkan oleh guru tersebut.
Dengan langkah yang sengaja dibuat santai. Bunga berjalan menuju ke toilet. Sampai di sana samar-samar Bunga seperti mendengar suara seseorang. Suara itu datang dari toilet paling ujung.
"Masa sih siang gini ada set*n?" gumamnya heran.
Bunga tidak ingin peduli, dia masuk ke salah satu toilet. Setelah selesai gadis itu keluar dan mencuci muka di depan cermin wastafel, tetapi suara itu masih terdengar. Bahkan terkadang seperti suara rintihan seseorang yang membuat Bunga mengira jika itu suara dari mahluk dunia lain. Tetapi semakin lama suara rintihan itu terdengar seperti *******, Bunga sengaja mendekati ujung toilet. Dimana suara itu berasal.
"Eeghh...ahhh," suara ******* yang kembali terdengar dari dalam toilet.
"Lo enak banget sumpah!" ucap suara dari dalam yang membuat mata Bunga seketika melotot.
Itu suara seorang cowok yang baru saja berbicara, berarti suara ******* tadi datang dari cewek yang juga berada di dalam.
Bunga menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Ini baru murahan," gumamnya berniat untuk pergi.
Kejadian baru saja membuat Bunga merasa sedikit beruntung, setidaknya meski dia sudah dijelajah banyak laki-laki, Bunga selalu memasang harga yang fantastis, tidak gratisan dan di tempat yang layak. Satu hal yang membuat Bunga merasa sedikit beruntung, mahkotanya masih terjaga meski dia sudah menghabiskan seribu malam bersama dengan pria hidung belang.
Malam ini Bunga sudah bersiap untuk berangkat. Om Praja belum pulang dengan bisnis di luar kota. Membuatnya harus menemani Om-Om pelanggan dari bisnis Mimi.
Padahal dalam lubuk gadis itu merasa rindu akan sentuhan dari Om Praja. Om yang paling istimewa menurut Bunga. Selain wajah tampannya, Om Praja selalu memperlakukannya dengan begitu baik, seakan Bunga ini bukan gadis malamnya.
Tepat di saat Bunga sedang menunggu di depan. Ia kembali bertemu dengan Bian yang sepertinya juga akan pergi. Cowok itu memakai hoodie hitamnya dengan celana jeans panjang juga sepatu putih.
Bian sempat melirik ke arah Bunga. Gadis itu kembali memakai baju kurang bahannya. Jelas itu membuat Bian keberatan, alasan yang tidak bisa Bian pahami. Bunga bukan siapa-siapa, tetapi hati Bian terkadang sangat peduli dengan gadis yang bahkan tidak mempermasalahkan dengan pandangan laki-laki nakal terhadapnya.
Ting
Pintu lift terbuka. Keduanya sama-sama masuk ke dalam lift. Hanya ada dua orang di dalam lift yang kini orang tersebut keluar bersamaan dengan lift yang terbuka. Tertinggal keduanya yang masih berada di dalam lift.
Keduanya sama-sama terdiam. Sesekali ekor mata Bian melirik ke arah Bunga. Baju yang dikenakan Bunga benar-benar sangat mengganggunya.
Ingin bertindak lebih dengan gadis itu. Tetapi Bian sadar, Bunga hanya sebatas tetangga di apartemennya.
Sampai lift terbuka, keduanya masih saling diam. Hingga tindakan Bian sudah tidak dapat dikendalikan lagi olehnya.
**** umpatnya dengan tangan terkepal.
Bian menarik Bunga untuk masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, bahkan bisa dibilang Bian sangat ugal-ugalan di jalanan.
"Bian, lo gila!" maki Bunga tidak terima.
Jelas Bunga tidak terima, Bian bertindak seenaknya, selain sering mengomentari apa yang dikenakan oleh Bunga. Bian juga bertindak yang tidak bisa Bunga duga.
Mobil tetap malaju dengan kecepatan tinggi. Sampai di perjalanan yang cukup sepi. Bian menghentikan laju mobilnya.
Ssssstttttt
Bunga menghela napas lega. Menatap Bian dengan tidak suka. "Mau lo apa sih?"
Bian melirik Bunga sekilas. Lalu kembali menatap lurus ke depan. "Gue mau lo!"
Jederrrrr......