Perceraian adalah suatu kegagalan.
Melabuhkan hati pada orang yang salah, berakibat sangat fatal. Setiap orang tidak akan luput dari kesalahan. Bukan sebuah judge yang diperlukan, tapi solusi untuk masalah yang tengah di hadapi. Dengan pengalaman yang terjadi, seseorang pasti berpikir ulang untuk tidak terjun ke lubang yang sama.
Itulah yang mendasari Ayana dan Rendra (duda dan janda dengan satu anak) untuk menyetujui perjodohan pernikahan kedua mereka. Bukan atas dasar cinta, tapi karakter. Bahkan, mereka sama sekali tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain. Mereka siap menjalaninya di kehidupan kedua mereka, yaitu sebuah kehidupan baru yang mereka bangun dengan sifat dan sikap yang berbeda dalam melihat masalah. Siapa yang menyangka jika mereka justru menemukan kebahagiaan disana?
Ternyata hati mereka masih berfungsi. Benih-benih rasa cinta itu datang dengan sendirinya.
follow me
IG : @NurulAyuHapsary
FB : Nurul Ayu Hapsary
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N. Ayu Hapsary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Hati
Ayana terbangun sama seperti subuh-subuh sebelumnya. Ia selalu dibangunkan oleh alarm. Ia mematikan alarmnya. Tangan Rendra masih tetap pada posisi yang sama sebelum ia tertidur. Ayana memindahkan tangan Rendra dengan pelan, takut jika Rendra terbangun. Ia duduk dengan perlahan dan melihat Rendra nampak masih tidur pulas.
Ayana menarik ke atas selimut Rendra hingga menutupi sampai ke pundaknya. Lalu Ayana membelai dengan lembut rambut Rendra yang berada di keningnya. Ia tersenyum melihat wajah Rendra yang tertidur polos. Teringat kembali tadi malam saat tangan Rendra yang hangat itu menyelimuti lengan dan bahunya. Ditambah lagi ungkapan maaf yang terdengar amat tulus dari suara Rendra yang lembut.
Selama lima tahun pernikahannya dengan mantan suaminya dulu, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ayana merasa ada yang sedang menggelitik di dalam dadanya. Perasaan aneh di otaknya sudah terjawab saat ini. Ayana tidak akan memungkirinya lagi, ia mulai menaruh hati pada suaminya sekarang.
Khilaf, emosi yang tidak stabil itu sudah biasa dialami oleh mantan suaminya dulu. Tapi, untuk meminta maaf, Ayana tidak pernah menerimanya. Berbeda dengan yang dilakukan Rendra tadi malam. Lagipula, Ayana tahu apa penyebab Rendra menjadi sangat labil. Saat ini Rendra sedang dalam masalah di kantornya. Ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi rekan yang baik untuk Rendra. Ayana lalu menurunkan kakinya dari ranjangnya pelan. Ia berjalan akan memulai aktifitasnya.
...****************...
Rendra yang baru bangun dan berjalan dari arah kamar mendekati Ayana yang tengah melakukan aktifitasnya di dapur. Ayana sedang berdiri membelakanginya, sehingga ia tidak mengetahui jika Rendra berjalan ke arahnya.
"Kamu mau masak Ay?" Tanya Rendra yang membuat Ayana sedikit kaget. Ayana baru tahu jika saat ini Rendra sudah ada di belakangnya.
"Mas? Sudah bangun? Tumben?" Tanya Ayana yang masih belum menjawab pertanyaan Rendra sebelumnya. Biasanya Rendra memang bangun jika anak-anak mereka sudah bangun dulu. Ia sering tidur larut karena pekerjaannya.
"Iya. Aku lapar." Katanya dengan sedikit malu pada Ayana. Ayana tersenyum melihat suaminya yang polos.
"Tapi mas, aku masih baru memulai masak." Kata Ayana dengan sedikit menyesal.
"Tak perlu." Rendra mengguncangkan tangannya di depan Ayana. "Masakan yang tadi malam itu... Kelihatannya enak. Tolong kamu hangatkan saja ya." Rendra kemudian membereskan sayuran yang belum sempat dicuci Ayana dan ditaruhnya kembali ke lemari es.
"Apa tak apa-apa mas?" Kata Ayana dengan ragu.
"Tentu saja. Tadi malam kelihatannya enak. Hanya saja..." Rendra kembali merasa bersalah. "Maafkan aku untuk tadi malam." Katanya dengan nada menyesal.
Ayana tersenyum bahagia.
"Sudahlah mas. Kita semua pernah berada di saat-saat tertekan. Tidak perlu dipikirkan lagi." Kata Ayana dengan tersenyum kembali.
"Terima kasih." Jawab Rendra.
"Ya sudah kalau begitu. Aku akan menghangatkan masakannya dan menyiapkannya untuk mas ya." Kata Ayana.
Rendra tersenyum dan mengangguk seraya berkata... "Ya." Sambil mengusap lembut kepala Ayana.
Ayana kembali tersipu malu oleh Rendra. Rendra sangat suka melihat Ayana seperti itu. Rendra lalu berjalan meninggalkan Ayana dan mendekati sofa untuk membuka laptop Ayana.
"Mas..." Cegah Ayana yang sudah tahu kalau Rendra ingin ke sofa.
"Ya?" Rendra berbalik lagi ke arah Ayana.
"Mas mengerjakan di mejaku saja mas. Nanti dari pada anak-anak bangun dan mengganggu." Ujar Ayana.
"Baiklah." Rendra menuruti permintaan istrinya. Ia membawa laptop Ayana di meja Ayana dan nampaknya memang lebih nyaman bekerja di meja Ayana.
