NovelToon NovelToon
My Love My Bride

My Love My Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:484.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: el nurmala

Visual cast di eps 20.
_______

Menikahi adik sahabat, mengapa tidak?
Kisah cinta beda usia antara Riky dan Alena.

Ikuti kisah mereka ya.
Selamat membaca!
Cerita ini merupakan sekuel 'Permainan Takdir 1&2'.

-------------
Cerita ini hanya fiksi. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama. Itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

berkunjung ke rumah Salman

Happy reading...

Dua motor matic menepi di area parkir Queen Resto. Dua wanita turun dan berlalu menuju ke pintu masuk resto.

"Kak Laura!"

"Eh, ada Nindy. Apa kabar? Lama nggak main ke sini," sahut Laura.

"Baik, Kak. Malu ah, nanti kalau ke sini dikira minta gratisan."

"Padahal benar kan?" goda Alena.

"Tahu aja kamu, Len. Jangan buka kartu dong, aku kan sedang basa-basi." Kelakarnya.

Gelak tawa anak-anak mengalihkan perhatian Alena. Ia menoleh dan tersenyum tipis dengan apa yang dilihatnya. Ajeng terduduk di kursi taman sambil membaca buku. Sepupu Riky itu terlihat manis jika sedang begitu.

Sementara anak-anak bermain dengan beberapa anak pengunjung restoran. Mereka tampak bahagia meski belum saling mengenal.

"Ajeng ngapain aja, Kak?"

"Tadi main sama anak-anak. Dia lucu ya anaknya," ujar Laura sambil tersenyum. Ia berlalu ke dapur.

"Siapa Ajeng?"

"Sepupu Kak Riky," sahut Alena sambil melihat ke arah Ajeng.

"Di mana duduknya, Non?"

"Di sana saja. Terima kasih, Kak Ari," sahut Alena yang menunjuk salah satu meja.

"Siap, Non Alena." Sahutnya.

"Auntie!" seru Queena sambil melambai.

Alena balas melambaikan tangannya, begitupun dengan Nindy. Sementara itu, Ajeng menoleh kepada mereka.

"Kak, Zein pulang sama Alena ya."

"Kamu mau ke rumah Meydina?" tanya Laura.

"Iya. Kan belum menjenguk Amar. Lena sudah janji," sahut Alena sambil terduduk di kursi.

"Tanya aja dulu. Siapa tahu Zein menginap lagi di rumah," ujar Laura.

Alena mengangguk pelan.

"Ayo, Nindy! Aku tahu kamu pura-pura. Biasanya juga nggak malu-malu," ujar Alena menggoda sahabatnya.

"Iya. Biasanya juga malu-maluin," timpal Laura.

"Ish, Kak Laura gitu deh. Nindy kan jadi malu," sahut Nindy tersipu.

Laura dan Alena hanya tersenyum menanggapi. Laura menyodorkan piring makanan pada Nindy lalu memanggil Ajeng dan anak-anak.

Dia kan mahasiswi yang waktu itu, batin Ajeng saat melihat Nindy.

"Jeng, ini sahabatku. Namanya Nindy," ijar Alena memperkenalkan. Keduanya pun bersalaman.

"Kak, mau pulang sama auntie, nggak?"

"Memangnya auntie mau ke rumah kakak?" tanya Zein yang sedang menikmati pasta.

"Hmm," angguk Alena.

"Boleh. Naik motor kan, Auntie?"

"Iya dong, memangnya naik apa?"

"Kak Zein nggak mau menginap di rumah Queen lagi?"

"Nggak ah. Kakak udah bosan main terus sama Queen. Kakak kangen baby," sahut Zein cuek.

"Idih gitu," decih Alena.

"Memang iya." Sahutnya.

"Mommy! Mau menginap di rumah Kakek," rengek Queena.

"Opa kan belum pulang, Queen. Nanti saja kalau libur ya. Kata Auntie Amie, malam Minggu Arka juga mau menginap di rumah kakek," sahut Laura.

