NovelToon NovelToon
Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:467.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Jingga Lestari

Reno Premadi, tak menyangka kepulangannya ke kampung halaman orangtuanya akan menjadi titik balik dalam hidupnya.

Permintaan ibunya untuk menikahi seorang wanita yang sudah dijodohkan dengannya semasa kecil tak bisa lagi ditolaknya. Lalu seperti apa sosok wanita yang dijodohkan dengannya itu?

Tenri, seorang guru asal Makassar. Harus menerima takdirnya untuk dijodohkan dengan orang yang sama sekali belum pernah ditemuinya.

Lalu mampukah mereka mempertahakan rumah tangga yang tanpa pondasi yang kuat, cinta misalnya?

Saksikan kisah mereka, hanya di Noveltoon atau Mangatoon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jingga Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Appalak Kana (Meminta Izin)

Sudah waktunya Reno pulang ke Jakarta, ibunya terlihat sedih. Namun bagaimana pun juga dia harus merelakan anaknya itu untuk kembali ke Jakarta dan bekerja. Dia sudah tidak terlalu lama menahan Reno di Makassar. Terhitung sudah sepuluh hari Reno cuti setelah mendengar kabar bahwa ibunya sakit.

"Akur-akurki, Nak. Jangan sampai membentak isterimu, ingat-ki semua masalah bisa diselesaikan asal dibicarakan dengan kepala dingin bukan pakai emosi." tutur ibunya memberikan nasihat pada Reno.

"Jaga isterimu, Nak. Jika kau sudah memuliakan isterimu, maka kau juga sudah memuliakan ibumu dan kedua orang tuamu. Teak laloki sibesek-beseri (jangan sekali-kali bertengkar), sebab ujian rumah tangga itu banyak macamnya. Kau harus bisa menjaga Marwah kau sebagai suami. Harus bertanggung jawab itu yang utama." Lanjut bapaknya.

"Iyek, Pak, Bu." Reno menjawab dengan anggukan.

"Doakan-ka Bu, Pak. Doakan pernikahan kami juga, semoga senantiasa rukun dan damai. Kipammopporanga jai dudu punna niak salahku (maafkan aku sebesar-besarnya, jika punya salah)," ujar Tenri seraya menyalami satu persatu baik ibu mau pun bapak mertuanya.

"Sikatutuiko tope daeng bunting nu massassa mole-mole," ucap daeng Beta menambahkan. Di mana artinya adalah saling melindungilah kalian sang pengantin, agar kalian dapat saling mensucikan seterusnya) Kurang lebih seperti itu pemaknaannya.

Tampak air mata bertengger di bawah mata sang ibu dan bapak, mengantar kepergian anak dan menantunya menuju perantauan.

"Ukrangi motereka, Nak." (Ingatlah untuk pulang, Nak."

Begitulah kalimat terakhir sang ibu manakala Reno dan Tenri telah memasuki ruang tunggu bandara.

Sekarang hanya ada mereka berdua, duduk bersebelahan dengan perasaan kikuk satu sama lain. Keduanya belum terbiasa ngobrol atau pun berinteraksi. Masih ada rasa sungkan dan takut untuk memulai berbicara.

"Di sana apa kita tinggal di sebuah rumah atau apartemen, Daeng?" tanya Tenri memecah kesunyian.

"Sebaiknya kita tinggal di mana? Rumah atau Apartemen?"

"Saya sembarang-ji, Daeng. Asalkan, saya ikut bersama, Daeng."

"Kalau begitu kita tinggal di sebuah rumah saja, saya takut kamu tidak terbiasa dengan lingkungan seperti apartemen."

"Lebih baik begitu, Daeng. Terimakasih banyak."

Dari arah pengeras suara mengabarkan kalau pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera berangkat. Reno pun mengemasi barang-barang yang mereka bawa. Begitu juga dengan Tenri.

"Biar saya yang bawa semuanya," ucap Reno yang langsung mengangkat koper dan tas yang lainnya.

"Iyek, Daeng."

