Sebagai anak sulung, aku sangat menyayangi ibuku. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan serta mendidik ku.
“Kalo kamu udah nikah! Prioritaskan ibu dan adik mu, Ratih! Istri mu belakangan, dia itu wanita terakhir yang kamu kenal. Sayangi dia 20 persen aja, ingat itu pesan ibu, Nang!” ujar Sari penuh harap.
Aku hanya bisa tersenyum tulus, “Iya, bu! Danang akan selalu berbakti, mendengarkan semua perkataan ibu! Danang gak akan pernah membantah mau ibu!”
“Tenang aja Gi! Hati abang cuma buat Anggi. Mau kan Anggi kalo abang ajak serius? Bukan lagi pacaran, tapi …” beo ku kala itu.
Dan akhirnya ku nikahi Anggi, tanpa peduli dirinya yang mencintai pria lain. Yang penting aku pemenangnya, aku yang menikahinya.
Kejanggalan demi kejanggalan akhirnya mencuat, membuka tabir kehancuran dalam keluarga ku.
Mulai dari Anggi, gadis polos. Hitam manis dengan tubuh mungil, adik dari teman ku. Meninggal usai melahirkan putra kedua kami. Sementara si sulung baru menginjak usia 7 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
...🌼🌼🌼🌼...
“Bersiap lah! Kasih dia pelajaran kalo sampe gak ke luar kamar dalam 5 menit!” titah Sari, sebelum berbalik menjauh dari kamar Danang.
Seringai terbit di bibir genderuwo, makhluk menyeramkan yang hanya bisa di lihat Sari di antara penghuni lain. Sepasang netra merahnya yang menyeramkan, terus mengawasi pintu kamar yang di tempati Danang.
~ “Siap, Tuan Sari!” ~
Dari sofa ruang tamu yang tengah Sari duduki. Wanita paruh baya itu menyipitkan matanya tajam, menatap pintu kamar Danang yang berada gak jauh dari hadapannya.
‘Heran aku sama Danang! Gak biasanya Danang seperti ini! Sebenarnya apa sih yang sudah dia lakukan kemarin, bisa gitu membuat nya telat bangun!’ pikir Sari.
~ “Danang lagi deket sama perempuan, Tuan ku! Dia mau memperkenalkan nya sama Tuan Sari sebagai calon istri!” ~ beo genderuwo, seakan bisa membaca isi pikiran Sari.
Alis Sari terangkat, dengan tatapan penuh tanya, “Calon istri?”
~ “Tumbal buat saya kan Tuan Sari? Seperti yang Tuan Sari janjikan pada saya!” ~
‘Belum saatnya! Saya sudah punya calon tumbal untuk mu, di pasar! Salah satu pedagang, pria… sehat hanya saja mulutnya terlalu lancang untuk di biar kan tetap hidup. Kamu bisa menghabisinya! Warung ku pasti ramai kan?’ jelas Sari.
~ “Jangan ragukan lagi, Tuan ku Sari! Selama ini sudah terbukti kan?” ~
Di sisi lain.
Dada Danang naik turun, nafasnya memburu kesal, tatapannya menatap tajam lantai kamar mandi. Kedua tangannya mencengkram lantai yang dingin. Ia jatuh terduduk, usai menginjak sabun batang yang tergeletak di lantai kamar mandinya.
“Sialan! Bukannya di bantuin kek! Peduli kek! Malah gua di sumpahin! Saking bae ibu! Kalo bapak, udah pasti gua lawan!” gerutu Danang, dengan rasa nyeri yang luar biasa pada tulang ekornya. Ia berusaha mati matian bangkit dari posisi jatuhnya.
Sementara langit di luar masih gelap pekat, tanda jika hari masih sangat larut, dengan bulan sabit yang sedikit memberi terang dengan cahayanya.
Kreeeek.
Belum sampai 5 menit, Danang sudah ke luar dari kamarnya. Dengan wajah meringis, masih menahan sakit. Jalannya pun tidak seperti biasa. Tangan kanan nya berada di pinggul, berharap rasa nyeri yang ia rasakan bisa berkurang. Namun wajahnya, sudah jauh lebih segar usai ia basuh dengan air keran yang dingin.
“Kenapa kamu? Jatuh?” tanya Sari dengan tatapan mengejek, menelisik Danang dari tempat ia duduk.
Danang memalingkan wajah, bibirnya komat kamit dengan hati mengumpat sang ibu, ‘Udah tau jatuh, ya sakit lah! Pake nanya lagi! Pake ada acara nyumpahin segala! Sabaaaaar, sabar Danang! Dia ibu kamu! Kalo kaga ingat ibu, udah gua pites kaya kutu itu orang!’
Genderuwo yang gak senang, langsung melayangkan tangan besar nan berbulu halus bak gorila nya. Tepat di kepala samping Danang. Sembari tertawa terbahak, seakan tengah mengejek Sari.
Manusia yang menyekutukan Tuhan nya. Demi kekayaan yang Sari dapat secara instan. Mengorbankan nyawa tak berdosa, demi harta yang ia raih.
~ “Hahahaha sekarang putra kesayangan Tuan Sari sudah bisa melawan! Saya bisa mendengar nya!” ~
Pletak.
Seperti ada yang menjagur nya kencang, kepala Danang bahkan sampai terhuyung ke depan. Membuat tubuhnya oleng ke arah nakas.