"Asik. Oke deh."

***

Menjelang sore, lalu lintas cukup ramai. Alena melajukan motor matic-nya dengan santai. Histeria kegirangan terdengar saat kecepatannya ditambahkan. Beberapa kali Alena menegur Zein yang merentangkan tangannya.

"Kakak norak deh. Bahaya tahu, lain kali jangan begitu ya," ujar Alena saat mereka sampai di depan kediaman Salman.

"Seru auntie. Kakak mau main motor ah," ujar Zein berlari ke dalam rumahnya.

"Mami!" Zein memeluk Meydina yang membukakan pintu untuk mereka.

"Kak Mey," sapa Alena.

"Hai, Len! Kakak kira kamu sudah lupa sama Kak Mey. Ini siapa?"

"Ajeng, Kak. Sepupu Kak Riky," sahut Alena.

Dengan canggung Ajeng menyambut uluran tangan Meydina. Kemudian mereka dipersilahkan masuk ke dalam rumah.

Sejak memasuki gerbang utama yang letaknya jauh di depan sana, Ajeng sudah merasa terpukau dengan hunian mewah ini. Keterpukauannya bertambah saat melihat ke dalam rumah.

"Amar! Bagaimana kabarnya, Sayang?"

"Baik, Auntie. Udah nggak sakit kok," sahut Amar.

Alena menyapa Salman yang sedang menemani Amar bermain lego dengan jumlah bricks yang sangat banyak. Ia juga memperkenalkan Ajeng pada Salman.

"Auntie, main yuk di kamar aku!" ajak Fatima yang datang menghampiri mereka.

"Kalau mainnya sama Auntie Ajeng dulu gimana? Auntie mau ngobrol sama Mami Fatum."

"Boleh. Tapi nggak jadi deh. Mami, kakak main motor. Aku juga mau main motor." Rengeknya.

Meydina meminta seorang pelayan mengeluarkan motor Fatima. Sebuah motor aki berwarna pastel yang sangat lucu.

"Mainnya di dalam ya," ujar Salman dan diangguki Fatima.

"Kek, Amar juga mau."

"Nanti kalau sudah sembuh."

"Sayang, legonya juga belum selesai. Itu mau bikin apa?"

"Micro cities ya?" Ajeng berucap sambil memperhatikan mainan tersebut.

"Auntie aja tahu, masa Mami nggak tahu."

"Maklum kak, Mami kurang update," kelakar Alena. Meydina tertawa pelan sambil mangiyakan.

Amar mengajak Ajeng bermain lego bersamanya. Fatima berkeliling mengendarai motor sambil diikuti seorang pelayan wanita.

Sementara itu dari kaca besar yang terdapat di bagian samping ruangan itu, terlihat Aldo sedang mengeluarkan sebuah motor mini trail milik Zein. Putra sulung Meydina itu nampak senang sambil mulai menyalakan mesin motor yang terdengar seperti di arena balapan.

"Om Salman apa kabar?" tanya Alena.

"Seperti yang kamu lihat," sahut Salman datar.

Alena tersenyum tipis menatap sekilas pada Salman. Pria itu tak segagah dulu. Mungkin karena sakit yang dideritanya.

"Kapan terakhir Riky pulang?"

"Akhir pekan kemarin, Om."

"Sudah berapa tahun kalian menikah, belum juga punya anak. Apa kamu sengaja menunda?"

Meydina merasa heran dengan sikap ayahnya. Tidak biasanya Ayah Salman mencampuri urusan orang lain.

"Iya, Om," sahut Alena pelan.

"Kenapa ditunda? Kalian kan masih muda. Anak itu rezeki, menunda punya anak sama saja dengan menolak rezeki." Ujarnya datar.

"Yah..."

"Kasihan Riky. Dia pasti sudah ingin punya anak," ujar Salman lagi.