Tenri hanya membawa tas miliknya saja, Reno terlihat begitu peduli padanya. Tenri pun merasa tenang dan nyaman bersama Reno.

Sampai di atas kabin pesawat, mereka pun duduk bersampingan. Reno meminta Tenri untuk duduk di bagian dalam saja. Ini untuk pertama kalinya Tenri terbang jauh meninggalkan Makassar.

Ada perasaan sedih yang bergelayut di hatinya, manakala dia akan meninggalkan Butta kalassukangna (tanah kelahirannya), tempat dia lahir dan tumbuh besar. Tanah yang akan selalu dirindukan olehnya sampai kapanpun.

Sepanjang perjalanan kurang lebih dua jam di pesawat, tak banyak yang mereka bicarakan. Reno bahkan terkesan cuek dan memilih untuk tidur. Tenri sempat memberi suaminya itu syal miliknya agar tak kedinginan di atas pesawat. Begitu perhatiannya Tenri pada Reno, lelaki yang baru dikenalnya namun seumur hidupnya mungkin akan dihabiskan bersama lelaki itu.

***

Pesawat pun mendarat dengan aman, para penumpang bersiap turun. Reno dan Tenri ikut berkemas. Sebagian barang bawaan mereka taruh di bagasi dan kabin pesawat. Saat giliran mereka turun, Reno melindungi Tenri dari dorongan para penumpang yang berebut turun.

Di ruang tunggu kedatangan sudah ada Doni yang menunggu mereka. Doni melambaikan tangannya pada Reno dan Tenri. Keduanya pun berjalan ke arah Doni.

"Selamat datang kembali di Jakarta, Bos." Doni menyapa seraya menyalami keduanya.

"Bu Tenri, selamat datang di Jakarta." lanjutnya menyapa Tenri.

"Iyah, terimakasih."

Doni dan Reno pun terlibat sedikit pembicaraan dan Tenri memilih menepi karena takut dianggap menguping pembicaraan mereka.

"Bagaimana perusahaan? Amankan?"

"Aman. Emm ... cuma ada satu masalah yang semestinya kamu harus segera selesaikan, Ren."

"Masalah Elsa?"

"Iyah."

"Ada apa?"

"Mungkin sebaiknya kamu jujur saja padanya, kasian juga kalau suatu saat nanti dia tahu kamu sudah menikah. Belum lagi isterimu, apa kamu bisa menjaga perasaan isterimu tidak akan tersakiti?"

"Jangan bahas di sini, Don. Kita bahas setelah masuk kantor."

Usai ngobrol sebentar, mereka pun masuk ke mobil. "Don, langsung ke rumah saja ya. Tenri, ingin tinggal di rumah bukan di apartemen."

"Baik, Bos."

Tenri banyak melihat keluar, menyaksikan pemandangan kota Jakarta yang kebanyakan hanya bisa dia saksikan di TV saja. Sementara Reno, sedang memikirkan cara terbaik untuk menyampaikan pada Elsa mengenai pernikahannya.

'Gawat juga jika sampai Elsa tak menerima kalau aku sudah menikah. Aku takut dia akan meneror Tenri dan membuat dia tak nyaman untuk tinggal di Makassar. Aku harus bisa memberitahu dirinya dengan pelan-pelan. Begitu juga kepada Tenri, aku harus jujur padanya tentang ini. Atau ... apa sebaiknya aku selesaikan dulu masalah aku dengan Elsa baru memberitahunya?'

Setelah perjalanan sekitar satu jam, akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah yang terbilang cukup megah. Tentu saja megah, itu rumah yang dibeli Reno dari hasil keringatnya membangun sebuah perusahaan di bidang perbengkelan.

"Ini rumah saya di Jakarta, ah bukan ... ini rumah kita," ucap Reno membenarkan ucapannya sendiri.

"Rumahnya besar sekali, apa ini tidak terlalu besar untuk kita tinggali berdua?"

"Kalian tidak akan berdua lagi setelah punya anak," cerocos Doni menimpali ucapan Tenri.

