Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Mengais Kepercayaan
Kolonel Haryo duduk di meja makan. Ia sengaja mengumpulkan istri dan anaknya dalan satu meja untuk membahas masalah yang sedang viral. Kolonel Haryo menyodorkan ponsel pintarnya yang sedang memutar vidio viral itu, ia tunjukkan vidio itu pada Jelita.
Seketika Jelita tampak menahan napas sejenak, sebelum kembali menangis.
"Mas, kayaknya Jelita lagi nggak stabil. Jangan dipaksa," ucap Wina mencoba mencairkan suasana.
Kolonel Haryo membuang napas seraya menggeleng.
"Jika dibiarkan berlarut-larut, masalahnya bisa menjadi besar. Bukan hanya Baskara yang terancam. Papi juga!" ucapnya tegas.
Mendengar itu, Jelita mendongak. Ia menatap Kolonel Haryo sepintas sebelum kembali menunduk untuk mengusap air matanya yang terus tumpah.
"Papi sudah menemui Baskara. Dia sudah menjelaskan semuanya. Sekarang giliran kamu!" ucap Kolonel Haryo tegas. "Jelaskan pada papi apa yang sebenarnya terjadi!" lanjutnya.
Wina mengusap lengan Kolonel Haryo bermaksud untuk menenangkan pria itu. "Jangan dipaksa,Mas. Lita nangisnya sampai begitu. Biarkan dia tenang dulu," pinta Wina.
Kolonel Haryo menahan napas. Kali ini ia menatap istrinya. "Kalau menunggu, saya nggak bisa pastikan masalah ini sudah sampai dimana dan seramai apa! Saya mau selesaikan sekarang biar semua tuntas di satuan! Jika sudah melibatkan pihak luar, semua akan bertambah rumit, Wina. Tolong, mengertilah," pinta Kolonel Haryo.
Kolonel Haryo kembali fokus pada putrinya. "Papi hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi di cafè itu. Kenapa membuat keributan ditempat umum?"
Jelita masih diam.
"Papi tanya sekali lagi, apa benar yang kamu katakan dalam vidio itu jika kamu sedang hamil dan Baskara adalah ayahnya?" tanya Kolonel Haryo dengan nada suara yang sedikit lebih lembut.
Jelita mengangguk.
Kolonel Haryo memejamkan mata usai melihat pengakuan Jelita. Ada rada nyeri merangsek di dadanya.
"Kapan itu terjadi? Kapan kamu bertemu dan melakukan hubungan sejauh itu dengan Baskara?"
Jelita mendongak. Wajahnya tampak kesal. Napasnya mulai memburu dan matanya mulai menajam.
"Memangnya penting semua itu, Pi? Bang Ibas sudah buat Lita hamil!" ucap Jelita dengan nada tinggi. "Harusnya papi bela Lita! Bukan justru tanya-tanya hal yang tidak penting!" Lanjutnya kesal.
Kolonel Haryo menahan emosinya. Ia harus tetap dalam kendali agar dapat berbicara dengan Jelita.
"Lita, kamu tahu Baskara sudah menikah, apa yang kamu harapkan dari dia? Masalah seperti ini, ribut-ribut seperti ini bisa menjadi masalah besar untuk karir Baskara."
Jelita melipat kedua tangan di depan dada.
"Itu urusan dia! Harusnya papi lebih percaya sama aku. Aku anak papi!"
"Papi hanya bertanya."
"Papi sudah tanya dia,kan? Sudah dengar jawaban dia, untuk apa tanya aku lagi? Kalau dia mengelak atau tidak mengakui, ya wajar aja. Dia membela diri," ucap Jelita sinis.
Kolonel Haryo mengambil napas dalam. Ia tahu posisinya. Dia harus netral. Tidak membela siapapun. Harus mendengarkan penjelasan dari kedua pihak.
"Lita, papi hanya ingin tahu. Masalah ini adalah masalah yang serius bagi seorang prajurit. Papi hanya mau tahu kebenarannya. Jika kamu mau menceritakan sekarang-lah saatnya. Jika yang kamu katakan benar, papi akan berdiri paling depan membelamu. Namun, jika ada hal lain yang kamu sembunyikan, lebih baik jujur sekarang."
Jelita memalingkan wajahnya. Ia melemparkan pandangan ke arah lain. Wajahnya tampak bersungut-sungut. Napasnya masih memburu.
"Dari dulu selalu begitu. Papi nggak pernah mau percaya aku. Yang terpenting hanya citra papi sebagai komandan, citra satuan. Papi lebih percaya pada Baskara daripada aku!" ucap Jelita kesal. Ia berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan dan kembali mengunci pintu kamarnya.
Jelita bahkan tidak menggubris saat Kolonel Haryo terus memanggilnya.
"Biar aku yang bujuk," ucap Wina lembut.
***
Sementara itu, dalam perjalanannya, Baskara mendapat telepon dari Gunawan. Seketika ia menepi dan menunggu beberapa saat sebelum benar-benar siap mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo?"