Alena tertunduk mendengar apa yang dikatakan ayah Meydina itu. Ia berusaha mengendalikan perasaannya.

"Mereka punya alasan melakukannya, Yah. Alena kan masih sangat muda," sahut Meydina.

"Justru karena masih muda. Jadi para orang tua masih berkesempatan menikmati hari bersama cucu. Seperti ayah, seandainya kamu menikah dan menunda punya anak sampai kuliahmu selesai, mungkin sekarang baru ada Zein. Begitu juga dengan Amiera," tutur Salman tanpa memperdulikan raut wajah Meydina yang merasa tak enak hati pada Alena.

"Iya, Om. Memang benar seperti itu," sahut Alena pelan.

"Karir itu bisa menyusul. Kamu tidak akan kekurangan uang meskipun tidak bekerja. Riky itu pria bertanggung jawab. Dia juga bisa memberikan apa saja keinginanmu." Tambahnya.

Meydina merasa bingung harus berkata apa. Ayahnya tentu tidak akan mengerti pemikiran wanita masa kini. Di sisi lain, dalam diamnya Ajeng melirik pada Alena yang sedang tertunduk. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita muda itu. Raut wajahnya sulit diartikan.

1
Sri Ariyanti
thor, aku suka karyamu. bagus.
lanjut ke cerita cucu sultan opa salman
Neva Yanti
bagus
Sari
cucok visualnya 👍
Sinta Mayapada
the best cerita mu author.
Sinta Mayapada
Kecewa
Fika
Ahh kamil..dewasa bnget jdi adik...thor carikan jodoh buat kamil...yg gak beda jauh dri ajeng
Fika
Riky sm Alena bener2 yach perpaduan pas sama2 gesrek jiwa humoris nya tinggi bngettt 🤣🤣 pasti mama widya dan papa salim awet muda krn tiap hri dengar guyonan anak sm menantu ditambah paijo 🤣🤣🤣
Eva NurMalla
oke visualnya 😎😎
TePe
ngga tau , suka bgt saam karya author ini
TePe
wah si babang ricky kebakaran jenggot deh😄
TePe
rada2 n8h si ajeng
bunda syifa
Zein sama zemima lumayan jauh y ka'El usia nya
bunda syifa
panggilan di ka'Zein sama Beby Mima pasti bikin yg baca ketawa" sendiri
bunda syifa
jangan d detail proses nya Thor, bikin merinding, jadi ke inget pas dulu lahiran padahal udah lima tahun tapi klo lagi baca kek gini kayak masih kerasa GT sakit nya, pengen d tahan tapi anak nya harus d keluarin tapi mau d keluarin takut segala macem jadi satu 😥😥😥
bunda syifa
puas banget Thor, apalagi klo yg ngikutin ceritanya dari awal pasti kerasa kayak baca cerita dunia nyata saking ceritanya terus berlanjut
bunda syifa
akhirnya aq maraton sampai selesai juga, habis cerita amiera agak ragu mau lanjut kesini, soalnya biasanya klo sekuel ke sekian itu suka beda ceritanya konflik nya kadang lebih berat, tapi karena rasa penasaran yg teramat besar akhirnya yoba lanjut baca apalagi d cerita ini harus kehilangan pak Salman, dn semoga sekuel selanjutnya kisah si cucu pak Salman cerita nya bagus kayak yg lain juga y ka'El, tapi aq tunggu episode nya banyak dulu soalnya aq kesel klo d gantung
bunda syifa
ini Zain umur berapa Thor, udah SD kn, udah besar berarti
bunda syifa
apa dia dokter yg malsuin hasil USG nya ibu Nita dulu itu kah, yg pernah jadi pengemis pas suaminya sakit
bunda syifa
udah lama gc nangis saat baca novel, sekarang d bikin nangis gara" pak Salman meninggal 😭😭😭
bunda syifa
yah mbak dokter nya d anggurin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!