"Udah pulang sana, Don. Kamu masih ada urusan di kantor, kan? By the way, terimakasih sudah menjemput kami di bandara."

"Sama-sama, Bos."

"Terimakasih, Pak Doni." Tenri menambahkan.

"Jangan pakai Pak, Doni saja."

"Ah, baiklah."

Reno pun mengantar Doni ke depan dan seketika Doni berbisik padanya. "Isteri kamu cantik, bro. Alami banget. Kembang kota kayaknya. Hehe. Kelihatannya dia juga baik, sangat lembut saat berbicara. Karakternya beda sekali dengan Elsa yang cerewet dan lebih mendominasi."

"Udah sana ...! Nggak usah ngomongin itu di sini, nanti didengar Tenri."

Diusir seperti itu, Doni malah semakin meledeki Reno. Setelah kepergian Doni, Reno masuk kembali menemui Tenri.

"Loh, kamu masih di sini? Kenapa tidak masuk kamar saja." Seru Reno pada Tenri.

"Kamarnya di mana? Saya tidak tahu, Daeng."

"Oh iya, maaf. Saya lupa kalau kamu baru pertama kali datang ke sini. Sini saya antar ke kamar."

Cara mereka berbicara pun masih terkesan formal, tidak memakai kata 'aku' melainkan saya. Sangat-sangat tidak mencerminkan kalau mereka berdua ini adalah sepasang suami isteri. Satu-satunya kata yang dapat menunjukkan keakraban diantara mereka adalah panggilan 'Daeng' pada Reno yang diucapkan Tenri.

Sebaik-baiknya rumah tangga adalah yang saling mengisi dan memberi. Bukan menghitung untung dan rugi.

*Bersambung*

1
Mia Ivan Mia
aku orang sunda sama sekali gx ngerti bahasa nya tapi suka dengan cerita nya
Widhi Labonee
oi oi,, bekeng sedih saja kik
Sulati Cus
ikutan sakit hati ak
Rumsati Mareo
malam penuh haru.. lgsg k sedih baca ini bab.. lgsg ingat wattu mapacci k 😭😭😭
Suprawani Mami
dah kere msh aja berlagak..no..reno..
Suprawani Mami
gak ada bagus2nya sifat reno..laki2 pecundang....
Suprawani Mami
daffa baik banget ahli IT dan seorang dokter kandungan..???
Suprawani Mami
kesanbet opo sireno
Suprawani Mami
aduhh..biasa baca pak pram..sesulit apapun gak pernah mabuk...
Suprawani Mami
olla jidohnya doni kali yaa..
Suprawani Mami
mampir d sini gara2 promosi dr kaila dan pak pram..
MaLika Fardi
kok msih banyak yg gak ngerti yah NOVel ni padahl bahasanya jelas n mudah dimengerti. kalau pun ada dialognya dalm bhasa daerah Makassar pasti author trasnlate
Syaqila iLo
Tenri bersabarlah mnghadapi suamimu
Syaqila iLo
hempaskan si pelakor
Olha Kiem
suka dgn karyamu kk
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Stargirl✨: maksudnya follow kembali 😅
total 2 replies
Hilda 77
oh Makassar ternyata punya adat tujuh bulanan juga ya,sama seperti adat Jawa,prosesi adat mandi tujuh bulanan sang calon ibu di mandikan air bunga yang telah di bacakan doa doa dan di mandikan oleh para orang tua/orang yang ahli mengurusi bayi dan ibunya kalau orang Jawa bilang dukun bayi..dan ada maknanya di setiap prosesi nya..... godjoob author 👍👍
rutia ningsih
kemana aja thorrr lama nga up dan buat cerita yg rumit thorrr kasian tenri dan reno
💞Monic@💦
lama sekali upnya Mak Ji...kukira hiatus..hmm..kangen cerita mrka..mudah2 an si rubah Rama itu dpt karmanya..jgn biarkan Reno menanggung kesalahan orang lain..semangat ya thor😊🙏
Eriza Yuni
kok nggak ditamatkan ya
Adriani Laeke
keren keren. i like it.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!