“Eehhhh aduh! Ada apaan ya?” pekik Danang dengan wajah bingung. Satu tangannya berpegangan pada nakas.
Sari yang mendengar ocehan genderuwo, semakin di buat kesal. Ia beranjak dari duduk nya. Bak kompor meleduk, wanita paruh baya dengan setipis tisu batas sabarnya semakin terpancing emosi. Dengan suara naik satu oktaf, mata melotot galak.
“Budek kamu, Nang! Yang sakit bok0ng kamu kan! Bukan telinga kamu! Berani kamu melawan ibu sekarang hah? Udah gak takut lagi kamu sama ibu? Begitu!!!”
Danang berjingkat kaget, lalu memperlihatkan senyum manisnya pada Sari. Dengan keringat dingin yang mulai muncul di keningnya. Ia berusaha menahan sakit yang teramat pada pinggulnya.
“Danang dengar, bu! Danang gak bermaksud melawan ibu! Sumpah!” kilah Danang, dengan tatapan meyakinkan. Sementara Sari melangkah menghampiri nya dengan emosi yang meluap.
Danang menelan salivanya.sulit, ‘Ya salam, pagimana mau ngomongin soal Anggi ke ibu. Kalo sekarang aja gua udah di semprot abis ama ibu. Lagi heran, ibu udah kaya orang abis makan orok. Marah marah mulu! Gara gara Dayat nih! Gua jadi kena imbas nya! Semprul bangat gua punya ade kaya lu, Yat!’
~ “Lempar kesalahan Danang, Tuan ku Sari! Dia malah menyalah kan Dayat atas kekesalan Tuan ku Sari! Pada hal kesalahan murni ada pada nya yang telat bangun.” ~ adu genderuwo.
‘Jadi benar, perempuan yang mau Danang perkenalkan pada ku, yang membawa pengaruh buruk pada putra tertua ku ini! Awas aja kamu perempuan sialan!’ jerit batin Sari, dengan tangan terkepal.
Nyali Danang menciut, melihat kemarahan di wajah Sari. Dengan sisa keberanian yang Danang miliki, tangan kiri nya menyambar kunci motor yang ada di depan mata nya, di atas nakas.
“Ma- mau jalan sekarang bu ke pasar nya? A- atau ma- masih ada yang perlu ibu ambil dari kamar?” cicit Danang dengan lirih hampir seperti bisikan.
Sari menoyor kening Danang berkali kali, saat sudah berdiri di dekat nya, menumpah kan kekesalan nya dengan suara yang meledak ledak.
“Mata kamu buta! Ibu udah rapi gini! Apa lagi kalo bukan kamu yang ibu tunggu sejak tadi hah! Maka nya waktu nya pulang gawe itu ya pulang! Bukan keluyuran sama perempuan gak bener! Otak di pake Danang!”
Danang menggeleng, gak berani menatap wajah Sari, “Maaf, bu! Danang yang salah! Di- dia anak baik, bu! Nama nya Anggi. Pasti cocok sama ibu. Beneran dah, sumpah! I- ibu mau jalan sekarang kan ya?”
‘Buset dah, ibu gua galak bangat udah kaya mau makan orang.’ jerit batin Danang.
Sari menggaruk kepala nya frustasi, dengan nada tinggi, “Astagaaa Danang! Kamu nanya mulu sih! Otak kamu gak geser kan? Otak kamu masih utuh satu! Waras kamu? Motor keluarin! Cepet!”
Menyampingkan rasa nyeri di pinggul dan bok0ng nya. Danang berjalan perlahan menghampiri sepeda motor. Lalu mengeluarkan nya dari dalam rumah.
“I- ini Danang lagi keluarin, bu!”
Kedua tangan Sari berada di pinggang, menatap jengkel Danang, “Menghambat pekerjaan ibu aja kamu tuh! Gak ingat kamu, masih berapa banyak mulut yang harus ibu kasih makan di rumah ini! Kalau bukan karena ibu, mau jadi gelandangan kamu dan adik adik mu hah!”
Hingga langit gelap perlahan berganti terang. Pagi yang Sari miliki kembali di sibuk kan dengan rutinitas yang sama. Menjajakan dagangan nya di depan rumah, beratap kan terpal dengan bale bale yang di atas nya sudah di susun rapi beraneka ragam sayur, buah, ikan dan semua yang berhubungan dengan dapur.
Hingga suara teriakan seorang pria yang sangat familiar di telinga Sari. Mampu mengalih kan perhatian dari ibu ibu yang tangah sibuk memilih sayur.
“Po Sar, aye mau sop sebungkus, ikan bandeng sebungkus. Sekalian ini ikan nya di bersihin po! Belah 3 ya!” cerocos bu Liyah, dengan logat nya yang khas. Menyodorkan sebungkus ikan bandang yang sudah ia pilih sebelum nya.
“Po Sari, aya mau ini akar nya di potong! Cabe rawit setan boleh kapan po tiga ribu?” timpal Naya, ibu ibu berdaster dengan rambut putih di konde. Menyodorkan seikat kangkung segar ke depan Sari.
“Mana Sari! Sari! Sini lu! Gara gara lu gua gagal kawin! Sari! Abis lu di tangan gua! Sari!”
Bukan hanya Naya dan Liyah yang celingukan, mencari asal suara yang terbawa hembusan angin. Begitu pun dengan ibu ibu yang tengah mengerubungi barang dagangan Sari.
"Ada yang teriak itu! Manggil po Sari itu!" beo Naya.
Bersambung …