Rendra kembali berkonsentrasi. Ia menghubungkan laptopnya ke internet dan mengecek kembali email mana yang sudah mengirim laporan tersebut. Dari ribuan email yang sudah terkirim, tentu Rendra harus mengeceknya satu persatu. Selagi ia masih fokus, Ayana datang mendekatinya.
"Makanannya sudah siap mas." Kata Ayana.
"Oh iya. Sebentar lagi." Rendra yang nampaknya masih nanggung. Ayana jadi penasaran dan berjalan di belakang kursi Rendra untuk melihat apa yang sedang Rendra kerjakan.
"Kenapa mas mengecek email satu per satu?" Tanya Ayana yang ingin tahu.
Rendra akhirnya bercerita tentang masalah yang dihadapinya saat ini. Entah darimana dan siapa yang bisa mengirim email tersebut. Rendra hanya melacaknya lewat akun emailnya.
"Bagaimana kalau sebaiknya langsung saja bertanya pada perusahaan di London itu mas?" Ujar Ayana.
Rendra mengkerutkan alisnya. "Maksudnya?" Tanyanya yang masih belum paham.
"Lihat mas." Ayana menunjuk isi email yang terkirim pada email perusahaan London tersebut. Ia melihat ada sebuah nomor bisnis yang dapat dihubungi. Hanya untuk urusan bisnis. "Coba mas langsung menelfon ke nomor ini saja." Ayana masih menunjuk nomor luar negeri itu. "Mas minta tolong untuk mengecek dari sana, kapan dan minta email yang sudah mengirimnya. Dari sana akan ketahuan profil email yang sudah mengirim laporan ini. Dan pastikan kalau mas bukanlah yang mengirim laporannya. Bisa saja suatu kesalah pahaman." Kata Ayana mencoba menjelaskan. Rendra terdiam nampak berpikir.
"Benar juga. Kenapa aku tidak berpikir sampai kesana ya?" Tanya Rendra pada dirinya sendiri.
"Ya, mungkin bisa saja mereka menolak untuk mengecek email. Tapi, tidak ada salahnya dicoba kan mas?" Kata Ayana dengan menaikkan kedua alisnya.
"Wah... Kamu pintar sekali Ay." Puji Rendra yang membuat Ayana kembali tersipu.
"Aku kan penulis. Aku sudah biasa menciptakan konflik dan solusinya." Kata Ayana dengan percaya diri. Rendra hanya tersenyum mendengar ungkapan Ayana.
"Aku akan melakukannya." Kata Rendra dengan semangat.
"Sebelum itu... Mas harus makan dulu. Kesehatan harus dijaga." Kata Ayana yang menarik tangan Rendra ke meja makan.
...****************...
"Anak-anak, ayah berangkat dulu ya." Kata Rendra melihat anak-anak mereka sedang sarapan di meja makan. Mereka sarapan dengan roti panggang dan selai cokelat, serta segelas susu. Biasanya mereka sudah makan nasi sepagi itu. Tapi, Ayana memberikan mereka sarapan yang berbeda karena kemarin ia berbelanja roti tawar lumayan banyak.
"Iya yah..." Seru Aila dan Bulan.
Rendra mendekati mereka dan mengusap satu persatu rambut mereka.
"Jangan nakal dirumah ya. Kalau bisa, kalian bantu-bantu mama." Nasihat Rendra untuk anak-anaknya. Ayana yang melihatnya, hanya tersenyum. Kemudian Rendra berjalan ke arah pintu keluar. Anak-anak meneruskan sarapan mereka. Ayana mengikuti Rendra dengan membawakan tas laptop Rendra.
"Terima kasih ya. Masukanmu sangat bagus. Aku harap, bisa segera menyelesaikan masalahku." Kata Rendra yang sudah bersiap berangkat kerja.
"Aku akan selalu mendoakan mas yang terbaik." Balas Ayana sambil tersenyum. Ayana memberikan tas laptop pada Rendra. Rendra menerimanya.
"Aku berangkat dulu." Ucap Rendra.
"Iya mas." Ayana mengangguk beberapa kali. Ia mencium tangan suaminya. Lalu dengan perlahan dan takut-takut, Rendra mendekati Ayana. Ayana terdiam melihat Rendra yang hanya berjarak tiga sentimeter dari wajahnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Rendra mengamati wajah Ayana dengan tatapan tajam. Wajah Ayana memerah. Tiba-tiba saja ia serasa membatu disana. Matanya melihat ke arah bawah dan ia amat tersipu tidak sanggup melihat ke arah mata Rendra. Kemudian, Rendra menaikkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada kening Ayana. Ia mengecupnya. Ayana sedikit terkejut menerima hal itu. Ia terlihat mengatur nafasnya. Wajahnya bertambah merah merasakan ciuman Rendra di keningnya. Ayana hanya mengerjap-kerjapkan matanya dan nampak salah tingkah. Rendra tersenyum senang melihat ekspresi Ayana seperti itu. Sangat menggemaskan baginya.
"Aku berangkat. Doakan aku lancar dan pulang cepat hari ini." Kata Rendra dengan suara halusnya. "Aku ingin bisa cepat pulang, aku masih merindukanmu." Lanjut Rendra lagi.
Mata Ayana segera menatap lurus ke arah mata Rendra. Ada pertanyaan di hatinya, namun terjawab seketika itu juga. Ayana lalu hanya menganggukkan kepalanya dan tidak dapat menjawab apapun. Lidahnya masih membeku. Rendra kembali tersenyum melihatnya.
...****************...
tapi Dila yang dasarnya wanita tidak bersyukur saja malah ninggalin Rendra
muntah gara kebanyakan minum susu.