"Datang ke tempat ayah, sekarang!"
Telepon terputus. Suara sang ayah mengintimidasi. Dari nada suaranya, Baskara dapat menebak jika sang ayah sudah mendengar bahkan mungkin melihat vidio viral yang melibatkan dirinya dan anak komandannya.
Baskara memarkirkan mobil di rumah dinas ayahnya. Rumah dinas itu tidak selalu digunakan, karena Gunawan lebih senang tinggal di rumah pribadinya. Hanya saja, jika membutuhkan tempat guna membahas hal-hal tertentu yang bersifat sensitif, Gunawan lebih senang membahasnya di rumah itu.
Baskara masih mengenakan seragam lorengnya saat sampai di rumah dinas KSAD. Ia dipersilakan oleh ajudan Gunawan untuk masuk ke ruang kerja sang ayah.
"Bapak sudah menunggu, Let," ucap ajudan itu.
Baskara mengangguk tegas. Ia mengetuk pintu dan masuk ke ruang kerja sang ayah. Ia melihat Gunawan sedang membuat dua gelas teh yang ia bawa dan berikan pada Baskara.
Baskara duduk di sofa, berhadapan dengan Gunawan. Suasana hening. Hanya denting sendok yang beradu dengan bibir cangkir yang terdengar. Napas Gunawan memberat. Ia meletakkan sendoknya dan mulai mengangkat cangkir seraya menatap Baskara.
"Masalah apa yang sedang kau buat?" tanyanya. Terkesan santai, tapi Baskara tahu Gunawan tidak sesantai yang terlihat.
"Kamu tahu masalah seperti ini bisa mengancam karirmu, nama baikmu, dan ayah!" lanjutnya penuh intimidasi.
"Ayah sudah pernah sampaikan berkali-kali saat kau memutuskan mengikuti jalan ayah di dunia militer. Kamu harus menjaga diri, nama baikmu, nama baik ayah dan keluargamu! Lantas, sekarang apa? Kau mau mencoreng dan merusak reputasimu sendiri?!" Nada bicara Gunawan meninggi. Wajahnya memerah, rahang kokohnya mengeras, dengan sorot mata yang tajam menghujam.
"Terlepas benar atau tidaknya vidio itu, kejadian semacam ini bisa melukai banyak orang, Bas. Tidak hanya ayah dan bunda, tapi juga Aira, istrimu!"
Baskara memejamkan mata. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia menunduk. Tangannya mengepal.
"Maaf, Ayah," gumam Baskara yang masih dapat didengar oleh Gunawan.
"Kamu melakukannya? Kamu menghamili anak itu?" tanya Gunawan kemudian.
Baskara mengangkat wajahnya. Matanya tampak berkaca-kaca, ia menggeleng beberapa kali.
"Tidak, Ayah. Baskara tidak melakukannya," jawab Baskara tegas.
Gunawan diam. Ia memperhatikan Baskara seraya memindai sesuatu.
"Aku disini bertindak sebagai ayahmu, bukan sebagai KSAD. Kamu laki-laki, masalah seperti ini tidak akan selesai dengan pengakuan. Semua harus dibuktikan. Jangan biarkan masalahnya semakin membesar, Baskara. Redam dan selesaikan masalahmu sendiri!" ucap Gunawan tegas.
Baskara mengangguk. Gunawan berdiri, ia menghampiri Baskara dan memeluk putranya erat.
"Ayah percaya padamu. Buktikan jika kamu tidak bersalah," bisik Gunawan seraya memukul punggung Baskara guna memberi semangat.
Baskara pulang. Ia merasa lega karena Gunawan tidak termakan berita. Ia mengendarai mobilnya sampai ke rumah dinasnya. Hari mulai larut saat Baskara sampai ke rumahnya.
Baskara mengerutkan dahi saat melihat lampu ruang tamu masih menyala.Cepat-cepat ia berjalan setengah berlari masuk ke dalam rumah. Baskara terkejut saat melihat Aira duduk diam dengan tenang di ruang tamu itu.
"Ai?" gumam Baskara tidak percaya.
Aira mendongak. Ia menatap Baskara. Pandangannya sulit diartikan. Tidak ada senyuman. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir istrinya. Aira hanya menatap Baskara seraya menggenggam ponsel pintar di tangannya.
"Aku mau dengar penjelasan darimu. Langsung," ucap Aira memecahkan keheningan.
Baskara diam ditempatnya. Ia berdiri dan menatap Aira lekat-lekat.
"Sejak tadi, pikiran jelek terus menghantuiku. Belum lagi pesan-pesan yang masuk ke ponselku. Semua orang menyalahkanmu. Semua orang memojokkanmu bahkan sebelum mereka tahu kebenarannya. Jadi, aku ke sini untuk mendengar langsung. Apa yang dikatakan Jelita dalam vidio viral itu benar? Apa benar dia sedang hamil dan kamu ayah dari anaknya?"
___________________